[18+] Awal Mula Cerita Cinta Kamar Hotel

cerita cinta di kamar hotel

Kedekatan dua insan manusia dapat berawal dari banyak tempat, waktu dan ruang. Namun yang paling intens adalah ketika mulainya cerita cinta di kamar hotel seperti kala itu…

Aku membuat janji untuk bertemu dengan Justin. Sebenarnya kedatanganku ke kota ini adalah dalam rangka menemani keluarga angkatku dalam berplesir. Barulah ketika keluargaku pulang, aku memutuskan extend barang dua atau tiga hari lagi, mumpung jatah cutiku masih banyak. Lagian Justin berjanji akan mengajakku keliling ke tempat-tempat yang eksotis.

Kebetulan aku mendapatkan sebuah penginapan bagus berbentuk vila dengan harga promo. Villa yang berada di tepi pantai ini punya pemandangan yang menakjubkan. Karena penakut, aku menawarkan Justin untuk ikut serta menginap agar keesokan harinya kami dapat melanjutkan perjalanan. Iya pun setuju. Villa ini memang lumayan besar dengan beberapa kamar terpisah, sebuah ruang tamu terbuka dan juga sebuah kolam renang.

Perjalanan ke vila tersebut memakan waktu cukup lama, apalagi kami hanya mengendarai motor. Sesampainya di sana, kami terlanjur sudah letih dan hari sudah sore. Jadilah kami putuskan hanya berenang dan leyeh-leyeh saja sambil menunggu matahari kembali ke peraduannya.

Sudah lama aku dan Justin tidak bertemu sehingga sejam dua jam sangat tidak terasa karena banyak sekali cerita dan gosip yang kami bicarakan. Menjelang maghrib, barulah kami kembali ke kamar masing-masing untuk mandi dan bersiap mencari makan malam.

Karena letaknya yang terpencil, kami harus keluar vila untuk mencari warung makan. Angin malam mulai terasa sejuk di kulit manakala aku lupa membalut tubuhku dengan jaket.

“Dingin yah? Sini masuki aja tangannya ke kantong,” ujar Justin yang melirikku lewat spion motor.

Aku ingin menolak tapi bibirku yang gemeratakan serta badanku yang mulai gemetaran ini harus segera ditolong.

“Maaf yah…” jawabku sambil mengiyakan tawarannya.

Jari-jariku terasa hangat, seperti meleleh ketika meletakkan tanganku di kantongnya, tepat di depan perutnya.

“Toeng..toenggg..” aku mencairkan suasana dengan mencubit lemak-lemaknya yang membuntal.

Justin pun tertawa lebar sambil menahan geli dan berusaha fokus agar motor tidak bergoyang. Ini salah satu yang aku suka dari dia. Meski secara fisik ia bukan tipe pria yang aku gandrungi, namun sifatnya yang lucu dan perhatian membuatku betah berlama-lama bersamanya.

“Kita bungkus aja yah..” ajaknya ketika setelah setengah jam berputar-putar dan hanya ketemu sebuah warung ala kadarnya di tepi jalan antah berantah ini.

Kami memesan nasi dengan lauk seadanya, hanya untuk menganjal perut yang sudah mulai kososng. Begitu balik, kami langsung menghabisi makanan tersebut sambil menonton film komedi. Berhubung TV hanya ada di kamarku, yang notabane kamar paling besar, maka kami pun menghabiskan malam di sana.

Awalnya kami duduk di sofa, namun lama-lama berpindah ke kasur king bed. Kadang kala ketika sedang lucu-lucunya, aku reflek memukul atau mencubit tangan Justin. Ia tak membalas karena paham akan kelakuanku. Ia hanya mengusap rambutku yang makin acak-acakan.

Menjelang pertengahan film, Justin mulai terdiam sambil sesekali memiringkan kepalanya ke bahuku. Kasian, pasti ia capek seharian bawa motor dan meladeni aku yang pecicilan ini. Ku naikkan selimut hingga menutupi badannya. Aku tak mau ia masuk angin.

