Bukit Khayangan : Negeri Di Atas Awan!

bukit khayangan

Butuh waktu 40 menit setidaknya untuk melajukan mobil dari Sungai Penuh, Kerinci hingga tiba di sebuah tempat yang dipercaya sebagai kediaman para putri khayangan yang teramat jelita. Konon inilah yang membuat bukit ini dinamakan dengan Bukit Khayangan, tempat di mana pengunjung dijanjikan untuk mendapat pengalaman mencicipi sekepal tanah surga… tanpa harus mati terlebih dahulu.

bukit khayangan

Ada satu lagi jargon yang tersemat di tempat ini yakni Negeri di Atas Awan. Karena tingginya yang mencapai 2.000 m di atas laut, maka tak heran aku merasa sepantaran dengan awan-awan yang berarak di langit. Cukup lama aku termenung di suatu batu besar sambil melemparkan pandangan ke arah kota Sungai Penuh nun jauh di sana. Dari sinilah aku baru memahami cerita tentang asal muasal Kerinci pada umumnya. Katanya dulu orang-orang pertama di Kerinci adalah berasal dari ras negroloid, yang kemudian tergusur oleh Mongoloid sehingga tak heran penampakan orang lokal di sini mirip sepertiku : sipit dan berkulit terang.

Mereka awal mulanya tinggal di sekitaran bukit yang mengelilingi Kerinci. Nah ketika masing-masing dari mereka ingin bertemu, maka mereka menyalakan api unggun dan berjalan menuruni bukit hingga bertemu di tengah dari jarak mereka tersebut. Dari pertemuan itu lahirlah keakraban baru yang membuat mereka saling menikahkan anak/saudara sehingga membentuk keluarga yang lama kelamaan semakin besar.

sawah kerinci

Mereka lantas bertani karena tanah Kerinci teramat subur sehingga apapun bisa tumbuh dengan baik di sini. Bahkan saking suburnya, di Kerinci terdapat jenis Beras Payo yang merupakan jenis padi endemik yang dipanen setelah 9 bulan dan dipercaya baik bagi pengidap kolesterol karena kandungan “manis”nya lebih sedikit dari padi biasa. Selain itu, tentu katanya sangat pulen dan lezat dengan bulir-bulirnya yang besar karena katanya tumbuhan padinya saja bisa tumbuh hingga sedada orang dewasa.

beras payo

Siang itu meski mendung, aku juga bisa melihat Danau Kerinci yang bersisian dengan sawah-sawah yang membentuk permadani. Sesekali jika matahari agak terik, pantulan cahaya terlihat dari air danau yang tenang. Dari jauh seolah menjadi cermin yang memperlihatkan keindahan panorama yang menakjubkan.

Namun hal itu tak lama berlangsung karena awan yang menggumpal, lantas tak mampu lagi menahan berat air yang dikandungnya. Satu-satunya pilihan yang dapat ia lakukan adalah menurunkan hujan. Untung saja tidak di Bukit Khayangan, tetapi di sebelah kiri dari tempat leyeh-leyehku. Kali ini aku masih terpekur juga menikmati proses hujan yang bisa kulihat secara gamblang dari jauh. Setelah memuntahkan segala isinya, dari tetes-tetes air yang masih berjatuhan, tampak sebuah pelangi memunculkan dirinya dan membuatku sadar itulah kenapa hujan selalu adalah fenomena alam yang selalu kunantikan. Belum lagi bau tanah yang bermandikan tetasan air hujan, membuatnya menguap dan mengaurkan aroma kenangan yang sangat pekat. Tak heran aku selalu galau ketika hujan turun.

Namun rupanya langit belum puas. Kali ini giliran bukit di sebelah kananku bergemuruh. Angin bertiup kencang. Entah dari mana, tiba-tiba segumpalan kabut naik dari rimba menyatu ke awan-awan di atasnya.

bukit khayangan kerinci

Aku mulai terpana lagi meski supirku mulai berteriak “Mbak, ayo masuk mobil. Lah nak ujan besak nih nah”.

Sejujurnya aku ingin membalasnya dengan bernyanyi “Walau badai menghadang…” namun kuurungkan niat manakala melihat dedaunan dan sampah yang tergulung angin dan dihempaskan ke jurang tak bertuan di bawah sana.

Aku masih sempat berfoto dan membuat video ala kadarnya, karena yha segitu takjubnya aku melihat langit dan bukit yang jaraknya sangat berdekatan – seperti hanya berjarak semeter saja. Kalau bukan karena tetesan air dari nirwana yang mulai membasahi kameraku, mungkin aku belum akan meyudahinya.

Ketika merasa cukup, barulah aku masuk ke mobil dan supir pun langsung ngebut untuk turun sebelum cuaca memburuk.

Ah, aku tak menyesali datang di musim hujan. Aku memang tak mendapatkan lanskap Sungai Penuh yang jelas, namun yang barusan tadi pun akan lama terkubur dalam benakku.

bukit khayangan di kerinci

So, yah kalau kamu tak mampu bangun pagi untuk melihat sunrise atau pun tak sempat melihat sunset, datanglah ketika hari akan hujan. Sensasinya malah lebih menggetarkan seperti di video ini :

Btw di area ini katanya ada kolam juga tapi aku gak sampai masuk sih karena sudah cukup puas liat pemandangan. Ada beberapa warung makanan sederhana juga yang berjualan.

**

****

Belanja baju keren & murah di shopee ini yah.

****

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER
3 Responses
  1. Avant Garde

    kalo cuaca cerah bisa liat gunung kerinci di sebelah kanan kak (dengan anggapan danau kerinci ada di sebelah kiri)

    satu hari sebelum aku pindah dari kerinci, aku puas2in ngalamun dan bengong di bukit khayangan ….
    makasih kak Lenny udah nulis salah satu tempat favorit aku di kerinci … 🙂

Leave a Reply