Rumah Kayu & Bintang Laut Pulau Leebong

pulau leebong

Hari kedua di Belitung, pagi-pagi aku dan rombongan sudah naik kapal kecil yang akan menghantarkan kami ke sebuah pulau pribadi seluas kurang lebih 37 hektar. Pulau Leebong, begitu nama pulau itu diberikan. Namun sebelum ke pulau tersebut, kami menyempatkan untuk terlebih dahulu singgah di pasir timbul yang tak jauh dari Pulau Leebong.

Dugaanku pasir timbul ini masih satu properti dengan Pulau Leebong karena ketika kapal bersandar, di dermaganya pun tertulis dengan lantang “Welcome to Leebong Sand Island”. Emang sih jarakany udah dekat banget. Kalau ada yang niat mau jalan kaki atau berenang, bisa kok nyampe ke Pulau Leebong itu.

Tapi ah sudahlah mendingan aku bersantai di pasir timbul ini sejenak, secara pasirnya lebih halus di sini. Kadang kala kakiku sampai terjerambab masuk saking halusnya. Nih pasir atau tepung yak?

Dari dermaga, ada sesosok hewan yang sangat menarik perhatianku yakni Bintang Laut. Rasa-rasanya aku lum pernah melihat bintang laut begitu dekat, begitu jelas dan begitu indah. Warnanya pinky-pinky dan tak cuma satu. Ada beberapa. Namun ada satu yang kutemukan sepertinya sudah tewas. Bintang laut yang wafat itu tampak layu, tidak bersinar dan pasrah diombang ambing air.

leebong

Aku bingung apa yang harus kulakukan karena tak tak tahu apakah aman menyentuh binatang laut. Ada petugas di dermaga yang melihatku begitu perhatian dengan bintang laut ini lalu datang menghampiri. Ketika melihat bintang laut yang mati itu, ia pun mengambilnya ke dalam ember dan entah dibuang di laut yang lebih dalam. Mungkin agar si almarhumah bintang laut tak kembali lagi.

Akhirnya aku pun memutuskan melihat bintang laut yang lain saja. Ada yang pernah bilang bahwa hadirnya bintang laut adalah sebuah tanda bahwa air di sana jernih. Rasanya jika betul demikian, aku akan mengangguk-angguk tanda setuju. Soal kebersihan sangat tokcer. Nyaris tidak ada sampah. Bahkan tidak ada apa apa sebetulnya di pasir timbul ini. Hanya ada langit biru, pasir putih, sebuah hammock dan kebahagiaan.

Tidak banyak yang aku lakukan di pasir timbul ini selain tidur-tiduran di hammock. Bukankah tujuan berlibur memang untuk bersantai? Namun leyeh-leyeh dan rebahan ini tak berlangsung abadi. Sepertinya aku sudah harus berpindah ke Pulau Leebong seiring dengan bunyi perutku.

Di Pulau Leebong, jujur saja pantainya biasa saja jika dibandingkan dengan pasir timbul barusan atau pantai-pantai di pulau terpencil di Belitung. Meskipun yah bersih dan bagus juga karena kan pulau pribadi sehingga terawat. Yang aku suka di pulau ini justru adalah penginapannya di mana ada beberapa yang berwujud rumah pohon.

pulau leebong

Ini seperti kembali ke mimpi masa kecil di mana pengen banget tinggal di rumah pohon biar kayak Tarzan. Yang di Pulau Leebong ini justru lebih keren dari angan-anganku karena mewah dan gede. Ukurannya beneran kayak kamar hotel pada umumnya dengan kasur tebal serta lengkap dengan fasilitas kayak AC dan kamar mandi. Beneran satu kamar hotel diangkut ke atas dahan pohon besar itu menurutku sebuah keajaiban.

leebong island

Fondasinya juga sangat kokoh sehingga gak bakal takut atau terasa goyang. Udah dilengkapi juga dengan balkon buat bengong bengong melihat sang surya terbenam.

Sayangnya, seperti halnya mimpi, rumah kayu ini hanya bisa kufoto karena aku tak kuat membayar penginapan di sini yang per malamnya mulai dari 4jt. Tentu saja aku ngerti kenapa harganya mahal, karena hanya ada beberapa unit rumah pohon. Kalau mau lebih murah, yah ambil yang bungalow biasa namun tentu pengalaman dan kesannya tak akan bisa menandingi rumah pohon tersebut.

leebong belitung

Akhirnya daripada makin mupeng tapi gak kesampaian, kuputuskan cepat-cepat makan siang, setelahnya istirahat sebentar baru melanjutkan perjalanan kembali ke Belitung tanpa sempat lagi mencoba permainan air yang tersedia di sini.

**

Oh bintang laut dan rumah kayu, sedikit banyak mimpi-mimpiku telah terwujud di Pulau Leebong.

Tonton lanjutan tripku hopping island di Belitung

Travel Now or NEVER
8 Responses
  1. ah, rumah pohon. dulu zaman kecil ingin rasanya punya rumah pohon, kini setelah dewasa, setelah tahu banyak hal, malah ngeri kalo membayangkan tinggal di rumah pohon.. ngeri rumahnya makin lama makin tinggi.. 😆

Leave a Reply