Kisah Horor Mistis Bertemu Hantu di Hotel

Tahun lalu ketika gelaran Asian Para Games, aku sempat ketemu sama para atlet yang latihan di Solo buat persiapan. Kala itu usai latihan, aku turut mengantar mereka tim bowling kembali ke Hotel Sahid Kusuma yang layaknya sudah seperti mess karena mereka telah tinggal berbulan bulan di sana.

Suasana gelap dan hanya beberapa lampu kuning menghiasi. Dari sekelabat aja aku tahu hotel ini indah dengan desainnya yang masih mempertahankan kearifan lokal. Aku pun berujar ke salah satu ibu si atlet “Bagus yah hotelnya”.

“Iya tapi banyak hantunya,” yang langsung dijawab tanpa tedeng aling-aling.

DEG!

Aku langsung tak jadi mengiyakan ajakan mereka melihat-lihat kamar. Bukan kenapa-kenapa, tapi gak usah jauh-jauh wong hotel yang kuinapi sendiri, Sahid Jaya, juga tak kalah serem.

Beberapa hari sebelumnya, aku check-in di Sahid Jaya. Teman-temanku belum datang dan masing-masing kami diberikan satu kamar. Sehabis check-in aku langsung naik dan mencari kamarku. Begitu ketemu, aku langsung masuk. Kesan pertama begitu masuk adalah kamarnya panas banget. Aku tahu sih Solo lagi terik-teriknya dan tirai terbuka lebar sehingga sinar matahari masuk dengan leluasa. Apalagi aku ada di lantai yang cukup atas.

Segera aku mencantolkan kunci agar AC cepat hidup dan aku tak gerah. Setelah itu aku perhatikan, karpet kamar tepat di depan kamar mandi sudah usang. Aku melepas sandalku dan terasa banget bahwa karpet tua ini sudah lama tidak divakum. Aku bahkan bisa merasakan debu-debu karpet itu hinggap di telapak kakiku. Kondisi kamar juga tak kalah ngenes. Aku cek ke balik tirai ada sarang laba-laba. Bahkan di samping kasur, ada coretan tangan serta dinding yang mengelupas sedikit. Kentara sekali bahwa kamar ini sudah lama tak dibersihkan atau dihuni. Namun satu yang sangat mengganjal adalah aku seperti masuk ke dimensi lainnya. Kamar ini seperti luas sekali dan aku seperti seorang diri di dimensi tersebut. Aku berusaha menepis pikiran negatif yang mulai hinggap di otakku.

hotel sahid solo angker

Sebagai gantinya, aku menelpon resepsionis.

“Mbak, boleh minta ganti kamar gak? Di sini kamarnya kotor…” aku berusaha menjelaskan semua keluhanku.

Sayangnya, hotel full dan tidak ada pengganti.

“Semua kamar seperti itu mbak.” jawaban dipomatis yang tak bisa kuterima.

“Kami akan kirim orang untuk membersihkannya yah.” kalimat terakhir tersebut dirasa menjadi satu-satunya solusi yang bisa ditawarkan.

Aku tak puas dengan jawaban tersebut. Suasana di kamar pingin bikin pipis namun melihat kaca kamar mandi dan toilet yang tepat berada di belakang daun pintu, membuatku mengurungkan niat. Aku langsung kabur dan memutuskan ke resepsionis lagi. Dengan pintarnya, aku mengakali dengan membujuk salah satu temanku, kak Eka untuk sekamar denganku tapi di kamarnya yang lain. Setelah diskusi alot, akhirnya disetujui begitu.

Aku pun lega dan kembali ke kamar. Hanya berpikir bahwa aku harus kembali ke kamar itu pun membuat bulu kudukku berdiri. Sebagai gantinya aku beralasan minta office boy untuk ikut ke kamar mengambilkan barang. Padahal ku tahu aku hanya membawa satu koper kecil yang bisa kutenteng sendiri. Namun aku tak mau tahu, harus ada orang yang menemaniku kembali ke sana.

Ketika tiba di depan kamarku, aku melihat dua orang house keeping telah selesai membersihkan. Ketika kucek, tidak banyak perubahan yang terlihat. Tapi ini bukan lagi perkara debu yang nempel di meja atau noda di seprei. Hawa aneh di kamar itu tetap janggal dan menggelayut tak mau pergi. Aku berkemas secepat mungkin. Bahkan tak sempat untuk sekadar memasukkan laptop ke tas. Semua barang kuangkut begitu saja. Pokoknya aku tak ingin barang sedetik pun berada di kamar itu.

Untunglah kamar temanku, jauh lebih nyaman. Entah kenapa meski berada di sisi yang sama (hanya beda lantai), tapi kamar ini beda dengan kamar sebelumnya. Perabotanya juga tampak lebih baik dan auranya bersahabat. Siangnya. temanku datang dan dikasih kamarku sebelumnya yang horor itu. Aku tak berkata apa-apa. Tak lama, dia pun mencariku dan curhat bilang tak betah di kamarnya. Aku pun minta maaf dan “buka kartu” bahwasanya aku juga merasa ada yang tak beres dengan kamar itu. Kami berdua tipe yang cuek akan hal mistis dan tak punya indera keenam. Tapi bahkan itu saja tak menghalangi kami untuk merasakan hal-hal aneh tersebut.

Sorenya temenku satu lagi tiba dan kami ajak ke kamar itu. Dia lebih sensitif soal beginian. Setelah dari sana, dia lantas bersendawa selama lebih dari sejam. Kasian banget liatnya. Susah ngomong dan susah napas jadinya. Akhirnya kami putuskan bertiga untuk tidur sekamar saja dan bahkan satu ranjang (meski beda kelamin) untuk menghindari pengalaman buruk. Saking takutnya kami sempat berpikir untuk pindah hotel namun untunglah tidak perlu sampai begitu ketika temenku udah gak sendawa haha

Pulang-pulang dari Solo, setelah istirahat salah satu kakiku malah sakit bukan main padahal aku tidak jatuh atau gimana-gimana. Sakitnya sampai bikin pincang sebelah. Akhirnya aku pun diurut sama mbak kos. Dia mengurutiku cukup lama di area punggung. Menurutnya aku sedikit ketempelan karena punggungku merah semua dan kakiku kaku sekali. Hiks pedihnya itu diurut lama gitu… tapi alhamdulilah setelah itu sudah tidak apa-apa.

Sebelumnya jujur aku gak pernah tuh ngerasain begitu-begituan, namun aku jadi mau tak mau teringat lagi dengan Hotel Solo Paragon yang juga kuinapi di beberapa bulan sebelum di Sahid Jaya. Tapi kali ini aku baik-baik saja. Justru temen-temen yang nginap di sana yang punya banyak kejadian horor seperti tengah malam pintunya diketok kencang sekali, lalu ada yang bisa masuk ke kamar lain padahal itu bukan kamarnya. Denger-denger Solo Paragon ini memang sudah terkenal horor karena awalanya adalah bekas RS Belanda dan kabarnya di situ juga tempat pembantaian. Bahkan hingga ke mall di sampingnya, katanya serem juga terutama di basement. Ini ada testimoni dari temenku pas nginep di sana :

solo paragon angker

Selain kisah serem seperti itu, kadang ku juga denger testi tentang kemunculan orang yang pakai pakaian layaknya dari keraton / abdi dalem. Begitu aku share tentang cerita ini di IG storyku, ada juga sama yang mengalaminya, tapi di Phoenix Jogja. Dari sini mulai deh banyak yang cerita horror masuk ke DM IG-ku seperti ini :

hotel angker

Lalu ada juga cerita serem dari Jakarta. Kukira karena kota besar gini, hantu-hantuan sudah jarang eh rupanya ada juga, kayak ini salah satu pekerja di Hotel Indonesia (sebelum jadi Kempinski) :

hotel indonesia angker

Lalu ada juga seputaran hotel dekat Sarinah :hotel jakarta angker

Terus ada yang cerita soal Hotel Century Atlet yang aku pernah inapi dan breakfast-nya enak pula :

hotel century atlet angker

Dan ini yang paling serem menurutku, masih di Century Atlet :

hotel century serem

Tahu endingnya, gimana? ternyata pihak hotel menjelaskan bahwa benar adanya Dewi itu pegawai di sana tapi telah meninggal 4 tahun yang lalu karena bunuh diri. Pas pula kejadian itu adanya di lantai 4 loh. Hiiii~~ tapi masih kata temen yang pernah training di sana, hotel itu mang ada penunggunya semacam noni-noni belanda yang juga mati di sana atau bunuh diri gitu.

Setelah itu, ada pula yang bercerita soal hotel jakarta lainnya yang tak kalah seru :

hotel media serem

Duh duh sebenarnya masih banyak tapi aku ngetik gini aja udah merinding mulu. Maaf aku anaknya penakut jadi kututup sampai di sini yah. Pokoknya intinya banyak-banyak doa, jangan bikin macem-macem, kalau bisa ada temen sekamar, pilihlah hotel yang baru atau ramai, hindari yang desainnya vintage/tradisional gitu. Semoga gak apes yah.

Kalau kalian punya cerita serem apa? komen dong!

Travel Now or NEVER
22 Responses
  1. Waaah gela sehhh kalo udah hotel horor story kayak gini. Emang it’s sih kalo di hotel tua tuh suka serem-serem gimana gitu. Di Bali coba deh nginep di hotel Gran Inna yang di Denpasar. Numpang pipis di salah satu kamarnya aja merinding gitcyuh.

  2. Gue kalau sendirian pasti pilih hotel budget, hotel baru, dan okupansinya bagus khan rame terus. Gak pernah mau hotel dengan kamar luas, apalagi hotel lama, atau butik hotel atau yang kata Lenny vintage2 gituh. Paling gak mau.

