Kisah & Cerita Cinta Beda Agama

beda agama

Kalau dihitung, sepertinya terakhir kali aku pacaran dengan pria yang sama-sama Tionghoa itu adalah pas kuliah. Setelah itu gak pernah lagi sama yang chinese. Tapi kalau aku tilik jauh ke belakang, sepertinya dari kecil pun aku lebih dekat dan mulai mengenal cinta itu pada pria-pria non-chinese, yah entah itu kristen, islam ataupun Buddha. Iya dulu SD aku naksir guru Agama Buddha ku yang notabane mas-mas Jowo gitu. Entahlah emang aku dibanding sodara-sodaraku itu sangat beda, termasuk soal percintaan. Aku lebih dekat ke pribumi, istilah kasarnya. Namun sebenarnya bagiku itu gak ada cinta beda agama, karena aku sendiri gak punya agama. Kalau ngikut tradisi keluarga, kami itu masih pakai aliran kepercayaan Konghucu, jadi bukan Buddha juga sih.

Cuma kalau keluargaku pribadi masih saklek, harus sama yang sesama Tionghoa gitu, walaupun kristen, Tao, Konghucu dll. Sayangnya soal hati ini kadang gak bisa dikompromi. Pernah dulu aku coba infoin soal mantanku ke keluarga. Langsung dilarang keras sih malah diancam bakal dicoret dari kartu keluarga. Yha segitunya mereka gak mau menerima perbedaan. Padahal pas aku pacaran dengan yang beda agama, rasa-rasanya jarang sih ribut soal agama. Mungkin kebetulan yang dekat sama aku juga tipikal yang kayak aku, tidak religius alias agama di KTP buat formalitas aja. Jadinya agama buat kami bukan penentu buat sebuah hubungan. Mau satu iman dan satu tuhan pun, kalau hati dan visi misi menjalankan hubungan tidak sama, yah tinggal nunggu waktu juga buat ambyar.

Aku penasaran soal beda agama ini karena jujur belum terlalu banyak pastinya yang aku lihat pasangan seperti ini. Jadilah aku iseng bikin polling dan tanya-tanya di instor. Dari hasil polling, terjawablah 57 orang mau nikah beda agama, sedang 39 bilang emoh. Ini testimoni mereka yah :

Cerita 1 

Cerita 2

Cerita 3

Cerita 4

Terakhir ada yang ngasih petuah nih :

Sejauh ini emang aku gak membatasi sih soal preferensi pria. Mau beda usia jauh juga OK, beda agama gpp, sing penting lebih ke bisa cocok gak. Itu aja dulu lah karena agama bagiku bukan hal fundamental. Itu urusan masing-masing aja. Yang penting bagaimana prakteknya ia bisa memanusiakan manusia dan cara ia memperlakukan aku yang jadi fokus utamanya, seperti kata yang satu ini :

Hayo ada yang mau curcol kisah beda agamanya?

**

NEXT : Mall Ashta baru di SCBD. Ada Rooftop dan balkoninya keren dengan view gedung pencakar langit.

Next Taco Bell pertama di Indonesia

 

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply