Lemang Kantong Semar Yang Tersohor di Lempur – Kerinci

“Ini adalah makanan yang mahal,” kata Bang Wisnu.

Aku melihat ke arah Lemang di plastik itu. Tampak seperti Lemang biasanya : nasi ketan pulen berwarna putih.

“Bukan isinya, tapi bungkusnya,” lanjut Bang Wisnu.

Aku menoleh “kulit” Lemang berwarna ungu yang sudah kusobek-sobek sesaat sebelum mengigiti Lemang itu. Seketika di kepalaku teringat quote “Don’t judge the book by it’s cover”.

Namun kali ini anggapan itu bisa salah besar karena justru yang berharga dari Lemang ini bukan isi dalamnya melainkan luarnya. Lapisan pembungkusnya bukan berasal dari daun melainkan tumbuhan utuh yakni Kantong Semar. Dalam bahasa lokal tumbuhan ini dijuluki dengan Kantong Beruk (monyet).

“Coba kamu googling berapa harga Kantong Semar di online,” Bang Wisnu meyakinkanku.

Tak pakai lama untuk menemukan Kantong Semar ini diperjualbelikan di internet. Ada bibitnya aja, ada tanaman utuh dan ada juga yang gambar Kantong Semarnya sudah layu. Namun yang jelas untuk menghasilkan Lemang Kantong Semar, tentu harus menggunakan Kantong Semar yang baru dipetik dari dahannya agar tetap terjaga kesegarannya.

lemang kantong semar di kerinci
Credit : Hendi Fresco

Awal mulanya, aku tahu tentang kuliner nyeleneh ini dari Anugerah Pesona Indonesia di mana kuliner ini jadi pemenang dalam kategori Makanan Tradisional Terpopuler 2016. Bangga dong yah Jambi menyabet sesuatu di ajang bergengsi Indonesia. Biar jangan sampai ada lagi yang nanya “Jambi itu di mana?”, ” Di jambi ada apa aja?”. Soalnya yang biasa dikenal kan palingan tempoyak atau mpek-mpek atau tekwan model yang bikin aku nagih terus.

Jadi ketika ada agenda ke Kerinci, aku sengaja mampir ke tanah kelahiran kuliner ini yakni di Desa Lekuk 50 Tumbi Lempur atau yang kita singkat aja Lempur, Kerinci. Lempur ini sebuah desa kecil yang menawarkan suasana kampung yang lebih orisinil dibanding berbagai tempat lain di Kerinci yang aku kunjungi misalnya Kayu Aro dan Sungai Penuh. Di sini masih terpampang jelas lumbung padi yang dulu kerap dipakai warga. Selain itu, rumah-rumah lama masih terawat dan berdiri tegak bersisian dengan modernitas. Warga yang tak begitu padat pun membuat mereka saling guyub dan mengenal satu sama lain sehingga kadang kalau udah kenal dikit (meski daku turis), sudah disalam-salamin dan dipanggil tiap lewat. Ah jadi berasa kampung sendiri nih!

Lempur juga dikenal sebagai desa wisata yang merupakan gerbang masuk menuju 5 danau kece di Kerinci, salah satunya Danau Kaco. Padahal yah aku tuh ditantangin untuk trekking masuk hutan 4 jam menembus pacet demi liat Danau Kaco yang mirip Labuan Cermin ini. Tapi apa daya aku jompo dan tak sanggup. Sebagai gantinya aku memilih berkunjung ke danau yang paling mudah dicapai dan juga merupakan habitat dari Kantong Semar, yakni Danau Lingkat.

danau lingkat

Dari Lempur, palingan hanya butuh 15 menit untuk ke sini dan bisa dilalui dengan kendaraan. Berhubung di area ini ada rumah penduduk yang mengurusi dan membuat sedikit fasilitas untuk para pengunjung, maka dikenakan retribusi Rp.5.000/orang. Tentu tidak masalah, yang penting bisa menikmati suasana sepi dengan damai dan aman.

Puas mengamati danau, aku dan temanku, Jeffry, memulai perburuan Kantong Semar. Kami mencari di pinggir-pinggir danau yang telah menjadi rawa, namun pijakannya sangat rapuh dan goyang seperti rawa hisap, terlebih ketika kami berjalan hanya berjarak satu meter dari pinggir danau. Aku parno banget sampai mikir gimana kalau aku kejeblos masuk danau lalu nyangkut dan gak bisa timbul lagi. Hiiii~~

kaki masuk rawa

Kami terus berjalan sambil nengok kanan kiri namun hanya berhasil melihat satu Kantong Semar kecil banget di bawah. Tak lama aku menyadari ada tiga orang anak (anak-anak pemilik rumah) yang ternyata mengekor. Kami bertanya apakah mereka tahu di mana letak Kantong Semar. Mereka pun langsung masuk ke dalam semak-semak lebih dalam. Dari sana mereka berteriak-teriak bahwa mereka telah menemukannya.

