Wall Climbing di Scientia Square Park

wall climbing

Wall Climbing alias manjat dinding cheeeeckkk! Sedari dulu ngeliat orang manjat bisa seligat cicak, ku pun jadi penasaran. Cuma gak pernah tahu harus di mana dan belajarnya piye. Eh rupanya di Scientia Square Park – Serpong ada. Padahal dulu udah pernah ke sana waktu ke kebun Bunga Mataharinya Arumdalu Farm, tapi gak ngeh di sini banyak kegiatan menarik lainnya salah satunya yah ini wall climbing. Gratessss pula~

Tonton di sini

Kalau weekday wall climbing ini hanya buka malam, tapi kalau weekend buka dari pagi ampe malam. Aku kebetulan datangnya pas malem karena sekarang siang sore hujan mulu ih. Pas nyampe ke sana, baru aja selesai hujannya dan semuanya masih basah. Ada satu remaja putri yang mencoba. Aku perhatiinlah. Badannya keknya ringan banget bisa dengan cepat menyentuh dinding yang warna merah di mana ada jendolan di atasnya yang menyulitkan itu. Pas udah di bawah, dia cerita dengan senangnya ke pacaranya kalau asik banget wall climbingnya.

Aku ngiri. Ngiri karena jomlo #eh dan ngiri hebat banget. Akhirnya kukumpulkanlah niat untuk mencoba dan berkata sama abangnya

“Bang, aku mau…”

Meski ambigu, untung abangnya ngerti maksudnya bukan minta dia jadi pacarku tapi aku mau nyoba Wall Climbing. Si abang pun gak baper dan siap2 pakein pengaman di pinggang dan pahaku. Terus dia kasih aba-aba. “Ingat talinya harus selalu di depan muka, gak boleh di belakang badan. Kalau amit-amit kepleset, jatuh dll, badannya gak jungkir balik.”

“Kalau sudah nyerah, kedua tangan pegang tali. Nanti otomatis badan akan berayun, tapi gpp yang penting tangan jangan ditolakin ke dindingnya. Kakinya juga gak boleh, kalau gak tar makin berayun,” lanjut si abang memberikan titah.

Aku cuma mangut-mangut bae sambil berusaha menentramkan jantungku yang sudah tak karuan.

“Nah silahkan dari yang kiri ini. Lebih mudah,” kata abangnya.

Oh iya bener juga soalnya yang di tengah dan kanan pijakan dan jendol-jendolnya agak sedikit gitu.

Okay lah dengan menyebut nama segala macam tuhan dan penguasa bumi, neraka dan surga, aku pun mulai.

Tanganku merogoh jendolan pertama yang sekiranya cekukan lobangnya gede buat nyantolin jari. Begitupun kaki juga cari pijakan (hati) yang mantap.

“Badannya lurus nempel ke dinding,” seru abangnya.

Oalah mungkin ini karena aku naiknya pantatnya terlalu keluar sehingga susah.

“Kaki itu buat dorong badan. Bukan tangan yang ngangkat tapi kaki yang dorong,” si abang terus berseloroh.

Aku ngangguk-ngangguk sembari berusaha naik terus. Tiap tolakan kaki, aku ngerasa pantat dan pinggangku ikut terdorong naik berkat tali harness dari si abang. Bang, support fisik dan mental darimu sangat berarti.

Tanpa sadar aku sudah menuju cantolan warna kuning. Gak sengaja aku melirik ke bawah kanan sedikit, dan kudapati temanku sedang merekam. Aku langsung sadar ternyata aku sudah lumayan tinggi. Tiba-tiba aku jadi spanneng. Tangan mulai kebas. Lengan mulai tremor dan kakiku mulai pusing mencari pijakan tonjolan itu. Keparat jendolannya makin kecil dan bentuknya tak karuan sehingga aku bingung harus meletakkan kaki di mana.

“Duh… susah…,” di ketinggian sekitar 3 meter itu aku mulai bingung. Napas ngos-ngosan apalagi baru kusadari aku masih pake masker kain.

“Bang… udahh… nyerah…,” aku mengencangkan suara berharap si abang bisa melihat kekalutanku.

“Kalau udah gak bisa, tangannya lepas, pegang tali,” si abang berteriak seakan mampu membaca gelagatku.

Dalam hitungan detik aja aku udah bisa perkirakan aku gak akan kuat bertahan di posisi kek gini. Namun melepaskan pegangan di cantolan itu ternyata butuh keberanian tersendiri. Seperti semacam trust issues. Tapi karena sudah tak punya pilihan lain, daripada terpeleset dan kejengkang, maka aku ambil napas dan secara bersamaan melepaskan tangan dan langsung mengengam erat tali.

Syungggg……ARRGGHHH tubuhku terhempas di kegelapan malam. Angin sejuk sehabis hujan membuat badanku bergidik, berayun ke sana ke mari.

Aku terguncang di atas sambil tubuhku terayun ke arah dinding. Pelan-pelan, si abang melepaskan taliku hingga aku bisa terduduk di matras basah di bawah itu.

Si abang cuma tersenyum melihat wajah pucat pasiku.

“Atur napas dulu,” begitu nasehatnya. Aku langsung membuka masker berharap oksigen dapat membanjiri paru-paruku dan mensupplai darah ke otak. Fiuh.

Si abang memberikan lagi tips lainnya. Badan harus sedekat mungkin dengan dinding. Oleh karena itu, posisi kaki harus miring, bukan lurus karena kalau lurus, lebih rentan cidera dan berat tumpuannya besar sekali.

Aku jadi terpikir apakah karena aku mulai gendutan, jadi beratku buat naik agak susah juga. Mana si abang cerita banyak kok yang sudah pernah nyampai atas banget dan malahan itu anak kecil. Mungkinkah karena mereka masih cenderung tidak takut dan lebih suka eksplorasi?

Tapi yah wall climbing ini ternyata ada batas maksimum sekitar 55kg karena mungkin kalo keberatan takut talinya gak kuat atau abangnya tar yang ketarik wkwk

wall climbing scientia square park

“Mau coba lagi?” si abang menawari.

HA? hati kecilku berteriak! Emang sih lum ada antrian lagi. Tapi kaki dan lenganku masih lemes banget. Cuma ketika ingat si remaja putri yang pertama itu aja bisa nyampe ke warna merah yang ada jendolan itu, rasanya kok aku gak sudi kalah saing. Padahal aku tadi udah tinggal dikit lagi sebenarnya. Andai saja aku paksain 2 atau 3 dorongan kaki lagi, mungkin posisi kami seimbang.

Api semangatku berkobar kembali. Aku iyakan ajakan si abang. Kali ini masker kulepas agar aku bisa tampil prima.

Pijakan wall climbing masih basah, serupa dengan yang sebelumnya, namun paling tidak di kali kedua aku sudah lebih mantap dalam memilih pijakan mana yang ingin dilewati. Ibarat kata, kali kedua aku sudah lebih berpengalaman dan belajar dari kesalahan.

Aku mulai dari kiri lagi tanpa keragu-raguan. Kini aku sudah tak takut lagi karena percaya 100% pada tali harness dan si abang yang selalu mengawasiku. Alhasil, rasanya aku lebih cepat sampai hingga di titik terakhir aku tadi. Nah mulai dari sinilah pertempuran yang sebenarnya. Aku mulai bingung lagi. Aku pilih pilih pijakan kaki yang paling nyaman. Yang penting jangan panik dan atur napas terus. Sesekali tak apalah berhenti bentar dan istirahat sambil mengadah ke atas. “Oh dikit lagi. Ayok.”

Satu lagi. Bentar lagi. Itu adalah kalimat sakti yang aku gumamkan hingga tak terasa tangan kananku bisa aku lepas dan aku tepuk ke dinding warna merah di level pemisah di atas. Tosss itu seperti high five kemenangan untuk diriku sendiri. Aku emang gak niat sampai ke puncak sih karena tahu diri kemampuan fisikku belum separipurna itu. Pun aku lum dapat tips gimana bisa loncat naik ke atas lagi dari si abang.

Ah sudahlah.. yang penting aku berbahagia sekali bisa mengalahkan ketakutanku dan berjuang hingga di titik yang telah aku targetin. Aku pun bisa melepas kedua tanganku dengan bangga dan menggengam kembali tali harness itu. Kali ini tidak ada teriakan ketika tubuhku berayun di udara. Yang ada hanyalah senyum simpul dan rasa puas atas keringat yang terbayarkan.

FREE AT LAST.

main wall climbing

Tips :

Wall Climbingnya hanya bisa satu-satu yah. Tapi di sampingnya ada wall climbing yang pendek dan bentuknya bukan ke atas, tapi menyamping gitu yang bisa buat latihan atau buat main anak-anak.

Pake pakaian yang nyaman yah. Kalau hujan gak bisa wall climbing. Setelah reda, baru lanjut lagi. Kalau aslinya gak tahu pake sepatu gak tapi gak pake apa-apa juga enak loh pinjakan rasanya lebih mantap.

Scientia Square Park

Alamat : Jl. Scientia Boulevard, Curug Sangereng, Kec. Klp. Dua, Tangerang

Jam Operasional & Tiket Masuk :

Weekday (08.00-20.00 WIB) 35rb

Weekend (06.00-20.00 WIB) 70rb

Wall Climbing gratis, cukup bayar tiket masuk Scientia Square Park. Setelah itu, masih bisa keliling di sini plus ke Teepee Barn liat llama yang lucu.

**

NEXT : KFC Naughty by Nature baru di Senopati

**

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply