Perkenalan Pertama Batu Baginde di Belitung

Suatu saat ketika ku berkesempatan mewawancarai Kepala Dinas Kabupaten Belitung, Ir. Hermanto, si bapak sempat bilang Belitung itu unik karena daerahnya berada di atas batu granit yang telah terbentuk 350 juta tahun yang lalu.

Barulah pas aku beneran ke Belitung, ku liat sendiri bagaiman uniknya pulau kecil ini. Batu granit segede gaban gak cuma ada di Pantai Tanjung Tinggi tempat anak Laskar Pelangi itu berlarian, tapi juga ada hingga ke dalam rimba.  Biar anti mainstream, ke situlah ku melajukan mobil. Eh pak supir sih yang bawa…

Ternyata batu granit yang mencuat tiba-tiba dari muka bumi ini banyak loh. Tapi untuk pertama aku perginya ke Batu Baginde dulu, sekitar 1,5jam dari Tanjung Pandan. Lantas kenapa nama batunya baginde? Aku pun kerap nanya dan kepo juga, tapi so far belum ada jawaban pasti akan hubungan kita. Beberapa spekulasinya antara lain :

  1. Baginde berasal dari kata baginda. Karena ini batu paling gede se antero Belitung jadi diberi nama layaknya sang raja.
  2. Suatu kali ada raksasa yang sedang melabuhkan kapalnya di Belitung. Biar gak hanyut, lalu kapalnya disangkutin di Batu Baginde itu. Wah aku langsung nge-bayangin raksasanya ala cerita rakyat Buto Ijo gitu. Tapi kayaknya ini belum menjawab pertanyaan yak?
  3. Tahukah kamu Belitung itu dipercaya sebagai Bali yang terpotong? makanya namanya Balitong atau Belitong. Yah mungkin salah satu potongannya yah si batu raksasa ini. Btw ini agak gak nyambung dengan legenda Batu Baginde, tapi biarlah, ku cuma mau kasih sedikit trivia #eaak.

Jadi kira-kira mana satu menurut kalian asal muasal nama ini? biarlah masih menjadi misteri.

Yang jelas sebenarnya di Batu Baginde ini ada dua batu. Satu yang gede tingginya kira-kira 150 m, satu yang kecil kira-kira 50 m saja. Yang besar itu yang biasanya terlihat dari jalan raya ketika menuju ke kecamatan Membalong (selatan-nya kabupaten Belitung). Namun sejauh ini si Batu Baginde besar belum bisa dinaiki karena belum ada jalur trekking. Tapi kalau naik ala wall /rock climbing, si guideku udah pernah nyoba tuh.

batu baginde di beitung
Batu Baginde besar dilihat dari jalan.

Berhubung ku sudah jompo, maka naik Batu Baginde kecil adalah pilihan satu-satunya. Meski kecil, jangan meremehkan yah. Kecil-kecil cabe rawit soale. Untuk menuju ke Batu Baginde kecil, dari jalan raya, cuma ada satu-satunya papan kayu penunjuk yang mengarahkan masuk ke jalan tanah. Papan petunjuknya memang kecil sih jadi kalau gak sama orang lokal, mungkin bakal kelewat gitu aja.

Mobil kami pun masuk ke jalan tanah tersebut. Masuk gak berapa lama, ada lagi jalan kecil menanjak. Karena mobil sudah gak bisa masuk lebih jauh, aku dan rombongan parkir aja gitu di tengah hutan siang-siang bolong. Dari tadi kami berkendara, sudah tidak tampak ada makhluk hidup. Untung juga sih, karena jalan tanah dalam hutan ini sempit banget. Sempat ada kendaraan, mungkin salah satu harus mundur.

Turun mobil, aku langsung semangat banget menuju ke jalan tanjakan dalam hutan. Karena sudah mulai sering olahraga, tak kusangka jalanku jadi cepet dan aku duluan dong dibanding rombongan #sombong

Tapi kadang ku berhenti dan jalan pelan-pelan, karena jalan masuk hutan ini masih jarang dilewati dan alami banget, jadi masih banyak hewan-hewan yang lewat, macam lintah atau kaki seribu yang gedenya macam baginde juga. Lalu nyamuknya itu loh, amboi, kayak gak pernah ngelihat manusia cantik dateng, total habis dari sini, di tanganku ada lebih dari 4 bentol nyamuk gede-gede dan gatal banget. Bekasnya gak hilang hingga lebih dari 2 minggu. Rekor dah~

hutan baginde

Selain penghuni berupa hewan, di sini juga banyak tanaman rambat yang pohon-pohon gitu melintas di atas kepala. Sedang di tanah, banyak jamur-jamur bertebaran. Lantas ku ingat pernah dibilangin bahwa Provinsi Bangka Belitung itu punya jenis jamur paling langka dan mahal yakni jamur kulat pelawan yang hanya tumbuh di pohon pelawan yang sudah busuk. Sayangnya ku gak nemu jamur itu. Adanya jamur-jamur gini aja. Boleh dimakan gak yah?

