Mergokin Kisah & Cerita Cinta Kamar Hotel

cerita cinta kamar hotel

Aku terbangun dari tidurku. Kamar hotel terasa dingin. Ruangan telah digelapkan oleh A (teman wanitaku, nama disamarkan). Aku lihat A beranjak turun dari ranjang di sebelahku dan membuka pintu kamar. Pelan-pelan ku lihat ia mempersilahkan B (teman pria kami, nama disamarkan) masuk… dan di sinilah cerita cinta kamar hotel ini dimulai.

Kala itu aku sedang menjadi mahasiswi di USA berkat beasiswa CCIP. Aku, A, B dan dua teman pria lagi sedang ditugaskan kampus untuk mengikuti sebuah seminar di New Orleans, Amerika Serikat.

kampus di amerika

Sedari awal ikut seminar ini, dosen kami telah mengingatkan bahwasanya harus menjaga sikap. Kami diinapkan di hotel yang tak jauh dengan lokasi seminar. Aku dan A tentu saja sekamar. Sejujurnya aku tidak dekat dengannya. Dia kakak tingkatku dan kebetulan saja kami berada di satu klub yang sama. Wanita bule berambut pirang pendek ini dianugerahi tubuh tinggi dengan badan yang curvy serta montok. Ia pintar dan cukup lantang bersuara sehingga disegani di klub kami. Sedangkan B, adalah sosok pria berambut pirang yang selalu memakai topi. Ia cenderung pendiam dan tak banyak omong. Bahkan aku tahu tahu kalau A & B punya hubungan khusus.

Melihat B masuk, melepaskan sepatu dan naik ke ranjang A, aku hanya bisa terdiam kaku. Aku berusaha tidak bergerak, bahkan sampai lupa bernapas agar mereka tidak sadar bahwa aku mengetahui semua gelagat mereka.

Sinar bulan yang masuk mengintip lewat tirai di kaca kamar menjadi satu-satunya penerangan di malam itu. Tak cukup terang, tapi sangat cukup bagiku untuk bisa menyaksikan B mulai mengambil posisi di atas tubuh A. Mereka sempat berbisik bisik kecil lalu tertawa cekikikan. Aku tak paham apa yang lucu dari semua ini.

Aku berusaha memejamkan mataku kuat-kuat dan berpikir positif.

Mungkin kamar sebelah tempat cowok itu terlalu sempit sehingga B menumpang istirahat di sini.

Mungkin B terkunci dari luar sehingga tidak bisa masuk kamar.

Mungkin ada hal yang harus dibicarakan juga sekarang ini.

Mungkin…. ah persetan. Mungkin memang beginilah pertemanan dua anak muda di negeri Paman Sam ini.

Sejuta kemungkinan itu lenyap manakala suara-suara kecil itu hilang dan kini berganti dengan suara-suara yang sangat asing di telingaku.

Sentuhan lembut yang awalnya manis kini berubah tempo dan kecepatannya. Desahan dan geliat tubuh dua insan manusia berlawanan jenis itu mulai menghangatkan seisi kamar yang dingin. Cumbu maut dan permainan lidah itu seolah olah terasa sangat dekat di kupingku. Oh tuhan ingin rasanya aku menjadi tuli saja dan tak harus mendengarkan semua ini.

Malam makin larut. Permainan kian membara. Sekali-kali suara dipan ranjang bergoyang mengikuti irama tubuh. Erangan si A tidak dapat dielakkan lagi. Meski A & B memadu kasih dari balik selimut itu, namun itu tak cukup kuat untuk meredam suara-suara senggama itu. Apalagi ketika pertemuan dua alat kelamin yang dibenturkan beriringan dengan cipratan lendir dan cairan yang mengiringinya.

Plop plop plop arghhh…

Temponya semakin cepat. Detak jantungku pun ikut terpacu. Aku masih meringkuk dan membenamkan mukaku ke dalam bantal.

Lain halnya dengan si A di ranjang sampingku. Seperti orang kesetanan, ia sudah tak dapat mengontrol suaranya. Tangannya menggapai udara, ingin rasanya mencengkram tubuh kekar B dan menancapkan kukunya yang panjang di pantat B yang sedang memanuver dengan kencang. Giginya gemeratakan tak kuat menahan laju nikmat duniawi.

