Malam Pertama Dua Sahabat

malam pertama

“Ed…..” aku mengeluarkan suara pelan sambil meringis.

“Iya neng, pelan-pelan kok…” jawabnya di bawah sana.

Di bawah.. maksudku di bawah badanku, tepatnya berada di antara kedua pahaku yang membentang lebar bak ayam kalkun yang dipanggang.

“Udahhhh ahh..” ujarku ketus sambil menyilangkan pahaku.

Tapi tangannya lebih cepat dan tangkas menahan pahaku agar tidak bergerak.

“Bentar ih… ini udah mau selesai!” jawabnya.

Lima menit kemudian, suara mesin pencukur kumis yang biasanya ia gunakan itu berhenti.

“Dah, kan rapi sekarang..” ia tampak puas dengan hasilnya.

Ia tiup – tiup selangkanganku agar sisa-sisa jembut itu tidak menempel atau mengurangi nilai estetika di matanya.

“Ngg…” Tiap kali nafas Ed dihembuskan ke lobang vaginaku, rasanya seketika itu juga badanku menjadi hangat. Bisa jadi ini efek mengangkang terlalu lama di ruangan ber-AC kencang di suite room hotel ini.

Ed, sahabatku adalah orang yang kupilih untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Kami telah kenal satu dekade lamanya sejak di kampus. Dulu, kami teramat akrab. Dia menaruh hati padaku, tapi saat itu aku milik orang lain. Giliran ketika aku berharap padanya, ia malah pindah ke luar kota.

Aku pernah berseloroh, “Ed, kalau nanti aku udah 30 tahun gak ada yang mau sama aku, kita nikah aja yuk!”

Ia mengiyakan tawaran anehku. Tapi kami tak pernah tahu masa depan seperti apa. Karena ketiadaan kepastian dalam hubungan, aku sempat berpacaran dengan orang lain berkali-kali. Dari satu pelukan ke pelukan lainnya, aku berusaha mencari “rumah” untuk mengisi kekosonganku. Namun semua kandas begitu saja.

Menjelang akhir usia 20 tahun, aku bertemu lagi dengan Ed ketika dia sudah dimutasi kembali ke Bandung. Ia tampak sedikit berubah. Badannya sudah lebih berisi karena dia rajin lari dan ikut gym. Sedangkan rambutnya ia biarkan sedikit gondrong. Namun aku selalu bisa mengenalinya dari suaranya yang serak basah.

“Eh gimana dulu tawaranku.. masih mau gak nikah sama aku?” tanyaku ketika kami makan mi yamin kesukaanku.

“Boleh.. ayo aja..” jawabnya begitu santai seraya memesan mangkok kedua.

Begitulah tiada kisah-kisah romantis yang dapat aku utarakan. Kami melenggang kangkung ke sebuah pernikahan berlandaskan persahabatan dan intuisiku yang mengatakan bahwa Ed mampu jadi teman hidupku. Ia sudah melihatku dalam kondisi terburuk dan tetap ia memilih bertahan di sampingku.

Malam ini, malam pertama kami. Tak heran kalau kami berdua kikuk. Bukan..bukan.. sepertinya itu hanya aku saja. Pernikahan kilat ini tanpa sadar belum bisa aku proses sepenuhnya. Dan.. kini tiba-tiba saja Ed sudah di hadapanku hanya menggunakan kolor Bontex, persis punya papaku.

Eeww.. aku berusaha menghilangkan bayangan papaku dari otakku. Aku ingin fokus melihat Ed saja. Namun tawaku tak dapat ditahan. Aku terpingkal-pingkal masih dengan kebaya brokat yang mengikat dadaku.

“Apaan sih? Cepetan buka bajunya..” Ed menghampiriku.

Situasi ini memang aneh karena dari awal berdiskusi soal malam pertama, Ed sudah memintaku untuk merapikan bulu kemaluanku. Ia tipikal yang resik dan bersih. Sangat beda jauh dari aku yang serampangan dan suka segala sesuatunya dibiarkan secara alami. Paham dengan watakku yang keras kepala, maka ketika baru melangkah masuk ke kamar hotel, ia langsung mempeloroti kain batik dan melucuti kolorku hingga aku tak berdaya.

Namun yang kulihat sedari tadi ia belum tertarik melakukan manuver apapun, padahal mukaku sudah merah padam ketika ia memelototi alat kelaminku secara gamblang.

Kini satu-satunya yang tertutup dari tubuhku hanyalah bagian atasku. Aku ragu-ragu membuka kancing kebayaku. Sial kenapa aku jadi grogi, batinku. Karena tidak pernah berpacaran secara resmi, kami tidak pernah berhubungan fisik. Satu-satunya yang pernah ia lakukan hanya mencium keningku setiap mengantarku pulang ke kos dengan vespa bututnya.

