Piring Pelepah Pinang dari Palembang

pelepah pinang

Setelah viral Piring Pelepah Pinang dari Jambi, aku mendapat banyak respon baik, termasuk diperkenalkan juga dengan Piring Pelepah Pinang dari Desa Mendis, kecamatan Bayung Lencing, Banyuasin, Palembang yang bernama Plepah.

Sama seperti di Jambi, pelepah pinang saking banyaknya tidak terpakai sehingga cuma dibakar atau dibiarkan begitu saja. Adalah sebuah organisasi yaitu Kelola Sendang – ZSL Indonesia yang lantas memberdayakan masyarakat sekitar untuk memberdayakan pelepah pinang untuk kemashalatan penduduk sekitar. Mereka pun dilatih untuk membuat piring dan mangkuk pelepah pinang dengan merk dagang Plepah.

Saking penasarannya, aku langsung minta tolong dikirimin agar bisa bantu memasarkan produk ini. Karena terus terang saja permintaan akan produk alami dan ramah lingkungan ini sangat tinggi dan boleh dibilang setahuku di Indonesia baru Jambi dan Palembang saja yang bisa memproduksi produk beginian secara mandiri.

Begitu barangnya datang, aku langsung nyoba, dengan makan pempek. Ya lah produk palembang harus dibarengin dengan kuliner lokal juga biar cocok wkwk. Setelah makan dengan rakus beserta cuko, aku cuci. Tampak mang hasil cuko yang hitam itu tidak hilang sepenuhnya. Baunya juga sedikit masih terendus. Aku sih tak masalah, karena doyan.

Percobaan kedua aku bikin bihun kuah untuk mencoba ketahanannya. Piring plepah yang bekas itu pun udah aku jemur. Cuma karena cuaca di Jakarta hujan mulu dan mendung, masih agak lembab sih. Pas aku tumpahin kuah mendidih bihun tersebut, niscaya tidak bocor sama sekali. Namun emang terasa sisi terluar piring mulai lembut. Tapi untuk sekadar makan sampai habis sih tak masalah.

plepah pinang

Karena peruntukan piring ini bukan untuk selamanya dan cuma untuk beberapa kali pakai jika makanan kering. Setelah habis, aku menimbang-nimbang apakah mau dipakai lagi atau tidak. Kalau dari pihak yang bikin, sebenarnya mereka hanya menyarankan sekali pakai untuk makanan kuah panas. Berhubung saat itu mang cuaca jarang panas, akhirnya aku putusin dibuang aja karena piringnya juga udah mleyot plus udah makan sampai 2x.

Kalau untuk makanan kering kayak snack atau kerupuk mah gak perlu cuci tinggal lap aja dan bisa awet lebih lama. Tapi yah balik lagi tiap orang kadang pemakaiannya beda-beda sih. Plus mungkin ada yang sayang langsung dipakai terus buang langsung. Mana bentukannya unik dengan motif yang lucu gini.

Buat yang mau masukin oven juga bisa tahan hingga 200 derajat hingga 45 menit atau kalau masuk microwave bisa tahan hingga 4 menit. Kuat dan anti bocor banget!

Kesimpulan

Produknya sama-sama bagus, berkualitas dan proses pengerjaan hingga bahan baku aku yakin sama dengan yang Jambi. Psst selain di Banyuasin, proyek mereka ini juga ada di Tanjung Jabung Barat Jambi sih jadi yah beneran sama aja. Tinggal pilih sukanya desainnya yang mana satu.

Saat ini tersedia dua jenis :

Piring : 23cm X 23cm X 1.5cm

Kontainer : 20cm X 13cm X 4cm

PLEPAH Pinang palembang

Again, bagi yang mau beli silahkan ke shopee kami yah : https://shopee.co.id/yunn2

atau IG : Piringpinang

Harga : Rp.3.500/buah (Biaya pengiriman ditanggung pembeli).

Saatnya beralih ke piring ramah lingkungan kawan 🙂

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. di Berlin, pirin begini terbuat dari bambu. biasanya juga dipakai sekali terus dibuang. kadang merasa sayang tapi ya gimana, sisa makanan dan bakteri bisa menempel di serat kayu dan justru bikin penyakit

Leave a Reply