Biaya Hidup Jakarta dan Ngekos

biaya hidup

2015 adalah tahun di mana salah satu impianku terkabul ; pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah majalah. Aku yang datangnya dari kampung ini sudah kepikir apakah sanggup hidup dengan kerasnya ibukota serta tingginya biaya hidup Jakarta. Mana saat itu gajiku rendah pula, di bawah UMP Jakarta yang semestinya. Tapi karena kepengen dan buat batu loncatan, baiklah challenge accepted!

… padahal gaji gak nutup. Biaya kost lumayan mahal karena letaknya di tengah kota yang sampingan ama kantor biar gak bingung berangkat naik apa. Karena masih newbie, sungguh tak kuat aku kalau macet lama-lama di jalan.

Sebagai gantinya, mau tak mau harus hemat. Sebenarnya kalau cuma bayar uang kos, makan, pulsa, dan kebutuhan dasar, maka biaya bisa ditekan. Yang mahal di ibukota itu adalah gaya hidup, tuntutan terlihat kece, biaya agar sosial media ter-update dan kece serta tunjangan sosialitanya.

Anggap yang paling murah nongkrong di coffee shop ternama. 50 ribu pasti melayang. Sedangkan kalau buat makan di warteg, bisa buat 2 hari. Lalu kalau beli baju di mall 100 ribu deh. Kaos oblong doang dan lagi sale pula. Gaya yang mirip gitu kalau di Blok M masih nemu 35 ribu. Sisanya, buat belanja barang barang dapur sebulan di warung langganan.

toko kelontong

Nah begitulah kira-kira cara aku mengganti gaya hidup.

Untungnya kerjaan kala itu sedikit mengakomodir kebutuhan eksis di sosial media dan hedon karena kadang masih dapat jalan-jalan, makan di resto, dan lain-lain yang sekiranya pantas di-upload di Instagram. Jadi meski gaji kurang, lifestyle agak borju dikitlah. Sungguh jangan pernah melihat seseorang dari sosial medianya. 80% lain di postingan, lain di rekening. Eh?

Untungnya aku masih cukup sadar kalau daku misqueen dan gak sampai ngutang sana sini demi memuaskan nafsu duniawi. Kalau dipikir-pikir ini pengaruh keluarga juga karena papa mama ku beneran orangnya yang hemat banget. Baru sekarang-sekarang aja agak mulai kendor dan bisa luwes hehe. Jadilah aku masih bisa ngerem untuk jarang nongkrong, belanja yang tak penting dan lain-lain.

Kalau boleh dirinci begini biaya hidup Jakarta untuk jomlo (Maret 2020)

Biaya Kost 1.000.000

Asuransi Kesehatan 550.000

BPJS aku + sekeluarga 552.500

Makan 1.000.000

Transport 500.000

Dompet Digital 500.000

Laundry 100.000

Listrik 100.000

Pulsa (2 Kartu) 120.000

Total 4.422.500

Yah gak heran sih UMP Jakarta juga segitu yah.

Ini pengeluaran pribadi belum dihitung kalau mau jalan-jalan, biaya melepas stress, sakit beli obat, dll. Cukup gede sih karena aku masih susah ngerem di bagian makanan plus transportasi. Padahal untuk makan 1juta itu udah hemat karena di kost masak nasi sendiri terus sebulan habis 400rb udah dimasakin sama ART jadi tinggal tambah makan sekali aja. Cuma yah itu aku rada bosen kalau nasi. Doyannya mi jadi kudu makan luar sekali atau ganti menu.

Untuk transportasi juga karena aku gak punya motor, alhasil selalu naik ojol dulu baru lanjut kendaraan umum.

Untungnya di kosan sekarang sudah dapat Wifi jadi aku lumayan betah di kosan aja. Paling biaya listrik aja naik. Tapi kayak AC kadang gak kuhidupin kalau siang karena aku biasakan buka pintu biar ada sirkulasi udara lancar juga.

Nah kalau soal pemasukan jeng jeng jeng… berhubung sudah jadi pekerja lepas 2 tahunan ini, maka pendapatan turun naik kek mood swing.

Kalau sepi job, cuma mampu bayar kosan doang. Kalau lagi banyak rezeki, dalam seminggu bayar kosan kontan langsung. Intinya gak pasti. Apalagi sekarang sektor pariwisata sedang terguncang banget karena Corona plus awal tahun. Ambyar sudah… saatnya diet kencangin ikat pinggang huhu.

Doakan badai ini lekas berlalu yah karena imbas pariwisata hancur ini merembet ke semua sektor sih.

Kalau kalian gimana biaya hidupnya? Lebih banyak atau lebih sedikit? Please Share~

**

****

NEXT : Posto Dormire, hotel dengan pool tembus pandang pertama di Indonesia.

**

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER
12 Responses
  1. Nasirullah Sitam

    Saya di Jogja, sudah tahu kan UMR berapa di sana. Kosan ambil seadanya, yang penting tiap bulan bisa nyisihin uang dan ngopi tiap pekan. Hahahahahahha

    1. Lenny Lim

      Jogja 1,7 bukan sih?

      Mang suka salut ma jogja makan angkringan 10rb udah kenyang banget. Di Jakarta mungkin cuma dapet telor ma sayur seupil 🙁

  2. siogie.com

    Ku sendiri belum pernah totalan biaya bulanan, ngeri bok. Besar pasak daripada tiang dengan adanya wabah ini :(. Semoga cepat berakhir dan perekonomian kembali pulih.

    1. Lenny Lim

      Hahha emang itungan ini bikin shock sih. Aku pikir juga awalny paling 3 jt doang dan ini baru pengeluaran yang mendasar loh lum kalau jalan2 hiburan dll. Duh ngeri 🙁

      Amin semoga segera pulih semua yah.

  3. nsoetrisno

    di setiap tempat ada tantangannya sendiri. kayak di Manokwari Papua, biaya hidupnya bisa nambah 15 – 25 %.., Upah minimumnya cuma 3,2 jeti hahahaaa

  4. si engkong Ozi

    memang sejak dulu Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya biaya hidup naik setiap waktu dikarenakan tidak stabilnya ekonomi dan politik

  5. ainun

    dulu waktu masih kuliah, cita cita pokoknya kerja di jakarta, malah nggak kesampaian rejekinya
    gara gara wabah ini, banyak penjual di pasar yang mengeluh juga, karena jam bukanya dibatasi
    dan sejak wfh, ehh malah duit jajannya over menurutku, karena beli onlen, jadi tergoda ini itu

Leave a Reply