Surat Patah Hati Untuk Si Dia

ancol

Hei kamu,

Ini sudah hampir setahun sejak kita berdua memutuskan tidak saling whatsapp lagi. Tidak ada skype date lagi. Tidak saling menanyakan kabar lagi.

“I’ll call you later” adalah kebohonganmu terbesar, tapi juga yang terakhir kalinya. Ketika mendengarnya, aku tahu. Aku tahu persis kita sudah tiba pada persimpangan jalan. Kau memilih berbelok ke kanan di mana petualangan baru telah menanti. Adrenalinmu bergejolak tak sabar dengan hidup yang baru di negeri yang baru. Sedang aku, memilih tetap lurus ke depan, sebuah jalan yang teramat biasa dengan rutinitas yang membelenggu.

Kali ini, tak ada satupun dari kita yang mempertanyakan hal itu. Masing masing dari kita seperti telah mafhum dan mulai menginjak pedal gas kencang-kencang serta berjanji untuk tak pernah melihat ke belakang lagi. Jangan pernah menoleh sedikitpun ke belakang untuk melihat apa yang telah kita tinggalkan.

Tapi maafkan aku, aku masih tak bisa menepati hal tersebut. Sesekali aku melirik dari kaca spion, berharap kau berubah pikiran dan mengejarku kembali. Tapi nahas, itu hanyalah khayalku saja. Punggungmu yang sedikit bungkuk perlahan-lahan hilang hingga menjadi setitik buih di antara linangan air mataku.

Hei kamu,

Seminggu lagi aku akan berulang tahun. Aku tahu kamu pasti ingin bilang “Len, you’re getting old” lalu kau akan menceramahiku dengan hipotesa anehmu dan mempertanyakan kenapa aku tak jua bersedia memberikan diriku seutuhnya padamu ketika kita masih punya kesempatan dan waktu bersama-sama.

Hei kamu,

Diam diam aku masih berharap kaulah orang yang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun, persis seperti tahun kemarin.

Hei kamu,

Rasanya waktu berlari begitu cepat. Hanya dalam satu tahun aku sudah melalui banyak hal. Beberapa mimpiku terwujud. Sayang aku tak bisa memberitahumu. Tepatnya aku tak tahu bagaimana menghubungimu lagi.

Tapi anehnya waktu juga berlalu sangat lambat. Teramat lambat. Jika kuhitung hanya 2 kali aku pernah mengontakmu. Yang pertama hanya berbasa basi untuk mengetes. Rupanya kamu tak terpancing. Kamu tak membalas. Centang biru di layar whatsapp itu sangat menyakitkan. Padahal aku tahu kamu mengupdate status dan mengganti foto profilmu.

Yang kedua ketika aku mengatakan bahwa teman kita mengunjungiku di sini. Kau membalas dan memintaku menitipkan salam untuknya. Setelahnya, kau tak mengubris ketika kubilang “I wish you were here”. Mungkin karena kau sudah tak berharap akan hadirnya diriku lagi di sampingmu. Aku percaya sudah ada wanita lain yang menemani harimu yang panjang dan dingin.

Hei kamu,

Sejak kau pergi sudah ada beberapa lelaki yang mampir di hidupku. Tapi semua itu hanya sekelabat saja, tak seperti kau yang meninggalkan jejak yang begitu mendalam.

Hei kamu,

Aku sadar mungkin sebentar lagi kenangan kita akan expired. Timed Out. Terlupakan karena kau & aku move on. Inilah yang harus aku lakukan karena aku butuh mencari penggantimu. Aku tak bisa begini terus terusan, hanyut dalam nestapa dan berkubang derita setiap malam.

Tapi kamu tenang saja. Meski kita tak akan pernah berjumpa lagi, namun setiap kali aku melihat pria dengan hidung besar sepertimu, aku pasti akan langsung teringat betapa lembut dan manisnya cerita kita dulu.

Aku akan mengingat bahwa kaulah yang memberikanku pelajaran bahwa pantas dan berharga untuk dicintai. Bersamamu, aku bisa menjadi wanita tercantik di mata seorang pria. Bahwa dengan kehadiranku saja, maka itu saja sudah cukup. Tak perlu yang lain.

Kau juga mengingatkanku bahwa cinta mati bukanlah segalanya. Hubungan itu begitu kompleks. Selalu ada drama, orang, dan elemen lainnya yang lebih senang melihat kita tercerai berai. Ada kalanya kita kalah. Kau kalah dengan hawa nafsumu, Aku kalah dengan belenggu masa laluku.

Kita menyerah.

Mereka menang.

Puaskah mereka? Inikah yang terbaik? Bahwa kau dan aku memang hanya dapat bergandengan untuk sebelas bulan saja? Inikah tiba saatnya aku harus rela melepaskan genggamanmu?

Hei kamu,

Aku menyanyangimu. Di manapun kau berada, aku berharap kamu sehat dan bahagia. Aku sering berpikir mungkin kau telah menemukan rumah yang kau cari. Tempat berpulang di mana seseorang telah menunggumu dan tak sabar memelukmu. Rumah di mana kau tak akan mendengarkan suara bising kendaraan dan orang orang yang bergunjing tentangmu. Tempat di mana kau dan pikiranmu bebas terbang liar. Tempat di mana kau melabuhkan cintamu dan membangun keluarga dengan banyak anak seperti yang kau impikan.

Jika kau penasaran bagaimana keadanku sekarang, biar kuberitahu.

Aku baik-baik saja. Kau tahu kalimat itu sudah meluncur otomatis tanpa sadar.

Tapi percayalah aku baik-baik saja. Setidaknya lebih baik daripada ketika terakhir kali kita berbicara. Tidak ada beban lagi dalam hidupku. Aku kosong. Aku sepi. Aku siap untuk kesempatan apapun yang mampir di depanku. Terkadang, aku masih mengenang masa masa indah kita. Terkadang aku menangis hingga tertidur. Terkadang aku rindu dipeluk dari belakang dan merasakan napasmu di leherku. Tapi aku baik baik saja. Aku akan kuat. Kau tak usah cemas. Nikmati saja hidupmu di sana. Itulah satu satunya yang kuharapkan darimu. Tak lebih.

Aku di sini sendiri. Aku kuat. Aku sudah punya beberapa teman. Aku bahkan sudah bisa belajar menumbuhkan perasaanku kepada laki-laki lain. Rasanya indah sekaligus getir karena harus meniti jalan itu lagi. Tapi aku pasti bisa. Karena kau tahu, bersamamu dulu begitu banyak hal mustahil yang kupikir aku tak mampu jalani, tapi semuanya berhasil dilewati. Jadi saat ini adalah hal kecil buatku. Kau telah mengajarkanku banyak hal.

Hei kamu,

Hari ini genap sudah 28 tahun umurku. Bukan kamu orang pertama yang whatsapp dan mengucapkannya. Kamu sudah tergantikan dengan Justin. Seseorang yang tak pernah kusangka akan dekat denganku. Aku kira aku akan mendekat pada yang lain, atau siapa pun itu yang menaruh sedikit perhatian padaku. Aku tahu aku masih begitu menyedihkannya. Aku belum cukup menghasihani diriku sendiri. Aku tetap butuh cinta dan kasih sayang dari orang lain. Setidaknya itulah yang membuat aku bertahan dan mampu melewati kesepian ini.

Hei kamu,

Aku tak minta apa-apa lagi. Aku hanya ingin lebih banyak berwisata untuk terus bisa merasa bersyukur dengan hidupku ini. Sendiri ataupun dengan seorang kekasih. Aku hanya ingin merasa cukup.

Hei kamu,

Sejujurnya aku takut kehilangan memori memori kita. Sesakit apapun itu, kisah kita adalah indah. Aku takut aku lupa bagaimana enaknya sphaghetti yang kau buat. Aku takut lupa bir kesukaanmu. Aku takut kamu tak akan pernah lagi hadir dalam lamunku. Bahkan aku mulai lupa betapa bencinya aku akan ciumanmu yang berbau rokok itu.

Aku masih ingin mengenang saat terbaik dan terburuk yang pernah kita lewati. Mungkin akan kujadikan novel atau mungkin surat ini hanya akan terlupakan di sini. Aku tahu kamu pasti tak suka aku menceritakan ini pada dunia tapi maafkanlah sekali ini saja aku bercerita tentang kita. Sebuah dongeng yang berakhir tidak happy ending..

**

Kisah patah hati lainnya bisa baca ini yah

NEXT : Pulau Penis di Belitung!

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

NEXT : Kisah penyuka Ketiak

 

Travel Now or NEVER

Leave a Reply