Sukarno di Asian Para Games 2018

Sorot mata pemuda itu tajam dan dalam, meski masih terlihat malu-malu ketika tatapan kami saling bersinggungan. Aku berada di luar lapangan, sedangkan dia duduk dan bermain di dalam pertandingan voli. Berkali-kali aku berusaha mengintip sorot mata elangnya lewat kameraku. Namun seketika itu pula dipalingkan wajahnya dengan cepat. Hasilnya, nyaris semua foto jepretanku tentang dia menjadi blur. Sepertinya ia belum terbiasa dengan sorotan. Aku pun berusaha mengingat-ingat percakapan tentang sejarah awal mulanya ia menjadi difabel.

Adalah kecelakaan sepeda motor yang membuat kaki kirinya terlindas oleh kendaraan lain sehingga amputasi adalah satu-satunya jalan keluar.

Dua kali.

“Habis…” begitu ujarnya sambil mengelus sisa paha kirinya yang tertutup celana pendek.

atlit voli duduk

Dia, yang lantas ku tahu namanya Sukarno, saat itu masih duduk di kelas 4 SD. Nasib naas itu membuatnya minder dan memutuskan mogok tak mau bersekolah lagi. Malu diejek oleh teman-temannya adalah ketakutan terbesar dan mimpi buruk yang tak sanggup ia hadapi. Ia memilih menyerah dan diam di rumah. Padahal mungkin saja semua praduga itu hanya terjadi dalam benaknya saja.

“Iya belum tentu diejek,” sanggah Yanuar, asisten pelatih yang ikut menambahkan.

Dia hanya tersenyum simpul saja.

“Ya sudah mungkin kalau gak gini jalannya, gak jadi atlet loh.”

Aku menjawab seadanya, berusaha menghibur, tapi tak tahu apakah yang aku lontarkan itu membuat langkah kakinya lebih ringan atau justru membuatnya kalut.

voli duduk indonesia

Sembari mengambil angle yang berbeda, aku pindah ke sisi lapangan yang lain. Mataku tetap awas melihat jalannya pertandingan yang kian seru. Putri dan putra campur aduk saling melawan satu sama lain. Mereka datang dari berbagai antero Nusantara yang lantas melebur satu dalam Pelatnas (Pemusatan Latihan Nasional) Indonesia 2018 Para Games. Atlet putra telah datang bahkan sejak bulan Januari, sedangkan atlet Putri hadir sekitar bulan Maret. Di banyak-banyak bulan tersebut, mereka harus beradaptasi, latihan, menjaga stamina, membentuk kekompakan tim demi satu tujuan mulia : mengharumkan Indonesia di pesta olahraga atlet berkebutuhan khusus terbesar se-Asia.

atlet difabel

Para atlet yang telah terkumpul di sini adalah atlet-atlet terbaik Indonesia. Tak heran meski mereka datang dengan kaki pincang, kaki palsu atau menggunakan tongkat jalan, namun ketika di dalam lapangan, para atlet difabel ini tampak lincah menyeret bokongnya maju-mundur-berputar, seakan mereka sedang berdansa. Tak lupa mereka juga harus terus ingat untuk selalu menempelkan bokongnya di arena sebagai syarat khusus yang diterapkan ketika pertandingan voli duduk. Jika sempat mereka mengangkat atau “melompat”, maka wasit akan membunyikan pluit sebagai tanda pelanggaran.

voli duduk

Padahal menurutku tidak perlu melompat sekalipun, kekuatan smash/service mereka sangat kuat. Sepanjang aku merekam pertandingan mereka, sudah 3 kali aku kena bola. Yang pertama oleh Sukarno sendiri di pahaku. Aku kira bola itu mengenai dadaku, karena seketika hatiku jadi berdebar-debar hangat. Ku rasa aku jadi jatuh hati padanya dan permainannya.

Sisanya ketika perut dan kepalaku yang jadi sasaran berikutnya, barulah para atlet berseru “Waspada mbak!”

Mungkin mereka kasihan melihat aku yang meringis tetapi berusaha terlihat “It’s okay I’m cool with it”.

Ketika pertandingan sedang break, aku pelan-pelan menghampiri tim putra. Aku mengajak ngobrol beberapa atlet sambil sekali-kali mencuri pandang ke Sukarno. Keringat tampak mengucur deras di badannya yang mulai berotot. Satu-satunya betis yang kini ia miliki juga tampak tegang karena sepanjang pertandingan harus ditekuk. Ukuran lapangan voli duduk memang dibuat lebih kecil dibanding lapangan voli pada umumnya. Oleh karena itu, jika ada 6 pemain, maka biasanya kaki sedikit ditekuk atau dilipat agar tidak mengenai atau berhimpitan dengan pemain lain.

pelatnas voli duduk

Walaupun begitu, yang selalu aku kagumi dari penampilan Sukarno adalah jambul di kepalanya yang masih tampak berdiri mentereng. Sesekali ia merapikannya, memastikan jambulnya masih tampak keren, mungkin untuk menarik atlet putri yang ada di seberang net. Arhhh Sukarno, bagiku kamu sudah bersinar, dengan ataupun tanpa jambul itu.

“Dia masih bujang loh mbak. Servis elektronik hebat.” Pak Murdiyan, atlet dari Karanganyar yang kaki palsunya sering kali mengagetkanku, berhasil membuyarkan lamunanku.

Mungkin Pak Murdiyan dapat merasakan ke mana arah mata sipitku berlabuh. Si bapak bertubi-tubi memberikan pujian tentang betapa hebatnya Sukarno. Meski pada akhirnya tak pernah mendapatkan ijazah SD, Sukarno tetap bisa baca dan tulis. Ia pun membantu usaha keluarganya di bidang perbaikan alat elektonik seperti TV, kulkas, dan lain-lain.

“Mbak kalau servis di sana, nanti digratisin loh.” Pak Murdiyan masih terus melebih-lebihkan hingga Sukarno menggeleng-gelenggkan kepalanya.

Pemuda ini, yang tanggal lahirnya terpaut hanya 10 hari dengan meme (adik perempuanku) membuatku entah kenapa selalu ingin dekat dengannya. Sebagai atlet voli putra yang paling bau kencur, Sukarno tak bisa diremehkan. Meski kelahiran Boyolali, pemuda ini malah berkiprah dan memperkuat tim voli putra di Jawa Barat. Hasilnya, Juara 3 Peparnas (Pekan Paralimpiade Nasional) 2016 di Jawa Barat.

Memang jikalau melihat Sukarno tampil di pertandingan, bak melihat sisi Sukarno yang berbeda. Gerakannya cermat dan pasti. Tidak menyisakan sedikitpun keraguan. Pukulannya juga kencang dan bertenaga. Tak sia-sia darah mudanya menggelora, mengibaskan bola melesat membelah udara.

“Oke..”

“Enak..”

“Gurihh..”

Sepatah dua patah kata kadang-kadang ia lontarkan. Entah untuk menyemangati, memberikan respon atau sekadar berceloteh. Sisanya ia menggunakan Bahasa Jawa untuk bercengkerama dengan sesama atlet, yang membuatku kebingungan mencerna kalimatnya.

atlet voli duduk

Aku hanya punya dua kesempatan untuk menonton latihan para atlet voli duduk. Di hari terakhir, aku sengaja menunggu hingga usai. Hingga masing-masing atlet dijemput oleh mobil khusus yang akan mengantar mereka ke Hotel Alana, yang kini serasa mess bagi mereka.

voli duduk putri

Di penghujung kesempatan, hanya tersisa aku, Sukarno, dan Yanuar. Kami ngobrol ngalor ngidul saja tak tentu arah. Tapi akhirnya aku bisa juga merelakan kebersamaan yang kilat ini dan mempersilahkan mereka pergi. Ku tahu mereka tak punya banyak waktu untuk basa basi ini karena segudang aktivitas dan berbagai persiapan harus dilakukan sebelum lusanya bertolak ke Jakarta untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan kelas dunia.

Masih menurut Yanuar Safrenda, asisten pelatih yang umurnya justru lebih muda dari kebanyakan atlet, musuh terberat yang akan mereka hadapi adalah China dan Iran. Terlebih Iran, karena tim Iran memiliki seorang pemain yang tingginya 2,6 meter (yeah you read it right!) yang bahkan ketika dia duduk, tinggi badannya saja sudah melebihi net voli. Alhasil, pemain ini akan dengan mudah menghentikan laju bola yang masuk.

Namun meski begitu, aku yakin Sukarno dan timnya akan bisa memikirkan strategi yang mantul.

Akhirnya, setelah dirasa pertemuan ini sudah mencapai batasnya, aku pun berujar

“Eh, kalau udah mau duluan monggo loh.”

Mereka sempat menanyakan aku pulang dengan apa (so sweet isn’t it?) yang dengan mudah kujawab dengan gojek. Setelah tahu aku bakal baik-baik saja, maka mereka mengunci GOR Baturan ini. Meski cukup panas, dan kadang suka dilihatin oleh anak-anak TK yang kadang suka mengambil bola mereka, tapi pastinya tempat ini telah melahirkan kenangan tak terlupakan bagi tim Sukarno.

“Duluan yah mbak.” Akhirnya Sukarno angkat suara.

Kali ini aku yang terdiam dan mengangguk. Aku menyilakan dia berpamitan, lalu melihatnya pergi dibonceng oleh Yanuar. Tongkat besi peyangganya ia pegang dengan erat. Aku menatapnya hingga punggungnya hilang ditelan pandanganku yang mulai kabur.

atlet para games
Sukarno dan Yanuar

Aku teringat Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia pernah berujar :

“Beri aku 10 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 orang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia“

Pemuda itu adalah Sukarno.

voli duduk putra

Aku yakin Ir. Soekarno telah reinkarnasi dalam tubuh para pemuda – pemudi yang akan berlaga di Asian Para Games 2018. Buktikan ucapan itu Sukarno. Tunjukkan pada dunia siapa Indonesia sesunguhnya.

**

Beberapa klip latihan mereka yang sempat kurekam ada di sini yah :

Travel Now or NEVER
6 Responses

Leave a Reply