Rasanya Traveling Bagi Non Muslim di Aceh

non muslim di aceh

Aku kemakan tulah omonganku sendiri.

Ketika di acara malam penganugerahan Anugerah Pesona Indonesia, Provinsi Aceh bersinar karena menyabet 3 kategori. Lalu teman-temanku jadi pada pengen ke Sabang untuk melihat 0 km. Mendengar itu, aku langsung menyahut.

“Aku ke Subang aja deh daripada Sabang. Soalnya gak bisa bikinian di sana.”

Itu memang asbun. Asal Bunyi. Biar lucu. Namun takdir rupanya bisa lebih lucu lagi.

Esoknya, ada tawaran mengisi materi di Sabang.

Glek!

Mau tak mau demi kepuasan ego dan isi rekening, aku jilat lagi ludah semalam yang belum kering.

Tak tunggu lama. Dua hari kemudian, aku sudah mengantongi tiket ke Banda Aceh. Hati berdebar-debar. Mulai dari boarding saja, suasana tampak berbeda.

Petugas bandara meletakkan sebuah kardus di lantai dan meminta setiap orang yang boarding untuk meletakkan rokok serta mancisnya. Setelah lewat, aku terperangah karena Lion yang kutumpangi adalah Airbus A330 yang ada dua lorong gitu. Pantes saja karena suasana ramai sangat. Sebelumnya, aku udah berusaha beli Batik namun ke semuanya ludes di hari itu bahkan lusanya juga. Wah segitu banyaknya kah orang yang ingin ke ujung barat Indonesia?

Di dalam pesawat, pramugarinya juga tampak tak biasa karena mengenakan kerudung merah. Bahkan belahan paha yang biasa mengintip itu telah tertutup dengan leging hitam. Uwoow~

Ketika pesawat landing, aku mengintip dari jendela. Terlihat sebuah bangunan lama dengan kubah layaknya masjid. Tak heran jika Aceh digadang-gadang sebagai Serambi Makkah. Sekejap, aku langsung teringat akan diri ini yang bergelimang dosa. Cepat-cepatlah aku keluar sampai ketika bahuku ditepuk teman yang menjemputku.

Perhentian pertama kami bukanlah untuk menyantap Mie Aceh “Ganja” atau ke destinasi wisata. Ada hal yang lebih penting ; Beli Kerudung.

Banda Aceh mewajibkan wanita dewasa muslim untuk menutup aurat dan mengenakan kerudung sesuai ajaran agama Islam. Kebetulan aku juga pengen nyobain pake kerudung di sini sekaligus biar gak diliatin juga sih karena mungkin aku satu-satunya wanita yang meperlihatkan mahkota wanita.

Alasan lain yang cukup krusial adalah karena aku ingin masuk Masjid Baiturrahman. Masjid terbesar di Aceh dengan arsitektur khas Belanda ini sekilas mengingatkanku akan Lawang Sewu. Khusus untuk masuk sini, aku sudah membawa baju gamisku. Kerudung pink yang aku beli (50ribu!) juga terlihat cocok dengan bajuku.

Sore hari itu Masjid Baiturrahman membuatku terperangah. Lantai marbel putihnya licin dan bersih sekali. Sebuah mesin yang dikendarai awak manusia sedang berkeliling mengepel lantai itu agar makin kinclong. Melihat itu, aku pun mengerti kenapa harus menanggalkan alas kaki yang dipakai. Marbel putih ini seolah memantulkan sinar cahaya matahari sehingga membuat mataku makin sipit karena silau. Padahal saat itu sudah mulai sore dan awan hitam pekat mengantung. Bayangkan bila matahari terik di atas kepala. Mungkin lantai ini bisa dijadikan cermin untuk bersolek ria.

masjid baiturrahman

Anak-anak berlarian mengejar sesuatu yang hanya mereka yang paham. Orang tua duduk-duduk sambil ghibah. Anak muda berpose di sepanjang sudut masjid. Semua semarak dan larut dalam lantunan suara/musik/azan yang didengungkan dari toa masjid. Tidak pernah aku lihat masjid bisa jadi ruang publik yang begitu bersih, indah dan menyenangkan seperti ini. Semua bisa beraktivitas di sini. Sayangnya buat aku yang non muslim, aku tidak diperkenankan masuk melihat isi masjid dan toiletnya yang konon indah sekali.

Aku harus cukup berpuas diri melihat halamannya yang megah.

masjid aceh

Tak mengapa. Pengorbanan beli kerudung (karena tidak disediakan peminjaman kain/kerudung) sungguh sepadan. Aku bahkan nyaris tidak bisa mengenali wajahku sendiri ketika melihat wajahku yang lonjong dibungkus dengan kain.

Tetapi paling tidak di sini lah aku merasa paling nyaman berkerudung karena memang kondisi lingkungannya sangat mendukung. Meski non muslim dan turis sepertiku tidak diwajibkan menggunakan kerudung dan menutup aurat (kecuali di masjid), aku senang dapat ikut berbaur. Namun ada kalanya ketika lagi gerah atau mager, aku cukup pake kain yang menutupi 3/4 rambut beserta menggunakan outer / cardigan hitam untuk menutupi lengan.

Sisanya? santuy. Berpakaian biasa saja misal ketika lagi di rumah makan. Atau bisa jadi tidak menggunakan apa-apa seperti di Pantai Lampuuk. Berhubung tidak ada satu pun pengunjung di pantai itu, aku leluasa membiarkan semilir angin pantai membawa rasa asinnya menyerap ke helai rambutku.

pantai lampuuk

Ketika menginap semalam di Banda Aceh, kebetulan aku mendapat hotel di areanya “china town”. Di sanalah akhirnya aku bisa melihat sisi lain dari Banda Aceh. Seketika aku teringat bahwa memang seharusnya Aceh itu tempat yang sangat beragam dengan berbagai suku dan perbedaan karena setahuku kepanjangan Aceh itu adalah : Arab Cina Eropa Hindia.

Indah bukan? segala macam melebur menjadi satu di sini.

Aceh juga terbuka dengan turis dan para pendatang. Beberapa tempat wisata, seperti di Pantai Lampuuk itu kabarnya ada bagian khusus dimana turis-turis bisa berjemur tanpa perlu takut diciduk. Bahkan di Sabang akhirnya aku sempat melihat bule berbikini kolor BH saja di sekitar Pantai Gapang, Sabang.

Memang Sabang, Pulau Weh adalah tujuan utama wisatawan dan seringkali aku jumpai turis asing di sana sehingga penerapan hukum Islam di sini pun lebih longgar dan lebih bisa mengakomodir kebutuhan para pendatangnya.

Terlepas dari itu, mau terbuka ataupun tertutup pakaiannya memang seharusnya tidak menjadi masalah karena tidak membuat manusia jadi lebih tinggi atau lebih rendah. Tapi khusus di beberapa tempat seperti masjid memang ada saatnya harus berpakaian sesuai ketentuan yang berlaku. Buatku sendiri tak masalah sih karena jadi pengalaman yang unik merasakan denyut syariat Islam di Aceh.

___

Aceh, tunggu aku kembali lagi. Kali ini dengan baju renangku 🙂

*lalu dilaporin ke polisi syariah*

Tapi pas sudah di Pulau Weh, weleh-weleh beda sekali loh feelnya. Tonton videonya~

Travel Now or NEVER
12 Responses
    1. Day 1 : Museum Tsunami & Kuburan Masal, Masjid Baiturrahman, Mi Bardi
      Day 2 : Pantai Lampuuk, Pintu Khop & Gunongan, Kuburan Belanda

      Untuk budget, saya ga sempat rekap mbak.

Leave a Reply