Terkadang ia mulai memejamkan matanya, tapi sesekali ia melirikku. Tatapan matanya beda ketika ia mulai lelah. Seperti bocah, ia sangat manja malam ini. Aku mencoba mencubit perutnya lagi. Tidak ada respon. Aku cubit pipinya yang juga tak kalah banyak lemak. Ia langsung menangkap tanganku sebelum aku sempat menariknya. Justin lalu mengenggam tanganku, mengepalkannya lalu meletakannya di atas bibirnya.

Dapat kurasakan nafasnya yang berdesir di kulit tanganku. Aku bingung harus berbuat apa. Sebisa mungkin aku tak menggerakkan tubuhku agar tak mengusiknya. Namun syukurnya aku masih mampu meraih remote TV di samping kasur dan mematikan layar TV. Film komedi tadi sudah terasa hambar.

Aku menoleh lagi melihat Justin yang sudah tampak nyaman sekali bersandar menyamping ke bahuku. Sesekali kepalanya melorot ke lenganku. Aku berbaik hati membetulkan posisinya. Tapi lama-lama bahuku juga ikutan pegel. Jadilah aku membalikkan badanku ke samping.

“Sini aja..” Justin langsung mendekap tubuhku. Ia seperti tak rela berjauhan dengan “guling hidup”.

Sekarang posisi kami sejajar. Muka Justin ada di sela-sela rambutku. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya di daun telingaku. Entah kenapa tarikan nafasnya terdengar seperti alunan melodi. Tangannya mendekap tubuhku dan kini aku dapat merasakan langsung dadanya yang bidang tapi dengan perut yang (mulai) membuncit. Saking kencangnya ia memelukku, aku bisa merasakan detak jantungnya. Begitupun detak jantungku yang semakin berdebar-debar.

Di antara lelapnya, ia sempat mengecup leher belakangku. Rasanya geli sekali, sampai bulu kudukku berdiri. Namun bukannya berhenti, Justin terus mencumbu leherku. Pelan tapi pasti, kecupan itu dibumbui dengan jilatan mesra. Tangannya yang tadi mengunci tubuhku ia longgarkan sedikit dan kini tangganya meraba ke wajahku, seakan ingin memastikan apakah aku tertidur atau tidak.

“Justin..” ucapku pelan.

“Sssstt….” dia hanya mendesis seraya meletakkan jari telunjuknya di bibirku.

Jari telunjuk itu lantas meraba bibir atas, bibir bawah dan tak jarang terpeleset masuk ke dalam mulutku.

Aku tergangga, terkejut dengan masih menahan rasa geli di leherku.

Justin membalikkan badanku ke arahnya. Ia melotot ke dalam mataku, jauh menembus hingga ke dasar hati. Tapi tak lama, lirikannya kini tertuju pada bibirku yang terbuka.

Layaknya elang yang telah menancapkan sasarannya, bibirnya pun langsung dengan cepat mendarat dan melumat bibirku. Tak diberikannya aku waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Sempat gigi aku bertemu dan terantuk, namun itu tak digubrisnya. Lidahnya sibuk menelusuri kedua bibirku dan sesekali mencari keberadaan lidahku.

Tangan Justin mengikuti irama tubuhku yang menggeliat dan beranjak turun dari wajah ke dada lalu berhenti di payudara. Ia membuat gerakan memutar yang lembut, bak tukang ukur yang sedang menimbang-nimbang seberapa berat payudaraku.

Puas dengan bibirku, ia beralih ke telingaku. Pelan pelan ia kecup kupingku hingga akhirnya memasukkan lidahnya ke lobang telingaku.

KYAAA~~

“Gak mau.. geliii ih…,” aku langsung mengatupkan kedua telingaku dengan tangan.

Ia tersenyum melihat titik lemahku. Melihat ada kesempatan besar, ia langsung menyasar dadaku yang kini tak terlindungi oleh tanganku. Dalam hitungan detik, Justin mampu menaikkan kaosku hingga ke leherku.

Di bawah lampu temaram di sisi ranjang, buah dadaku terlihat gamblang. Mata Justin berbinar-binar. Bola matanya yang hitam langsung membesar. Ia buai kedua buah dadaku tak ubahnya barang berharga. Ia juga menurunkkan tali braku terlebih dahulu. Tampaklah bahwa payudaraku langsung terlihat lebih rileks. Selanjutnya, ia menyingkap bra 34B itu ke atas. Lengkap sudah. Kini, kedua buah dadaku telanjang di hadapannya.

Aku malu sekali. Dari telinga, aku pindahkan kedua telapak tanganku ke muka untuk menutupi wajahku. Lain halnya dengan Justin yang tanpa basa basi dan risih, ia seperti menemukan sumber kekuatan baru.

Dibelainya kedua payudaraku seakan-akan sedang menimang anak. Ia kebingungan harus melahap yang mana dulu. Akhirnya keputusannya jatuh pada payudara kanan karena ketika jemarinya bermain di sana, putingku memberikan sinyal yang positif. Justin terus memplintir putingku yang berwarna cokelat muda itu.

Aku dapat merasakan aliran darahku yang semula berkumpul di kepala kini turun ke bagian dada. Aku juga mengapitkan kedua pahaku kencang-kencang karena sensasi yang telah lama tak kurasakan ini muncul kembali tanpa diundang.

Sambil menjilati putingku, ia melirikku. Tangannya membuka paksa telapak tanganku agar ia bisa melihat wajahku yang kini sudah merah padam bak kepiting rebus. Aku tak kuasa untuk melihat matanya, tapi ia terus menoleh ke arahku sambil menyedot payudaraku.

Aku pernah mendengar bahwa tempat ternyaman bagi seorang pria adalah di dada wanitanya. Baru kali ini aku percaya. Lama sekali Justin menghabiskan waktunya mengemut payudaraku seperti layaknya permen bon bon. Tidak ada satupun bagian yang terlewati oleh lidahnya.

Aku berusaha mengarahkan kepalanya ke kiri, berharap ia menaruh kasihan kepada payudara kiriku yang sedari tadi cuma bergumul dengan tangan saja. Justin pun menuruti pintaku. Payudara kiriku tidak sesensitif yang kanan. Bentuk putingnya pun masuk ke dalam. Namun dengan sentuhan dan jilatan yang tepat, maka puting ini pun akan keluar dan terbangun.

Sesekali ia turun ke perutku. Bibirnya mengecup manis pusarku dan dari sini ia dapat melihat pemandangan kedua gundukan dadaku dari bawah. Ia mengusap-usap perutku lalu meraba pinggulku. Pahaku yang sedari tadi bergetar pun ia belai. Namun ketika tangannya tiba di bokongku, ia kembali kasar. Ia tampar dan remas bulat-bulat sebagaimana tangannya mampu.

Ia mengendus-ngendus selangkanganku. Tangannya meraba bentuk vulvaku dari luar. Sesekali telunjuk dan beberapa jari lainnya bermain di situ, bergerak naik turun. Celana dalam yang kupakai terasa ketat dan mulai becek.

“Jangan…..” aku menyilangkan kakiku agar ia tidak bereaksi lebih jauh.

Aku tak sanggup. Tidak untuk saat ini.

Ia menghela napas, tapi maklum.

Aku menariknya pelan agar ia mau kembali ke dadaku. Aku butuh dirinya. Putingku merindukan mulutnya. Tapi sebelum itu menciuminya dulu secara membabi-buta. Kureguk kenikmatan yang sempat aku tolak tadinya. Bibirnya tersungging seperti orang yang menang perang. Aku mengarahkan tangannya ke payudaraku. Lagi-lagi yang kiri karena aku belum puas. Ia mengerti maksudku dan kali ini membuat manuver yang lebih dahsyat. Ia beri lebih banyak gigitan, sesekali di sedot, dan ia cumbu dadaku berkali-kali.

Putingku mulai memanas karena tak pernah selama ini aku mendapatkan perhatian ekstra seperti ini. Aku tak ubahnya macam cacing kepanasan. Aku sudah tak mengenal rasa malu lagi.

