Menembus Rimba Demi Suku Anak Dalam

Sebagai gadis Jambi, aku akui bahwa penduduk asli provinsi ini yakni Suku Anak Dalam (SAD) masih dipandang sebelah mata. Ku ingat dulu suka ada becandaan begini, “Kau nih kubu nian” yang mana artinya norak, kampungan, terbelakang dan hal-hal negatif lainnya. Pada saat itu aku tidak tahu bahwa memanggil SAD dengan panggilan Suku Kubu adalah salah satu yang dibenci oleh SAD.

Dalam bahasa SAD, kata kubu emang berarti kasar sehingga tentu mereka tersinggung. Yah persislah kalau orang kulit hitam kita panggil dengan N***a, pasti mereka tidak senang.

Hal simpel seperti ini baru ku ketahui ketika benar-benar bertatap muka dengan mereka. Jadi tak sia-sia lah aku menempuh perjalanan terberat yang pernah aku jalani demi melihat SAD yang beneran tinggal di dalam rimba Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Karena kalau yang udah tinggal di luar hutan, biasanya mereka sudah lebih banyak terpapar modernitas dan bahkan sudah memeluk agama juga.

Awal mulanya, aku gak ada tuh rencana pengen ke hutan. Pas itu kebetulan aku lagi pulang kampung karena imlek. Pas goler-goler di rumah, ku kepikiran “Eh mumpung di Jambi enaknya jalan-jalan ke mana yah?” selain ke Candi Muara Jambi dan Gentala Arasy.

Aku pun googling di Instagram dan ketemu open trip yakni Fresco Trip. Dari gambar-gambar dan penjelasannya sih bikin mupeng hingga akhirnya aku WA. Dari WA, bang hendi selaku pemiliknya juga responsif dan baik sehingga aku pun ikutan tripnya mengingat open trip (apalagi dengan harga segitu) seperti ini jarang ada. Maklumlah peminatnya pasti tak banyak. Aku berani taruhan jarang ada orang Jambi yang pengen ikut trip gini, kalau bukan orang LSM, peneliti atau punya minat khusus.

Di hari yang sudah ditentukan, pada hari Jumat setelah Imlek, trip pun dimulai. Aku bersama 5 orang peserta trip lainnya baru bisa berangkat jam 4 sore dari Kota Jambi karena beberapa hal. Aku kira yah sudah telat dikit gpp deh. Gak tahunya perjalanannya cukup lama yakni 6,5 jam. Kami tiba di pos pertama yakni kantor pengelolaan taman nasional wilayah II Tebo Resort Air Hitam I untuk melapor terlebih dahulu dan juga makan malam. Gokil perut baru ketemu nasi di jam 10 malem.

Habis makan, staf resor tersebut memberikan pilihan apakah ingin melanjutkan masuk ke hutan besok pagi atau tetap malam ini. Pertimbangannya tentu karena hari sudah sangat larut dan baru dapat kabar kondisi jalan di hutan menjadi sulit karena hujan yang melanda 3 hari belakangan. Gak heran sih soalnya siangnya aja hujan lebat juga turun. Belum lagi ada resiko dengan binatang liar di hutan dan mungkin staf itu melihat peserta trip yang sudah bapak-ibu dan bahkan ada yang sudah lansia haha Tapi staf itu gak tahu yang paling tua ini justru paling kuat dan gesit. Tenaganya melebihi aku lah pokoknya. Wong udah sampai mendaki Gunung Rinjani, Kerinci dan masih banyak lagi!

Aku sendiri mikir-mikir juga sih buat lanjut. Tapi kalau gak lanjut lah piye kasian anak-anak SAD yang jadi ojek sudah standby dari tadi. Bahkan katanya kami bakal disambut tari gitu which is sudah pasti batal karena jam segini udah dipastikan SAD udah tidur. Namun instingku milih bablas wae lah. Untungnya keputusan bulat tetap lanjut. Kami pun naik mobil lagi dan bersiap menuju ke pos ke 2 yakni di Kantor Warsi (LSM). Menuju ke sini mobil kami mulai merasakan jalanannya yang hancur. Setibanya di sana, waktu sudah menunjukkan tengah malam.

trekking di bukit duabelas

Dari kejauhan aku melihat di depan kantor, telah terparkir rapi jejeran motor dan banyak anak muda SAD. Jadi selain sebagai ojek mereka kami mintaiin tolong juga jadi porter untuk bawa air, makanan, tas de el el. Siap semuanya, aku pun naik di salah satu motor SAD yang belakangan ku ketahui namanya Husein. Aku sempat melirik sebentar ke belakang yakni ke kantor Warsi karena di sanalah terakhir kali aku melihat listrik. Lepas dari itu, di depan kami sebuah jalan sempit telah menyambut perjalanan kami menembus rimba.

Husein, dengan cekatan menunggangi motor meliuk-liuk mengikuti jalan tanah yang licin dan mirip bubur itu. Kami berada di garis terdepan sementara motor lain mengekor. Aku bisa bayangkan seisi hutan pasti kesal mendengar konvoi motor di tengah malam ini. Sesekali Husein memberi tahuku untuk menunduk ketika kami melewati dahan atau jika ada ranting berduri atau rintangan lainnya. Aku mematuhinya baik-baik karena dialah “Google Maps” kami.

Kondisi hutan ini boleh dibilang sangat sehat. Tumbuhan tumbuh rapat dan tinggi-tinggi. Saking suburnya, banyak jalanan di mana aku merasa seakan-akan dipeluk dan tenggelam dalam pelukan tanaman ini. Tak jarang muka, tanganku kena baret sana-sini karena jalanan yang sempit banget.

Setelahnya, terkadang aku juga harus turun karena motor Husein terjebak di tanah lumpur. Tak jarang aku bantu dorong karena rombongan belakang belum sampai. Sebagai balasannya, Husein memberikanku cipratan lumpur di bajuku. Makasih yo!

Makin masuk ke hutan, jalanan bukannya makin bersahabat, namun justru makin banyak ujiannya. Kelokan, tanjakan, turunan seperti tiada habisnya. Aku pun kepaksa naik turun motor berulang kali karena motor lagi-lagi terjerambab dalam lumpur. Ada kalanya aku gak kuat mendorong dan mengangkat ban motor Husein, sehingga harus menunggu motor belakang menyusul. Bagus juga sih karena sungguh tak elok jika tak menunggu rombongan. Kalau nyasar nanti makin berabe.

jungle trekking

Kalau dipikir-pikir ternyata lebih capek naik motor jika jalanan hancur. Soalnya aku harus mencengkram besi motor di belakang lebih kuat. Atau otot di pahaku sampai kram karena turunan curam itu membuat pahaku harus bekerja ekstra menahan beban badan biar gak merosot ke Husein. Belum lagi badan selalu digonjang-ganjing gak karuan. Hanya saja naik motor enaknya bisa lebih cepat sih.

Beberapa kali aku bilang ke Husein “Tunggu dulu aku turun bae” yang dia bilang gak usah. Mungkin dia takut aku lelah kali. Tapi pernah juga suatu kali aku emang harus turun dari motor karena ada tanjakan curam. Begitu aku turun dan menepi, Husein langsung tancap gas. Motor Honda yang digeber kencang-kencang gasnya itu pun goyang ke kanan-kiri-kanan-kiri agar bisa lolos dari lumpur dan naik. Aku yang melihatnya dari belakang seperti lagi melihat atraksi tong setan atau motor gila.

Tak lama usaha Husein berhasil, dan dia hampir mencapai puncak tanjakan. Di sanalah aku tersadar akan satu hal.

Aku tak punya senter kepala seperti Husein. Seketika kegelapan absolut menghampiri seiring Husein menjauh.

“Bang..bang Husein..tunggu…” aku berteriak-teriak seraya melihat setitik cahaya lewat di depan mataku.

Sebuah warna putih bersinar yang melayang di gelapnya malam itu membuat bulu kudukku berdiri.

Bang Husein pun menoleh ke belakang ke arahku sehingga sinar senternya membuat kunang-kunang yang tadi lewat menjadi tak terlihat lagi. Aku pun buru-buru jalan dan kembali naik ke motor Husein.

Karena sudah ngeh akan adanya kunang-kunang, mataku menjadi awas ketika melihat sesuatu yang bersinar di semak-semak. Kadang-kadang mereka muncul bergerombol. Kadang-kadang juga aku tak melihatnya lagi dalam jangka waktu yang lama. Iya lama, karena perjalanan yang kukira bakal ditempuh 1 jam itu ternyata hampir 3 jam!

Dari awalnya aku merasa takut hantu, takut binatang liar, takut tergelincir, pelan-pelan perasaan ngeri itu menghilang dan tergantikan dengan perasaan tenteram. Apalagi saat mendongakkan kepala ke atas dan melihat bulan yang tinggal seuprit yang dikelilingi taburan bintang. Kalau mau lebih khidmat lagi, pejamkan mata lalu dengarkan bebunyian hutan yang khas bak lulaby yang indah. Mataku pun mulai terbiasa dengan warna hitam yang mendominasi. Hanya saja memang badan tak dapat dibohongi. Mulai dari rambut, ketek, punggung semua basah oleh keringat. Otot-otot pun tegang karena dipaksa lembur. Tak terbayang lagi gimana capeknya Husein yang bawa motor plus bawa barang juga di depan.

Untungnya kami masih sempat beberapa kali istirahat seperti di jembatan di bawah ini sambil nungguin yang lain. Liat nih di depan jembatan itu gelap banget kalau gak disenterin. Kalau aku lewat sendiri, udah pasti nyemplung ke sungai tuh mana kayu jembatannya pada licin lumutan dan ada beberapa lobang mengangga.

trekking bukit duabelas

Setelah 5 jembatan terlewati, dan sebuah tanjakan yang bener-bener curam kayak naik bukit sehingga ada beberapa motor yang tewas di situ, maka itu artinya kami sudah hampir sampai di tujuan. Husein juga mulai memberikan kode bahwa kami hampir sampai. Dalam hati agak gak percaya sih karena sudah sering di-PHP-in ama orang lokal yang suka bilang “Gak jauh lagi kok”, “Deket tuh di depan” padahal nyatanya masih beberapa kilo lagi. Tapi syukurnya kali ini tak seperti itu. Kami beneran sampai di Kampung Adat Kedundung Muda.

Pas tiba, ada api unggun kecil yang menyambut kami. Meski sudah tidak ada lagi tarian penyambutan, tapi bapak dan ibu SAD di sana bangun dan menyalami kami. Maaf yah pak bikin kalian begadang.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan kecuali ke WC (sungai kecil) buat pipis, lalu tidur. Kami telah disediakan tenda namun ada juga yang memilih tidur di rumah adat bareng keluarga SAD. Aku memilih di tenda aja biar bisa nostalgia pas zaman pramuka dulu. Pas mau baring, ouch punggungku langsung mendarat di tanah yang ada batu nonjol. Rupanya ini tenda doang gak ada alas kasurnya. Bener-bener alami dan seadanya sehingga tak heran juga kami bobo bareng beberapa serangga yang hinggap di tenda.

Tapi karena sudah kecapekan, bisa juga aku tidur. Itu pun ngorok karena lelah banget. Malamnya ku sempat menggigil karena udara bersih hutan ini dingin banget. Berasa ampe ke tulang deh mesk udah pake sarung. Aku sempat mikir apa gak usah tidur aja toh 3 jam lagi kudu bangun, tapi ternyata ku tak sanggup. Zzz…..

Bersambung ke sini..

Tapi kalau penasaran banget, cek vlogku yah.

dan satu lagi ini buatan Hendi Fresco :

Travel Now or NEVER
8 Responses
    1. kebanyakan yang berbau dengan alam dan adventure kek gunung kerinci, danau kaco, melihat binatang liar seperti harimau dll di habitatnya, dan tentu saja bertamu ke SAD ini ehheh

  1. Yah kok bersambung. Ini baru cerita menuju ke kampungnya aja udah menegangkan, apalagi pas acara di sana, Ci.
    Penasaran soalnya Cici sampe sana pas udah malem. Aku pengen tau kalau kena cahaya matahari seperti apa bentuk kampungnya. 😀

    Mention di twitter ya Ci kalo udah diposting yang di desa adatnya 😛

Leave a Reply