Tanjakan Curam Menuju Puncak Pulau Padar

padar

Sejak gambar-gambar Pulau Padar menghiasi buku, majalah dan timeline socmed travel, saya pun ikut-ikutan kepingin ke sana juga. Berdiri di atas batu sambil menghadap ke dua cerukan sexy pantai di pulau padar adalah salah satu angan-angan saya jika kelak mampir ke salah satu pula yang ada di NTT ini.

Dan lewat ekspedisi #ExploreTheDiversity yang diadakan #AsitaNTT maka mimpi itu terwujud.

living-on-board
Berawal dari pelabuhan Labuan Bajo, saya dan teman blogger lainnya terlebih dahulu naik speed boat dari dermaga lalu berpindah ke sebuah kapal kayu di tengah laut, yang biasanya juga diperuntukkan untuk LOB (Live on board).

Karena berangkatnya agak telat, maka perjalanan dengan kapal ini memakan waktu hingga 3 jam-an dikarenakan ombak yang sudah mulai tinggi sehingga jalannya kapal kami jadi pelan karena melawan arus. Bahkan saking pelannya kapal kami ditikung oleh kapal lain :))

Untuk menghabiskan waktu kami pun foto-foto, makan-makan, gosip, tidur, makan-tidur-foto-lagi hingga tak terasa di sisi kiri-kanan yang tadinya hanya tampak pulau pulau kecil timbul kini sudah terlihat dengan jelas pulau-pulau gersang ala flores. Yey beta sudah dekat!

Kami sampai di pulau padar ketika hampir tengah hari. Karena kapal besar tidak dapat merapat, maka kami membutuhkan speedboat untuk bisa mencapai ke bibir pantai pulau padar. Begitu tiba di sana, saya tidak disambut dengan lembutnya pasir, namun batu-batu pantai. Di sini juga tidak ada apa-apa. Tidak ada penjual tiket, calo atau ind*maret. Yang ada hanya sebuah jalan tanah ke atas, dengan kerikil besar-kecil serta tanjakan curam yang langsung menyambut. TOENG!

padar-island
Tanpa ba-bi-bu lagi saya mendaki, melangkahkan kaki sedikit-demi-sedikit sambil ditarik-tarik oleh richo, persis kayak kebo yang dicolok idungnya hihih. Tapi kalau gak gitu saya mungkin enggak naik-naik karena langkah saya beneran kecil-kecil sekali sedangkan tanjakannya dengan kemiringan sekitar 45 derajat itu bikin saya langsung semaput di awal. Huft!

Setelah ngos-ngosan di penanjakan pertama, keringat saya terbayarkan dengan pemandangan pantai di belakang bukit. Ah indah… namun bukan ini yang saya cari. Lanjutt!!!

Tanjakan berikutnya lebih manusiawi, tidak securam yang pertama dan jalanan pun sudah tidak licin banget karena banyak rumput kering yang bisa dijadikan pijakan jika takut kepeleset. Tapi…ada tapinya… jalurnya lebih panjaaannnggg! Kali ini si richo berganti posisi. Dia di belakang mendorong-dorong saya, mungkin mengingatkan betapa saya sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman yang lain.
trekking-in-padar
Namun karena progress saya tidak begitu baik, dengan catatan sudah ditikung sama emak-emak, maka saya pun dengan ikhlas merelakan richo pergi duluan mendaki hingga ke puncak. Duh entar nggak ada yang motoin akuuu!

padar-flores
Sementara saya mengatur napas, keringat makin bercucuran manakala semakin tinggi posisi saya, semakin dekat pula dengan matahari, artinya makin panas! Dari tanjakan kedua ini saya bisa lihat teman-teman yang lain sudah pada ngantri berfoto di batu yang dinaungi sebuah pohon. Wih kayaknya bisa nih ngadem di sana. Saya pun jadi bersemangat ke sana.

Sampai di sana… emang suasana jadi lebih adem karena “rest area” ini satu-satunya yang ketutup pohon jadi suasananya gak gitu menyengat.
padar-island
Pulau Padar masih merupakan salah satu pulau yang dilindungi karena termasuk area Taman Nasional Komodo. Jadi ketika ada ibu-ibu di penanjakan mengajukan usul “wah coba ada yang jual minuman, pasti laris nih!”. Saya yang dahaga pun langsung setuju.

Tapi kak oyan, seorang putera daerah yang juga punya usaha tur di flores menimpali, hal itu sepertinya mustahil mengingat nanti pasti bikin banyak sampah. Betul juga sih. Soalnya di pulau Komodo sendiri yang tentunya sangat dilindungi mengingat di sana hidup bebas komodo, malah ada penjual suvenir, makanan / minuman. Ketika jalan ke pantainya, saya mendapatkan sampah terongok bebas di sana. Sedih! Apalagi tidak terlihat ada tong sampah di sana.

padar
Balik di Rest area…istirahat di sini dengan dipayungi pohon serta hembusan angin sepoi-sepoi memang sangat membuai, seperti membuat saya ogah beranjak lagi. Sayangnya bebatuan karang yang saya duduki semuanya lancip-lancip dan menusuk-nusuk. Kalao kelamaan duduk, pantat jadi mati rasa dibuatnya. Mungkin ini pertanda saya harus jalan lagi.. kali ini menuju titik paling Instagramable se-padar.

Titik yang saya maksud adalah sebuah batu karang di ujung yang menghadap ke belakang tiga pantai tersebut. Tempat ini ditandai dengan sebuah saputangan di ranting dekat batu – batu tersebut. Beberapa temen saya yang sedari tadi di sini tampak tak puas-puas berfoto di sini, padahal nomor antrian sudah mengulur panjang. Sampai-sampai kak eka dan satya dengan niatnya masih sempat ganti baju buat pemotretan #OOTD. ya ampun niat banget yah… jadi isi tas mereka itu toh?ckck!

Karena titik paling tenar itu masih ngantri, maka saya putuskan tidak berfoto di sana namun agak ke sampingnya di mana saya liat gak beda jauh angle-nya kok. Bagus juga kan hasilnya?

pulau-padar
Sebenarnya dari sini sedikit lagi (mungkin 10 meter ke atas) jika kaki saya belum loyo dan gemetaran, saya sudah bisa mencapai puncak tertinggi padar namun sepertinya cukuplah saya sampai di sini mengingat waktu pun tak banyak. Apalagi ketika turun, saya pun termasuk paling lambat. Sigh!

Jika diibaratkan motor, saya nanjak dengan gigi dua. Ketika turun, saya pake gigi 1. Takut kepeleset sih. Yang bikin paling mencemaskan adalah penurunan pertama itu. Saya awalnya turun dipegangi kak oyan, sewaktu turunan makin buas, saya pun berpegangan sama emak-emak dan suaminya. Jadilah kami empat serangkai berpegangan tangan turun satu-satu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika sudah kembali sampai ke bibir pantai batu, saya pun tak kuasa langsung masuk air. Wiihhh ademmm!! sayangnya ombaknya kencang banget, jadi saya urungkan niat berenang. Mendingan naik ke speedboat lalu kembali ke kapal.

Begitulah akhir perjalanan mimpi saya di pulau padar…. sekarang siap-siap ke rumah Komodo!

padar-view
Tips :
1. Pakai sepatu, jika tidak sandal gunung.
2. Bawa minuman, namun jangan lupa membawa turun sampahnya yah.
3. Tidak ada toilet atau fasilitas apapun, jadi selalu ke WC dulu sebelum mulai trekking
4. Bawa topi, kacamata dan pake sun screen untuk melawan sengatan matahari.
5. Usahakan datang di pagi hari atau sore sekalian, jangan kayak saya yang hiking di siang hari bolong. Panasnya pol hingga ke ubun-ubun, meskipun hasil fotonya pun jadi baik sekali :p
6. Tidak ada porter atau sejenisnya, so good luck on your own 🙂

Simak juga video perjalanan kami dari virustraveling :

Update dikit : Habis nanjak ke Pulau Padar, aku dehidrasi parah lalu jadi BAB berdarah hingga opname hiks!

Travel Now or NEVER
12 Responses
  1. si engkong

    Len, belu pernahdenger sama sekali mengenai Pulau Padar ini sejak dulu, ternyata Lmbok banyak sekali yang harus dikunjungi yah Len ?

Leave a Reply