Van Gogh Museum dan Kegilaannya

van gogh

Amsterdam adalah kota yang bernafaskan seni.

Katanya, kota ini punya jumlah museum terbanyak di dunia yaitu sekitar 75 museum. Kalau di Indonesia tiap pengkolan ada RM padang yang kalau kecium baunya langsung bikin auto laper, nah kalau di Amsterdam di tiap tikungannya, ada aja museum, kecil maupun besar. Dari puluhan museum itu, Van Gogh Museum adalah salah satu yang paling kesohor dan yang paling bikin hatiku mencelos, jika ingat dengan Vincent van Gogh, sang maestro dunia beserta adiknya, Theo van Gogh.

Vincent Van Gogh lahir pada 30 Maret tahun 1853 di Belanda dari keluarga yang cukup berada di zaman itu. Ketika Vincent Van Gogh berumur 27 tahun, dia memutuskan menjadi seorang pelukis berkat support dari Theo. Itu mungkin adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dia buat semasa hidupnya.

van gogh museum belanda

Walaupun begitu, kehidupan Vincent Van Gogh tidak berjalan mulus dan acapkali dia merasa depresi dengan hasil karyanya, terlebih karena dia memang mengidap penyakit kejiwaan. Suatu kali, dia bahkan memotong telinga kirinya sendiri pada tanggal 23 Desember 1888 setelah berdebat dengan teman sesama pelukisnya karena mereka memiliki teknik melukis yang berbeda. Setelah memotong telinga kirinya, Vincent Van Gogh lalu membungkus telinga tersebut dengan koran dan memberikannya kepada prostitusi di Red Light District.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, maka Vincent Van Gogh pun masuk ke rumah sakit jiwa di Perancis. Pada awalnya Vincent Van Gogh merasa lebih baikan dan dia mulai dapat melukis lagi dengan tenang, bahkan dia menjadi sangat produktif  sehingga dapat menghasilkan 150 lukisan.  Namun selama setahun berada di sana, penyakit jiwanya kambuh dan dia merasa putus asa dan terpenjara di dalam rumah sakit jiwa tersebut. Dia pun memutuskan pindah ke Auvers, sebuah desa dekat Paris agar dapat lebih dekat dengan Theo.

Namun empat bulan kemudian, Vincent Van Gogh tetap saja tidak merasa lebih baik, namun justru merasa frustasi dan mencemaskan masa depannya. Ia pun memutuskan mengakhiri hidupnya dengan dengan menembak dadanya dengan sebuah pistol pada 27 Juli 1890. Sebelumnya ia sempat mencurahkan isi hatinya yang ia tulis dalam selembar surat kepada kakaknya, Theo :

“Ah well, I risk my life for my own work and my reason has half foundered in it.”

Hingga akhir hayatnya, penyakit kelainan jiwa yang diidap Vincent Van Gogh tetap menjadi misteri dan terkubur bersamanya. Vincent van Gogh tutup usia ketika berumur 37 tahun tanpa pernah menikah dan mempunyai anak karena sama seperti hidupnya, cerita cintanya pun tidak ada yang berjalan mulus. Dia sempat menyukai beberapa wanita namun selalu ditolak, termasuk sepupunya sendiri. Belakangan, dia menaruh rasa suka dan empati pada seorang prostitusi yang sedang hamil besar dan sudah mempunyai seorang anak. Wanita tersebut sempat tinggal bersama dengan Vincent hingga bayi tersebut lahir ke dunia. Namun setelah setahun, Vincent merasa hubungan mereka sudah tak dapat dilanjutkan dan memutuskan keluar dari rumah tersebut.

Terakhir, diketahui Vincent juga sempat menjalin hubungan dengan wanita lebih tua, pemilik cafe yang kerap ia singgahi. Namun tidak tahu apa dan kenapa, hubungan tersebut juga kandas. Vincent pun mulai mengikhlaskan diri dan mungkin ia belajar menerima bahwa cinta bukanlah salah satu aspek kehidupan yang dapat ia rengkuh dengan sukses. Terlebih, pilihan wanita yang ia sukai selalu dipandang tidak biasa dan tentu mengalami penolakan dari keluarganya.

