Wajah Candi Koto Mahligai Yang Tak Pernah Tampak

candi koto mahligai jambi

Sekembalinya dari hutan untuk bertemu Orang Rimba, aku dan para peserta trip melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya : Candi Koto Mahligai.

Candi Koto Mahligai merupakan salah satu candi dari kompleks situs Muarajambi di mana posisinya yang paling jauh sehingga tak heran aku yang orang Jambi pun sebelumnya tidak pernah ke sini. Bahkan namanya pun terdengar asing.

And yes Muarajambi itu disambung penulisan namanya..bukan dipisah. Sama seperti Pangkalpinang nya Bangka itu disambung. Janganlah kita suka memisahkan apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan. Ahsiappp.

jalan ke candi koto mahligai

“Dulu akses ke sini masih pake jembatan kayu, tapi abang yang rusakin len.”

“Ha?” aku yang masih sangat ngantuk pun harus mengerjap-ngerjap mengumpulkan nyawa untuk mendengar kisah-kisah dari Bang Hendi, pemilik Fresco Trip sekaligus pemandu tur.

“Iyo, sengajo biak warga lokal di sini ado dapat duit ngantarin tamu nyebrang” begitu pembelaan Bang Hendi.

Kami pun terus berjalan masuk melewati jalan yang sudah disemen. Di depan ada sebuah jembatan yang telah dibangun beberapa tahun silam.

“Bang jangan diancurin lagi yo jembatan ini..” ujarku ke Bang Hendi.

Aku menoleh ke kiri dan menemukan seorang bapak di atas sampan kayu sedang beraktivitas di antara rawa dan semak belukar di atas air. Aku tak tahu pasti apa yang diperbuatnya. Jarak antara kanal yang berada di bawah jembatan ini tidak terlalu lebar. Tapi tentu aku tak mau berenang. Lebih nyaman lewat jembatan saja.

candi koto mahligai

Ketika kami sudah sampai di seberang jembatan, perhatianku dan teman-teman langsung dicuri oleh pohon-pohon duku yang tumbuh dengan lebatnya.

“Makan bae sepuasnyo, asal jangan dibawa balek,” begitu kata Bang Hendi.

Bak menemukan intan permata, kami mengambil duku-duku yang masih berkulit mulus dan berkuncup dari tanah.

Manis! Dagingnya tebal dan legit.

Aku coba mengambil duku lainnya yang juga tergeletak begitu saja. Ngambilnya pun random gitu saja, tapi hasilnya tak ada duku yang mengecewakan. Dari 10 kali ambil duku, paling 1 doang yang rasanya biasa saja. Sisanya, memuaskan.

Terkadang ada juga duku yang sudah sobek kulitnya dan isinya membuncah keluar. Ku pikir duh sayang kali kulitnya pecah, kalau tidak pasti sudah kuambil. Kayaknya ada deh kami menghabiskan setengah jam hanya untuk memuaskan nafsu akan buah musiman ini. Padahal di hari-hari sebelumnya kami sudah membeli duku dari pedagang di tepi jalan. Harga duku memang sedang murah-murahnya. Tiga kilo cuma ceban. Setelah dipikir-pikir itu mahal sekali karena sekarang kami dikelilingi duku-duku manis langsung dari pohonnya. Saking banyak yang bertebaran, tak jarang tanpa sadar aku menginjak duku. Lalu ada juga yang sudah membusuk di tanah hingga berwarna hitam. Tak apa itulah siklus kehidupan. Insya allah mereka akan reinkarnasi kembali dalam wujud pohon-pohon duku lainnya.

Kami sempat berjumpa dan nongkrong dulu dengan warga lokal sekitar yang sedang mengumpulkan hasil panen duku buat dijual. Contohnya ibu ini, akan menjual hasil dukunya Rp.4.000/kg. Selain menunggui si duku jatuh dari pohon, dia juga mengutus anak lelakinya untuk memanjat pohon dan mengambil langsung duku dari batangnya.

duku jambi

Rasanya jika tidak dihentikan, tulisan ini hanya akan berkutat tentang duku. Okay mari kita sudahi dulu.

Sebelum kami mabok duku, Bang Hendi segera berteriak mengumpulkan peserta tripnya yang sudah lupa untuk apa tujuan mereka ke sini. Bang Hendi lalu mengajak kami ke deretan gundukan batu bata setinggi kurang lebih satu meter yang sudah tertutup tanah dan lumut hijau tebal.

