Pesona Cagar Alam Mutis

cagar-alam-mutis

Berada di ketinggian 1500-2500 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata rata 12-19 Celcius, Cagar Alam Mutis yang berada di Fatumnasi ini merupakan daerah terdingin di antara panas dan teriknya Nusa Tenggara Timur. Saking luasnya, sebenarnya cagar alam ini masuk ke dalam kawasan Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Tapi yang paling mudah diakses yah melalui Fatumnasi yang berada di kabupaten Timor Tengah Selatan.

Berkendara lebih dari 2 jam dari Soe (Ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan), awalnya jalanan mulus aja hingga setengah perjalanan, jalan aspal pun mulai berganti jalan berbatu, turunan dan tanjakan curam. Belum lagi kadang di samping ada jurang terjal yang semakin bikin deg-degan. Kami sempat berhenti di Kilo 12, sebuah daerah yang langsung berbatasan dengan lembah di mana bisa melihat jurang langsung dan perbukitan di ujung sana. Lalu kami berhenti lagi di Fatukolen, sebuah batu raksasa purba yang terongok di sebuah tanah luas. Biasanya anak anak lokal di sini menjadikannya tempat main dan manjat-manjat sih.

fatukolen
Saat itu saya dan teman teman travel blogger indonesia untungnya mengendarai mobil 4WD. Sungguh gak kebayang kalo naik motor, bisa longsor deh pantat!
Berkali kali saya bergumam, “Ya ampun emangnya seindah apa sih tempat yang bakal dikunjungi? Kok nggak sampai-sampai?”

Kala itu saya hanya bisa berpegangan erat (setelah sekali jatuh terjerambab sewaktu mobil menikuk di penanjakan curam. Oh my butt!) di atap mobil 4WD. Bak belakang mobil diisi saya dan 6 cowok laiinya. Bayangkan! Duduk aja susah, jadinya saya lebih memilih berdiri di atas mobil yang tak bisa berjalan tanpa sedikit guncangan ini.

Untungnya sepanjang pemandangan sangat indah. Kami melewati pemukiman penduduk dengan rumah khas mereka dan setiap kali ada warga, saya bak miss universe selalu melambaikan tangan dan menyapa mereka. Tak pernah sekalipun saya dicuekin. Selalu mereka balas dengan teriakan yang lebih kencang. Ada sih beberapa yang malu-malu tapi seengaknya mereka balas tersenyum. Ah Senangnya!

Di balik jauh dan susahnya mencapai tempat ini, selalu ada hikmahnya yakni cagar alam ini masih sangat asri dan terjaga. Benar benar perjalanan yang membuat saya masuk ke dunia yang berbeda! Cagar Alam Mutis ini didominasi oleh pohon Ampupu (Eucaliptus Urophylla). Pohonnya besar-besar, tinggi dan sudah berusia cukup lama bahkan hingga ratusan tahun. Buktinya, beberapa pohon sudah terlihat tua dan menjadi bolong tengahnya. Agak ke dalam sedikit, kali ini saya disuguhkan dengan bonsai hidup raksasa. Kalau biasanya bonsai hanya tumbuh dari pot pot munggil, bonsai di sini seperti raja. Bebas memekarkan dirinya sendiri. Bonsai ini juga diselimuti dengan lumut lumut hijau yang pekat. Konon, katanya hanya ada dua di dunia salah satunya yah di sini. Tak jarang, kadang ada peneliti yang mampir ke sini untuk melihat fenomena alam yang menakjubkan ini.

 

cagar-alam-mutis-dengan-jalan-rusaknya

hutan-bonsai
Selain itu, pemandangan jamak nan indah yang dapat ditemui adalah sekumpulan kuda liar yang beruntung banget hidup di tempat secantik ini. Mereka pun makan rumput dengan damainya. Banyak yang bilang pemandangan indah ini semacam di Eropa. Namun sayangnya karena saya datang sewaktu musim kering kerontang, gambaran itu belum muncul di benak saya. Namun jika musim hujan turun, rumput menghijau dan pohon ini melahirkan dedaunannya, saya setuju bahwa tempat ini akan berubah menjadi permadani hijau. Tapi kalau musim hujan, beberapa jalan yang rusak parah akan sulit (bahkan mustahil) dilewati dengan mobil sekelas 4WD pun.

cagar-alam-mutis

Kekhasan lainnya dari cagar alam ini ialah adalah fauna khas endemik yang dilindungi tapi saya tidak beruntung karena yang saya jumpai hanyalah kawanan kuda dan sapi.

Lalu yang sebetulnya menjadi primadona utama dari cagar alam ini adalah Gunung Mutis, gunung tertinggi sedaratan pulau Timor. Dengan tinggi 2.427 meter, gunung ini bukan sembarang gunung. Sekilas gunung yang menjulang ini seperti gunung biasanya, hijau tertutup tumbuhan. Namun jika kita kupas, gunung mutis itu layaknya bongkahan batu marmer raksasa. Konon, kualitas marmernya nomor wahid sehingga berbondong bondong lah perusahaan asing mengeruknya habis habisan. Seperti yang diduga, setelah bertahun tahun alam yang masih perawan itu mulai kehilangan kesuciannya. Air sungai yang menjadi sumber vital masyarakat mulai terkontaminasi dan lingkungan perlahan rusak. Akhirnya, masyarakat mulai sadar sebelum semua terlambat. Mereka menyuarakan pendapat mereka hingga bisa membuat perusahaan perusahaan itu hengkang dan mengubah daerah ini menjadi cagar alam sehingga tidak dapat dirusak kembali.

Sayang seribu sayang hari sudah menjelang maghrib dan kami tidak punya rencana untuk ke sana karena perjalanan ke gunung mutis masih sangat jauh lagi.

**
Balik lagi ke pertanyaan saya semula “Seindah apa sih tempat yang saya bakal kunjungi?”
Ternyata saya sudah bisa menjawabnya sendiri. Indah banget! Saya malah masih belum puas karena kami belum sampai ke puncak guning mutis dan saya belum melihat langsung batu marmer yang diperebutkan orang orang tersebut.

Kalau begini, 4 jam di jalan pun saya tahan deh. Namun pas pulang, saya sudah tak sanggup berdiri di belakang 4WD apalagi udaranya yang dingin udah mulai membuat saya mengigil. Akhirnya saya memilih tepar di bangku belakang mobil Fortuner saja. Ah usia memang tidak bisa bohong yah? #Eh?

**

***

NEXT : TIDUR DI HUTAN DEMI BERTEMU ORANG RIMBA

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. si engkong Ozi

    Len, gak sangka yah NTT terutama daerah Kupang itu banyak sekali daerah wisatanya, selama ini dikira hanya sebuah pulau yang kering gersang seperti Nothern Territory nya Ozi

Leave a Reply