Cerita Cinta Sedih – San Francisco

cerita cinta sedih

Cerita cinta sedih paling mudah ditulis ketika patah hati gundah gulana. Cerita fiksi ini sudah mengendap di buku harianku aku ketika beberapa tahun lalu hidupku nelangsa, tidak tahu tujuan dan arah yang ingin ditempuh. Semoga siapapun kamu yang membacanya, tidak perlu mengalami pedihnya cinta yang tak dapat bersatu.

**

“Aku sudah sampai dan duduk di meja yang biasa yah.”

PESAN TERKIRIM

Aku letakkan kembali handphoneku, menarik napas, menghela napas dan melakukannya berulang kali hingga pelayan restoran itu memanggil namaku, pertanda pesanan sudah siap.

Aku bukan peminum kopi. Malahan aku tidak suka aromanya yang pekat dan menusuk hidungku. Tapi demi dia, aku pesankan menu kesukaannya, Caramel Frappucino. Sedangkan aku, biarlah cukup Frapuccino Green Tea Less Ice, Less Sugar tanpa Whip Cream. Dulu ia selalu mengernyitkan dahi tiap kali aku memesan itu ke barista.

Di balik jendela, rintik hujan mulai menyapa. Tidak heran karena ini San Francisco, di mana perkiraan cuaca ditentukan oleh kuasa langit. Di mana payung dan jaket adalah paduan fashion yang tak boleh ditinggalkan. Di mana kau selalu punya alasan untuk memperlambat langkahmu dan singgah di café.

Aku menatap cincin perak yang tersemat di jari manis kiri. Sekerat batu turquoise menjadi pemanis cincin itu. Kuputar putar cincin yang mulai kelonggaran itu seperti memutar kembali kenangan lahirnya cincin ini.

Aku dan dia bertemu di Santa Monica College. Awalnya tak pernah sekalipun aku mengubrisnya yang duduk di belakang kananku.. hingga suatu waktu aku datang kepagian dan hanya ada dia seorang di sana. Untuk memecah kebosanan aku membuka obrolan dengan sapaan paling bodoh yang pernah aku lontarkan.

“Kamu sudah menikah?” tanyaku.

Si dia berhenti menatap layer Iphone-nya dan mendongkakkan kepalanya. Wajahnya kaget dan privasinya terusik oleh seorang wanita yang tak ia kenal.

“Belum” jawabnya sambil melotot.

Tetapi dia terlihat seperti umur 30-an, tidak banyak berbicara, berpakaian necis dengan kemeja kotak kotak merah, celana jeans serta sepatu converse.

Argh tebakanku salah. Aku jadi malu sudah terlanjur men-streotype dia.

Untungnya inisiatifku yang spontan itu sukses memecahkan kebekuan. Kelas Business Development yang jadwalnya hanya tiga kali seminggu tersebut menjadi sangat kunantikan. Yang biasanya aku hanya memakai kaos oblong dengan padanan legging ala kadarnya, kini tiap mau berangkat ke kampus, mestilah aku mematutkan diri di kaca hingga tiga puluh menit. Tak lupa juga kupoleskan cat kuku di jariku yang lentik.

Pembaca tidak perlu tebak-tebak-buah-manggis untuk mengetahui ke mana arah hubungan kami ini. Hari hari di negeri perantauan seorang diri menjadi terasa ringan di kala langkah kami terayun bersama dan tangannya yang mengengam jemariku.

****

“Kok sudah lama nggak pernah kelihatan lagi?” sapa si pelayaran restoran membuyarkan lamunanku.

Iya yah kapan terakhir kali kami berdua di sini. Mungkin ketika kami merayakan anniversary yang ke 3? Atau mungkin ketika aku berhasil menyelesaikan masterku? Atau mungkin ketika kami berdiskusi apa yang harus kami lakukan ketika visa F-1 ku sudah akan expired?

“Ini mau jumpa dia sekarang,” jawabku tenang.

Kring Kring Kring.

Lonceng besi berdentang pertanda ada pengunjung yang masuk. Sang pelayan lalu bergegas kembali ke belakang meja kasir. Aku segera meletakkan tanganku di bawah meja dan mengepalnya.

Langkah kaki yang masuk itu berhenti sebentar seperti kebingungan. Namun tak lama si pemilik kaki itu sudah tahu harus melangkah ke mana. Aku tak perlu menoleh untuk tahu langkah berat kaki yang seperti diseret itu hanya milik kepunyaan dia seorang.

Ditariknya kursi kayu di depanku.

“Hai, maaf terlambat,” sapanya tanpa basa basi.

Dia membuka jaket hitamnya yang mulai basah. Lalu dari kantong tebal jaket itu dikeluarkan topi kupluk coklat kesayangannya dan dipakainya untuk menghangati kepalanya yang botak. Dia tampak kedinginan dan mengusap usap kedua sisi tangannya.

Aku tersenyum. Dia tersenyum, lalu kami terdiam, saling memandang mandang seperti berusaha meneliti wajah masing masing yang ditinggalkan dua tahun yang lalu di bandara.

Kerutan di matanya bertambah. Dia bilang pekerjaan sekarang terlalu banyak menguras waktu istirahaynya. Sedangkan di wajahku, kantong mata yang menebal tak mampu kututupi. Aku masih jetlag jawabku sekenanya. Padahal jelas jelas sekembalinya ke Indonesia, aku susah tidur dan kehilangan nafsu makan. Susah rasanya meninggalkan belahan jiwa di sini dan sambil berharap ia yang tak kunjung jua datang meminangku, seperti janjinya.

Yeah, Long Distance Relationship is sucks.

Ungkapan itu selalu dia utarakan manakala skype tidak mampu menjembatani rasa rindu yang teramat sangat ini. Dia memohon padaku agar segera kembali ke negeri paman sam. Tinggal bersamanya, memulai hidup yang kami impikan, walaupun dengan status ilegal, seperti dirinya.

“Tapi kamu harus datang ke Indonesia dulu menemui keluargaku.” Pintaku setelah berpikir beberapa hari.

Aku bukanlah wanita neko-neko. Tak perlu pengumuman engaged di Facebook. Tak perlu ada acara lamaran. Pintaku hanya satu. Bawa aku pergi setelah prosesi adat istiadat diselenggarakan di rumahku.

***

“Bagaimana persiapan acaranya?”

“Lancar. Aku hanya lupa menyisipkan honeymoon dalam agenda.”

Kami tertawa bersama. Rupanya dia belum banyak berubah. Aku sungguh hapal tabiatnya. Terlalu hapal malah. Komunikasi yang terputus setelah kami tak dapat menemukan win-win solution dua tahun lalu tak menyurutkan sedikitpun ingatanku akan dia.

Dia menyeruput pelan cangkir kopinya.

“Aku harus pergi. Dia menungguku. Sore ini kami ada janji bertemu wedding organizernya.”

Aku undur diri. Aku tahu sebenarnya bukan waktu yang memisahkan kami, namun ternyata aku tak cukup tegar. Kenangan yang lalu itu masih saja terlalu kuat berkecamuk di dadaku. Aku takut hatiku goyah.

“Jadi, sampai bertemu minggu depan di venue yah.” dia berdiri mendorong kursinya.

Aku menatap punggungnya yang mulai menjauh. Namun tiba-tiba ia berpaling menatapku. Seperti ada sesuatu yang belum terselesaikan.

“Len..” dia membuka suara. Suaranya seperti tercekat.

Aku terpana.  Mungkinkah?

“Kamu cantik sekali hari ini. Michael beruntung akan punya istri seperti dirimu,” ujarnya.

Aku menyunggingkan bibirku. Sebuah ucapan yang sangat kunanti nanti dulunya. Ia tipikal yang paling susah untuk berbicara manis. Tak sekalipun ia pernah memujiku. Namun hari ini, kata kata itu seperti meluncur sendiri tanpa paksaan. Manis sekali.

Hujan masih turun dengan santainya. Bayang bayangnya telah lenyap. Yang tersisa hanyalah cangkir kopinya yang masih menguap. Aromanya membuatku mual dan sesak.

Sekarang kau tahu kan mengapa aku membenci kopi?

**

Baca kisah cinta fiksi San Fransisco selanjutnya di sini

**

NEXT : Ashta Mall Jakarta yang lagi hits.

**

NEXT : Main Sepatu Roda di GBK

**

NEXT : Nginap di hutan demi ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply