Para Inspirasi di Asian Para Games 2018

catur asian para games

Seminggu ini adalah waktu-waktu di mana fisik banyak diuji, mental banyak ditempa, pikiran lebih dibukakan lagi, dan hati..oh hati banyak sekali terjamah (baca : tersentuh). Semua ini biang keroknya adalah Asian Para Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta 6-13 Oktober 2018.

Setelah melihat Pelatnas (Pelatihan Pusat Nasional) kontingen Indonesia di Solo marin, aku cukup tersulut semangatnya dan gak sabar menantikan pesta olahraga difabel terbesar di Asia ini.

Jadinya dari awal aku mang udah niatin untuk nonton langsung pertandingannya. Cabor mana aja boleh deh. Beruntungnya gayung bersambut dan malah diajakin @djikp (Ditjen IKP Kominfo) sehingga aku punya media pass dan bisa lebih leluasa ngeliatin dan foto-foto. Dalam seminggu perhelatannya, ada deh 4 hari keliling-keliling. Puluhan pertandingan aku nikmati. Banyak perjumpaan dengan ratusan momen yang tercipta.

asian para games 2018

Namun terlalu panjang kalau dijabari satu-satu. Jadi aku kasih bisikan aja yah yang mana favoritku.

Catur

Beda dengan cabor badminton, renang, basket atau yang lain, cabor catur kuakui penontonnya lebih sepi, dan pemberitaannya jarang. Mungkin gak kayak cabor lain yang banyak action-nya kan jadi penonton merasa kurang seru. Ditambah pula lokasinya di Cempaka Putih Sport Hall yang ada di kompleks perumahan sehingga agak terpencil. Gedungnya juga tidak luas tapi WCnya bersih banget 🙂

Penonton dilarang membawa HP dan berisik karena olahraga ini kan membutuhkan strategi dan konsentrasi penuh. Sewaktu aku tiba di sana, sedang berlangsung seremoni bagi-bagi medali. Pas banget bisa dengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan bendera Merah Putih bertengger di puncak tertinggi.

indonesia menang

Bli Gede, salah satu wasit dari Bali yang menemaniku kala itu ngasih tahu bahwa capaian Indonesia baik sekali. Total dari 24 medali, kita dapat 11. Wah borong setengahnya. Hingga di hari terakhir Asian Para Games, catur sukses menyumbangkan medali terbanyak untuk Indonesia. Standing applause dulu dong. Gak nyangka kan mereka mantul semua.

Usaha dan kerja keras para atlet Para Games ini sama dengan saudaranya – Asian Games. Keringat belum kering, bonus udah cair yaitu pas paginya sebelum closing ceremony diadakan. Aku sempat liat di foto gitu kan, atlet catur pak Hendi Wirawan menunjukkan buku rek BRI nya dan ada bonus 2,25 MILYAR! Ini baru yang menang dapat 2 medali loh yah. Bayangin tuh bapak Suryanto Edy yang dapetnya 6 medali. Duh pusing aku liat angka nolnya berderet panjang. Dijamin langsung jadi crazy rich Indonesian. Balik-balik ke rumah, pak Edy yang profesinya sebagai tukang pijet ini diarak sekampung pake becak. Nah makanya kalau kalian yang punya anak dan si kecil pengen jadi atlet mohon difasilitasi yah. Biar beragam gitu gak cuma cita-cita pengen jadi dokter, pilot, tentara dll.

catur asian para games
Hendi Wirawan (tengah) dan Suryanto Edy (kanan)

Aku sempat tanya gitu kan gimana mainnya bagi yang buta (tuna netra). Rupanya mereka disediakan papan catur khusus yang di tiap kotaknya ada bolongnya gitu. Jadi mereka pindahin pion tinggal ngingat bolongan itu sambil boleh diraba pake kedua tangannya. Setelah tahu mau diletakin di mana, pionnya tinggal dicoblos masuk ke lubang itu. Masing-masing atlet bakal dikasih kompensasi 3x “salah” masukin lobang yah. Unik kan!

catur para games

Suporter Thailand

“Nipon..nipon?” tanya bapak itu menghampiri setelah aku mengambil gambarnya dengan kameraku.

“what?” tanyaku bingung.

“you..nipon?” ulangnya lagi.

Oooww aku baru ngeh.

“No..no I’m from Indonesia” jawabku. Gak sedikit sih yang ketipu dengan wajahku, termasuk bapak ini.

Setelah tahu aku tuan rumah, dia pun mencoba mengguakan bahasa Indonesia nya sepatah dua patah kata. Aku pun balas menjawab dengan bahasa Thailand yang lebih minimalis lagi “Sawadikap, Kob khun kha.” Lalu kami pun saling mengambil gambar bersama.

Supporter Thailand

Penampilan bapak itu yang lantas kuketahui bernama Dakdae Khamthong sangat menarik perhatian. Beda hari, beda pula kostum yang ia gunakan. Untuk hari senin itu, dia menggunakan baju dengan dominan biru putih merah sesuai bendera Thailand. Dan tentu saja tak lupa membawa bendera Thailand segede gaban. Belum cukup, di tangan satunya ia sibuk memutarkan payung. Di pinggangnya, terkait sebuah drum yang ia tabuhkan manakala dilihatnya atlet bulutangkisnya mulai kendor semangatnya. Dia meneriakkan kata-kata yang tak ku pahami. Tapi aku tak perlu tahu karena semangatnya adalah nilai universal.

