Titik Nol Kilometer Sabang

km 0 sabang

Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau…

Lagu ini terpatri jelas di ingatan Generasi Millenial, Boomer dan yang lebih lawas lagi…

Tahun ini akhirnya lagu itu tidak cuma bisa kunyanyikan tapi juga bisa kuresapi dengan khidmat karena sudah sampai di titik paling barat Indonesia ; SABANG, PULAU WEH.

Ups tapi ketika sampai di 0 kilometer, aku kecele. Rupanya masih ada pulau terluar yakni Pulau Rondo. Namun emang pulau ini tak berpenghuni dan cuma dijaga oleh tentara karena area perbatasan Indonesia. Pun akses ke sini teramat sulit dan tidak ada dermaga untuk kapal bersandar karena ombak dan anginnya kencang banget. Yah maklum di tengah samudera gitu. Bahkan kalau tentara mau ngirim logistik, mereka lempar ke laut barangnya terus tar ditarik sama tentara yang berjaga di Pulau Rondo itu. Nasib deh karena kapal gak mampu merapat diterjang ganasnya lautan.

Oleh karena itu, ya sudah diputuskan tugu  0 KM dibuat di ujung Pulau Weh ini aja biar mudah dikunjungi turis seperti aku.

Dari tempatku nginap di Anoi Itam, butuh sekitar sejamlah berkendara untuk ke sananya. Pas udah mau dekat, terlihat hutan di kanan-kiri. Kalau endak, jurang. Di sanalah bermunculan banyak monyet-monyet lucu. Aku minta mobil berhenti sebentar. Seekor monyet pemberani langsung menghampiri mobil dan celingak-celinguk di kolong mobil. Tak menemukan sesuatu, ia balik menatapku dari balik kaca. Mata kami pun bersinggungan. Kami pun jatuh hati….

Tsaaahhh sinetron abis..

Akunya sih cinta ama si monyet karena gemes banget. Tapi si monyet kayaknya napsu doang. Napsu mengendus makanan yang mungkin ada. Soalnya kadang ada orang lewat yang suka memberi mereka makanan sehingga si monyet jadi hapal. Tapi maafkan aku cuma PHP doang nyet. Boro-boro makanan, air putih aja mau habis. Bye nyet~~

monyet sabang

Sesampainya di lokasi, belum ada orang. Maklum masih pagi. Tapi begitu aku selesai foto-foto, gerombolan pakcik makcik Malaysia langsung menyerbu lokasi. Aku pun menepi dan memutuskan turun ke bawah di mana ada beberapa deck yang tersedia untuk melihat tepi lautan. Beberapa monyet yang tadi aku lihat di jalanan rupanya juga ada di sini, meski tak begitu banyak. Ingin kudekati, namun seperti halnya pas di mobil, aku gak berani buka jendela takut mereka melompat masuk, di sini pun aku menjaga jarak. Kali aja tar mereka nyamber topi atau kamera.

Maklum aja keberadaan mereka cukup banyak di sini karena Tugu 0 KM ini sudah masuk Taman Hutan Wisata Alam Pulau Weh. Dari jarak berapa radius kilometer pun, sudah tidak ada pemukiman warga. Makin jelas ketika trekking ke bawah, rasanya benar-benar seperti masuk ke hutan yang asri. Namun selain suara serangga, suara ombak memecah karang adalah suara paling nyaring yang terdengar di gendang telingaku.

km 0

Tangga kayu menuntunku menuju ke beberapa viewpoint. Aku memilih agak jauhan biar tidak ada orang sehingga bisa menikmati Zen Moment. Cuma ada aku, awan hitam menggantung, buih air dan angin yang memporak-porandakan rambutku.

Sayangnya semesta dengan cepat mengusirku dengan menurunkan rintik air ke bumi. Aku pontang panting berlarian menyelamatkan diri, ehm kameraku maksudku. Untunglah langit masih mau menunggu sebentar hingga aku sampai di warung pertama yang kulihat tepat di depan tugu KM 0 yang tak kunaiki karena keburu males menaiki tangganya. Yha.. jompe detected banget.

Selain numpang berteduh, aku pun juga memesan rujak Aceh karena sudah diingatkan untuk mencoba karena rasanya khas. Sebenarnya aku bukan pecinta rujak karena lebih suka menikmati buah langsung tanpa diapa-apaiin lagi. Tapi yah sudahlah daripada diusir karena gak pesen apapun..

Abang penjaga warung pun lekas membuat rujak yang diinginkan. Ia mengeluarkan dua buah lokal yang tak pernah kuketahui : Rubia dan Batok. Temenku sempat nyoba Buah Rubia mentahnya. Rasanya terlalu sepet jika dimakan begitu saja, sehingga mau tak mau ia muntahkan lagi. Sedangkan buah Batok sudah abang itu letakkan dalam wadah sehingga tak sempat dicoba.

Abang rujak pun segera mengulek pesanan. Cabe hijau, garam, kacang tanah yang banyak, gula dan semua bahan-bahan natural itu bersatu pada berbaur di ulekannya. Tangan si abang dengan gesit menghancurkan dan meleburkan ke semuanya dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Setelahnya, tinggal tambahkan buah-buahan biasa seperti nanas, bengkoang, pepaya dan sebagainya.

Rujak Aceh pun siap dihidangkan. Suapan pertama dengan cepat mask ke mulutku. Rasanya manis banget, sedikit pedas dan ada rasa sepet yang mengisi rongga mulut. Ah ini pasti gegara Buah Rubiah dan Batok itu.

Karena porsinya yang hanya sepiring kecil, dengan cepat rujak itu sudah berpindah ke perutku.

Aku sedang menimbang-nimbang apakah akan memesan rujak lagi karena terkesima dengan kelezatannya. Namun lagi-lagi langit membuyarkan rencanaku. Hujan reda. Matahari mulai tampak. Awan membiru. Saatnya melanjutkan perjalanan karena masih begitu banyak tempat yang ingin aku lihat dan cecapi.

Makasih yah abang rujak. Berkatmu aku tak akan menganggap remeh sepiring rujak lagi. Oh dan ini uang 10 ribu pengganti kenikmatan duniawi yang telah kau berikan untukku.

Dengan ini sudah sah aku berpijak di Sabang.

km 0 sabang

Psst, biar ada bukti fisik, jangan lupa minta sertifikat 0 KM ini di Kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang yah. Gratis!

Hm… maunya sih mereka juga nempatin tempat cetak sertifikat di lokasi yah biar orang gak bolak-balik dan langsung bisa cetak.

sertifikat titik nol

***

Biar makin lengkap nyanyinya, semoga tahun depan bisa ke Merauke juga. AMIN!

Travel Now or NEVER

Leave a Reply