Sabang & 6 Pesona di Ujung Barat Indonesia

pulau weh

Sebelumnya baca dulu postinganku yang ini biar tahu kenapa aku nyasar ke Aceh.

Jadi demi memenuhi undangan menjadi nara sumber, aku nginep semalem di Banda Aceh, lalu senin paginya langsung naik kapal cepat ke Sabang. Perjalanan cuma sejam tapi aku wes rapi banget pake batik karena langsung bakal tampil seharian. Eak!

Aku nginepnya di Anoi Itam resort. Udahlah Sabang itu di ujung Indonesia, ini penginapanku juga terpencil pula di pulau Weh ini.

anoi itam

Ups bagi yang belum tahu kota Sabang ini adanya di Pulau Weh yah, pulau kecil yang tak lebih dari 40.000 orang penduduknya.

Cek vlogku di bawah ini :

Selesai tugas, besoknya udah gak tahan dan langsung cap cus untuk eksplor seharian. Berikut itinerary-ku yang boleh banget dicontek yaw.

Kilometer 0

Belum ke Sabang kalau gak ke KM 0. Begitu kata semua orang. Okey dah nurut aja berhubung ini paling jauh jadi ke sini dulu. Pas mau masuk area KM 0, udah gak ada tuh perumahan atau apa. Yang ada tinggal jalan berkelok dan hutan sama tebing aja. Tak lama muncul banyak monyet-monyet lucu. Aku sempat minta mobil berhenti. Seekor monyet datang menghampiri dan berdiri ngeliatin. Aku gak berani buka jendela karena katanya tar bisa loncat masuk. Jadinya kami pun liat-liatan…. dan jatuh cinta.

monyet sabang

Aih sinetron banget. Aku sih cinta, dianya enggak. Dianya cuma napsu karena mengendus bau makanan dari mobil kayaknya. Katanya emang kadang ada yang ngasih makan jadi monyet ini secara reflek bakal nungguin. Tapi gak semua kok, cuma si pejantan tangguh ini aja. Sisanya..sibuk nyari kutu atau ngeliatin doang.

Maaf yah nyet, aku cuma PHP doang. Aku tak punya apa-apa selain hati ini yang sudah kuberikan pada yang lain. Tsahh~

km 0 sabang

Sampai di lokasi 0 km, kebetulan belum ada orang. Habis aku foto-foto, langsung dah datang dan diserbu dengan turis Malaysia bergerombolan. Emang kalau di Sabang ini selain bule, turis Malaysialah yang paling banyak karena ada flight langsung Air Asia. Semoga kalian senang di sini yah makcik pakcik.

km 0

Aku sendiri memilih menjauh ke area bawah di mana sudah masuk kawasan Taman Hutan Wisata Alam Pulau Weh. Ada beberapa viewpoint yang disediakan beserta tangga kayu untuk trekking santai di dalam hutan di pinggir samudera ini. Aku coba telusuri dan turun ke bawah sampai nemu viewpoint yang gak ada orang dan tjakep. Di sini juga bisa terlihat pulau Rondo, yang notabane lebih terluar dari Pulau Weh ini. Namun karena di sana tidak ada penduduk, hanya tentara yang berjaga, pun akses ke sananya susah banget, maka di sinilah dibikin KM 0, biar turis-turis pada mampir juga.

sabang

Yey setelah dari KM 0 jangan lupa yah minta sertifikatnya biar makin afdol dan ada buktinya pernah ke sini. Jangan lupa juga cobain rujak Aceh spesial di sini yang manis dan kecut dengan rasa kacangnya yang dominan. Camilan enak nih!

Cerita selengkapnya –> Titik Nol Kilometer Sabang

Pantai Iboih

Sebelum ke Aceh, aku sudah dengar gaung tentang betapa indahnya pantai di Sabang. Jadi pas nyampe di Iboih, pas liat pantainya sih menurutku masih biasa aja. Banyak yang sewain snorkel dan penginapan pada berdesakan di tepi pantai atau terserak di atas tebing. Tapi memang kalau mau bagus katanya harus nyebrang ke Pulau Rubiah lagi. Namun karena cuma berdua sama temanku dan kami mager, maka niat ini diurungkan. Aku lebih asik melihat ibu-ibu dan anaknya yang sedang memancing ikan.

iboih pantai iboih

Pantai Gapang

Pas ngelihat Pantai Gapang, ada rasa penyesalan.

