Payung Banyumas Legendaris Dari Kalibagor

payung banyumas

“Dulu pas masih tahun 80an saya masih pake payung-payung ini,” kata seorang bapak yang tampak paling berumur.

“Biar gak kepanasan yah pak?” tanyaku.

“Iya. Tapi kalau hujan juga bisa kok.” jawabnya.

“Emangnya tidak rusak?” tanyaku penasaran.

“Tidak apa-apa asal jangan langsung dilipat. Harus dikeringin dulu.” kata bapak satu lagi tak mau kalah.

Betul juga. Mungkin karena payung ini dilapisi dengan cat jadi lapisan atasnya lebih kokoh. Pikirku.

Begitulah sahutan sambung menyambung membuat para bapak-bapak di Desa Kalibagor ini jadi bernostalgia dengan payung Banyumasnya yang unik. Pamor payung ini semakin lama semakin populer membuatnya tidak hanya dipakai buat keperluan sehari-hari, namun juga bisa untuk pemakaman, pertunjukan, hiasan atau dekorasi dan kini juga sudah mulai merambah jadi oleh-oleh.

Satu yang unik dari payung ini karena terbuat dari kertas semen bekas yang biasa didapatkan di sekitar desa karena ada pabrik semen. Asik jadinya mereka mengolah barang yang tak dipakai lagi untuk menjadi sesuatu yang bernilai guna tinggi. Bentuk payung juga cukup beda karena “tulang”nya terbuat dari bambu dan untuk mengikatnya masih menggunakan benang (kalau yang kecil). Aku sempat mencoba buka tutupnya dan lumayan keras tetapi jadinya emang kokoh banget.

Ukurannya juga lumayan besar-besar. Namun bagi pemula seperti aku, di Desa Kalibagor disediakan workshop untuk belajar melukis payung ini. Harganya mulai dari 40rb/orang dan sudah bisa mulai melukis sesuka hati. Hasilnya pun boleh dibawa pulang. Berhubung apapun yang berbau seni, selalu hancur di tanganku, maka aku pamerin hasil payung temen-temen yang lain aja yah.

workshop payung

payung kalibagor

Kalau pengrajin di Kalibagor ini sendiri biasa membuatnya kalau ada order. Satu payung bisalah dikerjakan dalam 2 hari. Kabarnya, kekhasan payung ini sudah mulai menarik minat orang luar negeri. Iya sih kalau cuma payung dari kertas biasa, rasanya tempat lain juga ada. Namun yang menggunakan bekas kertas bungkus semen, diakui bapak-bapak di sini baru ada di Banyumas dan satu lagi di Sumatera Barat. Semoga bisa terus lestari yah budaya ini.

payung purwokerto

Ohya, selesai bikin payung, jangan lupa mampir ke Lorong Blothong, salah satu destinasi wisata di sini. Jadi lorong ini awalnya adalah tempat lorong sungai bawah tanah di zaman Belanda yang dibangun tahun 1839. Fungsi lorong ini adalah tempat pembuangan limbah pabrik atau Blothong. Blothong sendiri artinya limbah pengolahan tebu dari pabrik gula yang ada di dekat situ yang terdiri dari belerang dan kapur (laru/pemutih gula). Nah giliran pemerintahan Jepang, lorong ini beralih jadi tempat ngumpet warga ketika kondisi berbahaya. Setelah itu, lorong itu pun terkubur dan tak dipakai lagi. Barulah di tahun 2019 ini, tepatnya baru-baru ini, tempat ini dibersihkan dan dipugar lalu dibikin aksesnya untuk warga dan turis. Biar menarik dan gak serem-serem amat, di dalam lorong ini dipasang lampu meriah. Lorongnya tak begitu panjang sih kalau mau jalan. Airnya juga cuma sebetis aja. Yuk diramaikan sekalian!

lorong blothong

Travel Now or NEVER
4 Responses
  1. Payung Kalibagornya cantik, tapi aku ketinggalan momen itu. Lagi asik nunggu jemuran payung kering, kayaknya..

    Oya, yang di Lorong Blothong itu Ce Lenny beneran gak muat ya, haha. Aku ngakak lihat Ce Lenny duduk di dalam kecapekan nunduk. Lorongnya unik, hikmah bagi yang memiliki tubuh bertinggi 150cm, woles aja sampai ujung 😀

Leave a Reply