Rapelling di Gua Siwowo Kebumen

Pertama dan terakhir kali saya rapelling itu yakni di Arizona, USA. Yang saya rappeling adalah sebuah bukit berbatu di sebuah tanah kering nyaris tanpa ada tanaman. Maklum aja di gurun sih.

Nah di Indonesia, ketika jalan jalan di Kebumen, Jawa Tengah saya sempat masuk ke gua Siwowo. Gua ini sebenarnya tidak dalam namun di dalamnya sangat curam sehingga tidak bisa dimasuki sembarangan. Lagipula kondisinya gelap gulita dan tidak datar membuat saya mesti hati hati. Terus suasana di dalam lembab sehingga kalau nggak sama guide saya juga nggak mau masuk. Namun di gua ini tanpa direncana saya memberanikan diri mencoba rapelling setelah melihat beberapa orang. Ugh Langsung dong saya iri dan pengen…

gua siwowo
Lalu dengan diantar oleh guide, saya menuju ke atas gua yang notabane adalah bukit karang tandus. Di tengah cuaca siang hari yang panas, saya menanjaki bukit yah sekitar 15 menit lah. Pegel juga yah namun ketika terduduk lemas ketika sampai, saya memandangi landscape bukit berpadu lautan di pesisir selatan pulau Jawa ini, saya baru bisa bernafas lega.

Di atas bukit ini terdapat sebuah lobang kecil, mungkin berdiameter hanya 2 meter yang terbentuk alami yang menjadi starting point dari rapelling. Saya sempat tanya tanya ke mas-nya “Aman gak yah?” mengingat lokasi ini masih sangat baru, yakni dibuka sewaktu lebaran tahun ini, jadi masih gak mainstream banget. Namun si mas-nya berani menjamin dan mengklaim alatnya langsung didatangkan dari Perancis. Widiih!

Sambil mengantri satu per satu turun rappeling saya menggunakan peralatan standar dulu. Sebuah baju terusan warna merah yang mirip petugas pom bensin, helm, sarung tangan biar gak lecet dan sepasang boots tebal dengan sepatu dilepas dulu. Yak pas deh mirip kayak pekerja tambang!

Setelah dipakaikan, mas-nya pun mulai memasang alat pengaman yang diikatkan di tali tali yang terkunci di batu batu karang tersebut. Inilah saat saat yang paling menegangkan karena saya harus mengantungkan hidup saya pada sebuah tali. Sama seperti resiko mengantungkan hati dan harapan saya kepada lelaki itu. EH??

Ehm..okay kembali ke gua.
Awalnya saya cukup pede karena sudah pernah rapelling otomatis saya kurang lebih mengerti. Namun ituloh pas udah di bibir gua, sialnya saya keburu mengintip kebawah. Duh di bawah sudah ada beberapa teman yang mendongkak ke atas menunggu saya. Tingginnya lumayan juga yakni 24 meter dan kondisi cukup gelap. Seperti masuk ke lubang hitam tak berujung.

“Ok sudah siap mbak, silahkan.” Si mas guide sudah siap menurunkan saya.
Saya jadi salah tingkah. Detak jantung makin kencang dan saya pun blank seketika.
“Mbak..mbaknya menghadap saya.” si mas guide coba memandu saya yang malah duduk selonjor di bibir gua kayak mau terjun bunuh diri.
“Oh..okay mas.” saya pun berbalik arah dan jongkok menghadap si mas dan membelakangi bibir gua yang mengangga. Semilir aliran udara bertiup dingin di belakang saya.

Berpenganan erat pada seutas tali, saya pun siap meluruskan kaki dan memasukkan kaki saya ke mulut gua.
“Aaahahhhh!!!” saya sempat teriak kecil ketika seluruh beban tubuh saya akhirnya tergantung dan berayun di tali tersebut. Mas-masnya tertawa sementara saya cuma senyum kecut memastikan saya jantung masih berdetak. Mungkin mas nya ngetawain karena sedari tadi lagak saya macam orang yang tidak nervous. Padahal…

rapelling di gua
Setelah saya bergelantungan dan pantat menghadap ke bumi, detak jantung saya mulai kembali normal. Si mas dengan cepat menjelaskan agar tangan kiri saya berada di atas dan tidak boleh terlalu dekat dengan tuas. Fungsinya cuma buat ngulur si tali. Sedangkan si tangan kanan akan mengepit si tuas agar saya dapat turun. Jika tidak ditekan maka saya tidak akan turun. Hanya tergantung begitu saja.

Okay! saya paham, mas.
“Daaaahhh!” sempat sempatnya saya melambaikan tangan centil dan pamitan dulu sama mas mas di atas. Saya perlahan mulai turun. Turunnya pun cukup pelan meski sudah saya kepit tuasnya kencang kencang, mungkin maksudnya biar aman dan saya sempat melihat pemandangan di sekitar.

Awal masuk ke dalam, gua nya masih cukup sempit sehingga saya bisa melihat batu karang yang dipenuhi lumut warna warni seperti hijau dan coklat menyelimuti hampir keseluruhan gua. Reaksi saya? hanya bengong saja menikmati semua itu.

Turun ke bawah, gua makin membesar dan ketika saya lihat ke bawah saya sudah ada di pertengahan gua. Yah kok cepet banget sih? Kan belum puas. Yah udah ambil foto dulu deh buat di Instagram 😀

gua siwowo kebumen
Terakhirnya saya gas pol turun biar merasakan sensasi meluncur gitu. Untungnya langsung disambut oleh mas masnya di bawah.

Yeay I just landed safely. Senang banget rasanya berhasil menantang diri sendiri dan sukses melakukannya.
Nagih loh sekalinya sudah dicoba. Rasanya tuh cepet banget mungkin cuma 10 menit saja. Lamaan naik bukitnya. Bagi yang doyan kegiatan outdoor, harus banget nyobaiin ini. Biayanya pun murah banget yakni HANYA Rp.15.000 (2015). Ya ampun itu untuk sekali makan doang tapi pengalaman yang didapet akan selalu terkenang.

Ada yang mau coba?
rapelling gua siwowo
Info :
Sawangan Adventure
Alamat : Desa Karangduwur kecamatan Ayah Kebumen, Jawa Tengah

**
Habis Rapelling.. bisa nyantai liat kupu-kupu
Kalau laper bisa nyoba nasi penggel
Kalau mau cari hotel, di Meotel Kebumen aja

Travel Now or NEVER
6 Responses

Leave a Reply