Nghhh… arghhh……yes…Arhgghhh…ah..ahh..aah…

Racau di mulut A yang tadinya melengking tertahan kini berganti dengan suara terengah-engah dan hembusan panjang dari B. Seakan telah memenangkan perlombaan lari, keduanya langsung terkulai lemas, dibanjiri oleh keringat dan peluh di tubuh mereka yang sudah tanpa seuntai benang pun.

Darahku mendesir. Badanku terasa panas. Aku masih berharap ini semua mimpi. Mimpi yang teramat kelam. Jika biasanya aku melihat atau membaca stensilan atau konten dewasa, acapkali aku ikut terangsang. Namun tidak dengan ini. Baru inilah pertama kali dalam hidupku aku mendengar langsung semua itu. Meski aku pun merindukan setuhan dan buaian lelaki, namun berada di sini bersama mereka justru membuatku murka dan perutku mual. Aku muak dan ingin tidur. Aku berusaha membalikkan badanku dan membuat sedikit gerakan. Aku berharap mereka sadar bahwa dunia ini tidak hanya tentang mereka saja. Aku mau mereka sadar aku masih ada di samping mereka. Tolong hargai aku. Tidakkah kalian malu bila aku memergokimu?

Atau kalian lebih baik ditonton olehku daripada tidak dapat menyalurkan kebutuhan seksual yang telah begitu memuncak?

Tak terasa malam sudah meninggalkan bumi dan subuh telah menjelang. Si B tampak telah puas dan langsung meninggalkan kamar. Barulah setelah itu aku bisa tidur.

Esok harinya aku bangun dengan mood berantakan. Aku kesal sekali dengan A. Meskipun begitu aku bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Begitupun si A, seperti tak mempunyai dosa atau kekhawatiran apapun.

Karena kurang tidur dan bayangan tentang kejadian tak senonoh semalam terus mengelayut di benakku, aku tidak dapat mengikut seminar dengan fokus. Aku menguap terus-terusan.. tak sabar menanti malam itu tiba dan aku bisa kembali ke kasur.

Namun nahas, di malam kedua aku berasa Dejavu. Lagi-lagi B datang ke kamar dan adegan-adegan seronok seperti kemarin pun terulang. Sungguh ingin rasanya aku melabrak mereka. Namun nyaliku ciut karena aku tak ingin membuat kegaduhan. Tapi di satu sisi aku butuh sekali tidur. Aku nyaris menangis dan frustasi di tengah A & B yang sedang merenguk kenikmatan dunia. Sungguh sebuah ironi.

Percayalah, tak sedikitpun aku iri pada A. Aku justru bingung melihat interaksi mereka ketika siang hari yang nyaris sangat minim. Namun ketika matahari telah tiada, ranjang ini akan menjadi saksi bisu betapa dekat dan lekat dua jiwa tersebut.

Argh sudahlah apa peduliku dengan cerita cinta kamar hotel ini..itupun jika ada cinta yang melandasinya.

Beruntungnya di malam kedua, karena telah kelelahan, aku tak sadar telah tertidur di kala pergulatan panas tersebut. Ketika bangun, B telah tiada, sedangkan A masih terlelap dalam mimpi indahnya.

Aku bisa menarik napas dengan lega dan karena hari ini hari terakhir kami di New Orleans. Aku sungguh tak sabar meninggalkan kamar penuh dosa ini. Aku ingin kembali pada apartemen kecilku dan berlabuh di kasurku sendiri yang hening dan tenteram.

**

Apakah kalian pernah memergoki cerita cinta kamar hotel lainnya?

Kisah cerita cinta kamar hotel lainnya di sini yah 

Kalau cerita hantu di hotel, di sini yah lebih menegangkan!

****

Belanja baju keren & murah di sini yah. 

****

**

NEXT : Mall Ashta baru di SCBD. Ada Rooftop dan balkoninya keren dengan view gedung pencakar langit.

Next Kisah Penyuka Ketiak

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply