Kisah Kelam Pulau Padar Berakhir Bahagia

pulau padar

Di tahun 2016, saya dan teman-teman naik kapal kayu menuju ke Pulau Padar. Berangkatnya agak telat sehingga memakan waktu hingga 3 jam-an. Ombak yang sudah mulai tinggi menghambat jalannya kapal. Saking pelannya kapal kami ditikung oleh kapal lain :))

Untuk menghabiskan waktu, kami foto-foto, makan-makan, gosip, tidur, makan-tidur-foto-lagi hingga tak terasa di sisi kiri-kanan yang tadinya hanya tampak pulau pulau kecil timbul kini sudah terlihat pulau-pulau gersang ala flores. Yey beta sudah dekat!

Kami tiba di pulau padar ketika hampir tengah hari. Karena kapal besar tidak dapat merapat, kami menaiki speedboat untuk mencapai bibir pantai. Begitu menginjakkan kaki, saya tidak disambut dengan lembutnya pasir, namun batu-batu pantai. Di sini juga tidak ada apa-apa. Tidak ada penjual tiket, calo atau ind*maret. Yang ada hanya sebuah jalan tanah ke atas, dengan kerikil besar-kecil serta tanjakan curam yang langsung nantangin saya.

padar-island
Tanpa ba-bi-bu lagi saya mendaki, melangkahkan kaki sedikit-demi-sedikit sambil ditarik-tarik oleh richo, persis kayak kebo yang dicolok idungnya. Kalau gak gitu saya mungkin enggak naik-naik karena langkah saya beneran kecil-kecil sedangkan tanjakan dengan kemiringan sekitar 45 derajat itu bikin saya langsung semaput di awal. Untungnya tanjakan berikutnya lebih manusiawi, tidak securam yang pertama dan jalanan pun sudah tidak licin banget karena banyak rumput kering yang bisa dijadikan pijakan. Tapi…ada tapinya… jalurnya lebih panjaaannnggg! Kali ini si richo berganti posisi. Dia di belakang mendorong-dorong saya, mungkin mengingatkan betapa saya sudah ketinggalan jauh dengan teman-teman yang lain.

trekking-in-padar
Karena progress saya tidak begitu baik, dengan catatan sudah ditikung sama emak-emak, maka saya pun dengan ikhlas merelakan richo pergi duluan mendaki hingga ke puncak. Saya mengatur napas, keringat makin bercucuran manakala semakin tinggi posisi saya, semakin dekat pula dengan matahari, artinya makin panas! Dari tanjakan kedua ini saya bisa lihat teman-teman yang lain sudah pada ngantri berfoto di batu yang dinaungi sebuah pohon. Wih enak nih ngadem di sana. Saya pun jadi bersemangat ke sana.

Sampai di sana… emang suasana jadi lebih sejuk karena “rest area” ini satu-satunya yang ketutup pohon jadi suasananya gak gitu menyengat. Istirahat di sini dengan dipayungi pohon serta hembusan angin sepoi-sepoi memang sangat membuai, seperti membuat saya ogah beranjak lagi. Sayangnya bebatuan karang yang saya duduki semuanya lancip-lancip dan menusuk. Kalau kelamaan duduk, pantat jadi mati rasa dibuatnya. Mungkin ini pertanda saya harus jalan lagi.. kali ini menuju titik paling Instagramable se-padar.

Titik yang saya maksud adalah sebuah batu karang di ujung yang menghadap ke belakang tiga pantai tersebut. Tempat ini ditandai dengan sebuah saputangan di ranting dekat batu – batu tersebut. Beberapa temen saya yang sedari tadi di sini tampak tak puas-puas berfoto di sini, padahal nomor antrian sudah mengulur panjang. Sampai-sampai kak eka dan satya dengan niatnya masih sempat ganti baju buat pemotretan #OOTD. ya ampun niat banget yah… jadi isi tas mereka itu toh?ckck!

Karena titik paling tenar itu masih ngantri, maka saya putuskan tidak berfoto di sana namun agak ke sampingnya di mana saya liat gak beda jauh angle-nya kok. Bagus juga kan hasilnya?

pulau-padar
Sebenarnya dari sini sedikit lagi (mungkin 10 meter ke atas) jika kaki saya belum loyo dan gemetaran, saya sudah bisa mencapai puncak tertinggi padar namun sepertinya cukuplah saya sampai di sini mengingat waktu pun tak banyak. Apalagi ketika turun, saya pun termasuk paling lambat. Sigh!

Jika diibaratkan motor, saya nanjak dengan gigi dua. Ketika turun, saya pake gigi 1. Takut kepeleset sih. Yang bikin paling mencemaskan adalah penurunan pertama itu. Saya awalnya turun dipegangi kak oyan, sewaktu turunan makin buas, saya pun berpegangan sama emak-emak dan suaminya. Jadilah kami empat serangkai berpegangan tangan turun satu-satu untuk mencegah jangan sampai tergelincir dan kejengkang. Pas udah sukses turun dan nyampai pantai, saya pun tak kuasa langsung masuk air. Segarrrrr!! Sayangnya ombaknya kencang banget, jadi saya urungkan niat berenang. Mendingan naik ke speedboat lalu kembali ke kapal.

**

Tulisan di atas adalah kisahku 4 tahun lalu. Membacanya kembali membuatku tersenyum tak percaya bahwa aku bisa kembali lagi ke Pulau Padar di awal bulan ini. Semesta sepertinya membukakan jalanku karena ada satu hal yang belum aku capai ; Berdiri di puncak Padar dan membusungkan dada penuh kemenangan.

