Cambuk Maut Tari Caci di Liang Ndara

tari caci

“Cambuk aku, mas…” begitu pikiran (kotor) ku ketika melihat Tari Caci di Liang Ndara, sebuah desa yang terletak 45 menit dari Labuan Bajo.

Tari Caci artinya 1 lawan 1 di mana para pria akan menunjukkan kebolehannya dalam mencambuk dan menangkis sabetan rotan. Sekilas kayak orang baku hantam, tapi sebetulnya ini bukan adu ketangkasan melainkan seremonial untuk acara adat, penyambutan tamu dll. Untuk bisa menarikan ini, ada 3 unsur yang harus dimiliki yakni :
Lomes : Keindahan gerakan tubuh. Aku perhatikan mereka tidak hanya berdiri diam. Kakinya dihentak-hentakkan pelan ke bumi mengikuti irama musik. Terkadang mereka juga sedikit meninjit atau melompat untuk pemanasan sebelum mencambuk.
Bokak : Bersuara bagus. Aku tak mengerti sepatah kata pun dari bahasa lokal yang digunakan, tapi aku bisa mendengar jelas lengkingan suaranya dan nada-nada tinggi yang mengaum-gaum. Mungkin biar api semangatnya tersulut.
Lime : Lihai menangkis cambukan. Tentu saja jika tak ingin kena baret lalu berdarah dan meninggalkan jejak di tubuh, maka penari Caci harus lihai berkelit dari serangan penari lainnya. Bagaikan insting manusia ketika diserang, maka mereka akan mengindar dan mengadahkan rotan di depan sedangkan tameng diletakkan di belakang punggung untuk menahan cambukan yang membabi buta.

Masing-masing Penari cica membawa cambuk (larik) yang menyimbolkan hidup ini yang penuh cambukan alias ujian. Namun sebagaimana mereka dapat menangkisnya, maka mereka pun percaya tidak ada kesulitan di dunia ini yang diberikan melebihi kemampuan mereka. Sedangkan perisai (toda) melambangkan kehidupan dengan alam yang diwakili oleh kayu rotan (koret) dan juga melambangkan hubungan dengan Sang Pencipta. Bedanya kalau rotan untuk menahan cambukan, itu lebih panjang dibanding cambuk yang dipake untuk mencambuk. Tonton nih videonya~

Sewaktu tiba sore hari, kami disambut para pemangku adat Desa Liang Ndara yang berdiri menunggu kami di gerbang. Dalam bahasa lokal (dan diterjemahkan oleh pemandu), mereka menyerahkan seekor ayam putih yang cukup dielus oleh salah satu perwakilan kami. Setelahnya kami dipersilahkan masuk. Masih dalam jamuan penyambutan, kami disuguhkan Sopi, minuman alkohol khas NTT yang terbuat dari endapan pohon enau. Alkoholnya hingga 30%, jadi yang doyan mabuq-mabuqan, pasti suka nih. Tapi bagi yang tak bisa minum, tidak apa-apa juga karena tidak ada paksaan. Aku sih juga gak minum tapi penasaran akhirnya kuteguk sedikit. Bah rasanya macam spritus~ Muka langsung merah dan hangat sepertinya.

sopi alkohol

Setelahnya, ada tari selamat datang dan disuguhkanlah sirih. Kali ini aku gak nyicip, karena sudah pernah pas di Nias dan Papua. Barulah kemudian 5 penari Caci tangguh mulai mempraktekkan kebolehannya. Aslinya, kalau Tari Caci yang benar itu, mereka yang menari ini tidak boleh ada ikatan darah/dari desa sama. Kalau yang di sini karena ini desa wisata dan sanggar tari, jadi mungkin masih tetanggaanlah penarinya. Tapi meski gitu, aku deg-degan juga karena mereka nyambuknya niat banget kayak ada dendam pribadi. Suaranya aja sambil terdengar “Wusshhh” di udara bersanding dengan suara gamelan dan musik lain yang dibawakan oleh sekelompok emak-emak.