Dongeng tentang Candi Muarajambi pun siap didengungkan.

Situs Muarajambi adalah situs Agama Buddha Tantrayana yang dibangun pada abad ke-7 hingga ke 14 Masehi ketika zaman Kerajaan Melayu Kuno. Situs ini merupakan pusat pendidikan Agama Buddha terbesar di Asia dengan luas area mencapai 3981 hektar. Konon kompleks percandian Muarajambi ini adalah tempat belajar bagi para penganut agama Buddha yang levelnya sudah tinggi, ibaratnya misal dosen atau bagi yang PHD, kalau mau lulus yah harus ke sini belajarnya. Itu kenapa tempat ini diberi nama Mahligai, ibarat sepasang muda-mudi kalau sudah khatam pacaran, maka mereka pun memasuki jenjang kehidupan yang lebih tinggi yakni mahligai rumah tangga. Eak~

Diperkirakan dari sungai Batanghari hingga ke Candi Koto Mahligai, tercatat ada 80-an candi. Namun tak semua candi yang bisa terlihat di permukaan karena rata-rata berada beberapa meter di bawah tanah ketika pertama kali ditemukan oleh Belanda. Berkat Belanda jugalah situs ini akhirnya berhasil dipugar, mulai dari candi yang berada dekat sungai. Ketika Belanda hengkang, proses ekskavasi dilanjutkan pemerintah dan kini total sudah ada 9 candi serta sebuah danau yang tampak di permukaan dan dibuka untuk umum. Nah di area-area candi-candi tersebutlah yang sekarang menjadi tempat pintu masuk Candi Muarajambi.

Proses ekskavasi oleh arkeolog ini memakan waktu cukup lama. Yah secara gak bisa pake cangkul gitu loh. Pakainya kuas kecil macam brush on make-up beauty-beauty vlogger gitu.

“Jadi yang mana Candi Koto Mahligainya bang?” tanya kami penasaran.

“Ya ini,” jawab bang Hendi.

“Mana?” pikirku sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan.

“Ini bapak ibu.. sekarang kita berada di atas candi yang masih terkubur.” jawab bang Hendi berusaha sabar.

Ooh, rupanya gundukan batu bata di mana aku berdiri ini adalah bagian dari Candi Koto Mahligai. Karena belum diekskavasi, maka tidak ada bentuk candi yang terlihat. Di samping gundukan batu bata ini, ada genangan air yang menutupi tanah yang pastinya juga bagian dari candi.

candi jambi

Jadilah aku harus bermain dengan imajinasi sambil berpikir bagaimana bentuk candi di bawah bumi ini. Kalau menurut sumber, Candi Koto Mahligai memiliki dua pagar yang berarti tempat tinggal dan ukurannya sekitar 121 m x 104 m dengan ruangan-ruangan yang terbagi di bawahnya.

Ini baru satu candi loh, gak kebayang kalau ada puluhan candi dengan luas yang berbeda-beda, pastinya sudah kayak kota sendiri di masa lampau. Makanya oleh Bang Hendi, tempat ini dinamakan The Lost City.

koto mahligai

Selain bukti peradaban budaya dan peninggalan yang terkubur, salah satu bukti otentik yang lebih bisa dilihat dengan mata telanjang adalah ekosistem di sekitar candi. Kalau pernah pergi ke candi lain di Muarajambi, maka bandingkanlah dengan yang ini. Beda jauh. Emang sih jaraknya terpaut kira-kira 1km, tapi di sini tuh beda aja feelnya. Areanya lebih banyak rawa dan dihuni pepohonan raksasa yang menancapkan akar dan batangnya yang kokoh ke dalam bumi.

Yang paling banyak membuatku terkagum-kagum sih adalah Pohon Kundur yang usianya diperkirakan 600-700 tahun. Duh aku berasanya lagi syuting film Lost in Jungle.

Ada satu pohon yang saking gedenya, dia sudah berlobang namun lobangnya bisa buat aku keluar masuk dengan lega. Pasti dulu pohon ini jadi tempat favorit buat meditasi karena saking rindangnya kayak mengayomi gitu deh. Dijamin langsung mencapai penerangan sempurna. Cring!

