Teh Terbaik Dunia Persembahan Teh Kayu Aro Jambi

Tahukah kamu resep ratu-ratu Eropa agar tetap awet muda dan cantik-cantik begitu?

Rahasianya ada di dalam secangkir teh yang diminumnya.

Percaya? Antara percaya dan tidak sih. Tapi aku memilih untuk percaya. Mungkin di antara puluhan pilihan teh di istananya, ada satu kotak Teh Kayu Aro yang tersimpan rapi. Teh ini dikirim langsung dari dataran tinggi nun jauh di sana di tengah Pulau Sumatera. Dari perut bumi tersebut, terbentang kebun teh yang melingkari Gunung Kerinci setinggi 3.800 meter yang merupakan gunung tertinggi di Sumatera sehingga kerap disebut atap Sumatera. Tanahnya yang subur dan pemandangannya yang elok bisa jadi pasal kenapa tanaman teh di sini tumbuh sehat, bahagia dan sejahtera.

kebun teh kayu aro

Perkebunan teh Kayu Aro seluas 2.666 hektar ini didirikan oleh perusahaan Belanda dengan nama Namlodse Venotchhaaf Handle Veriniging Amsterdam (NV. HVA) pada tahun 1925. Jambi tentu boleh berbangga hati karena perkebunan ini merupakan yang terluas di dunia dan tertinggi kedua (setelah Himalaya). Awal mulanya, Kerinci yang dulunya adalah bagian dari Sumatera Barat ini lahannya digunakan untuk menanam kopi. Sayangnya harga kopi di pasaran dunia saat itu tidak memuaskan ditambah dengan wabah mendadak yang banyak menyerang tanaman kopi sehingga diputuskan untuk dirubah saja menjadi perkebunan teh.

Benih mulai ditabur dan ditanam, sehingga perkebunan yang terletak di ketinggian 1400-1800 meter di atas permukaan laut ini mulai menghasilkan produksi highland tea yang luar biasa berkualitas. Hasil bumi ini lantas diekspor untuk kalangan bangsawan Eropa yang berani membayar mahal demi bisa mencicipi kebaikan secangkir teh hitam Kayu Aro.

ngeteh kayu aro

Ketika Indonesia akhirnya merdeka, perusahaan diambil alih negara dan hingga kini dipegang oleh PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN 6). Meski begitu, kualitas dan cara produksi masih dipertahankan. Dengan 1 pabrik yang ada, PTPN 6 bisa menghasilkan 1 ton teh. Meskipun kini pabrik teh sudah banyak dioperasikan oleh mesin baik untuk memetik daun teh hingga pengepakannya, namun aku masih sempat bertemu dengan beberapa pemetik teh yang sedang bekerja. Karena Belanda dulunya mengimpor tenaga kerja dari Pulau Jawa sebagai generasi pertama pemetik daun teh, maka hingga sekarang pun, pekerjaan ini masih dilakukan turun menurun hingga ke generasi ke tiga dan ke empatnya. Penerusnya ini setia banget melakoni pekerjaan memetik teh tersebut. Jadi gak heran kalau di kebunnya, kadang ku ngerasa lagi di Jawa, karena pas mbak-mas pemetik tehnya ngobrol, Jawanya medok banget. Lalu mereka kan juga dapat jatah rumah di dekat kawasan jadi makin kental terasa kampung Little Java-nya.

kebun teh kerinci

Meski sudah banyak pakai mesin untuk memngambil pucuk teh, tapi tenaga para pemetik ini masih digunakan terutama untuk menggunting bagian-bagian teh yang tidak terkena mesin. Dalam sehari mereka ditargetkan untuk menggumpulkan 60kg teh jika ingin mendapat bonus. Biasanya hampir semua dapat menyelesaikan target ini. Dari pagi-pagi hingga sore biasanya mereka sudah berjibaku dengan tubuh yang dilapisi plastik agar tidak basah ketika terkena embun, serta sepatu boot dan alat penggunting teh yang dimodifikasi sesuai kebutuhan mereka. Setelah hasil petikan dari para pemetik teh ini ditimbang, berkarung-karung teh ini pun diangkut ke truk dan masuk dalam pabrik.

pemetik teh kayu aro

Dari hasil kebun ini, PTPN VI menghasilkan dua tipe teh yakni Orthodox dan CTC.

Orthodox ini masih tipe teh yang diproduksi dengan cara lama dan dalam satu teh bisa menghasilkan 8 jenis teh. Sedangkan CTC ini metode baru dengan menggunakan mesin baru yang lebih cepat prosesnya dan juga cenderung halus hasilnya dan bisa menghasilkan 16 jenis teh. Yang diminum bangsawan Eropa biasanya yang orthodox sedangkan yang kita-kita ini biasanya teh hasil CTC.

Pas aku masuk area pabrik yang terlihat pertama kali adalah hamparan daun teh yang dibentangin gitu aja. Si bapak pabrik ngasih tau bahwasanya itu pucuk dari daun teh yang kemarin siang yang dihamparin gitu biar air yang ada di daun menguap. Setelah itu, maka masuklah ke proses berikutnya yang disebut penglayuan, yakni didiemin aja gitu sekitar 12 jam (untuk CTC) dan 16-18 jam (orthodok). Setelah cukup barulah siap dimasukin ke pabrik. Agar tidak ikut benda-benda asing kayak ranting atau daun lain, ada satu mas-mas yang sambil lalu meriksain gitu. Tapi tenang aja meskipun ada yang lolos, nanti setelah itu bakal ada mesin pemisahnya sendiri di dalam.

Mesin ini kayak goyang-goyang gitu loh jadi yang ranting, daun busuk jadi jatuh ke bawah dan gak masuk ke dalam mesin penggilingan. Proses seleksi biar hanya pucuk daun terbaik yang lewat ini sampai dua kali jadi tenang saja sudah pasti bersih.

pabrik kayu aro

Setelah proses seleksi itu, pucuk daun masuk lagi ke dalam mesin untuk digiling, diayak, dirajang hingga pengepresan hingga tiga kali sehingga yang tadinya lembaran berwarna hijau kini sudah jadi butiran kecil. Setelah itu, proses terakhir adalah fermentasi teh selama 100 menit. Pas masuk ruang ini baru deh kerasa banget aroma tehnya menguap di mana-mana. Dari sini pas aku lihat, sudah jadi serbuk dan warnanya kayak tembaga alias kayak kuning emas cokelat gitu kayak. Eits tapi gak ada bahan kimia yah, semua alami saja.

Setelah difermentasi, masih dimasukin lagi ke oven dengan suhu 110 derajat selama 30 menit. Nah di sini sudah halus banget tehnya, jadi kalau masih ada tangkai atau batang yang masih bandel maka otomatis akan terlihat dan dipisahkan oleh mesinnya dan difungsikan untuk dijadikan campuran pewarna baju.

Dah sudah tuh kan, berarti tinggal beres-beres. Kalau masih ada serat-serta tertinggal, maka disisihkan dulu. Sebelum beneran dibungkus, akan ada mbak-mbak tukang sampel yang akan ngetes teh ini. Apakah ada rasa aneh di teh, apakah lolos Quality Control dll nah si mbak lah dewanya.

Kalau lolos ya wes, dimasukin ke tempat penyimpanan sementara sebelum nantinya dikirim dalam bentuk karung gede ke Jambi. Nah di Jambi sih pengemasannya seperti yang nanti dilihat di toko-toko.

teh kayu aro

Kalau soal rasa, hm sebenarnya aku gak bisa review karena aku gak minum teh. Jarang banget. Paling seminggu sekali itupun kalau pas beli makan gratis teh. Jadi di kebiasaan keluargaku enggak ada yang minum teh atau kopi. Papaku selalu bilang gak bagus minum teh habis makan, karena zat besi yang kita makan justru luruh kalau minum teh yah gitulah jadi intinya aku gak gitu tahu gimana cara menakar enak atau tidaknya.

Yang jelas pas aku coba di ruang sampel itu, karena tak pakai gula, rasa tehnya cukup kuat. Enggak terlalu pahit juga sih cuma yah begitulah kesanku hehe tapi ketika aku beli tehnya lalu ku seduh di rumah dan kasih gula, jadi enak juga kok persislah dengan mium es teh di warteg. Au lah lidahku mah absurd.

Tapi ya udah itu pokoknya sesuai anjuran orang pabrik, kalau mau kebaikan teh yang sesunguhnya minumlah teh ini karena sama sekali tidak pake bahan kimia, pengawet, pewarna atau apalah-apalah itu. Alami dan seger. Okey bos!

kayu aro

Meski gitu, pas aku liat di supermarket jambi, jumlahnya tak banyak yang ada di rak. Malahan masih kalah jumlah dan promosi dengan merk-merk teh nasional lainnya yang sudah kadung melekat di kepala masyarakat. Selain itu kemasannya juga cenderung biasa aja sehingga mengaburkan kualitas super dari teh ini. Namu meski gitu Teh Kayu Aro tetep humble kok dengan harga teh yang murah meriah saja mulai dari Rp.2.500 untuk yang kotak teh seduh yang paling kecil.

Jadi boleh yah kalau bingung-bingung nyari oleh-oleh Jambi, beli aja teh ini dan ceritakan kehebatan teh ini ke seluruh dunia!

Travel Now or NEVER
9 Responses
  1. Sigit

    Jd pgn kesana.tp kl melihat perjuanganny hrs siap mental. Ato gak hrs cri deiver yg mendingan ya haha
    Trus mau sklian naik gunung kerinci kykny bgus.

  2. dulu pas tinggal di kerinci beberapa kali ada hubungan masalah kerjaan sama orang ptpn, pernah ditawari jalan2 ke pabrilknya, aku pikir ngapain sih ke pabrik.. pasti berisik dan byk polusi, eh…baca tulisan kak Lenny kok sekarang nyesel pernah nolak ajakan main ke pabrik teh kayu aro ahaha..

Leave a Reply