Dari grup kami, Koh Leo diberi kesempatan beradu cambuk dengan Penari Caci. Dia agak ragu-ragu sih mengayunkan cambuknya sehingga terkesan lembut banget, jauhlah di bawah standar Caci ini wkkw kami cuma ngakak liatnya. Tapi yah sudah namanya juga seremonial aja.

Kalau aku perhatikan pakaian penari Caci ini sungguh unik dan mewakili berbagai daerah. Mereka pakai topi bertanduk dan kain batik untuk menutupi kepala & wajah. Meski nyambuknya dilarang mengenai kepala, muka, aurat ke bawah alias cuma boleh badan, tapi kain ini tentu guna banget buat melindungi muka ganteng mereka kalau-kalau lawan tarinya buas.

Sedangkan lonceng-lonceng terpasang di pinggang belakang mereka dan senantiasa mengeluarkan bunyi tiap kali badan mereka bergerak atau terguncang. Kalau kata penarinya sih itu biar makin semangat gitu, mungkin karena ada nada-nada dan suara khasnya. Yang menarik lagi ada semacam gantungan di kepala dari manik-manik berwarna-warni yang buatku identik dengan aksesoris Dayak. Terus musik tari ini juga Gamelan yang mengingatkan pada Jawa. Arhhh rasanya kalau liat mereka seperti melihat kayanya Nusantara.

liang ndara

Selesai dapat giliran mencambuk dan menahan cambuk, maka selanjutnya para wanita yang beraksi, karena sedari tadi mereka tukang musiknya karena wanita tidak boleh ikut Tari Caci… daripada caci maki tar #eeh

Para perempuan unjuk kebolehan dengan Tarian Rangkuk Alu alias tarian bambu. Sebenarnya ini tuh permainan lokal plus ajang cari jodoh. Jadi kini gantian Penari Caci yang megangin bambu lalu menghentak-hentakkannya hingga mengeluarkan ritme tertentu. Pas dirasa cocok, para wanita mulai melompat ke sana ke mari. Kadang berkelompok, kadang sendiri-sendiri. Melihat mereka gesit banget kayak bajing lompat, aku tergerak mau nyobain. Seorang gadis muda pun mendampingi aku dan berkata “Ikuti aja musiknya. In and out.”

rangkuk alu

Otakku yang mulai lemot ini sempat gak nangkep dia bilang In and out jadi aku kaget tiba-tiba dia udah loncat ke depan dan bambu sudah mulai bergerak. Aku baru ngeh oh maksudnya kakinya satu masuk satu keluar gitu kali yah. Akhirnya aku coba mengikuti jejak si kakak cantik itu. Tapi karena sudah jompo, maka gerak motorikku jadi terbatas. Beberapa lompatan sukses, namun terhalang pas mau ke lompatan yang ke tiga dan karena aku ragu-ragu, kakiku kejepit euy. Untung gak kejengkang. Tonton di sini yah Tari Caci & Rangkuk Alu nya.

Gila kirain bakal mudah ternyata lumayan kompleks juga. Butuh fokus dan konsentrasi belum lagi stamina karena sambil pake masker tentunya, lompat-lompat gini bikin keringetan dan bengek juga oi. Setelah itu masih ada 2 tarian lagi yakni Akomawo & Sanda dari para perempuan sebelum perjumpaan ini usai.

Senja dengan semburat jingganya muncul membuat akhir dari pertemuan di Liang Ndara. Aku akan selalu ingat tempat ini sebagai destinasi yang budayanya masih terjaga, alam indah dan panggung pertunjukan di luar ruangan berlatar rumah warga dengan angkot bermusik kencang yang rupanya jualan sayur.

PS : Untuk Bang Gias si penari Caci paling ganteng dan absnya yang kotak-kotak, sehat selalu dan moga luka di lengan kanannya segera pulih.

desa liang ndara

**

NEXT : VLOG Live On Board Phinisi Mewah Labuan Bajo 🙂

NEXT : Berenang Bareng Manta di Labuan Bajo

Travel Now or NEVER

Leave a Reply