KENAPA BARU SEKARANG DI BAWA KE SINI?

Maklum udah mulai siang dan lapar. Pantainya jauh lebih indah dan lebih bersih dari Iboih plus hampir tidak ada orang. Cuma ada dua orang bule yang sedang duduk dibuai angin sepoi-sepoi. Pantai ini juga sangat teduh berkat pohon raksasa di sepanjang pantai. Bak penjaga dan pelindung, akar-akar pohon ini mencuat ke luar permukaan dan terlihat sangat kokoh membentengi garis pantai. Uh rasanya pengen jadi penunggu pohon ini dah.

pantai gapang

Pas mau pulang, terlihat ada bule pake bikini yang cuma BH dan kolor doang. Wow sungguh adem liatnya. Aku kira hanya di Sabang yang bisa beginian. Padahal di depan pintu masuknya, terpampang tanda dilarang berbikini dalam bahasa Inggris. Ya sudah mungkin si bule gak baca. Gak apa-apa toh karena masih di area pantai. Jadi kita maklumin aja yah.

Tapi sekali lagi.

KENAPA GAK DARI TADI AJA KE SINI?

Kan bisa puas leyeh-leyeh di sini. Huft! Okay lah next trip aku ke sini dan kancutan doang. Ehe.

Goa Sarang

Katanya ada goa yang terlihat ketika air sedang surut. Berhubung lokasinya di bawah jurang gitu, maka aku yang jompo ini memutuskan tidak turun. Pun aku yakin air lagi pasang karena bulan-bulan ini ombak lagi tinggi dan besar banget. #alesan

Mending aku main ayunan doang hahah tapi dari atas aja udah keliatan sih bagusnya. Sekilas kayak berasa foto-foto di Raja Ampat gitu loh. Apa aku salah yah? #kucekkucekmata

goa sarang

Tugu Kembar

Di Indonesia ada 2 tugu kembar sebagai penanda dari barat ke timur. Satu di merauke, satu di sabang sesuai dengan lagu “Dari sabang sampai merauke….”.

tugu kembar sabang

Nah tugu yang di Sabang ini adanya di depan kantor walikota dan merupakan salah satu tempat buat liat matahari terbenam. Tjakep banget guys. Ohya sunset di sini agak maleman loh kira-kira jam 6an gitu. Jadinya di sini berasa malemnya lama. Udah gitu orang-orang malem-malem pada masih suka nongrong ngopi gitu deh. Tau deh yang punya kopi enak..

sunset sabang

Benteng Jepang

Dari tugu kembar, aku buru-buru ke sini biar masih ada cahaya matahari soalnya takut keburu gelap gitu. Tempat ini merupakan tempat Jepang dulunya ngeliatin musuh yang datang dari lautan karena posisinya lumayan tinggi di atas bukit. Terus ada beberapa lorong-lorong yang tak berani aku masuki. Di atas bukit ada tempat meriam tembak gitu yang sampingnya ada pohon gede dengan akar besar yang menjalar hingga ke tanah. Aku perhatiin di sepanjang jalan di benteng ini, banyak pohon macam gini. Kalau kata temenku ini kayak di Angkor Wat. Bener juga nih.. meski aku ga pernah ke sana, cuma liat fotonya aja.

benteng jepang sabang

Di penghujung hari, aku berdiri di tepian Benteng Jepang ini sambil melihat ombak tinggi yang membenturan diri ke bebatuan karang yang cadas. Partikel-partikel yang tak kasat mata terpecah menjadi buih-buih diterpa semilir angin, membumbung tinggi naik ke daratan dan bersemayam dalam helai rambutku.

Kuusap wajah yang penuh percikan air asin sambil melirik ke Anoi Itam Resort di sisi timur, tak jauh dari sini.

Matahari telah usai menunjukkan gemerlapnya. Kini saatnya rembulan mengambil alih memamerkan sinarnya yang lembut untuk menuntunku kembali beristirahat dibuai mimpi.

Mimpi indah yang terwujud di ujung barat Indonesia.

benteng sabang

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply