Sayang Kaak & Kebun Bawang Majalengka

kebun bawang majalengka

Kebun bawang adalah citra utama dari Majalengka. Itu jualah yang menggerakkan kakiku untuk mengelana area ini. Semua demi melihat tatanan bukit terasering yang menghijau layaknya potongan kue bolu pandan. Konon, bukit paling terkenal yang menjadi incaran para fotografer adalah Bukit Panyaweuyan. Tapi karena aku ke sana pertengahan Oktober, masih musim kering gitu. Aku dan temen-temen sempat yang turun bentar mastiin itu kebun bawang yang kayak di foto-foto kece di media sosial. Soalnya pas lagi gundul dan berwarna cokelat itu terlihat beda banget dengan yang pas lagi ijo-ijo royo.

Untuk menghalau rasa kecewa, kami melanjutkan perjalanan naik ke bukit yang lebih tinggi yakni Sayang Kaak.

panyaweuyan

Sayang Kaak dalam Bahasa lokal berarti sarang burung gagak. Namun entah kenapa bukit ini juga dikenal dengan nama kondang lainnya yaitu Bukit Mercury. Pas naiknya, beberapa kali mobil kami (toyota biasa gitu) sempat gak bisa naik. Jalannya emang kecil banget. Pernah pas di suatu jalan, ampe kena baret dengan mobil lain. Terus kadang kami harus turun juga karena mobil gak kuat muncak. Paling heboh sih pas guide kami, Pak Eda bilang bahwa ini perjalanan sudah macam ke Nepal apa Tibet gitu. Cailah kayak pernah pergi aja nih si bapak, begitu dalam hatiku.

Namun lama-lama, aku pun yang gak pernah ke dua negara tersebut jadi halu dan ikut mengiyakan juga. Soalnya beberapa rumah juga dibangun di sepanjang bukit sehingga pemandangannya itu kayak rumah monopoli kecil-kecil menghiasi bukit. Terus warna-nya kan beda-beda gitu jadi lucu juga.

Mana menuju ke atasnya, itu udah macam perjalanan “neraka” tapi ketika sampai di atasnya, masya allah emang surga deh ganjarannya. Auto lupa betapa seramnya tadi ngelewatin tanjakan patahan yang sampingnya jurang atau ketika harus lewat gang sempit di mana bawahnya kolong rumah orang.

Pas nyampe dan keluar mobil, yang pertama terasa adalah betapa bagusnya langit biru dan awan yang bergumpal-gumpal kayak gula kapas. Cuaca juga adem banget. Tak masalah deh panas kena sinar matahari asalkan gak membakar kulit. Di Sayang Kaak ini sebenarnya tempat wisata selfie juga. Ada beberapa spot berfoto kek tenda-tenda orang Indian, tempat duduk ala di ujung tebing dan lain-lain. Namun semua itu tak menarik perhatianku. Fokusku adalah pada kebun bawang di depannya. Untungnya beberapa lahan sudah ditanami bawang dan lumayan juga dapat view yang aku idamkan. Aku pun nyelonong masuk aja ke bawah karena gak ada petaninya satu pun. Kebunnya udah canggih nih karena udah pake mesin penyemprot air gitu. Iya juga sih kalau pakai manual apa gak gempor naik turun bukit gini yah.

kebun bawang

Aku sempat coba agak turun ke bawah gitu. Lumayan juga yah ternyata cukup curam. Musti pegangan dikit ama pipa air atau tanah seadanya. Lalu tentu aja tanahnya agak becek. Tapi semua itu tak perlu digubris karena aku sudah terpesona ama tanaman bawang di sampingku. Aromanya bener-bener kenceng dan seakan bisa menghipnotis.

Sewaktu lagi main-main, tak terasa semburat matahari mulai menunjukkan bahwa sunset akan segera dimulai. Seingatku, kami tak dapat momen yang wow banget, mungkin ketutup awan atau apalah. Atau bisa saja momen ini terlewat karena kami yang kelaparan sedang menyantap nasi liwet yang baru saja dihidangkan di salah satu warung. Rasanya kalau ada makanan lokal selezat ini, mau sunset, mau alien pun, tak lagi kami hiraukan.

Setelah perut kekenyangan, hari mulai gelap, pertanda kami harus segera turun mengingat jalanan tidak tersedia penerangan yang cukup memadai dan aman. Pun hawa dingin mulai menggigit kulitku. Sewaktu pulang, kami sempat berpapasan dengan orang-orang yang akan berkemah di Sayang Kaak. Wah jadi penasaran. Emang sih dari sini Gunung Ciremai sudah terlihat jelas. Pasti pemandanganya akan indah sekali. Ingin rasanya ikut bergabung juga jadinya.

Namun, apa daya harus mengucapkan selamat tinggal pada ketinggian 1.600 mdpl dan Sayang Kaak!

Aku sayang padamu, kak. Eeh..

bukit mercury

Tiket masuk : Rp.15.000/orang (yang camping juga sama harganya).

Note : Karena akses yang agak sulit untuk mencapai area ini, rencananya, turis nanti diharuskan menggunakan ojek motor/shuttle lokal demi keselamatan. Aku sih mendukung karena emang medannya sulit dan gak usah lah ambil resiko tinggi. Lagian naik motor atau pick up pun menyenangkan. Suasana desanya terasa banget. Perjalanan menuju kebun bawang Majalengka juga pasti bakal terasa lebih seru dan menyenangkan.

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. Paling seru perjalanan naik & turun Sayang Kaak, hingga masuk gang sempit di perkampungan, sungguh menguji nyali 😀

    Tapi emang pemandangan di sini juara ya. Apalagi kalau sedang hijau semua, kebayang permai banget!

Leave a Reply