Buton Tengah : Negeri Seribu Gua!

buton tengah

Gua di Indonesia itu banyak, namun hanya di Buton Tengah lah daerah yang punya “seribu gua”. Hamparan gua – gua tersebut memiliki keunikan yang beda-beda. Ada yang kering, ada juga yang berada di bawah laut. Ada yang jauhnya menembus rimba, kudu manjat tebing dulu, tapi ada juga yang tinggal jalan tangga dikit sudah bisa nyebur. Paket komplitlah! Mulai dari pemula dan gak mau capek (kayak daku) hingga tingkat advance yang membutuhkan keahlian dan nyali besar, semua ada di Buteng.

Hampir seminggu di Buton Tengah, hanya beberapa gua terbaik yang sempat aku telusuri. Saking banyaknya gua – gua, gua sempat mikir jangan-jangan sebenarnya semua gua itu terkoneksi sambung menyambung menjadi satu, cuma belum sempat dibuka aja jalannya. Kalau beneran begitu, pasti seru banget berasa ada dunia lain di bawah tanah.

Nah biar gak bingung harus ke gua mana, aku kasih rekomendasi ini yah :

Gua Maobu

Gua ini adalah obyek wisata pertama yang kudatangi. Hari pertama, semangat masih menggebu dan ternyata lokasinya persis di samping jalan. Akses udah bagus, ada tangga dan langsung terlihat deh sebuah lobang mengangga setengah terbuka. Air jernih berwarna biru di dalam kolam diperkirakan memiliki dalam yang bervariasi, antara 3-8 meter. Semakin gelap airnya, pertanda semakin dalam. Tak lama beberapa bocah anak sekolah lewat. Kami memanggilnya dan mengajaknya mandi-mandi. Lebih tepatnya sih menyuruh mereka melompat dari atas tebing demi bisa dapet foto dan video ciamik. Lagian kebanyakan dari kami gak ada yang berani terjun karena udah jompo. Jadi biarlah darah muda Buteng ini saja yang beraksi.

gua maobu

Bisik-bisik, katanya ini merupakan salah satu gua yang paling bagus buat direnangi dengan akses paling mudah. Terus karena ngeliat bocah-bocah yang bahagia banget main air, maka aku pun tergoda untuk coba berenang. Awalnya aku males karena kukira bakal dingin, apalagi pas itu Buteng memang lagi adem karena hujan mulu. Eh tapi pas udah nyebur, airnya tak bikin menggigil. Malahan cukup hangat, mungkin karena lokasinya terpapar matahari langsung.

Kalau pas lagi capek, ada beberapa batu yang bisa dijadikan pijakan di tengah atau agak minggir ke samping gua. Menurut pengakuan para bocah, biasanya kalau minggu pemandian Maobu ini rame dan bakal ada yang minta duit masuk. Tapi kalau hari biasa gini sepi sehingga kami beruntung bisa menikmati sepuasnya.

goa di buteng

Gua Koo

Bacanya Gua Khoooooooooooo…..

Lokasinya tak jauh dari Gua Maobu. Cuma inilah yang bikin aku takjub dengan Buteng. Guanya bentuknya mulai dari kecil hingga raksasa, ada semua termasuk ini. Kalau boleh jujur, mungkin ini gak mirip gua karena luas banget bund dan terbuka mengangga lebar. Tapi pas turun trekking terlihat sih di satu sisi banyak staklaktit gitu. Terus barulah di bawah sana terlihat dua kolam air biru yang bentuknya mirip paru-paru. Koo sendiri dalam bahasa lokal berarti hutan. Jadi kalau melihat lanskap gua yang dipenuhi hutan ini, aku langsung menganggap bahwa tempat ini adalah paru-paru Buteng. Udaranya emang segar bukan buatan. Mau itu mata, hidung, semua organ tubuhku berasa mendapat kesegaran hakiki.

gua koo

Mata air di Gua Koo ini adalah sumber air minum buat masyarakat. Kalau dulunya bisa berenang di bawah, sekarang sudah tidak boleh lagi. MANTAP~ lagian aku juga bingung kalau mau berenang lewat mana kah? Secara akses ke bawah langsung jurang gitu.

Gua Kotaeno (Rahia)

Nah ini juga lebih lagi tak mirip gua, karena menyerupai laguna yang terbuka atasnya dan terapit dinding tebing. Tidak terlalu luas hanya lurus mentok buntu gitu, namun airnya dari kejauhan saja sudah terlihat jernih. Berhubung banyak wisatawan, maka dibuatlah dua perahu yang mengantarkan turis bolak balik ke ujungnya.

gua rahia

Gua Bidadari

Coba liat gambar ini, udah mirip bidadari penunggu goa belum?

gua bidadari

Sewaktu nyampe di sini, banyak yang mengamini bahwa gua ini mirip dengan Gua Mabala yang ada di Sabu, NTT karena sama sama ada sebuah lobang besar di atas di mana ada cahaya matahari masuk. Cuma bedanya di sini karena lembab, ada tanaman sedikit. Terus luasnya lebih besar di sini plus ada kolam air. Pas aku nyebur, eh buset dinginnya melebihi Goa Maobu. Mungkin karena lokasinya yang lumayan masuk dalam, jadi airnya lebih dingin dan gelap. Dalamnya paling dua meteran gitu tapi seger banget habis nyemplung-nyemplung gitu. Lihat tuh jernihnya ampe kakiku yang kapalan keliatan kan?

gua di buton

Gua Loba-Loba

Ini gua paling unik kayaknya karena terletak di bawah laut. Jadi dari pelabuhan, kami harus nyewa kapal buat ke gua Loba-Loba ini. Lokasinya berada dekat tebing gitu dan adanya di kedalaman sekitar 30m. Butuh waktu sekitar hampir sejam lah bolak balik menelusuri gua ini.

Dari kapal aku mendongakkan kepala, dan emang keliatan ada semacam lobang menganga gitu. Nah itulah pintu masuk si gua. Tapi yang bakal cave diving ini adalah Tracy, karena dia emang seorang penyelam. Aku dan temanku yang lain menunggui Tracy dengan snorkeling di sekitar. Saat itu ombaknya emang lumayan kencang namun airnya masih cukup jernih dengan beberapa spot karang dan ikan yang untungnya masih keliatan.

Menurut Tracy, gua nya bagus banget dan ini pengalaman pertamanya dan ia jatuh hati! Aku hanya bisa membayangkan keindahan gua di dasar tersebut melalui cuplikan videonya saja. Namun hari itu, harusnya ada 2 sesi cave diving namun setelah makan siang dan dicoba, ternyata di bawah gelap karena hari cenderung mendung sehingga tak banyak yang terlihat.

Gua La Umehe

Sebenarnya gua ini belum dibuka buat publik. Yah jangankan itu, akses masuknya aja masih ketutup rerimbunan hutan. Beneran dah kalau gak ada guide lokal, mana mungkin tahu. Jalannya juga masih off road banget dan kudu nembus semak belukar. Jalanan tanahnya cuma dikit, sisanya batu karang tajam yang menjadi ciri khas di Buteng ini. Sepanjang jalan aku kudu hati-hati banget karena tanamannya yang atau ranting pohon gitu banyak yang berduri sehingga tak sedikit dari kami yang kakinya jadi korban ketajaman duri ini. Jadilah jalan kaki sekitar setengah jam ini berasa panjang banget. Mana ditambah udara lembab banget sehingga keringetan parah. Mau berhenti tapi takut ada lintah atau semut apinya yang merah dan gede banget!

Untungnya sebelum daku menyerah, kami tiba juga di mulut gua. Guide kami, bnag Sukli udah nenteng berbagai jenis head lamp dan senter. Beda dengan gua-gua yang dikunjungi sebelumnya, ini harus banget ada penerangan. Meski siang itu matahari bersinar terik, namun cahayanya kesulitan menembus pekatnya semak belukar ini. Mana posisi gua itu turun ke bawah curam menjorok ke dasar bumi.

gua la umehe

Dari mulut gua jika tidak disenteri, praktis hanya kegelapan yang terpampang. Berhubung hanya ada beberapa senter, aku pun cuma bisa meraba dan mengekor temenku yang bawa senter atau pake lampu HP. Kalau gak gitu, gak bisa liat apa-apa. Aura gua yang dingin lumayan bikin horor ditambah jalan turunannya yang bertanah licin. Baru turun sebentar, kami menemui cerukan gua yang lebih besar lagi di bawah sana. Sayangnya akses ke bawah sangat memprihatinkan, cuma ada tali rafia dan sisanya koprol sendiri alias manjat-manjat sendiri.

Melihat kondisi itu plus tidak ada dari kami yang punya pengalaman soal gua, kami memilih mundur dan pulang aja. Keselamatan jauh lebih prioritas.

Padahal andai kata gua ini ada penjaganya yang menyediakan safety gear, pasti menyenangkan sekali bisa blusukan di dalam. Tapi ya sudahlah mending nikmati aja stalaktiknya yang besar-gede serta dekat pintu masuk ada semacam batu yang kalau diliat ada glitter kelap kelip. Semacam glow in the dark ngono loh.

goa di buton

So far, hanya di Buton Tengah inilah aku punya pengalaman susur gua yang fantastis dengan beraneka macam karakteristik. Ini baru segelintir aja sudah W-O-W loh. Padahal diperkirakan ada lebih dari 200 gua di kabupaten ini. Sisanya, hanya menunggu waktu untuk ditemukan dan dijelajahi.

Buton Tengah, Negeri Seribu Goa

Tonton video perjalananku ke Buteng :

Selama di Buteng, aku pake OOTD dari Lois Jeans soalnya cuaca di sana lagi gak jelas. Awal datang adem mulu dan hujan. Menjelang pertengahan, panas menjadi-jadi. Terakhir, malah hujan terus ampe cuma mondok di hotel doang. Oleh karena itu, ketolong banget pake kaos oversized Lois yang tebal dan gampang buat mix n match di berbagai kondisi. Celananya jeans aku cari yang longgar model boyfriend jeans gitu dengan desain koyak-koyak seperti nganu.. hatiku. Modelnya high rise se-udel gitu sehingga lega pakenya dan bisa leluasa jongkok atau kayang. Favoritku banget deh dua ini. Level kecantikannya kayaknya naik 11% jadinya. Ye gak?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Lenny Lim (@lenny.diary)

Travel Now or NEVER

Leave a Reply