“Ngg…just… arghh justinnn…” aku kesulitan berbicara.

Susah sekali untuk tidak terengah-engah ketika Justin terus mengigit putingku.

“Sakittt… pelan-pelan aja..” lirihku.

Justin melepaskan gigitannya dan memberi jeda. Namun naluri prianya berkata lain. Ia lebih banyak membandel dan tak mengubris permohonanku. Lama-lama, perih yang awalnya mendera itu berubah wujud menjadi rasa nikmat yang mulai menguap.

Kian larut, erangan pun berganti menjadi desahan. Aku dilema. Ingin rasanya protes akan brutalnya gigitan Justin atau biarlah aku menyerah dan menikmati saja. Tapi sungguh aku terlena dibuatnya. Payudaraku terus membesar seiring tubuhku yang terangsang. Jantungku pun bekerja keras memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Aku sampai takut alat vitalku ini bisa meledak karena tak kuasa menahan menahan semua ini. Oh Tuhan, kuatkanlah hambamu ini!

Ritme gigitan Justi tidak dapat kutebak. Kadang kasar, namun sering juga halus diselingin dengan kecupan nakal dan belaian di sana sini. Sungguh aku ingin waktu berputar di detik ini saja.

Terakhir, Justin memencet kuat puting kiriku dan dengan lidahnya ia gesekkan ke putingku dan membuatku berteriak.

Aku menjambak rambutnya erat-erat. Justin semakin beringas dan membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dadaku. Ia gesekkan kemaluannya ke selangkanganku. Walaupun terhalang celana, aku bisa merasakan penisnya yang  tegang membesar. Sedari tadi aku berusaha tidak mengubris penisnya yang ingin mendobrak masuk ke liang vaginaku. Tapi sekali ini saja aku telah kehilangan akal sehatku. Aku mengangkang melebarkan pahaku agar gesekan penisnya kian terasa persis di klitorisku yang bengkak.

Buah zakarnya terus beradu dengan vulvaku dan menimbulkan bebunyian yang sangat mesum terdengar. Tiada lagi suara deru ombak di kamar ini. Yang tersisa hanyalah aku dan Justin yang saling mendekap lekat-lekat, beriringan menuju klimaks.

“….. yes.. ARHHHH…Justinnnn….ergghhhhh”””

Aku mengigit bibirku. Justin menarik napas dalam dalam dan membenturkan penisnya ke selangkanganku yang basah. Aku menutup mata dalam-dalam sambil merasakan rohku lepas dari tubuh dan terlempar ke angkasa. Tubuhku kian menegang hingga akhirnya meledak dalam puncak birahi.

Justin sudah tak dapat menahan lebih lama lagi. Dipeloroti celananya dan ia gesekkan penisnya yang berurat itu ke perutku. Kontak antar kulit itu seketika langsung memancing percikan cairan kental keluar dari penisnya. Ia pun seketika terkulai lemas menindih tubuhku. Berdua dalam peluh dan napsu, kami pun melebur menjadi satu, tenggelam dalam kolam kenikmatan duniawi.

Ia mengecup keningku. Ia benahi lagi bra dan kaosku yang telah ia porak porandakan sejam yang lalu. Aku melap mulutnya dan liur yang menempel di samping bibirnya. Begitu pun dengan dadaku yang basah dan memerah, penuh dengan bekas-bekas pergumulan.

“Dah… bobo yuk,” ujarnya sebelum kesadarannya hilang.

Sejak itulah ia tak hanya menjadi partner travelingku, tapi juga selimut di hatiku yang hadir dalam malam-malam yang dingin dan juga ketika esok matahari bersinar.

Justin, just the way you are.

**

Next : Nginap di hutan demi ketemu Orang Rimba

NEXT : Mall Ashta baru di SCBD. Ada Rooftop dan balkoninya keren dengan view gedung pencakar langit.

NEXT : Kisah Penyuka Ketiak

 

Travel Now or NEVER

Leave a Reply