Konservasi Bekantan Tarakan

bekantan di tarakan

Bekantan adalah tujuan utamaku ketika menyambangi Tarakan, Kalimantan Utara. Sebelumnya aku udah sempat liat Bekantan, tapi pas susur sungai di Tanjung Puting dulu. Itupun liatnya dari jauh karena dia di atas pohon dan hanya sekilas doang liat icon-nya Dufan ini. Lalu berikutnya aku udah pernah liat saudaranya, si Yaki di Bitung. Namun bedanya dari semua itu, kalau liat Bekantan di Tarakan ini enaknya adalah gak perlu masuk rimba atau trekking jauh karena lokasi konservasinya ada di pusat kota Tarakan yakni di Hutan Mangrove-nya.

Bekantan Tarakan

Bagong dan Franky adalah generasi pertama Bekantan di Kawasan Mangrove. Setelah itu, mereka beranak pinak hingga sekarang jumlah Bekantan yang ada di sini sebanyak 59 ekor. Area ini dikuasai oleh dua kelompok yakni Mikael dan John. Area konservasi ini awalnya adalah hasil tangan dingin manusia alias ditanami mangrove lalu Bekantannya diambil dari daerah lain. Tujuannya selain untuk melestarikan hewan langka khas Kalimantan ini, konservasi ini juga dimaksudkan biar anak-anak lokal mengenal ikon dari Tarakan. Berhubung tempatnya bagus, kini turis-turis juga gak mau ketinggalan mampir ke sini.

Aku aja sampai dua kali ke sini. Kali pertama abis sholat Jumat, ditemani bapak-bapak bawa tongkat kayu. Karena sudah bukan jam feeding session mereka, si bapak guide membawa setandan pisang hijau buat mancing Bekantan buat keluar. Kami pun mengikuti si bapak yang sepertinya paham betul area seluas kurang lebih 4 hektar ini bak halaman belakang rumahnya. Dia menggiring kami menyusuri jembatan kayu hingga akhirnya tak lama sekawanan Bekantan pun mulai berdatangan.

bekantan di tarakan

Dari jarak beberapa meter, si bapak mulai melempari beberapa buah pisang. Bekantan yang aslinya hewan pemalu ini tampak sudah terbiasa diberi makan pisang sehingga tidak menjauh ketika aku rekam. Namun kalau berusaha mendekat, biasanya mereka kabur ke arah mangrove atau naik ke pohon. Mereka juga biasanya selalu bergerombol dengan satu orang pejantan yang menjadi ketua geng. Menurut info si Bapak, ketua geng yang aku jumpai itu adalah si Mikael, 13 tahun. Aku liat dari bentuk badannya, emang dia yang paling bongsor dengan hidungnya yang besar. Untuk memperebutkan wilayah kekuasaan, para pejantan Bekantan harus berperang satu sama lain. Kabarnya kalau Bekantan sudah perang, ngeri loh. Bisa ampe tutup kawasan ini karena bakal riuh. Bagi yang menang, dapat memiliki kawasan itu beserta deretan para betinanya. Duh poligami nih Bekantan..

Bagi yang kalah, harus menyingkir dan mencari area baru. Tapi kabarnya, ada juga pejantan yang kalah lalu merasa depresi. Tak mau makan dan tak punya semangat hidup lalu tutup usia. Hiks!

Terus diceritain juga Bekantan juga bisa saling membully. Jadi dulu ada seekor Bekantan betina bernama Goldy. Kalau Bekantan lain biasanya bulunya oranye, si Goldy bulunya emas, makanya diberi nama seperti itu. Karena kecantikannya ini, dia tak dapat masuk ke grup manapun sehingga acapkali menyendiri. Karena menunjukkan tanda-tanda yang sudah tidak baik ketika masa kecil ini, dia pun dikarantina di luar. Setelah dirasa sudah stabil dan sudah cukup dewasa, Goldy dilepas di alam bebas dengan harapan dia dapat bersinar di tempat barunya. Susah yah. Terlalu cakep, dibully. terlalu jelek, dinyinyirin. Persis deh manusia.

Eeeekkk….eeeekkkk (begitu suara khas Bekantan).

mangrove tarakan

Lalu sewaktu itu, kebetulan rata-rata Bekantan lakinya lagi pada ngacengan dan keliatan deh penisnya warna merah muda. Lucunya justru buah zakarnya hitam yah gak ikutan pink jadi kalau dari jauh beneran terlihat seperti sosis tumbuh. Nih aku kasih liat punya Mikael, si jagoan.

bekantan

Kali kedua aku ke sini, sabtu pagi niatnya mau liat feeding session. Eh gak taunya lagi rame karena banyak anak SD darmawisata. Mereka menggambar di sepanjang jembatan kayu dan beberapa bahkan menggambar di depan tempat pemberian makan. Aku perhatiin kalau kita kan biasanya gambar itu pakemnya dua gunung, matahari di tengah, sawah kiri kanan karena kebanyakan tinggal di kontur alam yang seperti itu. Tapi anak-anak ini pas di sini gambarnya jembatan, monyet di pohon dan rumah. Cukup bervariasi dibanding gambarku dulu HAHA!

Berhubung suasana mangrove lagi rame, niscaya aku hanya ngeliat satu doang Bekantan, jauh di atas pohon karena mereka cukup sensitif sama manusia. Karena gak nemu yang lainnya, aku pergi ngeliat ke area belakang konservasi di mana banyak pohon yang ada daun Prefat, yang harus dikonsumsi oleh Bekantan. Meski mereka makannya pucuk bakau, pisang, tapi mereka juga kudu makan daun ini kalau gak bisa sakit perut terus mati. Tumbuhan ini sepertinya cuma hidup di mangrove Kalimantan. Ini aku ambil yang udah menguning. Aslinya warna hijau gitu.

daun prefat

Selain Bekantan, di sini juga bisa liat beberapa kera, ikan, kepiting, kadal dll. Yah namanya juga alam bebas. Lumayan banget sih buat aku nyuci paru-paru. Tapi sebelnya kalau pas ketemu orang yang ngerokok di area ini, langsung semaput deh jadinya 🙁

Semoga ada larangan juga buat kaum ngebul ini.

Lestari terus Bekantan dan seisi penghuni mangrove.

Hutan mangrove

Harga Tiket : Dewasa Rp.5.000 | Anak-Anak : Rp.3.000| Turis Asing : Rp.50.000

Feeding Session : Jam 8 & 5 Sore

Travel Now or NEVER
2 Responses

Leave a Reply