Vani dan Bola Bola Boccia

bola boccia

” Foto apa yang paling membekas di tahun 2018?”

Pertanyaan ini sungguh sulit. Sulit bagiku bukan karena harus memilih foto mana yang terbaik.

Aku justru kesulitan karena terlalu banyak foto bercerita yang hendak ku sampaikan.

Tapi bacalah dulu satu ceritaku. Ini bukan tentangku. Ini tentang dia.

Febriyanti Vani Rahmadhani.

Vani Atlet Boccia

Umurnya 16 tahun dan bersekolah di YPAC (Yayasan Penyandang Anak Cacat) Surakarta.

Aku melihatnya pertama kali di depan gedung YPAC, tempat biasanya ia dan teman-temannya berkumpul untuk berlatih. Dia turun dari bis kuning yang telah didesain khusus sehingga dengan mudah kursi rodanya dapat berpindah dari lantai bus ke permukaan tanah. Setelah itu, dia tinggal mendorong kursinya. Terkadang ada pula orang yang membantu mendorongkannya karena Vani sudah tak sabar ingin segera masuk.

Di gedung dengan aula kecil yang hampir tidak ada apa-apa inilah Vani dan ke-7 rekan atlet akan berlatih Boccia.

Boccia? Bobo ciang?

BUKAN!

Memang nama olahraga ini berasa sangat aseng dan alien di Indonesia. Bahkan Asian Para Games 2018 tanggal 6-13 Oktober nantinya akan menjadi sejarah baru karena di sinilah pertama kali Indonesia menurunkan atlet Boccia di ajang internasional. Sungguh Vani dan rekannya sesama atlet patut berbangga hati karena merekalah delegasi Indonesia pertama yang akan menunjukkan penampilan mereka yang terbaik.

Aku beruntung berkesempatan berada di sini menyaksikan langsung bagaimana latihan para atlet Boccia. Lalu jadi ikut-ikutan merasa bangga, terlebih sekali kepada Vani karena dia satu-satunya atlet wanita dan telah mendapat medali emas di Peparpenas (Pekan Olahraga Paralimpik Pelajar Nasional) pada tahun 2017.

Kasih tepuk tangan dulu dong semuanya buat adek Vani kita….. *plok plok plok*

Boccia pertama kali dimainkan di New York pada tahun 1984. Cara bermainnya sangat simpel. Setiap tim mendapat 6 bola dan akan melemparkan bola sedekat mungkin ke bola jack (warna putih). Semakin dekat, semakin nempel, maka hubungan makin langgeng yang berarti poin lebih gede. Nah di akhir permainan (4 set), maka poin akan dijumlah dan keluarlah pemenangnya.

Dah gitu doang. heheh

boccia

Bola boleh dilempar dari atas maupun dari bawah. Kalau Vani, aku perhatikan dia selalu lempar dari bawah dan nyerong ke samping. Sepertinya udah jadi signature pose-nya. Dalam bermain, Vani tipikal yang pendiam namun sekalinya telah menetapkan sasaran, maka mata elangnya akan mengunci sasaran tersebut. Seterusnya, bola yang ada di tangan kirinya akan dia ayunkan ke udara lalu terlempar mendekati sasaran. Ini dia nih yang namanya bibit unggul Indonesia!

boccia ball

Di sela-sela berinteraksi dengan Vani, terkadang aku bisa melihat sekilas kemiripannya dengan keponakanku. Kalau sudah begitu, tak pelak mataku menjadi basah. Keponakanku sama-sama penderita cerebral palsy yakni gangguan syaraf seperti Vani. Bedanya, keponakanku memiliki epilepsi sehingga tidak dapat berkomunikasi dan bahkan untuk sekadar duduk saja masih harus terus belajar. Kadang terbersit pikiran betapa “beruntungnya” kondisi Vani. Keluarga yang mendukung serta karir yang terpampang nyata sudah jelas ada di depan matanya. Bahkan dia sudah mampu menafkahi dirinya sendiri dengan gajinya sebagai atlet. Jika nanti di Asian Para Games dia menyabet medali emas lagi, maka pemerintah akan memberikannya bonus serupa dengan atlet Asian Games yakni 1,5 Milyar.

Itu duit semua yah? aku pun belum pernah megang sih wahai sobat misqueenku…

Mungkin ini jugalah yang menjadi pelecut dan semangat bagi Vani. Tak dapat dipungkiri dia selalu terlihat lebih bahagia ketika sedang latihan. Bahkan ia tak merasa letih ketika harus latihan intensif. Meski kini harus terpisah dengan keluarga, namun Vani mengerti bahwa pengorbanan dan usahanya ini demi satu hal mulia yang tengah ia perjuangkan.

Dari dalam lubuk hatiku, apapun hasil pertandingannya nanti, bagiku Vani sudah menang telak.

Menang karena ia telah buktikan bahwa orang dengan penyandang disabilitas juga bisa berprestasi.

Menang dari perlawanan batinnya melawan rasa kangen akan ibunya selama di karantina.

dan juga ia telah memenangkan hatiku dan menerbitkan kembali harapan yang sempat padam akan masa depan keponakanku.

Efeknya ke aku juga jadi luar biasa loh. Ketemu Vani itu seperti mendapatkan suntikan semangat hidup. Sekarang kalau hariku berjalan hancur, atau perasaanku kelabu hingga aku suka ngerasa “Kok hidup gini-gini amat yah?”

maka pikiranku otomatis akan melayang kembali ke gedung YPAC itu, tempat di mana para inspirasi lahir dan tumbuh. Setelahnya, aku akan menonton lagi kisah hidup Vani dan bundanya di video ini agar aku merasa terpecut.

“Tiap anak itu punya kekurangan, tapi juga pasti ada kelebihan.”

Begitulah kata-kata dari ibu Vani yang akan selalu menjadi petunjuk jalan di hidupku.

Selain kisah Vani, masih ada lagi kisah teman-teman atlet Para Games lainnya yang sempat kurangkum di video ini :

Travel Now or NEVER
8 Responses
  1. Kyaa aku lihat videonya udah reflek meneteskan air hujan, ehh *gumiho kali wkwkwk
    Sukses selalu utk dek Vani
    ikut serta Meng-Aminkan mbak, semoga Huawei Nova 3i nya dpat dipersembahkan untuk si Juara adek Vani
    Good Luck Selalu
    Terima kasih sudah berbagi tulisan yang inspirastif yang mengajarkan utk selalu bersyukur ini mbak
    Salam kenal dari bumi Jember ^_^

  2. Kyaaaa kok jadi terharu biru bacanya. Terus boccia ini emang berasal darimana, keknya seru kalau lagi kumpul2 kita main gituan ((MAIN GITUAN))

    Btw aku juga naksir lama sama Huawei Nova 3i soalnya keren parah spec-nya, dan warnanya itu lho. Tau kan hape-ku udah retak kacanya, hahaha, kemungkinan besar bakal ganti sama si Nova ini lah 😉

Leave a Reply