Uniknya Gunung Lumut Belitung

gunung lumut

Belitung bukan hanya tentang pantai dan lautnya yang indah, namun juga ada gunung loh, bahkan jenisnya adalah gunung lumut. Jadi tahun ini, adalah tahun ketiga aku balik ke Belitung. Jujur karena dua kali trip kemarin cukup lama dan intensif, aku cukup kehabisan akal mau ke mana lagi yah. Untungnya aku tanya temanku yang orang lokal dan juga seorang guide dan dia pun nyaranin ke Gunong Lumut di Limbongan, Belitong Timur.

Pertama liat foto yang disodorkan, aku langsung tercengang gitu melihat warna bumi yang berubah bak permadani hijau tertutup lumut tebal. Entah kenapa aku teringat sama hutan ala Jepang yang menyeramkan seperti hutan untuk bunuh diri gitu. Hiii

Tapi semakin diliat, semakin aku berkeyakinan aku harus ke sana. Tempatnya emang bukan destinasi wisata pada umumnya, padahal area ini masuk dalam salah satu situs geosite di Belitung dan juga area konservasi karena terletak di atas formasi bebatuan megalitik gitu deh. Tahu sendiri lah Belitung ini begitu banyak bebatuan purba yang langka dan terangkat ke bumi. Probably Belitung emang berdiri di atas bebatuan deh.

Nah pas tiba di Belitong, kebetulan aku dapat guide bang Ogut yang dia malah lum pernah ke Gunung Lumut ini. Jadilah aku ajakin ke sini, setelah awalnya agak bingung juga soal jalannya, karena dari jalan besar, kudu masuk ke gang kecil dulu. Palang masuk gang kecilnya pun berukuran kecil sehingga mudah kelewat dah. Barulah setelah itu nanti ada sebuah gapura besar yang menandakan area ini udah mulai masuk Gunung Lumut.

gunung belitung

Janganlah berpikir ini bakal -berupa gunung beneran, karena mungkin lebih tepatnya bukit atau dataran tinggi dah. Karena di Belitong sejatinya gak ada gunung, cuma bagi orang lokal mungkin ini sudah bisa disebut gunung. Setelah masuk dari gerbang itu, kami menjumpai ladang lada di kanan-kiri jalan bertanah. Celingak-celinguk, tidak ada satupun orang atau petunjuk lagi di mana pintu masuk atau sebagainya. Akhirnya mobil kami berkendara terus hingga agak turun dan makin terpelosok. Rasanya kami sudah terlalu jauh. Untungnya di tengah kebimbangan tersebet, ada motor melintas dan kami tanyakan di mana Gunung Lumut itu. Rupanya kami kebablasan. Okay dah putar balik….

Gunung Lumut yang ingin kami lihat rupanya terletak di dekat area ladang lada tersebut. Cuma yah enggak ada plang/petunjuk sehingga awalnya kami ragu. Setelah yakni itu pintu masuknya, kami parkir mobil di depan dan masuk ke dalam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan ataupun orang yang nungguin. Bahkan dua WC portable yang terserak di sana udah rusak sehingga supir/guide kami Bang Ogut kepaksa pipis di sampingnya.

Aku pun tak sabar dan mulai jalan masuk ke hutan. Hanya tenggorek, kumbang, nyamuk hutan yang mengawali perjalanan kami. Untungnya aku masih wa sama temanku yang guide dan ia yang memberikan petunjuk untuk belok kiri setelah gazebo pertama. Setelah itu, ikuti aja arah jalan trekkingnya. Memang sempat ada sebuah persimpangan yang bikin bingung untuk milih yang mana atu. Aku pun cukup cemas karena kami sudah jalan puluhan menit dan tidak ketemu seorang pun. Bang Ogut inisiatif meletakkan batang pohon sebagai penanda jalan kami untuk pulang. Karena kami beneran belum pernah ke sini dan meski ada sinyal HP, just to be safe aja kami nyasar.

Aku juga berdoa semoga semuanya lancar. Aku masih bertanya ke temanku lewat WA apakah masih lama lagi trekkingnya karena aku udah keringetan dan undakan untuk naik ke atas mulai terasa berat sedangkan hutan ini masih tampak rimbun belum menampakkan pertanda akan ada lumut-lumut yang kuincar tersebut.

Dari foto yang aku kirimkan, temanku terus memberikan semangat dan bilang sedikit lagi, terutama ketika akhirnya kami bertemu dengan sebuah pondok warung bertenda biru serta WC dadakan yang tersedia di tengah rimba.

Jalan menuju ke atas makin susah, namun untungnya sudah ditata sedemikian rupa sehingga meskipun aku cuma pakai sandal jepit, maka tidak jadi masalah. Lama-lama, tanah yang lembab sehabis hujan tersebut mulai berganti dengan akar pohon tebal mencuat dari bumi lalu bersisian dengan batu-batu yang mulai berlumut sedikit. Aha~ ku tahu kami sudah mulai sampai.

gunong lumut

Benar saja tak lama, masih di tangga undakan yang tiada habisnya itu, sebuah plang yang menjadi pertanda Gunung Lumut telah terlihat. Aku bersorak girang ketika melihat ternyata usaha kami tidak sia-sia dan kami tidak nyasar. Di samping kanan ada sebuah jalan lagi dengan tangga kayu yang rupanya mengarah ke sebuah view point di mana ada dek kayu untuk melihat pemandangan Limbongan dari atas. Hua ini tempat yang cocok untuk menarik napas sedalam-dalamnya sambil mengeringkan keringat yang sudah menjulur ke pantat. Kabarnya Gunung Lumut merupakan titik tertinggi di Belitong Timur loh!

gunung di belitung

Aku kembali lagi ke “jalan utama” dan mulai masuk ke area yang ada tangga dibatasi dengan tali di sekelilingnya. Ini pasti untuk mencegah ahar tidak ada orang yang masuk ke area lumut dan menginjaknya. Jadi aku pun dari samping saja mengagumi keindahan lumut ini. Aku pun tak menyentuhnya dan hanya terpesona melihat tumbuhan ini bisa tumbuh sedemikian suburnya. Tapi tak heran sih, dari kami berjalan hutan ini cukup lembab dan rapatnya pepohonan membuat sianr matahari mungkin hanya dapat menerobos sedikit sehingga lumut di sini punya kesempatan untuk berproduksi lebih banyak.

lumut

Beranjak ke atas lagi, pohon-pohon tinggi mulai merendah dan aku bisa melihat pemandangan langsung di samping. Namun jalan tanah itu pun mulai terang dan lumut menghilang. Area trekkingnya mulai menyempit tertutup dan aku dan temanku memutuskan sebaiknya tak usah diteruskan lagi. Hari sudah cukup siang dan kami mulai lapar. Jadi cukuplah kami turun dan menikmati keindahan lumut di bawah tersebut saja.

Kabarnya di sini ada beraneka macam jenis lumut dan flora macam anggrek, namun yang kuliat lumut yah cuma satu gitu aja hihihi senangnya karena tempat ini masih jarang dikunjungi, alamnya sangat terjaga. Semoga lumutnya bisa lestari terus yah.

Tips :

Pake lotion anti nyamuk karena nyamuknya ganas.

Bawa air minum. Trekkingnya sebenarnya gak lama paling setengah jam doang namun perlu diingat / ditandai yah area persimpangan biar tidak nyasar.

Ke WC dulu sebelum trekking. Dari Tanjung Pandan ke Gunung lumut butuh sekitar 1,5jam tapi worth it kok!

Tonton vlogku ini

**

Jangan lupa cicipi sedapnya makanan Belitung!

Next : Lihat Batu Penis di Belitung.

**

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply