Kirab Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung

Selama berada di Majalengka, hampir semua hal yang aku pandang, rasa, endus dan sentuh mampu menguarkan sensasi yang berbeda, terutama ketika melihat Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung.

Rasanya begitu asing tapi menyenangkan bak dilempar ke dinasti lampau saat menyaksikan ritual kerajaan turunan dari Padjajaran yang kini dipegang oleh Nyi Raden Ayu Padnalarang. Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung tidak hanya sekadar ritual untuk membersihkan artefak dan benda pusaka saja, namun juga untuk tolak bala dan menghindari mara bahaya. Kirab ini diadakan setiap hari senin di tanggal belasan terakhir di Bulan Safar yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 14 Oktober 2019. Lokasinya berada di belakang Museum Talaga Manggung yang disulap menjadi area festival yang sederhana.

Berbagai peninggalan kerajaan seperti kendi, gamelan, keris, senjata dan lain-lain dipamerkan di depan panggung beserta sesajian makanan yang menyertainya. Kesemua harta benda ini akan diguyur dengan air suci yang telah didoakan sebelumnya. Air yang digunakan bukan sembarang air melainkan campuran dari sembilan mata air di sekitar Talaga Manggung, salah satunya Situ Sanggiang yang sempat aku kunjungi dan emang keramat. Kesembilan air ini dibawa khusus oleh juru kuncinya di dalam sebilah bambu yang nantinya dituangkan dalam sebuah tempat penampungan yang telah diberi kelopak bunga berbagai warna.

nyiramkeun talaga manggung

Tidak heran setelah proses nyiramkeun pusaka tersebut, warga berduyun-duyun mulai tak sabar untuk mengambil air yang ada dalam tempat penampungan tersebut. Yang tak sabar menunggu antrian, lebih memilih untuk mengambil air yang tergenang di meja tempat pembersihan benda-benda tersebut. Bahkan ada yang sangat niat sekali sampai membawa kain lalu memeras airnya untuk dimasukkan ke botol atau wadah sudah disiapkan dari rumah. Suasana yang tadinya sakral dengan bau kemenyan dan panji-panji doa tergantikan dengan perebutan tetesan air mujarab.

kirab nyiramkeun

“Buat berkah.”

“Gak tahu, ikut-ikutan aja mbak.”

“Biar dapet jodoh.”

Begitu alasan mereka ketika ditanya. Aku hanya mengamini saja.

Hampir semua yang ada di panggung tidak luput dari tangan warga. Mulai dari air suci, makanan persembahan hingga dekorasi seperti janur kuning pun tak bisa mengelak dari cengkraman emak-emak. Aku hanya tersenyum saja melihat keriuhan warga. Yang penting bukan benda peninggalan kerajaan atau bendera kerajaan Talaga Manggu yang dibawa pulang karena di antara segala perbedaan dan gegap gempita yang aku rasakan, kibaran bendera itu menjadi penyejuk hati karena terasa begitu dekat dan familiar ; sebuah sosok arca putri.

Alkisah, Kerajaan Talaga Manggung memang aslinya merupakan kerajaan Buddha yang banyak mendapat pengaruh dari Thailand. Seiring waktu, terjadi pernikahan dengan Kerajaan Cirebon yang beragama Islam. Sejak saat itu, penerus Kerajaan Talaga Manggung pun memeluk agama Islam.

Pantas saja aku dibuat terpana melihat patung Ratu Simbar Kencana (putri kerajaan Talaga Manggung) dan patung Raden Panglurah (kakak Simbar Kencana) yang berlapis emas ketika dibersihkan. Tak segan-segan, generasi penerus kerajaan memakai hijab itu dengan cermat membasuh patung Buddha tersebut dengan hati-hati.

Di era isu agama yang sedang sensitif di Indonesia, pemandangan di depan mataku ini tampak indah sekali dan semakin meyakinkanku bahwa perbedaan seharusnya memang bisa hidup berdampingan tanpa harus meninggalkan ritual yang telah lama dilakukan.

Nyi Raden Ayu Padnalarang bercerita, suatu ketika kirab budaya ini tidak dilakukan. Imbasnya, kampung ketimpa musibah. Sejak itu, Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung ini harus tetap dilaksanakan setiap tahunnya meskipun terkadang ada orang-orang yang mempertanyakan.

talaga manggung

Tolonglah hanya untuk sebentar saja, bisakah kita tidak mengaitkan hal-hal ini dengan berhala, musyrik dan lain-lain? Tak kah kau liat ada Nirwana di sini?

Allah dan Tuhan pasti tersenyum melihatnya.

Travel Now or NEVER
2 Responses
  1. Sukaaaa.

    Agama itu urusan pribadi pemeluknya dan kepercayaan yg dijalankannya.

    Pentafsirannya bisa jadi beda antara satu individu & lainnya.

    Yg penting hubungan antar manusia jg damai & rukun yaa.

    Tp emang, lihat ibu2 berjilbab yg memandikan patung Budha ini jadi pemandangan yg bikin ces di hati. Suka

Leave a Reply