  3. Rahmat

    Wkwkwkwkwk… Seru ceritanya, euy… Biar gw orang hotel, alhamdulillaaaaaaah gak pernah lihat/ngalamin gituan. Gak peka banget. Maklum, tipe cuek perasaan badak. Hahahaha… But, thanks for sharing.

  4. wkaakak aku juga merasakan di hotel itu kak tapi sayang sepertinya aku nggak peka.
    karena menginap beberapa kali d hotel serem dan temenku lihat macam2 aku nggak lihat apa2
    tapi paling serem sih di turki, tepatnta di salah hotel jaringan bintang 5 . jadi setelah pulang ada pasangan suami istri cerita selama dua malam mereka lihat cewek baju putih rambut panjang, karena kata mereka cewek itu nggak ganggu jadi mereka cuek ajalah

  5. Aku juga pernah ngalamin kejadian gak enak di Hotel Sahid Mandarin Pekalongan, tempatnya agak serem dan pas malam pukul 00.30 aku denger ada suara orang jalan sambil ngobrol2 tapi kayak orangnya tuh banyak banget, terus paginya pas sarapan aku tanya sama temen2 peserta lain, tadi malam kalian pada mau kmn kok rombongan, trus pada jawab, kami udah pada tidur jam segitu.

  6. Waah seru ya ketemu hotel yang horor hehehe… Untungnya selama traveling ke mana-mana belum (jangan sampai deh) ngalamin yang model beginian; atau saya-nya yang kurang peka? Atau memang badak nggak mau tahu? Hahaha

  7. Aku anaknya agak agak bisa liat yg ginian mba, dan punya hobi nginep klo wiken, ya wikenan tipis tipis gitu. Oh ya, kerjaanku kebetulan Villa Specialist di sebuah agent villa di Bali, kadang mengharuskan trial stay di beberapa villa yg listing di kami.
    Pernah nih dapet free stay di sebuah luxury villa di centre of Seminyak yg harganya 5jt an per nightnya ( klo bayar ). 2 nights jatah nya di 2 Bedroom Pool Villa. Aku nginep sama keluarga, ortuku, suami dan anak-anakku.
    Malam pertama dilalui dengan aman, villa nya luas, komplit dengan Butler yang ngurusi kebutuhan kita. Renang smpe sore, nonton film di TV dgn banyak channel.
    Malam kedua lah masalahnya. Jam 9 sesudah makan malam, anak-anak bobok dengan ortu saya, kemudian suami ngajakin keluar malam nongki di Ku De Ta , mumpung dekat.
    Pergilah kita, nongki di Ku De Ta smpe jam 01.00 kemudian balik ke villa. Menuju villa saya #4 lorongnya panjang dengan kanan kiri tumbuhan rambat, klo siang ini cakep. klo malem ya gimana ya.. hahha.
    Akhirnya smpe villa saya, kita blm masuk kamar, suami masih sempet bkin cemilan dan kita minum makan di living roomnya yg semi-open menghadap pool.
    Perasaan mulai ga enak, belum habis cemilan, saya minta masuk kamar tanpa alasan, Suami sudah taw nih gelagat sy klo sedikit bicara pasti ngerasa sesuatu.
    Masuk kamar dong, suami nyuruh saya tidur duluan, dia masih nonton TV lagi.
    Akhirnya saya tertidur, namun ga lama deh rasanya saya tidur menghadap tembok rebah ke kiri. Nah, ada sosok perempuan tinggi yang tiba-tiba nunduk seperti memperhatikan saya tidur, dan rambut panjangnya jatuh menyentuh pipi saya.
    Teriaklah sayaa kenceng… semua terbangun.
    Suami saya guncang-guncangin badan saya suruh saya buka mata. Saya masih teriak aja : “ada orang di sampingku”
    ” ga ada”
    Mama saya masuk kamar bawa minum, air putih yg sdh beliau doakan saya minum. Kondisi tenang tapi sy ga bs tidur smpe pagi.
    Untung esok paginya check out.
    Penasaran saya dong siapa semalem itu, villa ini tergolong usia baru dengan good maintenance jadi ga mungkin rasanya ada penunggunya.
    Kemudian saya tanyakan ke seorang teman senior yang bisa melihat hal-hal gini.
    Sesudah sy cerita detailnya, beliau bilang :
    “Itu mahluk bukan disana tempatnya, dia ngikut kamu habis dari luar, mungkin kamu lewat, dia ada, dan kalian sedang ada di frekuensi yang sama, tengah malam gitu jam nya mereka, trus dia ngikutin kamu deh.
    Makanya jangan sering keluar malam.”

    Aihh,.. itu salah satu pengalaman saya mba Lenny.
    Sekarang sy jd kayak termometer macem alat ukur klo nginep dimana gt, ni tempat aman ga?
    Hahahha…

Leave a Reply