Situs Warungboto : The Next Taman Sari in Yogyakarta

situs-warungboto

“Len, tempatnya tuh gimana?” kata ali, temanku yang mulai pusing muter-muter naik motor.

“Gak tahu li, cuma kayak Taman Sari.” jawabku di belakang, sambil mengingat-ingat gambaran tempat yang ingin aku tuju dalam ingatan.

Seminggu yang lalu, ketika diundang untuk menghadiri media trip di Jogja, saya langsung tahu bahwa saya kepengen mampir ke Situs Warungboto dulu. Dari tugu jogja, kami naik motor shogunnya. Ali yang baru setahun tinggal di Jogja malah tidak pernah dengar tentang tempat ini. Apalagi aku, yang tahunya pokoknya dekat dengan Gembiraloka. Tapi sebelah mananya, hanya Google Maps yang tahu.

Anehnya, Google Maps ali dan saya beda-beda kasih petunjuknya. Awalnya kami ngikuti punya ali, malah diarahin masuk gang kecil yang banyak orang jual batu bata gitu. Ali sih udah yakin ini jalannya bener karena kan “Boto” dalam bahasa jawa itu batu bata. Tapi melihat lokasinya, aku kok gak yakin.

Setelah diputer-puterin, akhirnya kami coba pake google maps ku yang kasih petunjuk ke dekat Jl. Wr boto II.

Nah dari sini kami akhirnya keluar ke jalan agak besar, dan begitu aku celingak-celinguk kiri-kanan, aku melihat bangunan serupa Taman Sari yang posisinya agak di bawah jalan, ketutup ama warung minumana makanan dan gardu listrik.

“Ali stop!!! itu kayaknya!”

Motor pun rem mendadak. Untung jalanan sepi, kalau gak kepriben!

Kami lantas menepi ke jalan. Aku ngelihat sih ada plang nama kecil gitu tulisnya “Situs Warungboto”. Tapi karena tidak ada pintu masuk, kami pun nanya sama mas-mas bengkel.

“Masuk gang samping salon, lurus saja tar belok kiri mas.” Begitulah petunjuk ala orang Indonesia.

Kami putar balik dan gak menemukan salon, jadi pake insting aja dan langsung saja ke gang kecil pertama yang kami liat tepat di seberangnya yang ada SD Muhammadiyah Warungboto. Dari gang sempit, jalanan menurun, dan kamipun langsung belok kiri. Tak lama ketemulah pertigaan dan si Situs Warungboto ini ada di sebuah lapangan luas di kiri. Terlanjur senang, kami langsung parkir motor di bawah pohon. Eh rupanya enggak boleh. Harus parkir di bengkel motor rumah warga sebelum pertigaan katanya. Lah? Baiklah!

Kalau di depan jalan raya itu masih ada plang nama, di belakang ini malah tidak ada petunjuk apa-apa. Cuma ada bangunan Situs Warungboto, dan beberapa orang mas-mas lagi ngadem di gazebo ala-ala di seberangnya.

“Isi buku tamunya yah.” Begitu teriak mas-masnya ketika kami mecari loket.

Ali sih yang pertama kali langsung membuka buku tamu yang diletakkan seadanya di atas meja di samping pamflet info Situs Warungboto. Buku besar itu mengingatkan saya akan buku akuntasi zaman sekolah dulu. Ternyata memang ada kaitannya dengan soal keuangan. Seakan paham, si ali langsung menyelipkan lembaran rupiah di atas uang-uang yang lebih dulu ada di sana.

Selesai “membayar”, kami pun masuk ke dalam Situs Warungboto. Sebenarnya kata masuk agak janggal juga karena tempat ini seperti open space. Tidak ada pintu. Tidak ada petunjuk. Tidak tahu juga harus melewati bagian mana terlebih dahulu. Aku jadinya mencoba melipir ke bangunan yang kelihatan paling tua dan harus naik tangga terlebih dahulu.

warungboto

Begitu di dalam, aku langsung membatin “Ini dia yang aku cari-cari.”

situs warungboto

Di sini nyaris tidak ada pengunjung. Hanya ada kami dan sepasang muda-mudi yang gonta-ganti-baju-jepret-mulu. Bertolak belakang banget yah sama kembarannya, si Taman Sari yang nyaris tidak pernah kosong. Kalau foto, mesti “bocor” ama turis.

Aku rasa memang belum banyak yang tahu hidden gem ini. Aku pun awalnya tahu tentang tempat ini dari twitter, dan karena penasaran saya googling. Begitu melihat fotonya, langsung terpesona. Situs Warungboto atau yang dikenal juga dengan Pesanggrahan Rejawinangun ini baru pertama ini aku liat. Tempat ini dibuat oleh Sultan Hamengku Buwana II pada tahun 1785 untuk pesanggrahan (tempat peristirahatan) dan tentu saja tempat mandi para keluarga kerajaan.

Kini di tempat aku berdiri, ada dua kolam yang bulat sama yang kotak dan dulunya airnya dialirkan dari Sungai Gajah Wong. Kalau sekarang jelas sudah kering, karena keburu tertutup sama pemukiman warga. Bangunan ini juga terhitung baru “ditemukan” sama netizen karena memang baru pada tahun 2016 dipugar. Area yang dipugar yakni salah satunya tempat kolam yang ada di bagian tengah dan beberapa area di sampingnya nih. Yang enggak keliatan juga kok dari batu bata yang mencuat keluar dari bangunan. Arsitektur di sini juga mirip banget dengan Taman Sari. Semua berdinding tebal dan banyak labirin menuju ke suatu tempat. Jadi mikir kalau main petak umpet di sini, pasti susahnya nemunya nih.

warungboto jogja

warungboto

Dari ruang kolam, aku melipir ke area kirinya karena mau naik ke lantai dua sehingga bisa liat-liat Situs Warungboto dari atas. Dari situ baru deh keliatan ruang-ruang yang ada di Situs Warungboto dan juga bisa liat kuburan yang ada di samping cagar budaya ini. Sebenarnya kalau diliat lagi, kayaknya masih ada deh bangunan situs ini yang tertimbun tanah, cuma karena sudah mepet dengan rumah masyarakat, jadi susah buat memugarnya lagi.

Setelah muter-muter di sini, saya fix yakin bahwa tempat ini akan bisa menyaingi ketenaran dari Taman Sari karena :

1. Tempatnya masih sepi banget. Entah karena saya datang sewaktu siang bolong, sehingga tempat ini serasa milik sendiri. Selain itu, area ini juga kering banget sih. Somehow, pas foto-foto gitu aku lagi mikir berada di area gurun di Afrika dengan puing-puing reruntuhan gitu. Iyain ajah, padahal aku juga gak pernah ke Afrika.

situs warungboto jogja

2. Tempatnya masih bersih karena habis dipugar, jadi cakep. Tidak ada sampah berserakan dan untuk buang sampah pun sudah disediakan tempat sampah.

Namun karena masih terhitung “baru” juga, ada beberapa tips yang perlu diperhatikan kalau mau ke sini :

– Sebelum ke sini, jangan lupa ke toilet dulu karena di sini belum ada WC.

– Kenyangin perut dulu buat tenaga muter-muter di sini. Bawa minum karena warung cuma sedikit dan kalau makan harus kembali ke jalan besar.

– Pilih-pilihlah jam yang diinginkan untuk berkunjung. Kalau pagi hingga siang enaknya karena sepi, tapi sebagai gantinya panas pollllll. Tapi kalau mau ngadem sedikit, sorean bisa namun karena tempat ini di tengah-tengah pemukiman warga, jadinya siap-siap bergabung dengan anak-anak yang lagi main juga di sini.

– Bawa topi atau sunblock. Kalau saya karena males ribet, bawa kain aja. Yang bahan ringan gitu, buat menghalau sinar matahari aja, kayak yang difoto saya ini kain, dan scarf semua dari Byviratanka. Kece juga buat OOTD!

– Kalau mau ke sini paling enak pake motor aja, kalau mobil kayaknya susah masuk gang-nya kecuali parkir di jalan terus jalan kaki masuk.

– Meski saya tahu tempat ini Instagramable, tetap ada peraturannya yakni tidak boleh memanjat ke atap karena yah ini kan cagar budaya dan sudah berumur, takutnya ambruk tar. Untungnya selama aku liat, belum ada tulisan grafitti yang menyebalkan di area ini. Semoga bakal begini terus yah.

– Last but not least, enjoy this place to the max. Saking senengnya saya di sini, habis muter-muter, aku dan ali keluar dari sini dulu buat sholat jumat, habis itu balik lagi hehehe. Love this place so much! Bisa jadi tempat kontemplasi yang indah nih.

warungboto

Situs Warungboto :

Alamat : Jl. Veteran No.77, Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55164

Rekomendasi lainnya yang tak kalah kece di Jogja —> Tebing Breksi

tebing-breksi

Travel Now or NEVER
12 Responses
  1. wah, udah ada buku tamu dan bayaran informal ya sekarang? semoga digunakan untuk memelihara kebersihan, ya.
    bulan lalu aku ke sana pas sore hari, foto-fotonya kurang pol karena backlight. udah bener nih pagi atau siang ke sananya kalo buat foto 😀

Leave a Reply