Hidup di Luar Negeri

Luar negeri… oh Luar Negeri.

Membayangkannya saja sudah menyenangkan apalagi bisa mengunjunginya.

Emang yah taman tetangga itu pasti kelihatannya lebih hijau. Seperti saya (kita) yang melihat luar negeri begitu eksotis. Begitupun bagi orang asing yang berpikir Bali begitu wah-nya padahal mungkin bagi orang lokal yang telah mendiami di sana merasa biasa biasa saja.

Tapi bagaimana jika suatu saat kita diberikan izin untuk menjelajahi taman tetangga tersebut? Bermukim di sana dan langsung merasakan rumput hijau di taman tersebut? Apakah luar negeri itu akan sama seperti bayangan kita sebelumnya ketika hanya mengintip dari lobang pagar?

Beruntung saya sudah diberikan kesempatan tinggal di 2 benua, 2 negara yang merupakan impian banyak orang. Yang pertama di Queensland, Australia (2 bulan) dan berikutnya ketika dapat beasiswa untuk kuliah di Arizona, USA (10 bulan). Saya suka ditanya mana yang lebih enak diantara kedua negara tersebut? Rasanya sama saja terutama mungkin karena sama sama english-speaking country dan budaya masih tak jauh beda.

Lalu bagaimana kalau dibandingkan dengan Indonesia? Enak mana?

Jawaban nya… enak hidup di Luar Negeri asalkan …

Aman

Biasanya di negara maju tingkat kriminalitas lebih rendah serta minim gonjang ganjing politik sehingga masyarakat pun merasa aman dan nyaman. Paling tidak berdasar pengalaman saya tinggal di USA dan Australia, sekalipun jalan-jalan sendiri di malam hari dan mengenakan pakaian sesuka hati, saya tak merasa takut. Cukup standby dengan Hp dan 911 akan sigap menolong dalam hitungan menit. Namun, yang namanya bahaya memang bisa mengintai dimana saja jadi tetap harus waspada.

Bisa Mandiri

Negara maju biasanya membiasakan masyarakatnya apa apa bisa sendiri . Soalnya biaya meng-hire karyawan untuk melayani customer itu mahal jendral. Selain itu, mereka cenderung bersikap jujur. Misal isi bensin, bayar sendiri masukin sendiri bensinnya. Beli barang di supermarket, bayar di kasir dalam barangnya ambil sendiri di luar. Makan di restoran cepat saji, habis makan juga buang sampah sendiri karena nggak kayak di Indonesia yang bakalan ada pelayan sigap bersihin meja. Bagi yang terbiasa manja atau dilayani, tentu lebih enak tinggal di Indonesia ada pembantu di rumah. Di Luar Negeri mana mungkin bisa kecuali tajirnya sekelas selebritis.

Jelas statusnya

Hidup di luar negeri memang jadi impian banyak orang. Pokoknya tinggal di sana adalah mutlak sehingga ada saja segelintir orang yang bersedia hidup di sana tanpa dokumen resmi atau menjadi ilegal. Saya ada menjumpai beberapa orang yang seperti ini, tetapi saya tak ingin men-judge mereka dari keputusan yang mereka ambil. Saya justru merasa kasihan dengan mereka karena kerap kali illegal immigrant ini hanya bisa kerja serabutan dan jika diperlakukan semena-mena oleh bosnya tentu tidak bisa mengadu ke polisi.

Oleh karena itu, jika ingin tinggal di luar negeri, haruslah punya status yang jelas agar tidak dihantui kecemasan. Kalau tidak yah enakan di Indonesia saja.

Berkecukupan

Hidup di luar negeri itu mahal apalagi jika rupiah terus melorot. Kalau punya penghasilan atau dapat tunjangan dari pemerintah sana, tentu tidak masalah. Namun jika membiayai hidup dari kantong kita sendiri yang berasal dari Rupiah, wah harus pinter-pinter berhemat dan punya alasan kuat kenapa ingin tinggal di Luar Negeri.

Jika tidak, sebaiknya mempertimbangkan untuk tinggal di tanah air saja. Biar pas-pasan, biaya hidup di Indonesia masih tergolong rendah. Sedangkan di luar negeri, ambil contoh di USA rata rata mahasiswa di sini harus sudah bekerja paruh waktu untuk memghidupi dirinya. Belum lagi sebagian besar mereka mengutang ke negara untuk bisa kuliah. Jadi meskipun udah tamat, mereka tetap harus nyicil utang tersebut sewaktu mereka kerja dan begitu seterusnya.

Saya juga pernah baca buku tentang jurnalis yang pura pura menjadi orang miskin di USA dan kisahnya miris. Ternyata, USA sebagai salah satu negara terkaya di dunia tetap punya homeless, peminta-minta gelandangan, dan orang miskin yang bekerja mati-matian untuk mencukupi kebutuhannya. Pokoknya jauhlah dari glamornya Hollywood.

Orang-orang miskin ini bekerja serabutan seperti menjadi tukang bersih rumah, cleaning service, pelayan, di swalayan dan setiap harinya harus kerja lebih dari satu macam untuk menghidupi dirinya sendiri. Jika punya suami dan anak? wah kebayang dong repotnya. Belum lagi kalau mereka sakit, jika tak punya asuransi maka bisa bikin bangkrut dan jadi masuk ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Duh!

Hidup di Luar Negeri Amerika Serikat

Tahan akan perubahan cuaca

Tidak seperti di Indonesia yang cuacanya hanya dua yakni panas atau panas sekali. Eh salah hujan dan panas ehehe. Di luar negeri beberapa tempat punya empat musim. Sebagai manusia berdarah panas, saya bisa tahan panas ketimbang tahan dingin. Jadi musim dingin is not my favorite things. Sekali dua kali saja berkenal dengan salju sudah cukup.

Bisa Jauh dari keluarga

Bagi banyak orang ini adalah pertimbangan utama jika ingin hidup di luar. Percayalah Skype dan WhatsApp belum bisa menggantikan menatap keluarga langsung. Lagian perbedaan waktu akan membuat komunikasi lebih terkendala. Giliran mau curhat, keluarga di kampung lagi tidur pulas dan begitu sebaliknya. Gosip dan news dari rumah pun bisa telat nyampai ke telinga kita. Homesick deh jadinya!

Open-minded

Berada di negara baru kita akan bertemu dengan orang orang baru yang tidak dibesarkan seperti kita. Perbedaan mulai dari budaya, cara hidup, bersosialisasi serta pandangan pandangannya akan mungkin sekali tidak sama. Bila ingin kerasan, berusalah menjadi orang yang open-minded. Anda tak harus mengubah pandangan anda untuk bisa bergaul dengan mereka. Pahami dan hormatilah. Seperti juga anda ingin mereka mengerti kenapa tinggal serumah dengan pacar bukan pilihan atau kenapa anda tidak makan bacon.

Bisa Bahasa Negara Tersebut

Bahasa penting sebagai alat komunikasi. Kalau nggak capek juga kan beli barang hanya bisa nunjuk nunjuk atau pake kalkulator? Sebisa mungkin pahami bahasa dasar negera tersebut. Dengan mencoba belajar, paling nggak si penjual bakal kasih disko khusus mungkin karena kita sudah mencoba menggunakan bahasa mereka. Yah, sama halnya kita akan bangga kalau ada bule fasih bahasa indonesia. Ya nggak?

Mau Kerja Keras

Nggak ada ojek, cuci baju sendiri, kerja adalah sekelumit kisah para pendatang yang hidup di luar negeri yang jika ditekuni terus niscaya akan membawanya pada kesuksesan.

Baca juga: Norak bergembira di luar negeri

Siapa lagi yang udah ngerasain hidup di luar negeri? Tambahin dong!

PS : Di manapun tinggal, selalu ada yang enak maupun tidak. Selalu ada sesuatu yang dikorbankan untuk meraih sesuatu. Tidak ada tempat yang sempurna. Bijaklah memilih dan nikmati. Oleh karena itu ikutilah kata hatimu 🙂

Travel Now or NEVER
49 Responses
  1. @makanangin :
    Wah lamaan aku tinggal di batam 4 tahun lebih. Yup di batam berasa dikit kok Luar Negerinya. Bayar bisa pake dolar juga 😛 Kalau gak kuat hidup di singapur, batam bisa jadi pilihan cocok 😀

  2. si engkong ozi

    Len, nah betl lah itu semua sekedar sekelumit perbedaan tinggal di Indonesia dan Luar Negeri, biasanya orang Indonesia yang tidak biasa Mandiri maka akan terasa berat tinggal di LN karena perbedaan tradisi dan kebiasaan setempat…..ada tambahan nih yaitu Harus taat aturan secara umum misalnya kalau ke restaurant, ke cafe, ke shopping center, ke kantor pos atau loket mana saja harus wajib antri dengan tertib teratur, kan kalau di Indonesia saling desak mendesak tanpa peduli siapa sudah antri duluan

  3. elok larasati

    Halo kak Lenny Lim,
    Baca artikel kakak jadi bikin aku tambah pengen tinggal di luar negeri.. Karna cita2 aku dari kecil pengen tinggal diluar..
    Tapi karna banyak faktor yg gak mendukung, jadi aku ubah sedikit deh mimpinya.. Nanti aja kalau udah nikah, hidup disana sama suami.. ��
    Kak syaratnya kira2 apa aja ya yg harus aku urus buat tinggal disana?
    Lalu apa cari kerja disana gampang? Apalagi pendatang baru.. Dan kalau kerja macam di swalayan atau cafe gitu kira2 minimal lulusan apa ya?
    Maaf nih nanya2, salam kenal ya kak..
    Thanks.. ��

  4. @elok : saya justru mikirnya kalau mau pindah.. pindahlah justru ketika masih single karena tanggung jawab lebih sedikit kecuali kalo dapet suami orang sana maka pastinya bakal lebih mulus.

    Setau saya kebanyakan kalau mau kerja di luar negeri harus punya pekerjaan di sana sehingga bisa dapet visa kerja. Kalau di australia sekarang ada namanya working holiday visa buat setahun cocok banget nih buat u dan bisa cari kerja casual kayak di cafe ato swalayan. saya saranin coba yang itu yah 🙂 good luck!

  5. talik susanto

    Saya dan anak saya sdh setahun lebih di Doha Qatar.. kalau ditanya ttg tinggal di LN, ketakutan akan bahasa asing di LN menjadi kurang mendasar..krn masih banyak bahasa universal seperti senyum, minta tolong dll..terakhir kita masih bisa pake bahasa isyarat atau bahasa tarzan hihihi

  6. Junior Simohartono

    Halo Lenny lim
    Article yang bagus dan menarik tentu menambah pengetahuan bagi teman2 yang berniat kesana..hehehhe kalo seputar Beasiswa di luar negeri tau ga yah Lenny?istri saya lulusan D3 keperawanan yang mau melanjutkan ke jenjang S1 di luar negeri…ada info mengenai Beasiswa ke luar negeri?sebelum dan sesudah nya saya ucapkan terima kasih…sukses Lenny lim

  7. winda humaira

    Nice artikel mbak lenny lim. Hallo mbak saya fresh garduated D3 teknik telekomunikasi. Sekarang ini saya pengangguran. Saya ingin sekali kerja atau kuliah di luar negri yg memiliki 4 musim.Sebelumnya saya pernah pkl di batam selama 2 bulan, dan singgah di singapore sehari ehehe. Bahasa inggris saya belum terlalu lancar. Mohon infonya mbak. Info kerja di batam juga boleh. Terima kasih sebelumnya

  8. Dewi Deliana Sembiring

    Hey Ms. Lenny, Saya sudah tinggal di Australia +/- 2 tahun, sebelumnya saya tinggal di beberap propinsi di Indonesa karena tuntutan tugas. Menurut saya, tinggal dan kerja di luar negeri itu enak apalagi di Australia dan Singapore karena semua fasilitas lengkap dan peraturan semuanya jelas dibandingkan negara Indonesia. Selain nyaman ya gaji pastinya lbh besar ya. Yang tidak enaknya mungkin cuma 2 hal buat saya yaitu perubahan cuaca yang sangat ekstrim dan mall ga buka sampai jam 9 -10 malam kayak di Indonesia.

    Saya sangat senang punya kesempatan untuk bisa menikmati budaya negara lain dan berbagi pengalaman dengan orang-orang dari negara-negara lainnya yang tinggal di Australia.

    Ms. Lenny lebih beruntung dari saya karena bisa kerja di USA (That's my big dream:))

    Thanks Ms. Lenny

  9. @dewi : terima kasih sharingnya. Saya juga suka banget dengan Australia 🙂 jadi kangen.

    Saya di USA belum sempat kerja baru magang aja tapi lumayanlah untuk merasakan kira2 dunia kerja di sana.

  10. krisna harimurti

    Setuju tidak ada tempat yang sempurna! "Every cloud has silver lining." Katanya ya..

    Saya pernah tinggal di Kuala Lumpur 6 bulan belajar magang disana, lalu ikutan program WHV di Sydney selama setahun kmrn. Menurut saya setiap tempat punya ciri khas masing – masing ya.Ada kelebihan, ada kekurangannya.
    Karena tinggal di kota besarnya, saya beruntung sempat merasakan sistem transportasi yang nyaman, transportasi alternatif menghindari macet. Terlebih lagi Australia (Sydney) dengan budayanya yang open. Punya pola pikir yang terbuka (karena Australia juga merupakan negara dengan banyak migran) membuat pemerintahnya banyak membuat festival budaya dari berbagai bangsa yang datang. Tujuannya biar betah ya. Hukum menjadi panglima

  11. krisna harimurti

    Maap td kepencet. Hehee.. Lanjutannya adalah setelah keluar negeri, pernah ga sih merasa Indonesia itu sebetulnya banyak sisi menyenangkan? Bersyukur lahir di Indonesia. Hehee
    Ketika diluar negeri justru saya jadi banyak belajar dan melihat potensi Indonesia. Tapi hidup di negara orang bagus untuk belajar mandiri dan pendewasaan ya. Salam kenal! Cheers!