jamur belitung

Perjalanan trekking naik ke atas gak lama kok, sekitar 20 menit, itu sudah sekalian stop mengagumi hutannya si Baginde. Ujungnya adalah aku ketemu sebongkah batu gede yang nghalangin jalan. Yah satu-satunya cara untuk lanjut yah memanjat si batu dengan bantuan tangga yang ada.

baginde beitung

Nanjaknya curam banget loh, mana tangganya agak ringkih jadi aku pegangan juga sama tali tambang yang tersedia. Kalau liat di gambar di atas, itu ada ujungnya, tapi ternyata itu bukan atasnya batu. Itu kayak baru pemanasan. Setelahnya, barulah ada lagi penanjakan dengan batu granit yang berwarna hitam. Tingkat kemiringan pun makin bikin kaki lemes karena tidak ada pengaman sama sekali. Kalau jatuh yah, siap-siap disambut jurang di bawahnya. Untunglah aku pakai sandal sepatu andalan yang sudah kupercaya anti slip.

batu belitung

Sampai di atas, view-nya emang setara dengan keringat yang dihasilkan. Di atas lumayan lega dan landai, sehingga aku bisa lihat ke berbagai sisi dan menyaksikan hijaunya Belitung kala itu. Sayangnya cuaca agak sendu kala itu jadi gak dapet langit biru dan awan-awan putih yang membuntal.

view batu baginde

Tiba-tiba perutku mules minta ampun.

Aku mulai terkentut-kentut. Padahal sedari pagi cuma makan nasi sedikit, dan rasanya kemarin sudah BAB. Karena ku bukan orang yang tipenya BAB tiap hari, maka rasa sakit ini cukup mengejutkan.

Duh… yah tapi kejutan kayak gini bikin paling males deh. Kenapalah perutku ini mau “show off” di waktu-waktu yang tidak tepat seperti ini. Karena baru banget nyampe ke atas batu, kuputuskan menahan saja. Lagian di area ini sama sekali tidak ada WC dan kalau pun mau balik berkendara keluar hutan, mungkin akan ketemu rumah penduduk / warga setengah jam lagi.

Tapi makin aku menahan, makin nyeri perutku. Ini sudah tidak biasa. Kalaupun mau BAB, biasanya ku gak sampai keringat dingin. Ku rasakan bibirku mulai kering dan mukaku pucat pasi. Aku langsung berasa blank. Teringat dulu ku pernah beberapa kali kayak gini, sakit perut yang teramat hingga bibir biru, jalan miring hingga rasanya dunia mau runtuh. Satu-satunya obat yang ampuh buatku kala itu yaitu obat bubuk china yang super pahit. Habis makan itu langsung buang-buang air besar sampai perut kosong, baru dah sakitnya hilang. Indikasinya kali itu adalah ku kemakan makanan yang kotor.

Lah tapi kali ini, ku yakin tidak makan yang aneh-aneh.

Aku mulai tidak bisa berpikir jernih.

“Mas, lenny sakit perut nih,” ujarku lemes ke satu-satunya guide cowok yang menemaniku ke atas.

Apa aku BAB di atas sini aja yah? Pikirku gitu. Iya saking udah nyeri dan gak bisa nahan lagi.

Tapi karena terpikir susah cebok, tar kotoran diterbangin angin, atau gak enak sama guide, akhirnya aku memutuskan balik aja dan minta diantar cari toilet atau BAB di hutan pun boleh deh kalau tidak sempat.

Aku pamit sama si guide dan mulai turun. Sebenarnya ketakutanku yang terbesar bukan poop di celana, tapi pingsan karena rasa sakit ini. Nah kalau udah gini gimana hayo menggotong aku turun dari batu raksasa?

Karena kesadaranku sudah di batas ada dan tiada, turunnya pelan banget. Bahkan gak pake kaki, tapi pakai pantat karena ya itu curam banget. Bayangin naik aja tadi mengap-mengap, apalagi turun, ya lebih mampus lagi. Apalagi pake bonus mules.

Kaki sudah lemes, pandangan kabur, tapi syukurnya aku bisa mendarat di tanah juga. Tergopoh-gopoh aku mencari tempat duduk seadanya. Mbak Irma, yang serombongan ama aku heran melihat kondisiku dan sempat tanya “Kok cepet banget?”

“Duh mules nih mbak.” jawabku lirih.

“Ya udah pegang batu aja dulu.” jawabnya.

Ini yah salah satu mitos yang hingga sekarang belum bisa aku percayai. Untuk nunda BAB, gengamlah batu. Lah daritadi ku bukan hanya udah megang, manjat, mengengam, bahan sudah menginjak-injak batu juga. Tapi ini malahan jadi pengen berak.

Hm…agak emosi tapi jadinya ku coba duduk aja sambil berpikir mau ngapain selanjutnya.

Pas sudah duduk dan coba menenangkan diri, aku cari-cari tuh sumber sakitnya di mana. Makin dicari-cari, rasa sakitnya malah bersembunyi dan pelan pelan aku bisa menegakkan badan. Terus tiba-tiba aja tuh perut yang tadi bergemuruh itu serasa lenyap. Tidak ada lagi juga dorongan yang menggebu-gebu di sekitar dubur. Aku kembali normal Tuhan…..

Guideku pun rupanya mengikutiku untuk turun ke bawah dan menyamperiku.

“Kok udah turun? padahal baru mau dikasih tunjuk batu yang seolah-oleh melayang.” katanya.

Duarrr!! aku pun langsung sebel dan tiba-tiba timbul penyesalan karena memang belum banyak menghabiskan waktu di atas sana.

Oleh karena itu, aku pun memerintahkan apapun itu yang sedang berkecamuk di perut untuk menyudahi segala permasalahannya. Kuperintahkan juga otot-otot badanku yang masih kurang tidur karena pesawat pagi untuk segera men-charge kembali batre tubuh. Mindset pun ku set biar tidak capek dan aku pasti bisa (kuat) naik lagi.

“Masa sih? ayok naik lagi mas.” jawabku tertantang. Demi foto yang ciamik di majalah dan konten IG yang paripurna, rasanya tak mungkin aku melewatkan yang unik-unik.

Tapi, sofhian, guideku itu tampaknya sudah enggan naik. Mungkin napasnya sudah hampir putus. Untungnya ketika aku nekad naik sekali lagi, mas alvin, yang membawa mobil saat itu mau juga naik ke atas barengan karena emang sebelumnya dia belum naik. Yass!

Entah dari mana aku punya tenaga lagi, tapi yang pasti aku semangat banget untuk nanjak kedua kalinya. Kali ini pijakankku sudah lebih mantap karena sudah hapal mana satu jalur yang mudah dijelajahi dan kokoh. Nyampai atas pun jadi lebih cepat.

Sesampainya di atas aku bisa lebih lama karena gak ada lagi kepentingan yang perlu ditandaskan. Sebagai hadiahnya, aku jadi punya foto ini deh. Sudah bagai melayang belum? padahal  itu samping-sampingnya rendah loh bukan langsung ke jurang heheh ilusi mata banget yah.

batu baginde belitung

Malamnya, si mbak irma cerita kalau si sofhian, guideku itu bilang bahwa memang beberapa orang yang baru pertama kali ke Batu Baginde, akan mengalami pusing atau sakit perut tak biasa. Itu mungkin salah satu cara Batu Baginde “berkenalan” dengan para pendatang. Pantes aja mas-mas yang pada nemeni saya tampak tidak terlalu panik pas aku merintih. Setelah dari Batu Baginde pun ku coba BAB, kagak keluar apa-apa. Malahan ku jadi gak poop berhari-hari. #TMI

Hm…kalau kalian percaya gak sih yang begituan?

Kalau pusing, menurutku bisa aja terjadi karena habis manjat-manjat batu, ngos-ngosan, haus, terus liat ke bawah tanpa pembatas sama sekali, itu emang sempat bikin jantungku copot sih. Atau jangan-jangan emang habis itu reaksi ke aku nya jadi sakit perut yang berlebihan?

Entahlah~~

Memang kalau dipikir-pikir daerah Batu Baginde ini sama sekali tidak ada orang. Dan pas aku masuk hutan, kan emang lagi semangat 17, kagak ada tuh keinget “minta izin”, main langsung masuk gitu aja haha. Yah ditambah lagi mungkin memang ada unsur mistis. Aku habis itu malamnya langsung ngecek fotoku satu-satu takut ada yang nonggol. Fiuh untungnya gak ada sih.

Jadi kalau kalian mau ke sini, bawa temen dan guide lokal yah. Ohya dan satu lagi, ke WC dulu. Titik!

Hingga sepanjang perjalanan lima hari di Belitung, kisah apesku ini selalu menjadi bahan lucu-lucuan di rombongan. Tapi aku sih nyantai aja malahan sebenarnya agak bangga juga sih karena bahkan jarang-jarang juga orang lokal yang mau (dan bisa) ke sini, apalagi sampai mendaki dua kali berurutan.

Salam, si Ratu Baginde

batu baginde

Travel Now or NEVER
10 Responses

Leave a Reply