Selaput Dara Cuma Mitos..Buatku!

Aku melorotkan celana panjang berikut dengan kolorku. Setelah meletakkan seadanya di kursi, aku beranjak naik dan berbaring di atas kasur sempit itu.

Sebuah bantal kecil diletakkan di pantatku, agar aku rileks.

Aku mulai mengangkang tanpa perlu diberi aba-aba. Pria itu lantas duduk di sampingku dan mengambil botol pelumas dan melumerkannya di atas kondom yang sudah terpasang dengan baik.

Aku menunggu. Melihat ke atap-atap langit putih sambil membatin “Ini saat yang telah kunanti-nantikan bertahun-tahun lamanya.”

Sesuatu yang lengket, dingin dan tumpul mulai mencari-cari tempat untuk menusuk masuk ke dalam vagina.

Perih. Tubuhku otomatis langsung reflek tak memberikan kuasa.

“Jangan dijepit…” kata pria itu menyentuh lututku.

Aku menarik napas dalam-dalam. Rasa terbakar mulai menjalar di area selangkangan.

“Ngggg…..,” aku meringis lirih sambil mencengkeram tangan sendiri.

Raut mukaku sudah tak dapat kusembunyikan lagi. Sempat ingin kupinta dia untuk berhenti atau setidaknya pelan-pelan, namun untung saja si pria segera memberi kode bahwa dia sudah selesai.

Plop!

Dia mencabut benda itu, lalu meninggalkanku sendiri terbaring tak berdaya. Tapi paling tidak, aku bisa bernafas normal kembali.

Seorang wanita menawarkan tisu untukku bebersih. Aku menolak halus. Aku hanya ingin segera keluar dari kamar ini.

**

Begitulah pertama kali aku melepas “keperawanan-ku” dengan sadar sepenuhnya. Tidak dengan penis, melainkan dengan sebuah alat USG yang dimasukkan ke vagina untuk mengecek kondisi rahim.

Awal mula aku sering mampir ke dokter kandungan itu karena aku bermasalah dengan haid yang gak habis-habis. Itu kira-kira pas zaman akhir kuliah, yah sekitar 10 tahun lalu. Untuk mengetahui sumber masalah, biasanya dilakukan USG, tapi cuma hanya abdominal yang di perut itu. Namun hasilnya kadang suka beda-beda. Kadang dibilang aku ada miom lah, tonjolan lah, indung telur kecil lah. Gak sekalian bilang isinya ada tuyul lagi beranak.

Karena penasaran itulah, aku udah minta dilakukan USG Transvaginal saja biar hasil lebih jelas kan. Namun semua dokter menolak karena aku belum menikah. Yah mungkin mereka masih sangat menjaga selaput dara biar tidak robek atau faktor budaya vagina di Indonesia itu masih sangat sakral sehingga gak boleh diotak-atik. Padahal yah aku udah bilang aku memberikan izin penuh and i don’t give a damn about virginity. Gak mau juga kan kalau misal amit-amit aku punya kanker/tumor tapi terlambat diketahui hanya gegara dokternya tidak mau melakukan USG Transvaginal. Yha kan KZL!

Hingga suatu saat entah gimana ceritanya, di dokter ini aku tercatat sebagai ibu, bukannya nona. Padahal pas daftar aku udah jelas-jelas bilang belum nikah. Nah jadi hingga ke dokter itu pun dia anggapnya aku udah nikah. Jadi sehabis aku curhat soal haid, si dokter ngajak USG perut. Aku iseng bilang “Kenapa gak vaginal?” yang lantas dijawab enteng “Okey boleh.”

Suster pun langsung mempersiapkan tempat dan alatnya. Aku masih mikir tadi salah denger gak yah. Si dokter gak tahu apa aku lum pernah berhubungan seks? beneran nih boleh? Aku agak panik juga karena aku tak mempersiapkan mental untuk hal ini. Tapi aku pikir yah udahlah kalau next time lum tentu bisa.

So, begitulah kejadian di atas terjadi begitu saja. Selepas diperiksa, aku jad gak bisa duduk biasa karena vagina ku masih nyeri. Jadinya aku duduk tapi posisinya miring sebelah sambil bertumpu di satu pantat. Menurut dokter, rahim dan indung telur sehat tidak ada apa-apa berarti hanya masalah hormon yang tidak seimbang. Aku pun berterima kasih dan ingin meminta pertanggung jawaban, dan langsung ngacir ke toilet. Aku berusaha pipis tapi kayak susah karena mungkin di bawah sana masih survival mode takut ada benda asing masuk lagi. Aku sampai dalam hati harus bilang udah gak apa-apa gak ada lagi yang nyeruduk-nyeruduk dan baru deh pipisku keluar dikit. Dan itu perih juga ketika kena ke vagina. Terus aku ngambil tisu dan berusaha lihat kira-kira ada darah gak yah.

Aku yakin sih harusnya enggak ada karena tadi liat bekas kondom pun tidak ada bercak darah. Cuma demi mastiin, aku kobel-kobel dikit habis cebok. Hasilnya nihil. Tidak ada darah setetes pun. Palingan cuma sisa cairan pelumas yang nempel di sekitar vagina.

Tapi selama ini pun aku juga berpikir, haidku itu kan brutal yah kadang keluar itu gumpalan darah cukup gede which is gak make sense sih kalau aku masih punya selaput dara. Pasti sudah luluh lantak sejak dahulu kala. Terus pas kecil aku tuh tergolong lasak. Suka ngangkang, lari-lari, manjat-manjat, jatuh dari sepeda, kecelakaan dll sehingga pasti sudah hilang tuh selaput dara. Atau bisa jadi juga aku emang terlahir tanpa selaput dara karena emang ada juga yang seperti itu kondisinya.

Jadi ketika hari ini tidak ada setetes darah pun di liangku, aku gak heran sih. Makin mengukuhkan bahwa selaput dara itu bisa jadi hanya mitos dan memang seharusnya tak perlu diperdebatkan dan dirisaukan.

Tanpa atau adanya si selaput darah itu, tidak membuat aku menjadi pribadi yang lain.

So buat kalian cowok-cowok yang berharap nanti malam pertama keluar darah, ubahlah mindset kalian.

Kalau terobsesi dengan darah, ditunggu saja hingga istri/partnernya haid, dijamin lumer ampe ke seprei noh.

**

Pulang-pulang, aku macam anak laki habis kena sunat. Jalannya pelan dan ngangkang. Sialnya dapat abang gojek yang naik motornya serampangan. Semua polisi tidur dia hajar. Pengen rasanya kutempeleng dari belakang sambil bilang :

“Pelan-pelan bang, my fuckhole is on fire!”

Fiuh.

Begitu nyampe kos, aku langsung ambil kaca dan ngeliat selangkangan sendiri. Keknya sih tak banyak yang berubah. Mungkin hanya sedikit membesar lobangnya. Tidak terlalu nyata kok bedanya. Entahlah. Mungkin harus latihan kegel nih.

Itu kisahku. Bagaimana kisahmu dan si selaput dara?

Travel Now or NEVER
8 Responses

Leave a Reply