Piring Pelepah Pinang Jambi

pinang jambi

Selain pulang Jambi dalam rangka Imlek, aku punya misi besar lainnya.

Melihat proses pembuatan piring/mangkuk pelepah pinang.

Jambi, berasal dari kata Jambee yang artinya pinang. Tak heran memang kalau di kampungku ini, berserakan pohon pinang (Areca palm). Dulu, pohon pinang ini selain diambil buahnya, pelepahnya juga dijadikan sebagai tupperware alami alias buat bungkus makanan ke kebun dan lain sebagainya. Soalnya katanya awet dan gak basi gitu. Berhubung pelepah pinang ini banyak banget, keseringan sih berakhir jadi sampah doang lalu dibakar.

Dari kearifan lokal inilah, timbul gagasan brilian dari para dosen Teknologi Pertanian Universitas Jambi. Untuk proyek penelitian, mereka mengangkat limbah pelepah pinang sebagai subyek utamanya lalu diubah menjadi suatu produk yang dapat menyelamatkan bumi : alat makan ramah lingkungan berupa piring dan mangkuk pelepah pinang.

Untung aja aku dapat kontak pak Sahrial, salah satu dosen penemunya dari Jaka, wartawan Tribun Jambi yang kadung sudah mewawancarai mereka. Ternyata respon pak Sahrial sangatlah baik dan cepat. Langsung deh aku esoknya ke sana.

Awalnya aku ketemu dengan Bang Rudi, salah satu mantan anak bapak Sahrial yang sekarang fokus membuat pelepah pinang ini menjadi bisnis yakni dengan nama Rumah Jambe-e.

Dari Bang Rudi, aku dibawa ke kantor pak Sahrial yang merangkap tempat workshop pembuatan piring/mangkuk ini. Alat pencetak piring ini ada 2, itu pun semua dirancang dan dirakit sendiri. Mesin yang digunakan pun masih sangat sederhana dan simpel untuk membuatnya.

Pertama, mereka membeli langsung pelepah pinang ini dari Tanjang Jabung, Jambi. Area situ mang dikenal penghasil pinang terbaik sehingga komoditi ini pasti mudah ditemukan dan kali aja ukurannya pun gede-gede atau kualitasnya bagus. Pelepah dikirim ke kampus lalu dicuci dan dikeringin di bawah matahari hingga kriuk kriuk tidak ada air atau lembab. Kalau gak gitu, tar ada pas dicetak ada bentol-bentol dan jadinya gak bagus.

Setelah okay, pelepah dipotong sesuai besaran yang diinginkan. Mesin pencetak pun dipanaskan di suhu 100 derajat, lalu pelepah dimasukkan dan dipres selama beberapa saat. Ada yang bentuk mangkok bulat, persegi dll. Setelah udah kebentuk, dikeluarkan, dipotong lalu dirapikan sedikit biar cakep gitu hasil akhirnya.

Sudah deh. Dibungkus pake plastik biar kedap dan lebih tahan lama. Sebenarnya gak mau pake plastik tapi apa daya belum nemu opsi penggantinya.

piring pelepah pinang

Aku yang terkagum-kagum langsung borong dong dan aku tes juga. Hasilnya mangkuk dan piring ini bisa tahan lebih dari satu kali pemakaian. Bahkan untuk yang berkuah dan panas masih bisa beberapa kali. Aku ngetesnya dengan cara nuang air mendidih ke mangkok. Tidak bocor. Hanya saja ada sisi yang tipis itu agak jadi lembut dan benyek gitu. Tapi setelah itu cukup dikeringkan lagi di bawah sinar matahari, tar dia agak keras lagi. Yah jadinya bisa lah 2-3 kali pemakaian atau hingga sampai benar-benar hancur.

Jadi Intinya ini kelebihan piring pelepah pinang menurut eksperimenku :

Tahan Banting.

Tahan Penyok.

Tidak Pecah.

Sehat karena tidak terkontaminasi plastik dan kimia lainnya.

Bisa dipakai terossss sampe aus.

Mudah terurai masuk ke bumi lagi

Punya wangi khas. Aku paling suka nyiumin yang coraknya cokelat/hitam atau pantatnya. Hmm..

Punya corak khusus kalau kebetulan dapat yang bermotif. Ibaratnya karya seni, tiap piring/mangkuk tidak ada yang persis sama. Guratannya pasti berbeda hingga tingkat ketebalan juga bervariasi. Makin menjulur ke atas pelepah pinang tersebut, maka makin tipis. Tapi setipis-tipisnya tetap seterong kok.

Kekurangan :

Belum tersedia macam storyfoam yang ada penutupnya itu loh. Kalau endak, udah pas banget bisa jadi tempat bungkus makanan praktis. Emang ke depannya mereka lagi mikirin buat itu juga sih jadi sabar yah.

Mahal kalau dibandingin ama beli plastik/styrofoam. Namun untuk jangka lama dan demi planet ini, jatuhnya lebih murah karena tidak menghasilkan sampah yang berbahaya. Satu buah produk ini paling murah dibanderol Rp. 2.500. Tapi berhubung makenya beberapa kali, jatuhnya gak semahal itu sih. Kecuali langsung kalian buang, yah berasa mahalnya.

Distribusi terbatas. Berhubung pengiriman dari Jambi, buat yang di Jakarta mungkin agak berat di ongkos kirim yah? Eits maka itu aku beli banyak dan rencanaya buat jual di Jakarta dan sekitarnya. So yang minat email aku yah : [email protected] Harga mulai dari Rp.2.500.

*numpang jualan*

Kalau dak mau lewat aku (hiks!), langsung aja beli di Tokopedia mereka -> Rumah Jambe-e.

piring ramah lingkungan

Gitchu guys aku melihat masa depan piring ramah lingkungan ini akan terus cerah dan semoga bisa lebih banyak diproduksi secara massal.

AMEN!

Travel Now or NEVER
6 Responses

Leave a Reply