Refleksi di New York City

 

Terhimpit di antara metro bawah tanah 42th street, saya mengarah ke Exit A. Terowongan exit yang tak lebih dari 5 meter ini menjadi lalu pintas terpadat di Metro yang pernah saya lihat. Jauh lebih padat dari MRT singapura. Berjalan di tengahnya, mau tak mau saya harus beradaptasi dengan lingkungan dan orang sekitar. Berjalan cepat, memotong sekenanya serta menggerutu melihat orang tua yang berjalan lambat di tengah tanpa menyadari bahwasanya dia memperlambat segerombolan muda mudi yang diburu waktu menuju tempatnya beraktivitas.

Di antara lautan manusia tersebut, hampir setengahnya memiliki headset yang disumpal di telinganya. Seperti menandakan “Jangan ganggu saya!”, “Saya tidak peduli”. Tidak ada satu pun yang berbicara. Mungkin memang sangat sulit untuk berbicara di kala kita harus waspada dengan bawaan masing masing dan terburu buru. Muka muka serius dengan pakaian beberapa lapis ini siap menyambut musim dingin di New York.

Ketika telah keluar dari metro bawah tanah, Times Square pun terlihat. Bangunan menjulang angkuh dengan ribuan wisatawan dari segala penjuru dunia ada di sini. Menyatu dalam dinamikanya. Di sini tidak ada penanda waktu. Selama 24 jam, rasanya ramai tak berkesudahan. Jika sang surya tidak menyinari lagi, maka billboard raksasa yang dihiasi cahaya berkilauan yang akan menerangi area ini. Memang benar adanya kota ini tak pernah tidur.

Entah kenapa saya tak begitu menyatu dengan keadaan keadaan seperti ini. Jika dibandingkan dengan di Indonesia, tempat ini seperti layaknya Jakarta. Pusat dari segalanya. Dan saya sebagai gadis kampung, selalu gagal untuk betah berlama lama di dalamnya.

Firasat saya mengatakan bahwasanya semakin lama saya tinggal di kota besar, terpapar beragam masalah sosial hanya akan membuat saya makin tak peka akan nasib orang lain.

new york

Kalau saya bandingkan dengan dulu saya di Jambi, ketika dulu saya menjaga toko keluarga saya, jika dari kejauhan saya melihat ada nenek tua atau seorang kakek dengan tokat ditemani anak kecil berjalan mengadahkan tangan, maka saya akan lari ke dalam toko mengambil receh. Setelah memberikannya, para peminta tersebut akan memanjatkan doa dan berterima kasih sedalam dalamnya kepada saya. Saya selalu suka akan perasaan menolong ini. Saya merasa menjadi manusia yang lebih baik, paling tidak bangga telah bisa membantu sesama. Saya tidak punya pikiran mungkin saja sumbangan saya yang tak seberapa itu hanyalah ulah oknum belaka atau karena mereka pemalas.

Tetapi setelah saya beranjak dewasa, saya makin selektif dan lebih sering meminta maaf tidak bisa memberikan sepeser pun jika ada yang meminta.

**

Di bronx-New York, ketika saya melewati persimpangan di 146st, saya menjumpai seorang wanita berkulit hitam di persimpangan jalan. Dia sedang menjerit jerit kedinginan sambil memeluk dirinya sendiri. Wanita tersebut menggunakan jaket hitam panjang dan syal merah yang dililitkan di lehernya dan tas tanggan yang dipikul di bahunya.

“Please God… Someone help me”! dia berteriak makin menjadi jadi ketika sadar usahanya menarik perhatian gagal total. Orang di sekitarnya saja tidak menoleh.

Saya melihatnya sekilas. Ingus mulai mengalir di hidung wanita tersebut dan napasnya tersengal sengal mengeluarkan hawa dingin malam. Alam semesta pun tampak tak berbaik hati. Angin yang bertiup kencang hanya membuat orang melangkah lebih panjang dan semakin cepat.

Sama seperti orang lain yang hanya melewatinya, saya tak berbuat apa apa. Saya bahkan mungkin tidak mengerti apa yang dibutuhkan wanita itu. Dollar? Pakaian hangat? atau dia hanya wanita yang kebingungan mencari jalan pulang? Atau jangan jangan ini hanya scam?

Akhirnya, saya hanya berlalu berharap mungkin sebentar lagi paling tidak ada sesorang yang menaruh belas kasihan dan bertanya apakah dia baik baik saja.

Sayang sekali hingga 5 menit kemudian, ketika dari kejauhan saya menoleh ke belakang, saya melihat harapan saya tinggal harapan saja. Doa saya tidak terdengar. Wanita tersebut masih mondar mandir berteriak menjadi jadi hingga suaranya sayup sayup terdengar.

Mungkin wanita tersebut berfikir lebih baik saya diam saja dan memilih meringkuk dalam malam.

——

Sudahkah saya (ikut) buta dan tuli akan orang di sekitar?

Travel Now or NEVER
3 Responses
  1. si engkong

    hari=hari sekarang ini memang sukar sekali menemukan orang baik di jalanan, karena banyak sekali kepura-puraan, bahkan Pengemis saja lebih kaya dari pada kita yang bekerja keras sekalipun, Pengemis memiliki uang tunai yang besar, memiliki tanah luas, memiliki rumah mewah, memiliki mobil mahal dan lain sebagainya

  2. engkong lagi

    di Ozi sebenarnya tidak bakal ada Pengemis, yang ada adalah orang malas, karena setiap penduduk mendapatkan bantuan dari Pemerintah, hanya mereka malas bekerja hingga tunjangan Pemerintah pun Tidak diberikan, itu karena malasnya, pemerintah menolong menunjang orang untuk survive tapi tidak untuk bermalas-malasan

Leave a Reply