Djawatan Angker Gak Sih?

djawatan angker

“Djawatan angker gak?” mungkin itu salah satu pertanyaan di batinku ketika mau ngetrip ke Banyunwangi. Apalagi saat itu lagi viral di Twitter tentang KKN Desa Penari yang diduga lokasinya berada di Banyuwangi.

“Dulu kalau ke sekolah saya lewat sini,” kata Yudha, staf Dinas Pariwisata Banyuwangi yang menemaniku. Ia juga lantas berujar kalau dulu tempat ini sangat kentara akan bau kotoran kelelawar.

Aku berusaha membayangkan kalau itu diriku yang harus melewati area seluas 4,8 hektar dengan pepohonan lebat berusia lebih dari 100 tahun.

“Wah kalau gitu main umpetan di sini pasti susah nemunya yah mas?” tanyaku lagi.

“Hahah enggak ada yang berani main di sini mbak.” jawab mas Yudha terkekeh.

Bener juga. Apa yang aku liat di siang terik ini pastilah sangat berbeda dengan puluhan tahun lalu saat Djawatan hanya sebuah tempat terasing. Tempat di mana manusia enggan melintas, apalagi mengunjungi. Isinya hanya jin sedang buang anak dan gelondongan kayu jati.

djawatan

Namun semua berubah sejak Instagram mem-viral-kannya 2 tahun belakangan ini. Neng Kunti, dedemit dan penghuni lainnya pasti kebingungan karena tak ada lagi Djawatan angker. Kini mereka berbagi lahan dengan para turis, orang-orang yang melakukan sesi pre wed dan abang jualan bakso yang mencari nafkah. Apalagi lokasi ini juga digembor-gembor menjadi pesaing lokasi syuting Lord of The Rings. Berhubung aku gak nonton film ini, aku sih gak bisa membandingkanya. Tapi karena wara-wiri di linimasa, jadinya bikin penasaran juga.

Pas ke sana di saat orang lain pada sholat jumat, dari pintu masuk, aku melihat 3 pohon Trembesi raksasa. Deretan pohon tersebut sukses membuat aku terpukau sama ukuran Pohon Trembesi ini. Belum lagi ada semacam lumut-lumut yang menyelimuti dahan pohon-pohon itu. Aku sempat naik ke salah satu pohon yang sudah dibikinin tangga kayu. Saking gedenya nih pohon, di atasnya itu luasnya sama kayak kamar kosanku.

Karena sudah di atas pohon itulah, aku baru bisa ngeh rupanya “lumut” tebal yang menyelimuti pohon trembesi ini adalah tanaman pakis yang menjuntai. Di beberapa area lainnya, pohon-pohon trembesi ini tumbuh berdempetan sehingga dahan-dahan mereka yang menjulur itu terlihat tumpang tindih hingga cahaya matahari seakan kesulitan menembusnya. Makanya itu pakis-pakis ini bisa dengan subur tumbuh di cabang-cabangnya. Rapatnya pepohonan di sini juga membuat adem. Aku yang jalan-jalan jam 12 siang aja berasa teduh, apalagi dateng di kala subuh atau sunset. Pasti auranya mistis dikelilingi dengan embun pagi. Mana Banyuwangi itu kan cuacanya emang sejuk, jadinya rasanya syahdu gitu.

Dari “rumah pohon” itu, terlihat beberapa tukang delman dan kudanya. Aku lantas turun dan menghampiri mereka. Kuda-kuda dan delmannya sudah didandani cantik. Aku sempat berkenalan dengan salah seorang delman dan kudanya yang diberi nama Cinta. Kala itu si delman sedang menyisir rambut Cinta. Tapi Cinta tampaknya tetap gusar entah apa pasalnya. Aku berusaha menyentuhnya, tapi justru malah membuat Cinta makin beringas. Di belakang Cinta juga sudah ada beberapa kuda lainnya yang menunggu antrian dengan harapan bisa mengantar pengunjung keliling semua area Djawatan.

hutan djawatan

Di hari biasa, hanya 5 kuda yang dikerahkan sedangkan pada hari weekend di mana pengunjung sedang ramai-ramainya, maka semua delman dapat beroperasi menawarkan jasanya. Untuk sekali putaran, terkadang delman menawarkan Rp. 30.000 untuk dua orang. Menurutku worth it apalagi kalau bawa orang tua atau anak-anak yang mungkin susah buat diajak jalan lama. Ini juga jadi wahana nostalgia sih karena jadi inget pas di Jambi dulu masih ada yang pakai delman gini. Beda tauk rasanya jalan kaki dengan naik kuda gini. Bau tai kuda tiba-tiba tidak lagi menggangu setelah semilir angin Djawatan menyapu rambutku.

djawatan di banyuwangi

Meski didominasi oleh pohon trembesi, ada juga pohon lain di sini seperti pohon jati. Dari 181 pohon trembesi yang ada, tercatat sudah ada 6 pohon yang tumbang. Tapi tentunya tak banyak mengurangi keindahan tempat ini sih. Berhubung sudah dikelola oleh Perhutani, Djawatan sudah gak ada kesan seremnya lagi. Yang ada sekarang sudah terawat dan punya fasilitas mumpuni seperti WC (bersih!), cafe, dan dekat dengan masjid. Insya allah kalau ada penampakan, aku bisa kabur ke sana. Eeh~~

Djawatan Banyuwangi

Tiket Masuk : Rp. 7.500 (Paket Pre-wedding : 250K)

Jam Buka : Jam 8 – 5 Sore. Soalnya kalau udah maghrib, tar ada Neng Kunti baju Pink kayak gini loh.

djawatan banyuwangi

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply