Cerita Berak di Alam Paling Absurd

berak di alam

Yep ini absurd banget deh ceritanya, tapi kalau diingat lagi yah ngakak banget. Uniknya, kejadian ini pas waktu di USA tepatnya di Arizona ketika nginap di rumah suku Indian yang jauh dari peradaban. Gak ada internet, sinyal, listrik bahkan air juga harus beli ke kota. Ya sallam. Kebetulan area ini emang di gurun jadi kering, gak ada pepohonan ijo-ijo royo dan sepanjang mata memandang kosong tak ada apa-apa gitu, hingga aku kira bumi itu beneran flat bentuknya, bukan bulat. Selama 3 hari di sana, aku gak bisa berak, apalagi cuma ada satu bilik WC dari kayu yang diletakin di luar tanpa pengunci.

Bilik WC ini sih lebih tepatnya bangunan ala kadar dari kayu buat nutupin dua wc duduk. Di bawahnya sebuah lobang menganga lebar dan hanya ditutupi kayu. Di situlah semua kotoran cair maupun padat ditampung. Jikalau penuh, tinggal bongkar bilik dan pindah. Gali lobang tutup lobang saja. Oleh karena itu, tak heran dari jarak 5 meter saja, aroma yang telah terpendam entah berapa lama itu menguar ke segala penjuru. Buatku, kadang kalau itu taik orang Indonesia, yah aku agak bisa tolerir karena well secara makanan kita kan mirip jadi aromanya 11 12 lah. Nah kalau ini taik dari berapa negara, suku, dan ras terkumpul jadi satu gado-gado. Habis makan kari, tacos, burger, minum alkohol makan ganja, semua bersatu padu menciptakan bau mematikan.

navajo toilet

Kalau mau masuk, aku harus mengambil napas dalam-dalam dulu lalu lari ke bilik tersebut dan menyemprot pengharum ruangan. Setelah itu, aku lari lagi keluar mengambil napas dan bersyukur tidak pingsan. Setelah 5 menit, aku mendekat ke bilik itu. Baunya makin tak karuan saja. Jalan terakhir pun aku gunakan ; olesin minyak kayu putih di hidung. Sebelum wangi minyak kayu putih tersebut menguap, aku lari lagi ke bilik itu dan duduk di toilet tersebut. Aku masih tak habis pikir kenapa WCnya dibikin dua biji. Apakah mereka harus berak barengan gitu biar ada teman ngobrol?

Secepat mungkin aku berusaha menguras isi kantong kemihku, namun karena sudah ditahan sejak tadi, yang ada pipisnya pelan banget. DAMN! Aku berupaya tetap namaste meski pengen muntah. Apalagi kalau bola mata tak sengaja melirik ke bawah dan terlihatlah tokai berceceran dengan aneka rupa, bentuk, tekstur dan warna. Rasanya gelisah banget kebayang misalnya ada lalat dari taik itu naik ke atas dan hinggap di buritku. Atau aku ngebayangin cacing, belatung dan berbagai mikroorganisme lainnya sedang bekerja mengurai kotoran manusia. Auto drop napsu makan shay~~~

WC horor ini begitu membekas dan bikin trauma sehingga aku cuma mau ke WC sekali doang di tengah hari. Ketika udah gelap, barulah aku berani pipis di alam terbuka. Yup santai aja karena gak ada orang sama sekali. Tapi karena saking kosongnya, gak ada pohon satupun buat nutup. Jadilah aku ma temenku gantian pipis di dekat tanaman sayur. Hitung-hitung kasih nutrisi… padahal besoknya kami makan hasil kebun itu juga.

Di malam terakhir, temenku mau berak dan dia ngajak aku. Aku sebenarnya gak bisa berak kalau bukan di tempat sendiri, apalagi dengan kondisi serba gak nyaman kayak gini. Tapi emang perutku udah buncit banget kek orang hamil 3 bulan sehingga kuputuskan yah sudah coba aja deh sapa tau bisa eek. Di luar sudah gelap gulita dan kami bawa perlengkapan segala macam seperti senter, serokan tanah, tisu dan aku bawa air dalam botol buat cebok. Temenku sih bukan orang Indo jadi berak dia cuma pake tisu aja ceboknya. Kami tentu aja gak mau berak di bilik WC super bau itu. Kami beraknya yah di area terbuka tapi agak jauhan dari rumah. Suasananya gelap-gelapan dan kami berjarak 4-5 m lah buat privasi.

api unggun

Kuliat dia udah melorotin celana dan jongkok. Khusyuk sekali. Sedangkan aku, gak konsen. Iya eekku itu harus pake fokus tingkat tinggi. Jadilah aku cuma liatin langit malam itu. Terpekur aku melihat bintang-bintang kecil yang kelap-kelip menghiasi angkasa. Indah banget membuatku terpana sampai lupa bahwa selangkangan mulai semriwing terkena angin malam. Seperti dugaan, aku cuma bisa pipis tapi duburku menolak mengeluarkan taik-taik ini. Beda halnya dengan temanku yang dengan mudahnya udah selesai boker. Dia minta dilemparkan tisu gulung yang aku pegang. Aku pun menurutinya.

Tapi dasar apes, tiba-tiba entah dari mana, angin berhembus menerbangkan tisu tersebut. Gulungan tisu itu terlempar ke belakang kami dan menggelinding. Di tengah kegelapan, warna putih tisu itu seperti “berjalan”. Temanku panik, namun tak bisa beranjak dari lobangnya. Aku ikutan panik dan segera menarik kolorku dan mengejar tisu itu sebelum hilang.

Jika dari kejauhan teman kami lewat, mungkin dia akan keheranan melihat aku teriak-teriak mengejar sesuatu yang putih-putih dan melayang-layang. Pasti sekilas terlihat menyeramkan seperti mbak Kunti. Entah berapa meter tisu itu terurai dari gulungannya sebelum akhirnya aku berhasil menangkapnya. Napasku jadi ngos-ngosan. Berak tak bisa, tapi malah harus mengejar tisu sialan ini.

Aku segera memberikannya ke temanku yang masih tak berdaya dengan posisi jongkok dan pantatnya yang telanjang terekspos dengan vulgar. Cuma aku berusaha agak menjauh sehingga tidak harus melihat hal yang tak ingin kulihat. Dia mulai cebok dan setelah itu mengubur tisu bekasnya bersamaan dengan kotorannya. Dengan sekop kecil, ia mengambil tanah dan menguburkannya lagi “hidden gem” itu. Semoga saja harta karun itu tak pernah diketahui siapapun. Aku juga berdoa semoga anjing peliharaan tidak mengendus jejaknya dan mengorek-ngoreknya ke permukaan.

In the end, aku tetap tak bisa berak selama di sana. Ketika kami pulang dan di jalan berhenti di minimarket, barulah aku bisa berak di WC modern. Ada AC, pintu dikunci, dudukan toilet yang dilapisi tisu dan air bergalon-galon untuk meluluhlantakkan kotoranku yang keras. Kalau dihitung ada kali 4-5 hari aku gak BAB. Aku di toilet itu ada kali setengah jam sampai pegel buat menguras semua isi perut yang sudah mau meledak ini.

Fiuh…. yang penting jangan sampai wasir deh. KAPOK!

Anyway, toilet jenis ini ternyata aku ketemu lagi pas hiking. Mereka nyediaiin toilet bentukanny duduk tapi lobangnya segede gaban dan lagi-lagi gak ada air demi ramah lingkungan. Semua taik dan tisu-tisu bekas lap pantat itupun sekali lagi membayangiku. Aku seperti de javu.

toilet

Kalian punya cerita aneh apa soal berak di alam? Komen yak!

**

Next : Kolonoskopi alias masukin kamera ke dubur gegara berak berdarah

Travel Now or NEVER

Leave a Reply