Ketinggalan Kereta di Stasiun Tawang

ketinggalan kereta

Ketinggalan kereta itu rasanya pedih banget.

… sepedih ditinggal pas lagi cinta-cintanya.

Karena saat itu aku butuh banget balik ke Jakarta setelah mengembara selama 9 hari.

Tenggorokanku udah mulai gak enak, harus segera minum obat cina-ku.

Badan sudah rontok dan merindu kasur busuk di kosan.

Postingan blog dan PR sudah menunggu.

Tidak ada lagi yang kuinginkan selain kembali ke rumah. Aku sudah selesai dengan Semarang.

**

Argo Bromo Anggrek / 3

Semarang Tawang 23.30 WIB.

1,5 jam sebelum keberangkatan, aku sudah duduk manis di samping peron. Aku sengaja masuk cepat karena mau ke WC di dalam karena pasti bersih. Sebelumnya, setelah print boarding pass, firasatku melangkahkan kakiku untuk membeli makanan. “Lumayan buat entar pagi” padahal perutku saat itu masih kenyang banget selepas jajan di Pasar Semawis.

Aku menunggu dengan sabar di peron sambil mainan HP. Dalam ingatanku, keretaku itu Argo Bromo. Ketika jam 11 lewat, datanglah sebuah kereta di jalur 1 lalu di pengumuman yang suaranya tak jelas itu yang terdengar di telingaku hanya “Anggrek” doang. Apalagi aku ingatnya di boarding pass itu ada angka 3 jadi kirain itu jalur/peron 3 dan kebetulan mang ada kereta di jalur 3 kek lagi disiap-siapin gitu. Jadi kupikir nah itu pastilah keretaku. Anehnya aku tuh gak was-was dan tanya melainkan hanya santai banget.

Kereta yang persis di depanku itu lalu menaikkan beberapa peumpang. Aku lum jua beranjak karena masih banyak orang lain di sekitar. Barulah ketika si kereta di jalur 1 itu pergi, pikiranku seperti terbuka. Aku coba ingat-ingat lagi dan melihat boarding pass ku. Apalagi jam udah lewat waktu keberangkatan. Seingatku KAI selalu on time. Sementara kereta di jalur 3 tidak tampak ada tanda-tanda akan diberangkatkan. Dengan perasan yang sudah mulai panik, dengan lemas aku menggeser koper menuju ke gerombolan satpam yang sedang berjaga.

“Mas, kereta Argo Bromo Anggrek belum datang yah?” sebenarnya ini bukan pertanyaan tetapi lebih ke doa supaya aku tidak salah.

Namun dari ketiga respon si satpam, aku sudah tahu jawabannya. Masih kuingat jelas raut seorang satpam yang lebih panik daripada aku.

“Lah itu mbak…” mereka pun mengecek boarding pass-ku.

Seketika aku ingin marah dan mengutuki diri sendiri kenapa bisa begitu tolol. Apakah pengaruh ngantuk, kelelahan, belom mandi, kurang tidur bisa berakibat otak buntu?

“Mbak tadi tunggu di mana?”

“Memangnya enggak denger ada pengumuman?”

Dan sederet pertanyaan yang bikin aku malu luar biasa. Sudah pasti aku terlihat begitu dungu dan begitu menyedihkan di hadapan satpam-satpam ini.

Mau mengelak tapi ku tak menemukan sepatah kata pun untuk membalas pertanyaan mereka.

Mungkin karena liat aku sudah mau nangis, seorang satpam yang lebih tua mengambil boarding pass ku dan bilang

“Coba saya cek dulu yah semoga masih ada kereta..”

Aku pun kembali ke kursi dengan tatapan kosong sambil membayangkan kursi kosong di eksekutif 2 6B yang nyaman dan tak ada nyamuk. Harusnya aku sudah bisa berbaring sedikit dengan selimut hangat dan wangi. Harusnya aku sudah bisa nge-cas HP di tempat duduk atau bisa saja aku sudah terlelap dibuai AC dingin.

Tapi sekarang… aku cuma ingin menjambak rambutku dan membenturkan kepala ke dinding manakala mengecek tiket pesawat buat besok yang harganya minimal di 2 juta. Semarang memang lagi ramai-ramainya tidak ketolongan. Dipastikan aku tak akan dapat hostel atau hotel juga. Niscaya tak ada tempat buatku malam ini..atau lebih tepatnya dini hari ini.

Pak satpam itu datang lagi.

“Mbak ini tiketnya sudah hangus, harus beli baru lagi. Semoga ada tiket buat besok yah.”

Aku cuma pasrah dan menganguk-anguk. Terdengar seperti ucapan mantan “kamu yang terbaik” tapi esoknya chat tidak dibalas lagi. Namun hanya itulah kini setitik harapanku.

Si satpam masuk kembali ke ruang kepala stasiun sambil mencari solusi. Tak lama, “Mbak kalau kereta jam 6 pagi besok mau gak?”

Aku langsung jawab “Mau gak mau pak. Saya harus pulang.”

“Iya insya allah masih ada.”

Si satpam mengajak aku ke ujung stasiun dan menyuruhku menunggu. Dia meminta KTP untuk mengurus tiketku.

Aku deg-degan juga berharap ada yang membatalkan tiketnya.

Doaku seperti terjawab. Si satpam itu pun kembali dan sudah membawakan borading pass untuk besok pagi kereta Argo Sindoro. Bravo!

Kepada pak satpam, aku menyerahkan uang tunai sebesar 400rb sesuai harga tiket yang tercantum di traveloka. Padahal aku sempat tak yakin karena aku cek di Traveloka semua tiket ke Jakarta hingga lusa itu ludes. Ahh pak satpam yang tak pernah kutahu namanya itu, kamu penyelamatku.

Untuk menghibur diri, aku pun ketak-ketik tulisan ini deh. Subhanallah sungguh produktif sekali. Orang pada teler, aku sibuk pencitraan kerja. Inilah yang namanya hikmah di balik musibah.

Aku juga sempat scrolling-scrolling dan nemu di twitter rekaman cctv aksi maling yang beraksi di tengah malam ketika semua penumpang tidur. Ya lord entah napa jadinya merasa sedikit lebih baik. Setelah itu, melihat berita wafatnya pak Sutopo dalam perjalanan melawan kanker yang ia idap. Kok jadi pengen nangis banget. Maaf yah bukan bermaksud merasa bersyukur di atas kemalangan orang lain namun jadinya tak pantas aku merasa down cuma untuk hal “receh” seperti ini. Meski apes sekali, setidaknya aku ditolong sama satpam, aku masih punya duit tunai, masih sempat makan bekal yang kubawa, dan masih bisa tidur selonjoran di area kids zone. Entah napa habis kemalangan itu, satpam-satpam itu sangat baik dan menjagaku. Pas aku bangun, mereka menyapa dan bilang “Pules yah mbak. Enak banget tidurnya.” Pas sudah dekat-dekat jadwal keberangkatan, mereka yang pro aktif ngecek tiketku biar aku gak ketinggalan (lagi). Si satpam penolongku juga sampai menunjukkan di peron mana keretanya datang hingga harus di mana aku berdiri untuk naik. Ah kalian… kenapa baik banget sih. Sayonara yah~~~

Argo sindoro

Meski begitu, kalau dipikir-pikir entah napa ini tahun kedua aku punya masalah dengan pergi/pulang ke Semarang. Tahun marin sih lebih ngenes karena ketinggalan pesawat dari Singapura. Itu dramanya 3x lipat dari yang sekarang. Pedihnya macam ditinggal nikah sob! Sedang tahun ini, giliran aku yang ketinggalan kereta. Apakah aku segitunya tak berjodoh dengan Semarang?

Padahal selama di Semarang itu aku bahagia, makan puas tapi yah itu ada aja cobaannya. Ya sudah pelajaran aja buat besok-besok selalu cross check. Kan gak mau selalu habis materi, waktu, dan stamina yang makin rontok karena harus ketinggalan kereta / pesawat mulu huhuh. Hopefully this is the first and the last time yak.

Kalau kalian pernah ketinggalan kereta atau moda transportasi lainnya gak?

Travel Now or NEVER
16 Responses
  1. Pernah di Gambir, Kereta brgkt akunya baru sampai saat itu Jakarta lagi macet banget, pdhl aku sdh prepared waktu brgkt 1,5 Jam tp ndak keburu. Untungnya masih ada tiket Kereta lain jadi beli lagi cece.. 🙂

  2. Mbak Leeennnnyyyy pengen kupeluuukk.. Huhu
    I feel u mbak.. Pernah ketinggalan kereta karena nggak fokus.. Pengen marah. Sebel. Eneg. Tapi ya gimana. Ga bisa balik lagi tu kereta.. Alhamdulillah skrg udah bisa pulang ke jkt yaa.. Sehat selalu mbaak. Banyakin istirahat yaa..

    1. Huhu iya ella makasih… sending virtual hug back yah!

      Iya rasane itu nyesek banget yah ditinggal padahal yah kesalahan sendiri 🙁 semoga ini yang terakhir kalinya.

      U juga sehat-sehat dan cukup istirahat yah.

  3. Karena kejadiannya udah lewat, pembaca ngehe kayak aku gini boleh ketawa gak sih? Kulonuwun dulu, takut kualat hahaha (eh tuh udah ketawa hwhw)

    …dan kejadiannya karena makanan lagi ya. Buat panitia Semarang tahun depan, tolong kasih rantang aja semua pesertanya. Setujuuu?

    1. wkkwk awas lu ye… sempat kejadian di dirimu gantian aku yang ngakak.

      wkwk ini karena aku extend sih jadi ud ga da sangkut paut ma panitia.. tapi ide rantang boleh juga #eeh

Leave a Reply