Sparks Joy di Sukabumi

sukabumi

Benarlah kata Marie Kondo bahwa kita harus menjaga sesuatu yang bisa Sparks Joy dalam hidup. Literally itu semua aku temukan di resorts Sparks Forest Adventure di Sukabumi. Tapi seperti banyak hal dalam dunia ini, untuk mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, perlu usaha terlebih dahulu. Kalau dalam kasusku, ini terbukti dari kerja keras dan keringat yang aku dan teman-teman seperjalananku lakukan dalam mendorong angkot mogok yang kami tumpangi dari Bogor.

Awalnya ketika memutuskan staycation 2 malam di Sparks Forest Adventure, kami punya 2 pilihan transportasi ; pesan taxi online atau naik angkot dari Bogor. Lalu aku pikir seru juga bareng temen-temen sewa angkot aja biar gak ribet. Kami ada berlima sehingga kalo sewa angkot gak perlu sewa 2 taxi online apalagi barang bawaan – koper & backpack – kami banyak juga, macam orang kabur dari kosan. Selain itu nantinya kaca jendela bisa dibuka sehingga sirkulasi udara lancar. Temen-temenku yang lain setuju. Setelah sarapan soto mie di dekat Stasiun Bogor, secara random kami nyetop angkot hijau di pinggir jalan yang bersedia mengantarkan kami ke Cibadak – Sukabumi dengan harga 200ribu. Setelah angkot jalan, kami baru sadar si supir tak tahu jalan, apalagi kami. Aku malah baru pertama ke Sukabumi. Yo wes mari sama-sama ngandelin hidup dan mati pada aplikasi Google Maps.

angkot

Di tengah perjalanan, semua asik-asik aja. Ada yang terkantuk-kantuk tidur, ada yang ngunyah, ada yang sibuk dengan HP dan ada aku yang kebanyakan bengong sambil nostalgia masa lalu naik angkot di Jambi. Tiba-tiba, Google Maps menyarankan kami lewat jalan alternatif. Kami patuh hingga akhirnya berhadapan dengan sebuah penanjakan curam. Kami cemas karena sadar diri angkot ini udah butut ditambah barang bawaan berjibun serta beban hidup yang kami pikul.

Ughtea Ika pun memberikan semangat kepada si abang supir untuk gaspol dalam satu hentakan. Si abang yang diberi suntikan doa, tampak tak gentar menghadapi jalanan di depan yang menghadang. Ia pun menginjak tuas gas dalam-dalam. NGENGGGG…. angkot pun melaju dengan kecepatan maksimal. Tapi apa daya, knalpotnya mulai batuk-batuk sementara jalanan curam masih ratusan meter. Mesin tiba-tiba mati. Kami berpandang-pandangan. Sebutir keringat sebesar biji jagung mulai menetas. Kami pun berhamburan keluar dari angkot mungil tersebut. Meski begitu, si angkot masih tetap butuh pertolongan. Mau tak mau kami turun tangan. Eh bukan kami deng. Aku mah cuma sesi dokumentasi biar ada video dan bukti orang-orang pada dorong angkot. Yang ngeluarin tenaga tentu saja si Juan, Budi dan ughtea Ika. Namun entah kenapa ughtea satu ini masih sempat menenteng sebuah tas penuh dengan makanan penganjal perut aneka rupa. Sedang Irene, ia bingung harus melakukan apa. Jadilah ia hanya memegangi kotak roti dan kacamata ughtea. (video nyusul biar lebih lucu).

sukabumi

Aku tak tahu berapa lama mereka mendorong angkot tersebut. Aku hanya memandangi dari belakang sambil ngekek kencang membayangkan adegan film TILIK di mana ibuk-ibuk mendorong truk. Tapi mendekati puncak jalanan aspal, si angkot sudah mulai dapat tertatih-tatih melaju sendiri, meninggalkan para penumpang yang telah mendorongnya. Fiuh belum nyampe staycation aja, kami sudah berpeluh keringat karena harus trekking di penanjakan beraspal sambil dipelototi orang.

TONTON NIH VIDEONYA PLUS REVIEW SPARKS

Untungnya setelah itu, tidak ada lagi penanjakan curam. Tapi pas stop di minimarket buat beli minum, ealah si angkot sempat ngadat dan gak hidup mesinnya. Masya allah cobaan apa lagi ini. Syukurnya sih cuma bentar setelah itu, perjalanan berlangsung mulus lagi hingga ke area pertigaan Nagrak belok kiri. Setelah itu tak lama, nantinya akan terlihat bangunan besi bulat. Nah itulah Sparks Forest Adventure.

Dari estimasi 2 jam perjalanan, dengan segala kehebohan yang terjadi, kami menghabiskan 3jaman di jalan untuk tiba di tujuan. Security yang melihat rombongan “gembel traveler” ini pun langsung melakukan protokol kesehatan seperti mengukur suhu di jidat (INGAT DI DAHI BUKAN DI TANGAN!) dan juga memberikan hand sanitizer. Ups yang kotor sih bukan cuma telapak tangan, tapi keknya seluruh tubuh dan pikiran juga. Setelahnya, security memanggilkan wara-wiri untuk menjemput kami. Nih wara-wiri layaknya transportasi di resorts ini. Yha maklum Sparks Forest Adventure kan luasnya lebih dari 12 ha dan posisinya berada di lereng menurun gitu. Gempor juga ini lutut kalau suruh jalan sendiri sambil mikul koper.

sukabumi resort

Sparks Forest Adventure ini baru buka tahun 2019 dan belum sempat grand opening, eh keburu Corona. Beberapa bulan maren pun mereka juga tutup operasional. Barulah setelah masa new normal ini, mereka baru buka lagi. Tapi jangan khawatir, hampir tak mungkin berdesakan atau ramai di sini. Resorts di sini ekslusif banget dan lebih private karena model penginapannya ada 2 jenis ; Glamping dan Tree House. Itu pun cuma ada beberapa sehingga kalaupun okupansi penuh, maksimal 100an orang aja.

Biar nampol, kami nyobain semua tipe penginapannya dan semua mua fasilitas dan atraksi wisata di dalamnya. Penasaran kan kisah selanjutnya di Sukabumi ini? BACA DI SINI

sparks

Atau tonton di sini glampingnya yang asoy itu :

Travel Now or NEVER

Leave a Reply