3 Kebaikan Belanja di Toko Kelontong

toko kelontong

Toko Anisa.

“Neeeekkkkkkkkkkkkkk….”

Teriakan lengking dengan logat Sumatera-ku membangunkan raga Nek Giem, 70-an tahun. Ia buru-buru berdiri menyambutku.

“Beli telor dua biji.”

“Gak usah pakai kresek..” lanjutku mengingatkan.

Sebenarnya nenek sudah kadung hapal kelakuan pembelinya satu ini.

Telor dimasukin ke tas sendiri. Malahan kadang ku tenteng hingga ke kosan.

Soalnya aku pasti misuh-misuh jika belanjaanku diberi plastik. Awal mula ketika aku memperkenalkan konsep ramah lingkungan ini, si nenek selalu bingung kenapa aku tak pernah mau menerima kantong plastik hitam darinya. Udah “dipaksa” dimasukin barangnya pun, tetap saja ujung-ujungnya aku kembalikan lagi.

Namun setelah hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, nenek melunak dan paham kemauanku.

kelontong

Toko Anisa.

Awal mulanya, anak Nenek Giem membuka usaha makanan. Namun jikakalau apes, dagangannya tak habis dan ia pun sedih. Oleh karena itu, usaha pun dialihkan menjadi toko kelontong saja di tahun 2008. Nama Anisa diambil dari cucu pertama Nenek Giem. Hingga sekarang kulihat cucu-cucu Nenek Giem sudah dewasa.

Nenek Giem tetap melanjutkan hidupnya dengan riang gembira di toko yang menyatu dengan rumah keluarga ini. Tokonya yang cuma sepetak ini adalah penyejuk bagiku ; Seorang gadis kampung yang lahir dari keluarga pedagang juga seperti Nek Giem. Jauh di perantauan dan seorang diri, aku bisa menemukan partikel-partikel “rumah” dan setangkup kenyamanan manakala berbelanja di toko kelontong.

Meski supermarket dan aneka toko lainnya menawarkan tempat yang lebih modern, bersih dengan iming-iming pembayaran yang fleksibel dan cashback yang menggila, namun hadirnya toko kelontong seperti ini harus tetap abadi untuk mempertahankan nila-nilai sosial dan budaya seperti ini.

Memajukan Ekonomi Masyarakat Secara Langsung

Tak seperti halnya warung waralaba atau supermarket lainnya, Toko Anisa dan sejenisnya kebanyakan adalah usaha rumahan. Setiap receh yang didapatkan ketika tutup buku hari itu tak lain adalah untuk memperpanjang hidup Nek Giem dan keluarga. Jadi bayangkan kalau sampai ada yang dzolim, ngutang, dan kas bon. Kacaulah sudah cashflow toko.

Hadirnya Toko Anisa juga turut meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Setiap pagi, paling tidak ada dua pedagang yang lewat dan numpang berjualan di sekitar toko ini. Seperti halnya pagi itu, aku membeli nasi uduk dan gorengan ala kadarnya dari seorang mbah yang menawarkan bakulannya yang ia gendong ke mana-mana dengan kain jarik cokelatnya.

Aku memanggilnya. Si mbah pun bisa mengistirahatkan punggungnya dan meletakkan jualannya barang sebentar. Tak lama kami berbincang di depan toko, pembeli baru lainnya mulai berdatangan hingga si mbah tak punya kembalian. Mbah pun berinisiatif menukar uang kecil ke Nek Giem. Namun rata-rata pembeli mencegahnya dan merelakan uang seribu itu untuk si mbah saja.

Mudah-mudahan lancarnya rezeki yang didapatkan si mbah akan membuat rezeki Nek Giem menjadi barokah.

gorengan

Sentra Segala Macam

Di mana lagi bisa membeli pembalut satuan? Minyak tawon Makasar? Sisir kutu? Hingga jajanan jadul yang sudah tak beredar lagi di supermarket besar? Setidaknya itu yang bisa diharapkan dari toko kelontong. Ada-ada saja isinya sehingga pengalaman berbelanja terasa berbeda.

Selain itu, Toko Anisa adalah jawaban bagi anak kos yang malas berbelanja bulanan seperti aku. Setiap kekurangan telor untuk memasak mi rebus, bayang-bayang wajah Nek Giem langsung hadir di benakku. Pun ketika bingung beras apa yang enak, aku cukup bertanya ke Nek Giem dan ia langsung memberikan rekomendasi.

“Beras Petruk. Nenek juga makan yang ini.”

Sayangnya sekarung beras tersebut diletakkan di dalam toko yang tak bisa aku capai. Kalau tidak pastilah aku lebih sering mampir ke Toko Anisa.. untuk bermain beras dan menciumi wewangiannya.

Beras itu candu.

warung kelontong

Kekeluargaan Yang Guyub

“Mau ke mana?” begitu Mbah Giem setiap melihatku melintas di depan tokonya.

Tak pernah alpa. Tak pernah pura-pura tidak menengok. Paling tidak sebuah senyum tipis tersungging di mulutnya.

Aku tak kuasa mengelak dan akhirnya menjawab.

Interaksi sosial tanpa script ini tampak sederhana, namun nyatanya di zaman sekarang ini boleh jadi sudah menjadi kemewahan tersendiri. Keramahtamahan penjaga toko kelontong boleh jadi adalah perekat persaudaraan dari seluruh lapisan masyarakat yang dipupuk seiring waktu.

Lama kelamaan, Toko Anisa bertransformasi menjadi pusat informasi terdepan di kompleksku. Ketika suatu hari binatu langgananku tutup, maka dari Nek Giem lah aku tahu bahwa sedang ada berita duka yang menimpa sang penjaga binatu. Pun ketika mencari kosan yang baru, aku cukup menggunakan network yang dimiliki Nek Giem.

Pokoknya Nek Giem sudah seperti Google buatku. Simpel. Penuh cerita. Bisa diandalkan. Tidak memandang suku, agama dan ras.

Sehat-sehat terus yah Nek.

jual kelontong

Bagaimana denganmu? Masih suka mampir ke toko/warung kelontong?

Jangan lupa bawa tas / kantong sendiri yah.

**

****

Belanja baju keren & murah di shopee ini yah. 

****

NEXT : Kalau hidung mampet / pas covid ga bisa nyium bau, coba pake sterimar nasal spray.

NEXT : Nginap di hutan untuk ketemu Orang Rimba

NEXT : Sedot eek kuping penyebab telinga berdenging

NEXT : Facial di Erha

Travel Now or NEVER
6 Responses
  1. Zam

    aku dulu juga suka beli ke warung kelontong. ini toko malah kadang buka 24 jam, meski kalo beli harus membangunkan pemilik toko yang juga tidur di dalam kios..

    dan benar, toko kelontong itu sering jadi mangkal tukang gorengan lah, tukang bubur ayam lah, seperti jadi magnet tersendiri

    1. Lenny Lim

      Kalau di LN pasti kangen toko kelontong yang ada di mana mana. Sangat membantu sih kalo lagi mepet. Emang pesonanya tiada lekang oleh waktu 🙂

  2. si engkong Ozi

    Halo Len, di Sydney mah kagak ada Toko Kelontong, ada juga Delicatessen atau News Agent, sekarang juga banyak yang tutup gak laku karena ketimpa Shopping Center dan Pompa Bensin 7 Eeleven dan lebih murah

Leave a Reply