Ha? secepat itu? jadi untuk apa kami jalan jauh-jauh kalau ternyata ada di dalam semak? Itulah kenapa kita harus bertanya pada orang lokal. Pastinya semak belukar ini sudah jadi tempat main sehari-hari bocah-bocah ini. Di usia mereka ini, memang sudah seharusnya mereka mengeksplorasi dunianya sebelum tenggelam dalam dunia gadget.

danau lingkat

Masuk ke dalam semak belukar sedikit susah karena banyak ranting menghalangi sehingga tidak jarang aku harus sampai jongkok agar bisa lewat. Namun benar kata adik tersebut, semakin dalam semakin banyak kutemukan harta karun. Berbagai ukuran Kantong Semar tumbuh subur di batang maupun di bawah tanah. Bahkan yang paling besar ada yang segede aqua gelas gitu. Kupegang-pegang, lapisan luar tanaman ini sangat lembut dan elastis macam plastik sedangkan di beberapa bagian tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kantong Semar dikenal karnivora karena jikalau ada serangga yang masuk, niscaya serangga itu akan meregang nyawa karena Kantong Semang bakalan mengeluarkan cairan khusus yang mematikan hewan tersebut. Kabarnya hal ini karena si Kantong Semar membutuhkan gizi berupa nitrogen dan fosfor yang bisa didapatkan dari serangga-serangga tersebut. Nah tapi kalau air yang masuk, juga bakal tidak semudah itu pula keluarnya soalnya di bagian atas (bibir) Kantong Semar itu ada lipatan yang menghalangi air tumpah.

Hebat juga ciptaan Tuhan satu ini.

kantong semar

Ketika memetiknya ada sedikit dilema karena setahuku tumbuhan ini sebenarnya masuk dalam kategori langka. Namun di sini si krucil-krucil tadi bahkan memetik hingga satu kantong plastik atas permintaan seorang ibu. Konon Kantong Semar tersebut akan digunakan untuk menyembuhkan penyakit salah seorang anggota keluarga ibu itu.

“Moodnyo dak tentu,” begitu ketika kutanya jenis penyakit apa yang sedang keluarga ibu tersebut hadapi. Kalau untuk makanan sendiri, Kantong Semar belum ada yang menguji khasiatnya. Yang jelas aku makan sih enak-enak aja dan gak sakit serta bisa menyembuhkan penyakit jenis kelaparan akut. Jadi aku mah santai aja. Lagian sebelum dimasak, Kantong Semar akan dicuci lalu barulah ketan dimasukkan hingga penuh. Setelah itu tinggal mengukusnya dengan santan. Lemang Kantong Semar pun siap dihidangkan dan sangat praktis dibawa sebagai bekal. Yah macam onigiri Jepang deh jadinya. Untuk menambah cita rasa, Lemang ini dipadankan dengan kuah srikaya. Namun kalau aku lebih doyan makan gitu aja karena sudah manis kok.

Lemang Kantong Semar

Tradisi makan Lemang Kantong Semar hanya ada ketika saat Ramadhan atau Kenduri Adat. Makanya ketika di Lempur aku tanya-tanya di mana ada orang jual ini, ternyata enggak ada yang jual. Padahal sebenarnya masaknya simpel tapi mang bukan makanan tiap hari kecuali ada yang mesen. Akhirnya aku justru berhasil makan ketika di Sungai Penuh di kampus STIE Sakti Alam Kerinci berkat seorang dosen yang mengabari bahwa di kantin kampus ada yang berjualan. Senang banget. Langsung bisa dibawa balik ke Jambi buat makan di jalan hehe.

Kuliner ini bukan tanpa kontroversi karena beberapa pihak concern akan keberlangsungan tumbuhan ini. Tapi tenang saja tumbuhan ini cukup banyak ditemui di rawa, danau dan hutan di Lempur. Bahkan katanya sudah ada ditemukan beberapa spesies baru Kantong Semar di area Taman Nasional Kerinci Seblat. Sedangkan orang lokal yang aku tanyain pendapatnya bilang mereka sama sekali tidak mengkhawatirkan isu ini karena pada prakteknya sejak zaman dahulu kala tradisi ini sudah ada dan tidak pernah mereka kehabisan stok Kantong Semar. Pun kalau tidak diambil, Kantong Semar tersebut akan segera layu juga. Namun sebagai langkah ke depannya, rencananya Lempur akan menargetkan tiap rumah untuk menanam tanaman ini di pot masing-masing agar tidak punah dan kalau ada acara, tidak perlu harus berjibaku mencari hingga ke Danau Lingkat.

genus nephenthes

Kalau teman-teman gimana setuju gak? Penasaran akan makanan ini?

Ohya Kantong Semar ini sungguh unik sehingga juga dijadikan salah satu motif batik khas Kerinci loh!

Travel Now or NEVER
6 Responses

Leave a Reply