Orang Rimba dan Falsafah Hidupnya

orang rimba

Setelah tengah malam kemarin hingga dini hari trekking dan naik motor untuk sampai di Kampung Adat Kedundung Mudo, paginya aku terbangun ketika hari cukup terang.

Semalaman aku susah tidur. Tendaku sebenarnya sangat nyaman seandainya dialasi kasur tipis. Namun kenyataannya tidak seindah itu. Punggungku encok semua karena beralaskan tanah dan sebuah batu yang mengganjal. Bahkan semalam tubuhku menggigil. Kukira aku kena malaria. Sarung dan kain yang kubalut ke tubuhku bahkan tak mampu menahan udara rimba yang begitu sejuk, menusuk hingga ulu hati.

Jadilah aku terbangun dengan sungkan dan berat. Telingaku mendengar ada yang bercakap-cakap di luar. Meski sangat kurang tidur, aku paksakan keluar karena kami cuma punya 4 jam di sini. Merekalah alasan kenapa aku harus susah-susah ke sini dan meninggalkan semua kenyamanan yang bisa diberikan rumahku.

Ketika membuka tenda, mataku kelilipan dan ku merasa dunia terlalu silau. Wah ini efek semalaman gak nemu listrik nih. Aku jadi mengerti kenapa orang rimba menyebut orang di luar hutan sebagai Orang Terang.

bukit duabelas

Aku berjalan ke arah sumber suara dan menemukan bapak Grip dan istrinya serta anak bungsunya, Menalang sedang santai. Bapak Grip adalah Temenggung alias ketua kelompok. Orang Rimba hidup berkelompok dan satu kelompok dipimpin oleh Temenggung yang menjadi juru kunci antara si kelompok dengan kelompok lain/Orang Terang. Meski menganut matrinelial layaknya orang Minang, tapi pemimpin tetap pria.

Awalnya aku berpikir ketika melihat orang rimba, mereka semua tidak berpakaian atau hanya menutupi kemaluan saja. Rupanya di sini mereka sudah mengenakan pakaian lengkap. Demi merasakan otentiknya mereka, kami pun meminta mereka mengganti pakaian mereka dengan kain. Yang wanita mengenakan kemben, sedang pria hanya menggunakan cawat saja. Namun Menalang, hingga dipaksa ibunya pun tak mau mengenakan cawat lagi. Akhirnya kami bujuk ibunya agar tidak usah dimarahi, biarkan saja jika dia tak mau. Sebagai gantinya, kami pun meminta pria lain, Bateguh untuk memperagakan bagaimana cara menggunakan cawat ini.

Tak lama kemudian, kami kedatangan anak-anak si ibu yang lain beserta anak-anak mereka masing-masing. Tak lama kemudian muncul si nenek. Begitu seterusnya hingga gazebo tersebut penuh. Aku senang sekali melihat kehadiran mereka. Menurut guide, hal ini jarang terjadi. Palingan kalau berkunjung, biasanya yang tampak hanya satu keluarga saja. Nah ini aku bisa jumpa sampai tiga generasi. Saking banyaknya, ku bingung yang mana anak, yang mana cucu dan mana satu yang cicit.

suku anak dalam

Si nenek masih terlihat sehat dan bugar. Berhubung Orang Rimba dulu tidak pernah menghitung waktu (tanggal,bulan,hari) maka si nenek tak tahu usianya. Yang ia tahu, ia belasan kali melahirkan, meski banyak di antaranya yang meninggal. Sisanya dia punya 9 anak. Salah satu anaknya, si ibu yang menjadi istri Temenggung. Si anak pun nasibnya mirip dengan si ibu. Melahirkan banyak kali, tetapi ada juga yang meninggal dan sisanya 8 anak. Salah satu cucu, yang aku tanya, bernama Sulam, juga telah menikah namun bayi pertamanya meninggal. Usia Sulam kuperkirakan baru 17 tahun, namun sudah melewati masa-masa kelam seperti itu.