Ironisnya, karyanya baru saja mulai mendapat apresiasi ketika ia dalam kondisi paling terpuruk dan meninggalkan dunia. Untuk mengenang kepergiannya, Theo sempat membuat pameran khusus karya Vincent dan sejak itulah publik mulai melirik karyanya. Padahal, selama hidupnya Vincent telah menghasilkan ribuan karya dan kabarnya hanya 1 yang pernah terjual.

Theo yang merasa sangat kehilangan kakaknya serta ditambah dengan kondisi pekerjaan dan keuangan yang sempat terganggu membuat kesehatannya menurun. Tak lama kemudian, tepat 6 bulan sejak kepergian Vincent, Theo pun menghembuskan nafas terakhirnya, menyusul Vincent.

museum van gogh

Hiks! T.T

Di satu sisi aku merasa sangat lega bahwa selama hidupnya Vincent memiliki Theo yang selalu ada di sampingnya untuk mendukungnya. Kisah persaudaraan mereka sungguh menyentuh hati nurani.

Lesson Learned : Seberat apapun cobaan hidup, milikilah seorang saja yang dapat kamu percayai. Niscaya, hidup bisa melunak dan dapat dijalani.

Doaku hanya satu, semoga ketika bertemu di alam baka, Theo dapat memberitahukan kepada Vincent bahwasanya kini ia sudah bisa tenang karena hidup dan karyanya yang dia kira selama ini adalah sebuah kegagalan hanya ada di pikirannya saja.

Kini aku dan jutaan pengunjung rela bayar mahal dan berbondong-bondong masuk ke “rumah”nya di Van Gogh Museum untuk mempelajari kisah hidupnya. Hanya dengan mengetahui perjalanan hidupnya, aku dapat lebih menghargai lukisan yang ia ciptakan.

van gogh belanda

Ketika melihat lukisan dua buah pasangan di taman, aku merasa Vincent melihat harapan untuk dirinya sendiri.

Ketika melihat lukisan Almond Bloom, aku dapat merasakan perasaan bahagianya ketika ia menyambut kelahiran anak pertama Theo yang diberi nama sama dengannya, Vincent.

.. dan ketika melihat lukisan terakhirnya yang belum sempat ia selesaikan (atau emang disengaja?), aku bisa melihat pikirannya yang kalut dan hati yang porak poranda sebelum sebuah timah panas bersarang di dadanya.

Mungkin.. mungkin saja.. bila ia bertahan dan percaya sedikit lagi…

Bila saja ia mampu menunggu.. mungkin ia akan percaya bahwasanya dunia akan selalu menanti hasil coretan tangannya.

Rest in Peace Vincent van Gogh dan juga Theo van Gogh.

van gogh museum

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. aku pernah dengar orang bilang seniman itu harus ‘gila’ biar karyanya sukses, eh..kalo yg ini beneran (maaf) gila ya …
    tragis ya idupnya, sama kayak cerita kak Lenny soal kisah di balik tulisan Hollywood itu …

    1. Iya mungkin “kegilaan” itu perlu untuk menghasilkan sesuatu yang spektakuler atau yang belum mampu dipikirkan oleh manusia biasa 🙂

      Iya sedih sih ama kisah hidupnya 🙁

  2. F

    saya pernah ditertawakan karena waktu itu ditanya oleh sekelompok orang:
    “siapa yang kamu kagumi?”

    saya jawab: “Vincent Van Gogh”

    lalu mereka terbahak bahak.

    padahal saya melihat tidak ada seorangpun yang paling passion dalam mengerjakan apa yang ia inginkan sekeras Vincent, bahkan Theo bisa melihatnya..

    Semoga ada kesempatan untuk mengunjunginya kesana

    1. Hi febriawan, pasti orang yang menertawakanmu itu adalah orang-orang yang belum pernah tahu kisahnya si Van Gogh. Jangan diambil hati yah mereka itu 🙂

      Amin semoga suatu saat kesampaian bisa ke rumah Van Gogh.

Leave a Reply