Kafe Sunyi : Ajang Unjuk Gigi Difabel

pekerja difabel

Sejak bertemu langsung dengan atlet Para Games, aku jadi percaya bahwa tak ada batasan bagi para difabel. Tentu saja tak punya kaki misalnya, menyulitkan seseorang berjalan. Tapi bukan berarti dia tak bisa merasakan berlari kencang menembus angin.

Aku berharapnya, semakin banyak orang yang sadar bahwa kekurangan fisik tidak perlu menjadi penghalang dalam berkarya, terutama urusan mencari uang. Kadang suka miris gitu sama yang seolah “memanfaatkan” kekurangannya dengan cara meminta-minta/mengemis. Apalagi kalau masih muda, karena aku percaya jalanan bukan tempat mereka seharusnya berada. Bisa kok mereka berada di kubikel kantoran di gedung SCBD Jakarta atau menjalani profesi lainnya seperti tukang urut, tukang jahit bahkan fotografer profesional seperti Bang Dzoel. Makin ke sini juga kesempatan para difabel ini makin bersinar. Contohnya aku sudah pernah dapat driver Gojek yang tuli dan bisu sehingga segala komunikasi harus melalui fitur chat. Aku yakin juga ada beberapa lainnya yang bekerja menjadi tukang bersih-bersih di Go-life atau membantu mencuci mobil dll. Memang sulit tapi pasti bisa!

Nah, terakhir di Jakarta baru saja dibuka sebuah cafe yang memperkerjakan para difabel tuli dan tuna daksa yakni Sunyi House of Coffee and Hope. Emang sih tren coffee shop lagi menjamur banget, tapi baru kali ini ada yang begitu peduli sama saudara kita yang berkebutuhan khusus. Kafe yang buka 3 April 2019 ini dari luar aja sudah memikat hati dengan tampilan bangunannya yang berwarna putih. Kukira karena namanya sunyi, maka suasanya beneran hening. Salah! Tetap ada musik yang diputarkan lembut kok. Sunyi di sini lebih sebagai simbol bahwa para penyandang disabilitas ingin sunyi dari perbedaan dan diskriminasi.

cafe sunyi

Andhi, salah satu pekerja yang pertama kali aku temui adalah seorang tuna daksa sejak lahir. Tangan kirinya sedikit berbeda. Namun ia bisa mengerjakan hampir semua pekerjaan dengan tangan tersebut kecuali yang berat-berat. Awalnya aku segan-segan ingin mengabadikan dia dalam foto dan video, namun ternyata ia sangat ramah dan terbuka. Ia bisa bercerita dengan santai tentang orang-orang yang kerap bertanya padanya, apakah ia kena stroke karena kondisi fisiknya. Ia bercerita tentang dirinya yang hanya lulusan SMA karena dia pikir dengan kondisinya, tak banyak yang mau memperkerjakan dia. Jadi ketika akhirnya Sunyi menerimanya (setelah 10 berkas lamaran yang dikirim tanpa hasil), maka di sinilah ia menemukan rumahnya.

Selanjutnya ada Wahyu atau biasa dipanggil Faii, asli Jogja yang seorang penari. Faii tuli sejak lahir. Demi pekerjaan ini, ia meninggalkan profesi menarinya. Aku sempat menantangnya tari saman, dan ternyata jago. Kusuruh tari Jawa juga, aduh lentik banget. Aku jadi malu! Tak lama datang Siti, yang merupakan ketua perhimpunan tuli di Indonesia dan juga seorang penerjemah bahasa isyarat. Itu loh yang biasa kita liat di tipi-tipi di kotak kecil.

pekerja difabel
(kiri ke kanan : Siti, aku, Ika, Faii, Andhi)

Senang rasanya melihat mereka berbaur dan berkomunikasi. Andhi yang lebih mahir berbahasa isyarat menjadi penjembatan antara aku dan Faii & Siti. Sebenarnya mereka juga bisa baca gerakan mulut jika aku bicara pelan. Cuma kadang aku gak sabaran, jadi si Andi yang terjemahin. Berhubung Andhi juga masih belajar, kadang kalau kebingungan, kami nulisin aja di kertas dan kasih liat mereka. Makanya aku jadi gregetan juga dan memaksakan diri belajar sedikit bahasa isyarat seperti nama saya leni, makasih, sama-sama.

Karena salah satu misi dari kafe ini adalah untuk mengedukasi masyarakat, maka biar mudah, di sini juga tersedia tabel bahasa isyarat dan kamusnya buat belajar. Lumayan~~

bahasa isyarat

kamus bahasa isyarat

Sunyi juga dibuat sangat ramah difabel. Ada Tactile Paving atau Tenji Blocks, itu loh penunjuk jalan bagi tuna netra di lantai, meja yang dibuat bulat karena yang tuli biasanya jika akan berkomunikasi harus saling berhadapan. Jadi kalau mejanya kotak agak menghalangi gitchu. Selain itu konsep ruangan kafe tidak terlalu padat. Masih ada jarak di antara kursi yang memberikan space bagi pengguna kursi roda.

kafe sunyi jakarta

Selain karena bisa berinteraksi begitu guyub dengan pegawai di sini, Sunyi harus dikasih standing applause untuk konsep go green-nya. Sedotan semua sudah pake besi. Alat makan minum bukan dari plastik. Bahkan alas makan / minum berasal dari potongan kayu, begitu juga dengan banyak furnitur lainnya yang terbuat dari bambu dan kayu.

go green cafe

Yang terakhir paling kece, ada pilihan struk transaksi dikirim via sms. Jadi gak perlu lagi cetak bon pake kertas. Toh gak dikumpulin buat di-reimburse kantor juga haha.

paperless struk

Overall, aku sangat merekomendasiin tempat ini bukan saja karena aku mendukung kesetaraan difabel, tapi akhirnya ada juga tempat nongkrong yang instagramable (if that’s what you want to call) yang punya misi sosial. Istilahnya nongkrong cantik with a cause. Mereka kadang juga buka talkshow belajar bahasa isyarat dll loh jadi sering-sering aja liat IG-nya. Tapi kalau kalian beneran cuma mau cari tempat ngopi yang enak, gak mahal amat dengan tempat nyaman plus free Wifi, yah tempat ini juga sudah top markotop.

Lenny Approved!

Alamat : Jl. RS. Fatmawati no. 15, Cilandak – Jakarta Selatan.

Daftar harga makanan & minuman :

menu cafe sunyi

Yang kupesan adalah Nasi Ayam Wijen (yang di stiker kuning di Main Bites. Lupa dicopotin stikernya haha). Porsinya cukup kenyang, ayamnya lembut, banyak dan enak plus telur kuningnya meleleh. Awalnya gak dikasih sambal, tapi pas nyoba ternyata gak perlu lagi saos/sambal. Segitu aja udah enak! Selain snacks di menu, ada juga kue-kuean macam brownies gitu. Untuk minum aku pilih Ice Green Tea Latte. Rasanya juga pas, tak terlalu manis dan dalam porsi secukupnya. Karena bisa langsung liatin para pegawai bikin, aku jadi bisa minta customized sesuai keinginanku. Esnya dikit, gula dikit dan seterusnya. Ckck sabar yah Andhi menghadapi pengunjung rewel kayak daku 🙁

sunyi cafe

Jam Buka : Ketika Puasa (12.00-22.00 WIB setiap hari) | Kalau normalnya jam 10.00-22.00 WIB.

Buka setiap hari kecuali senin.

Btw kalau sudah jam bubaran kantor atau weekend, pasti rame. Kalau mau sepi, datanglah pas weekday siang yah, sebelum tempat ini tambah viral. Eak!

Jangan lupa main ke kafe difabel lainnya yah yaitu Koptul (Kopi Tuli).

koptul

Travel Now or NEVER
4 Responses

Leave a Reply