Aku sengaja mengulur waktu sembari meredakan debaran jantungku. Aku melirik ke Ed yang berdiri mematung di sampingku. Sejujurnya baru kusadari bahwa tubuh Ed cukup atletis. Ia pun tak seculun yang aku pikirkan. Malahan ada beberapa wanita yang terang-terangan mengejarnya, namun ia tak pernah mengubrisnya. Entah kenapa dia bisa dekat denganku dan mau menjadi suamiku.

Aku menunduk ketika akhirnya kebaya itu berhasil aku tanggalkan. Ed langsung meletakkannya ke meja di samping King Size Bed King Koil ini. Kedua tangan kugunakan untuk menutup payudaraku. Aku benar-benar sudah telanjang bulat!

“Matikan aja yah lampunya…” pintaku.

“Gak ah.. kan mau lihat.” jawabnya duduk di sampingku.

KZL! Aku pun menjewer telinganya. Ia balas dengan menggelitiki pinggangku. Aku memohon ampun sembari tangan yang satu masih bertengger di depan payudara.

“Hayoo, mau mulai dari mana dulu nih.” kini posisinya sudah di atas, menimpa tubuhku.

Aku terhenyak dan kaget ketika ia mulai mencium pipiku. Hm sepertinya ia sudah tak berminat dengan dahiku lagi.

Ed mengusapkan hidungnya yang mancung ke hidungku yang pesek. Aku megap-megap dibuatnya karena hidungnya menutupi jalur keluar masuk oksigenku. Mulutku mengangga mencari sedikit napas. Namun Ed tak jua membiarkan itu terjadi. Ia lumat dan tutup mulutku dengan ciumannya. Lidahnya bermain di antara sela-sela gigi dan dinding mulutku, seperti mencari sesuatu.

Karena kaget, aku sedikit menggigit lidahnya. Ia terperanjat dan melepaskan ciumannya. Aku terkikik seperti orang menang perang. Ed tak mau kalah. Kali ini dia membuka paksa tanganku yang menutupi payudara. Ed terpana lama sekali melihat luka bekas jahitan di payudara kananku. Tidak panjang hanya 4cm saja bekas operasi pengangkatan tumor. Ia lah satu-satunya yang menemaniku kala itu di RS. Mengingatnya saja otomatis membuat air mataku berlinang. Sungguh aku masih bisa merasakan betapa dinginnya meja operasi kala itu.

“Kenapa? masih sakit?” ia cemas melihatku sesengukan.

Aku malu dan tidak percaya diri dengan kondisi payudara kananku yang sebagian jaringannya telah diangkat dan dibuang untuk mencegah penyebaran. Pasti Ed juga dapat merasakan betapa jomplang perbedaan di antara kedua payudaraku.

“Aku jelek yah?” dengan mata sembab dan ingus yang mulai mengucur, sepertinya aku sudah tahu jawaban dari pertanyaanku sendiri.

Ed mengusap bekas jahitan tersebut seolah-olah takut luka itu bisa terbuka kembali kapan saja. Mukanya mendekat ke dadaku dan ia coba benamkan kepalanya di belahan payudaraku. Lama ia berdiam di situ seperti menunggu tangisku mereda.

Nyatanya aku baru berhenti ketika merasakan lidahnya bermain di atas jahitan tersebut. Pertama tama ia mengoleskan air liurnya di sana. Setelahnya ia mengecup manja bekas jahitan itu seraya berkata “Hey, kamu jangan nakal lagi yah”.

Dagunya yang turun naik menjilati bekas luka itu tak sengaja menyenggol puting payudaraku. Gesekan-gesekan halus itu ternyata merangsang aliran darah dan membuat sensasi ganjil di dadaku.

Tangan Ed mulai bergerilya turun ke perut. Ia mengusap pusar dan juga pinggulku. Dua titik erotis yang baru saja berhasil ia temukan. Tangannya terus turun dan menjamah bokongku. Ia remas dan dan kadang kadang tepuk dengan halus.

PLAK PLAK suara tamparan bokong memecah keheningan malam. Hanya ada semilir angin AC dan sebuah TV layar datar yang tengah menonton pergumulan kami.

“Ed…” aku menarik wajahnya ke mukaku.

“Aku sayang banget loh sama kamu…,” aku tak ingin kehilangan momen ini sebelum kami berdua tenggelam dalam nafsu.

“Ia.. aku juga,” ia menyeka air mata di pipiku yang mulai kering.

“… tapi besok-besok cukur sendiri yah bulunya..” ia melirik nakal sembari jemarinya mulai mengerayangi labia minoraku.

Aku cuma mengangguk. Kami berangkulan dan ia mengecup keningku sebelum kami memulai pergumulan panas di malam pertama hubungan kami sah menjadi suami isteri.

Tak akan kubiarkan lagi raganya menjauh dan membiarkan sesuatu apapun memisahkan kami.

**

Cerita cinta kamar hotel berikutnya bisa baca ini yah dan kisah mergokin teman sekamar bercinta

**

NEXT : Pulau Penis di Belitung!

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

NEXT : Kisah penyuka Ketiak

 

Travel Now or NEVER

Leave a Reply