  12. Arif Karim

    Hi lenny, great article nih, klo boleh sharing dong pengalaman magangnya di us, kyk culture kerja org sana gmn sih, katanya objective n straightforward ya ?sm perbedaan2 yg lainnya jg hehe, sukses ya buat lenny

  13. @arif : iya betul culture kerja di usa memang objektif dan straigforward dimana kita dituntut juga aktif dan menyuarakan opini dan ide. Jangan takut salah karena lebih baik punya gagasan daripada cuma bengong tidak tahu 🙂 lalu di sini juga sebagai cewek mereka sama sekali tidak memandang gender dan kerjaan lebih casual aja (secara penampilan dan suasana) thanks

  14. Jisnumatin Ria

    Hay Ms. Leny, this is a great article.. Nice.. Hehe
    Mengispirasi banget, jd bkin niat jd lebih besar..
    Mau tya2 nih Ms. Leny, kbtulan ak ud nikah br setahun mei ini, jd msh terbilang muda kitanya hehe
    Pgn bgt cr pglaman krj di LN, kira2 negara mn yg recomen y unt pemula
    Sama mnta kontak ny biar bs lebih byk berbagi hehe
    Thx Ms. Leny 🙂

  15. @jisnumatin ria : halo terus terang saja pengalaman saya ini semuany saya dapat lewat program, di mana jika lolos maka sudah ada yang mengurusi. Untuk mencari kerja sendiri, saya tidak punya pengalaman. Tapi mungkin kalau pemula bisa coba yang deket2 dulu seperti di Asia

  16. Bram Andika

    Terimakasih tulisannya mbak, sangat mencerahkan bagi saya yang sedang mencari info seputar beasiswa dan tinggal di luar negeri.

  17. Rismarini darmawan

    Halo mba lenny,

    Nice article, saya sekarang sedang sekolah di china. Gara2 disini saya bersyukur banget lahir dan besar di Indonesia, apalagi untuk muslim seperti saya bisa nyaman beribadah di Indonesia. Tapi saya juga saya bersyukur puny kesempatan ke china, ternyata dunia ini cantik banget dengan berbagai perbedaan ragam budayanya. Sebenarnya saya sangat suka Indonesia, tapi pengen nyobain kerja di china juga, ada yg tau bagaimana mau kerja di china? Hihi makasih

    1. Hai mbak rismarini 🙂 iya bener kadang kita harus menjauh dulu biar bisa liat betapa indahnya Indonesia itu. Wah kebetulan gak punya info tentang china. tapi googling aja sapa tau nemu blog lain hehe

  18. Hendri Eko.H

    halo met pagi bu lenny..saya hendri..saya ada kekurangan dalam pendengaran sejak kecil..bagaimana hidup,budaya,ekonomi,kerja,pendidikan,sosialisasi,dll di adelaide australia?kalau kerja di pemerintah australia apa terjamin gak,dapat fasilitas apa saja?tlg buat kesimpulan ttg kota2 sydney,melbourne,brisbane,perth (ekonomi,kerja,pendidikan,tempat wisata,dll) serta plus min ya..

    1. Hi mas hendri, saya belum pernah ke adelaide dan yang lain-lain. Hanya di Brisbane saja. Kebetulan saya juga tidak kuliah dan bekerja di sana, hanya mengunjungi selama dua minggu. Kesimpulannya kotanya sudah nyaman buat saya, tapi memang akses transportasi agak terbatas kalau tinggal di pinggiran.Kotanya juga cenderung lebih sepi kalau dibandingin dengan Jakarta. Tapi yang pasti aman, cuacanya asik dan saya sih betah mas 🙂

  19. Sansan

    Hello k lenny .. thanks for sharing
    article yg menginspirasi dan tentu nya sangat membantu untuk saya yg ingin bekerja di LN ..
    Semoga saya bisa merasakan bagaimana kehidupan di sana as soon as possible .

  20. Hadi Rich

    Hello k lenny, saya mau tanya kalau cara dapetin visa work n holiday itu gmana?
    Butuh brp biayanya?
    Sama kalo visa work n holiday bisa menetap brp lama di australia-nya?
    Thx.. ☺

  21. lusiana

    artikelnya menginspirasi semua :’) semoga aku bisa mengikuti kejak kak Lenny, semoga aku bisa melanjutkan studi k USA aamiin

  22. selama ini masih merasa lebih banyak enaknya daripada ngga enaknya…

    awalnya juga ngga kebayang, tapi setelah dijalani, ya biasa saja..

    malah bersyukur bisa tinggal di sini, dan semoga makin betah.. 😆

Leave a Reply