Menjajal Tol Lampung – Palembang

tol lampung - palembang

Alasan utama keluargaku jalan-jalan ke Lampung yah karena si papa mau menjajal tol Lampung – Palembang. Aku pribadi sih gak pengen banget tapi yah penasaran juga lah gimana. Biasanya cuma naik yang di Jawa dan kemarin-kemarin sempat heboh soal bobroknya jalan tol di Sumatera sehingga aku agak pesimis juga sih. Nah pas kami balik dari Lampung dan balik ke Palembang, kami pun masuk lewat tol pintu natar. Posisinya kami dari Hotel Pop jadi tinggal lurus aja gitu kan. Ketemu pintu, ngetap flazz BCA, uda deh kami masuk.

Terus tak lama ada jalan bercabang ke kiri dan lurus terus. Tidak ada penanda jalan, akhirnya adikku yang bawa mobil lurus terus. Sementara itu aku yang duduk di paling belakang ngeliatin mobil belakang kami pada belok ke kiri dan di kiri terbentang jalan luas bercabang-cabang penuh mobil. Sedangkan di depan kami hanya jalan lempeng tanpa mobil. Aku langsung merasa janggal dan akhirnya bertanya ke adikku “Kalau belok itu ke mana?”

Mungkin adikku juga sudah punya perasaan gak enak. Kami ngecek google maps dan bener aja harusnya belok. Akhirnya yah sudah cuma bisa pasrah dan jalan terus hingga nemu pintu exit tol. Nemunya agak jauh juga dan ketemu area yang lebih sepi. Habis itu putar balik dan kali ini masuk tol lagi dah. Setelah itu baru agak pinter baca jalannya tol ehe sempat berputar dulu sampai akhirnya ketemu jalan lurus banyak mobil. Nah kalau gini udah pasti bener sih. Soalnya pas salah jalan tadi beneran gak ada mobil cuma kami doang ehe.

Sepanjang jalan pemandangan cukup cantik dan hijau. Bagus banget. Jalan juga kadang seperti ada tambal-tambalan tapi masih okay lah. Kami sempat berhenti di rest area buat makan siang dan ke WC. Carinya yang rest area agak besar dengan tanda sigar khas Lampung. Makanannya yah standar sih rasanya tapi untung tidak mahal banget. Ya sudah yang penting ada buat ganjel perut aja.

Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan di tol Lampung – Palembang. Giliran papa yang mengemudi dan aku duduk samping papa. Tiba-tiba di pertengahan jalan, hujan lebat melanda. Lebat yang beneran lebat sampai jarak pandang ke depan cuma berapa meter. Semua terlihat abu, samar dan mencengkram. Saat itu papaku yang bawa, Kondisi jalan juga kadang ada kubangan air. Di satu saat, ada mobil dari kiri nyelonong dan airnya muncrat semua ke kaca mobil hingga kami gak keliatan apa-apa. Aku panik karena aku duduk paling depan. Untungnya papaku lempeng dan masih bisa mengendalikan keadaan. Gak rem, tetap bawa biasa dan berharap airnya cepat tersapu dari kaca sehingga bisa liat ke depan. Untung jalan agak sepi tidak ada kendaraan dalam jarak dekat di depan belakang.

Habis itu cuaca terang lagi. Namun pas udah mau masuk ke Palembang, hujan lagi tiba-tiba. Sama-sama derasnya. Aku tegang lagi. Berharap yang terbaik. Namun nasib berkata lain. Pas mobil berada di kanan jalan, tiba-tiba ada bus dari ara sebaliknya yang lewat dan ada kubangan air lagi yang banyak dan nyemprot hingga ke mobil kami yang literally bersebrangan. Namun karena kecepatan dan kuantitasnya, mobil kami berasa ditabrak air deras yang muncrat ke kaca depan. Kali ini karena posisinya lebih dekat ke papa, si papa sempat kaget juga karena tak memperkirakan hal itu akan terjadi (ke dua kalinya!). Tapi untunglah papa tetap bisa mengendalikan mobil dan santai aja bawanya sehingga tidak terjadi apa-apa selain jantungku yang senam disco.

tol lampung

Setelah dua kali diterjang air tersebut, akhirnya tidak ada hujan lagi dan aku bisa merileksan badan fiuh. Tapi yang kusadari ketika mau masuk Palembang, jalan semakin ancur di sisi kiri sehingga kami lebih milih kanan sedikit. Mungkin belum sempat diratain atau ditambal enatahlah. Yang penting begitu liat ada jembatan tinggi, nah kami tahu bahwa destinasi kami sudah mulai dekat. Tol Palembang yang paling mentok di akhir jadi ya sudah ikuti aja sampai ujung.

Keluar tol Lampung – Palembang, akhirnya kami kembali ke jalanan biasa dah. Macet pun mulai menyambut kami ketika masuk ke kota Palembang. Ya sudah cepet-cept ke Batiqa Hotel dan istirahat deh.

Kesimpulan Tol Lampung – Palembang emang belum sebagus dan semulus Jawa, tapi ini sangat membantu menghemat perjalanan. Apalagi yang gak tahu jalan biasa, pake tol ini yah lurus aja mentok gitu keluar deh ke Palembang. Rest area juga banyak sehingga gak susah cari makan ato pipis. WC juga lumayan kok bersih. Cuma emang semua fasilitas semoga masih bisa ditingkatkan lagi standarnya. Begitupun dengan kondisi jalan dan ada plang info di pintu masuk Natar biar gak ada yang nyasar kayak kami ehe.

Biaya Rp 255.500 masih okaylah.

Next, masih akan tetap pakai tol Lampung – Palembang lah!

**

NEXT : Royal Damri Jakarta – Lampung tapi ternyata ga semewah itu 🙁

NEXT : Facial di Erha

NEXT : infinity Pool di Jakarta

NEXT : Sedot eek kuping penyebab telinga berdenging

Travel Now or NEVER

Leave a Reply