Segera setelah pipis di sungai, aku mengganti bajuku dengan sarung dan kubikin ala kemben biar berbaur dengan mereka. Asik juga ke mana-mana pakai sarung, hanya saja suka melorot. Sebelum ikut trip, kami memang diinfokan jika ingin membawakan sesuatu untuk Orang Rimba, bawalah kain. Kain apa aja boleh.

Awal mulanya, Orang Rimba yang diperkirakan berasal dari Orang Minang ini tidak menggunakan pakaian, palingan hanya kulit kayu untuk menutupi kemaluannya. Itu pun dirasa ribet, tak nyaman dan kadang suka ada kutu kayunya. Jadinya, lama-lama mereka menggantinya dengan kain. Mungkin juga pengaruh liat Orang Terang yang berbusana pakai kain sehingga ditirunya. Selain menjadi pakaian, kain juga berguna sebagai mahar pernikahan, yaitu harus ngumpulin sebanyak 60 kain. Kalau misal ada Orang Rimba melakukan kesalahan, maka harus membayar denda adat dengan kain juga. Minimal itu 6 kain untuk yang nyolong umbi. Kalau paling banyak itu 100 kain karena menebang pohon sembarangan. See how good they treat nature? Wajar saja karena Orang Rimba menggantungkan seluruh hidupnya di hutan.

Sumber makanan dan obat-obatan mereka berasal dari hewan liar dan tanaman yang tumbuh di sini. Mereka hanya makan dari hutan, sehingga makanan luar masih sedikit yang mereka mau konsumsi. Pas itu grup kami memasak roti panggang gitu pake telor, sayur dan kentang goreng. Orang Rimba tidak mengonsumsi hewan ternak beserta turunannya sehingga ketika ditawarkan telur, mereka menolak. Namun untuk anak mudanya yang sudah terbiasa ke luar hutan, mereka masih mau dikasih roti. Begitu pun anak kecilnya, suka banget dengan segala permen. Yang dewasa pun banyak yang ngemut permen bon-bon gitu. Hm… aku sih cuma cemas aja kalau mereka sakit gigi tar berobatnya susah. Apalagi jika belum ada budaya gosok giginya.

Sayangnya di trip ini kami tidak melihat makanan apa yang biasanya mereka konsumsi. Sempat sih dibawa melihat cara mereka memasang perangkap untuk buruan. Biasanya ini tugas para lelaki. Mereka mengintai dulu jejak para hewan seperti kancil lewat mana, jadi tar dipasang di sana. Jeratnya cuma terbuat dari ranting kecil gitu terus ditutupi dedaunan biar gak telihat. Nah entar dibiarin aja gitu tar sore baru dicek ada yang masuk perangkap gak. Setelah itu bisa juga pada pergi berburu beneran, entah babi, labi-labi atau apapun yang bisa mereka dapatkan secara liar di rimba. Dalam sehari tidak tentu dapatnya. Kadang cuma bisa satu, lalu kadang bisa banyak. Nantinya hasil buruan ini dinikmati bersama-sama.

wanita suku anak dalam

 

Sementara itu di kampung, si wanitanya mengambil tumbuh-tumbuhan buat sayurnya atau umbi-umbian untuk dimakan sebagai sumber karbohidrat. Kalau di dalam hutan sepertinya jarang ada sawah, jadi lebih banyak ambil umbi-umbian yang mereka sebut beno. Itu pun aku liat kecil-kecil gitu. Duh apa cukup yah? Nantinya umbi-umbian ini direbus. Mereka sudah mengenal garam dan juga penyedap rasa loh.

Kalau untuk obat-obatan, aku dikasih liat tumbuhan Pasak Bumi. Yang cowok langsung mesem-mesem karena tahunya itu obat kuat. Tapi kalau bagi Orang Rimba, ini buat obat batuk dan deman. Nantinya diambil akarnya dan direbus. Katanya airnya bakal pahit banget. Hm.. aku minum obat batuk Ibu dan Anak atau Panadol aja deh. Ohya di saat kami lagi ngobrol, tiba-tiba temanku kakinya terkena pacet di kakinya. Kami cukup kaget dan bingung harus berbuat apa. Si istri Pak Tumenggung dengan cekatan dan pake tangannya langsung ngambil abu kayu yang tadi sempat dibakar lalu ditaburin di kaki temanku. Simsalabim si pacet langsung jatuh ke tanah. Keren! Ku baru tahu. Kalau dulu pengalaman di Papua, aku sih pakenya api dari mancis gitu hehe.

pacet

Untuk budaya, sayangnya aku gak kesempatan melihat tarian atau nyanyian begitu. Satu-satunya yang kulihat adalah hasil kerajinan tangan mereka yakni Sebalik Sumpah. Sebalik sumpah ini nama tanaman gitu. Nah diambil bijinya lalu dijadiin kalung dan gelang dan biasa mereka pakai seperti yang dipake si nenek. Gunanya buat tolak bala gitu dan mereka pun menjual. Aku pun beli satu doang 50ribu biar mereka ada dapat penghasilan. Selain itu ada juga ambung, yang merupakan tempat mereka membawa hasil bumi, ranting dll dan terbuat dari anyaman rotan. Kalau cowok bawanya kayak bawa ransel. Kalau wanita kadang talinya diikatkan hingga ke kepala buat tambahan menahan beban. Bisa juga buat dijadiin bando hihi. Aku suka banget konsep ambung ini karena praktis dan gak perlu tuh namanya nenteng-nenteng kresek buat bawa-bawa barang. Ya kan?

ambung

Rencananya kampung adat yang kami kunjungi ini menjadi percontohan agar turis-turis ke depannya bisa mampir ke sini aja. Ohya trip ini pertama kalinya loh yang handle adalah Orang Rimbanya. Karena biasanya yang jadi penghubung wisatawan itu Jenang (orang dusun biasa) lalu mereka si Orang Rimba dibagikan komisi gitu. Sekarang, diharapkan merekalah yang mengelola trip sendiri sehingga lebih adil saja buat mereka.

cawat

Meski bilangnya kampung adat, di sini cuma ada dua rumah khas Orang Rimba yakni Rumah Dagang. Sangat simpel seperti halnya rumah panggung di Jambi. Hanya ada dua sekat gitu untuk tempat tidur. Kalau masak-masak mereka di luar. Aslinya sebenarnya kalau keluarga Pak Tumenggung ini rumahnya masih jauh masuk hutan lagi dan tidak bisa difoto dan terbatas juga dikunjungi karena mereka kan masih penganut animisme jadi kepercayaan mereka di dalam rumah itu ada dewa-dewanya gitu jadi banyak lah pantangannya. Nah untuk mengakomodasi turis yang tentunya kepo akan segala hal dan butuh dokumentasi, maka ketika ada tamu Pak Tumenggung dan keluarganya pindah sementara ke rumah ini untuk berinteraksi dengan para tamu. Setelah kami pulang, yah mereka juga balik lagi ke kampung asli mereka. Win-win solution lah yah jadinya.

rumah suku anak dalam

Ohya dulu sebelum bertemu mereka aku kira Orang Rimba ini hidup nomaden, tapi ternyata enggak juga. Mereka hanya berpindah ketika terjadi wabah penyakit / ada keluarga meninggal atau yang dikenal Melangun. Dulunya melangun ini bisa sampai bertahun-tahun loh. Jalan aja terus gitu sambil menangisi nasib. Kalau sudah lelah mereka berhenti. Kalau sekarang, sepertinya Melangun-nya cuma beberapa bulan gitu mengingat area hutan kan semakin sedikit. Filosofi ini bisa diterapkan juga di masa sekarang sih. Hayo sapa yang kalau patah hati biasanya pergi ke antah beranta biar gak kepikiran? mudah-mudahan pas balik sudah bisa move on hehe. Makanya itu kalau ada Orang Rimba dari kelompok lain ingin melewati area mereka, biasanya harus izin dulu dan ditanya apakah lagi sakit, batuk atau apa gitu. Tujuannya agar tidak menyebar wabah ke kelompok mereka. Soalnya repot kan kalau harus sering Melangun gotong-gotong barang, bikin rumah baru lagi dan lain sebagainya.

Ngomong-ngomong Melangun, tak terasa kami pun sudah harus pulang karena melihat awan mendung menggantung. Yang semalam aja tanahnya udah kayak bubur. Kalau sempat hujan lagi, bisa-bisa kami terperangkap di hutan. Oleh karena itu, kami pun segera pamit dan trekking jalan kaki lagi. Kalau semalam pas ke sininya lumayan banyak naik motor, pas pulangnya 3/4 perjalanan jalan kaki semua. Soalnya kondisi motor udah pada hancur-hancur dan ban mulai pada kempes karena bawa banyak barang plus jalanan rusak.

hutan jambi

Biar nanti jalannya gak keberatan beban hidup, sebelum pulang aku kasih dua kainku. Aku juga nyamperin anak-anak yang sedari tadi liatin dan ngikutin hingga ke tenda. Mereka cukup kepo tapi kalau diajak ngomong diem aja. Entah mereka takut, gak ngerti bahasaku atau gimana ku juga bingung. Mereka mang punya bahasa sendiri yang agak beda dengan bahasa Jambi. Tapi kalau yang Pak Tumenggung, ibu dan anak-anak mudanya bisa berbahasa Indonesia lancar. Yang agak susah kayak si nenek atau yang anak-anak kecil gini. Tapi yah sudahlah, aku tahu kok mereka baik-baik dan manis-manis banget. Jarang di antara mereka ada yang nangis. Semuanya kalem banget meskipun dihampiri tidak ada yang takut. Mentalnya sungguh pemberani!

suku jambi

Ditantangin foto gini juga bukannya ngacir, malah berpose fierce. Eakk~~

Jadi susah nih mau berpisah sama mereka hiks! Baik-baik yah kalian di sini. Belajar yang rajin. Ohya aku sempat ngetes Manulang angka 1-10 wah ternyata dia bisa tuh. Rupanya jam 8 biasanya ada guru yang datang ngajarin mereka. Sayang pas hari itu gak ada guru yang nonggol.

Aku masih berharap gitu pas perjalanan pulang papasan nemu guru di jalan. Eh taunya enggak. Selama 2 jam jalan itu gak ada ketemu orang siapapun. Buset sepi amat emang nih hutan. Yang ada cuma bunyi siamang yang berisik banget kayak mau kawin. Pantesan beberapa Orang Rimba ngeletakin motor giu aja gak cemas. Yah gak ada yang lewat sih.

Bagus juga jadi sepanjang jalan itu gak ada sampah dan barulah aku bisa mengagumi rimba sumatera yang lebat-lebat dan sehat ini. Tetaplah lestari hutanku!

Semoga semua keindahan alam dan keramahtamahan Orang Rimba ini juga bisa kalian rasakan yah lewat vlog-ku berikut ini :

dan satu lagi hasil dari Bang Hendi – Fresco trip panutanku :

Travel Now or NEVER
10 Responses
  1. Wah tuntas. Sebenernya aku ada beberapa pertanyaan, tapi mungkin itu biar aku pendam sendiri saja. Hahaha.
    Kesimpulannya, Suku Anak Dalam ini sudah nggak seprimitif yang dibayangkan ya? Anak-anak muda mereka sudah bersentuhan dengan dunia luar.

    Bahkan aku pernah nonton video kalau ada anak suku Anak Dalam yang masuk jadi TNI terus pulang gitu.

    Semoga yang terbaik untuk semuanya.

    1. Hayo bisa dijapri kalau mau tanya-tanya hehe betul kak banyak juga SAD yang udah hidup dan berbaur dengan masyarakat kok. Semoga semuanya baik-baik saja yang SAD dalam hutan maupun di luar hutan.

  2. Wah, salut kak…. aku bertahun2 tinggal di jambi malah gak pernah masuk ke suku rimba, penasaran sih, tp denger2 harus pake penghubung n harganya lumayan… belum kesampean smp sekarang, paling sih liat mereka di pasar hehehe

  3. lumayan ya kak, (lumayan kalo buat beli tiket pesawat pp) wkwkw…
    tp kayaknya sebanding dengan pengalaman dan pelajaran hidup yg bisa didapat dengan langsung berinteraksi sm mereka…

Leave a Reply