Aku juga jadi berandai-andai dulunya mungkin di sini para biksu-biksuni lagi pada nongkrong jajan mpek-mpek sambil nunggu bel kelas berikutnya bunyi. Pastinya zaman dulu lebih adem lagi, karena sekarang aja hutannya masih sangat rimbun. Sayangnya belum banyak penelitian yang dapat menerangkan kenapa universitas ini menghilang dan ke manakah semua para mahasiswa-mahasiswi ini. Akankah semuanya tetap terkubur dan menjadi misteri peradaban manusia?

candi koto mahligai

Setelah puas di area Candi Koto Mahligai, kami lanjut lagi buat menyusuri kanal. Jadi dulu ceritanya kompleks percandian ini terhubung oleh kanal yang nantinya akan berujung ke delta. Ini satu-satunya kompleks percandian di dunia yang terkanalisasi loh, yah mungkin mirip-mirp dengan Venice-nya Italia lah. Tapi di sini gak pake gondola yah atau gojek. Yang ada di sini tuh go-sampan. Makanya biar makin menghayati kami antusias banget mau menyusuri kanalnya. Dalam satu perahu cuma muat 3 orang plus satu abang nahkoda yang mendayung pake tenaganya. Gak pakai mesin yah jadi kebayang deh kalau ada yang goyang maka satu perahu ikutan bergoyang.

 

susur kanal

Tapi berhubung awan mendung sudah mengintimidasi, maka kami pun tak bisa menelusuri kanal yang nantinya akan bermuara di Candi Kedaton (seperti gambar di bawah ini). Rasanya sebel banget kenapa sih Jambi hujan mulu padahal aku udah nungguin banget acara susur sungai ini karena feeling-ku bagus banget apalagi setelah liat videonya. Aku udah minta-minta gak apa-apa deh kehujanan di jalan namun Bang Hendi gak berani ambil resiko karena katanya kalau sempat hujan, tidak bisa meneduh atau merapat karena kan areanya rawa gitu. Lalu juga ada kemungkinan ketemu binatang semacam ular dll jadi amannya diurungkan saja. Biar kami gak gondok banget, kami diajak puter-puter pake sampan 10 menit heheh.

candi kedaton

Setelah gantian naik sampan itu, beneran loh air dari langit tumpah ruah. Kami pun kocar kacir nyari tempat berteduh. Tapi karena ditungguin gak berhenti-henti juga hujannya, akhirnya kami putuskan untuk menerjang hujan dan balik ke mobil basah-basah.

Jadi bersyukur juga sih gak lanjut susur kanal. Tapi tetep penasaran dan bikin mengganjal di hati karena endingnya gak dapet. Mungkin lain kali ku balik lagi pas cuaca kering kerontang deh atau pas pagi-pagi bener biar dapat momen cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk lewat celah-celah pohon Kundur. Pasti rasanya kayak lagi di negeri dongeng.

candi koto mahligai di jambi

Ohya buat yang mau dateng dan susur kanal, tidak bisa main langsung datang aja yah karena gak ada orangnya yang bakal mendayung sampan. Begitupun kalau aku gak ikut turnya Bang Hendi ini tentu tidak bakal ada cerita dan gambaran seperti apa. Bisa sih kalau mau datang sendiri, toh gak bayar tapi yah udah liat-liat gitu aja planga-plongo.  Jadi yang mau ke sini kurekomendasikan ambil trip one day The Lost City ini yah. Tar termasuk makan siang ala kampung di dekat sini. Recommended dah!

Tips :

  1. Gak ada tiket masuk. Nemu menusia aja jarang di sini.
  2. Boleh makan duku sepuasnya tapi jangan dibawa pulang.
  3. Pakai lotion anti nyamuk.
  4. Please jangan buang sampah sembarangan. Kalau nyiptain sampah dibawa balik lagi yah, karena area ini belum ada tong sampahnya.
  5. Tidak ada toilet jadi pipis/eek dulu sebelum ke mari.

Terus kalau ada yang nanya bagus mana dengan candi yang di ekskavasi itu. Aku mantap menjawab Candi Koto Mahligai meskipun gak ada bangunan candinya. Soalnya di sini tenang dan bisa buat main petak umpet sih.

Kalau kalian suka yang mana?

Selain Candi Koto Mahligai, aku sempat mampir dikit ke candi lainnya nih. Tonton di sini yah :

Travel Now or NEVER
6 Responses
  1. woh, candinya masih terpendam yak, saya baru ke candi tinggi sama kedaton doang :p
    keren euy, kayak di angkor pohonnya.. pengen solo traveling kesini, tp kalo sepi banget kayak gini jadi mikir hehe

Leave a Reply