Selain itu, ada unfinished business lainnya yang membuatku getir kalau mengingatnya. Boleh dikata 4 tahun lalu, Pulau Padar telah menyisakan kenangan kurang enak buatku. Datang kesiangan, matahari sudah tinggi dan membakar banget. Jalanan masih tanah sehingga menyulitkan aku yang jompo ini. Alhasil aku nyerah dan cuma sanggup semampuku aja. Setelah itu di kapal kekurangan air sehingga dehidrasi dan pulang-pulan berakku keras banget hingga berdarah. Ujung-ujungnya opname hingga kolonoskopi.

Pokoknya Padar benar-benar menonjokku hingga babak belur. Keindahan pulau ketiga terbesar di Taman Nasional Komodo ini sampai tak dapat dinikmati lagi.

 

View this post on Instagram

 

Behind every great man is an even greater woman. . Di balik foto-foto feed, ada kerja sama tim. @staycationbuddy jepret pake HP sultanny, @travelawan videoin behind the scene ngakaknya (SWIPE), @leonard_c4me pemerhati + jagain barang dan @bangsslamet tukang kibas kain tapi ga lolos ih. Mendingan juga ngandalin angin dari alam. . Soalnya sunrise di Pulau Padar ini asoy banget. Nanjak dari subuh masih gelap gulita dan dengan kekuatan jompo berhasil muncak itu rekor buatku karena terakhir ke sini 4 tahun lalu ga sanggup. Kalo sekarang berkat adanya tangga dan jalan batu, langkahku jadi lebih mantap menuju puncak, seperti AFI. . @boplbf #rindulabuanbajo #exoticntt #enchantinglabuanbajo #wonderfulindonesia #pulaupadar

A post shared by Lenny Lim (@lenny.diary) on

Tapi kali ini, di kunjungan kedua, aku sudah mempersiapkan jiwa dan ragaku sepenuh hati. Untungnya aku Live on Board di kapal phinisi yang bagus. Meski malamnya kami bersandar di Pulau Kalong, namun jam 3 subuh mesin kapal udah hidup dan jalan menuju Pulau Padar. Aku sendiri jam segituan sudah tersadar dan akhirnya jam 4 aku dan teman-teman udah siap ke Padar, biar dapat sunrise bagus.

Padahal langit masih gelap, bulan aja masih ada. Berbekal sekoci, kami semangat 45 ke Pulau Padar. Sesampainya di Padar, sudah ada pemandu yang menyambut kami. Meski di sini gak ada Komodo, tapi senang juga ada yang membawa kami naik.

Aku sadar sekarang Padar sudah bersolek cantik. Ada dermaga kayu, ada tempat cuci tangan dan ada jalan kayu buat naik di awalnya. Ini nih challenge aku dulu itu. Rasanya senang banget karena bisa menapakkan kaki dengan mantap.

padar sunrise

Dari jalan kayu itu, aku belok ke kiri dan menemukan jalan batu yang panjang mengulur hingga ke puncak. Aku dengan sabar melangkah pelan-pelan mengatur napas dan tenaga karena perut belum diisi makanan. Ketika istirahat di batu besar yang pertama, langit mulai berubah menjadi ungu. Wah sudah mau sunrise! Aku pun lanjut lagi ke atas di mana jalan makin kecil, terjal dan bebatuan besar di samping menjadi pegangan tangan.

Ketika akhirnya sampai di titik terakhirku dulu di pohon, aku ngerasa De Javu, namun kali rasanya lebih mulus trekkingnya. Yah ketolong banget karena masih dingin. Kami berhenti agak lamaan di sini karena mau foto-foto dulu sebab matahari sudah mulai menampakkan sinar kuningnya yang mencolok. Awalnya aku cukup terlena hingga mikir yah udah aku sampai di sini aja deh.

Namun temen-temenku nyemangatin untuk naik ke puncak lagi karena nanggung. Guideku, bang stan juga bilang kalau kami perlu ambil foto grup di atas. Ya sudah akhirnya aku ingat janji pada diriku sendiri kalau aku bakal berjuang hingga ke atas. Pelan tapi pasti dengan banyak berhenti dan melihat orang-orang mulai berdatangan, aku pun tergerak naik ke atas mencari tempat yang lebih sunyi.

Momen “kemenangan” baru bisa aku rasakan ketika tiba di area yang cukup luas dan jalanan sudah tanah lagi yang berarti area ini sudah tidak diawasi guide lagi. Rasanya sungguh terharu dan bangga karena bisa menuaikan janji dan membayar “hutang” lunas pada diriku yang dulu. Meski viewnya sama-sama Padar yang kering seperti 4 tahun lalu, tapi kali ini semuanya terasa lebih indah dan berwarna. Aku juga berhasil mengganti memori kelam itu dengan pengalaman berharga serta canda tawa bersama sahabat-sahabat baru.

padar island

Cara kerja semesta memang lucu dan kadang semua itu tak hanya kebetulan semata. Pas cek foto-foto, aku baru sadar bahwa outfit yang aku pake 4 tahun lalu pun sama persis dengan yang sekarang. Sandal jepit pink, celana biru, dan kaos hitam nerawang yang aku lepas dan ganti dengan kemben itam bunga-bunga yang aslinya baju renang. Bedanya kali ini ada foto & video kain tenun sumba kibas-kibas yang melambangkan hatiku yang membuncah kegirangan.

Tonton Vlogku di sini yah~

**

NEXT : Sailing Labuan Bajo Pake Kapal Phinisi Mewah

Travel Now or NEVER
12 Responses
  1. si engkong

    Len, belu pernahdenger sama sekali mengenai Pulau Padar ini sejak dulu, ternyata Lmbok banyak sekali yang harus dikunjungi yah Len ?

  2. DollyPR

    Pulau Padar yang wow!
    Coba boleh kemping di sini, pasti malamnya akan bermandikan cahaya bintang dan milky way.

Leave a Reply