Dakdae dan timnya (sekitar 5 orang) bukanlah kontingen resmi Thailand. Sama seperti aku, dia hanyalah masyarakat biasa yang selalu berusaha hadir di tiap event besar di mana Thailand berpartisipasi. Pasti bagi yang nonton Asian Games, kalian juga pernah ngelihat bapak ini.

Karena loyalitasnya, ia dan tim banyak menerima sumbangan dari berbagai pihak untuk mendanai perjalanan mereka ke berbagai tempat acara. Dia juga bahkan nginap di hotel Atlet Century bareng kontingen Thailand. Kehadirannya tentu saja mood booster. Gimanapun berada di negara asing tanpa ada yang mendukung itu bisa bikin nyali ciut.

Aku jadi iri sama Negeri Gajah Putih nih. Thailand kamu beruntung memiliki Dakdae dan timnya. Aku harap Indonesia juga punya orang-orang seperti ini. Makanya aku seneng banget kalau kalian-kalian bisa pada hadir ke pertandingan secara langsung. Emang beda banget loh aura yang ada jika kita berada di stadion dengan kita nonton streaming di laptop sambil nyemil cilok. Jauuuuhhhhhhh….

Di lokasi pertandingan, atlet yang mati-matian berjuang, aku yang keringat dingin. Salah / ketinggalan sedikit, aku yang gigit jari. Mereka udah nyampai di garis akhir, aku ikutan nanggis. Rasanya emosi jadi bercampur aduk dan melebur menjadi satu dengan penonton yang lain. Seketika masalah lain seperti menjadi tidak penting lagi. Semuanya bahu membahu meneriakkan..

I-N-D-O-N-E-S-I-A

*prok prok prok*

Jikalau ada atlet kita yang belum beruntung, kami para penonton berbesar hati menerimanya karena sudah melihat sendiri perjuangan mereka. Itu pun yang kami lihat hanya seupil dari kerja kerasnya yang mungkin bertahun-tahun. Jadi sungguhlah tak elok jika kita mengkritik.

Selain mendukung Thailand pastinya, terkadang Dakdae ini juga menyuarakan Indonesia loh. Lucunya di kepalanya juga terselip bendera Indonesia dan di wajahnya juga ada merah putih. Ughh aku begitu bangga padanya.

Terima kasih Dakdae!

Fotografer Difabel

Tidak hanya para atlet yang membuatku berdecak kagum, tapi orang-orang yang kutemui sepanjang acara. Relawan, pengisi acara difabel, seniman difabel dan juga bang dzoel, seorang fotografer difabel yang menjadi salah satu fotografernya Asian Para Games 2018. Lajang dari Banyuwangi ini lahir dengan konidisi tanpa tangan dan kaki. Namun bang dzoel tetap bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Cuma biar lebih cepat, bang dzoel dibantu dengan skateboard lalu kami tarik. Bersyukur banget pas di GBK disediakan ojek disabilitas gratis yang bisa digunakan. Yang nyupirin berasal dari komunitas difabel juga. Salah satu ojek yang aku tumpangi mengalami kecelakaan kaki dan akhirnya menjadi difabel. Selama acara, mereka membantu tiap hari dan merasa senang dapat diberdayakan. Wah aku dan bang dzoel pun sangat merasa tertolong dengan adanya mereka.

fotografer difabel

Ohya meski kekurangan anggota tubuh, si abang dzoel gak kekurangan prestasi. Awalnya bang Dzoel memulai karirnya sebagai tukang foto KTP di kampungnya. Hasilnya sedikit demi sedikit dibeliin kamera DSLR lalu dia belajar pelan-pelan. Oh dia sempat kursus juga di sekolah Darwis di Jakarta loh. Pantesan hasilnya kece-kece. Kebanyakan yang dia foto adalah model atau yang ada human interest-nya. Mau dong difotoin bang dzoel juga….

fotografer difabel dzoel

Sekarang bang Dzoel udah punya studio foto dan bisa buka lapangan kerja buat orang lain. Ohya ini aku sempat rekam bang dzoel lagi main skateboard. Lihai juga yah.

Kesimpulan :

Pada penghujung perhelatan akbar, Indonesia mendapat ranking ke 5 dengan perolehan 135 medali. Sungguh sebuah prestasi wow buat Indonesia. Tapi aku lebih wow lagi karena aku belajar satu hal penting yaitu olahraga bisa jadi alat pemersatu bangsa-bangsa, agama, suku dan budaya. Karena ketika berada di stadion, lapangan, dll, para atlet lupa jika mereka datang dari berbagai latar belakang beda. Yang ada di benak mereka dan mereka ingat adalah mereka sama-sama datang untuk berlaga dengan adil untuk mempersembahkan kado termanis buat negaranya.

Akhir kata, api Asian Para Games 2018 boleh padam, namun semangat harus terus menyala. Memori berharga selama sepekan ini akan selalu tersimpan rapat di hati.

gelora bung karno

Aku yakin selanjutnya kita juga bakal bisa menggelar Olimpiade!

Indonesia BISA!

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. Meskipun 2 even engga sempat datang langsung…. Bersyukur banyak blogger yang nulis tentang even besar tersebut. Thank Kak Lenny…. menarik dan peduli buat teman2 difabel. Sukses dan Salam hangat buat mereka

Leave a Reply