Traveling as Introvert & Extrovert

Saya Introvert.
Anda boleh cek dari hampir semua socmed saya, tak ada satupun hal pribadi tentang keluarga, mantan, perasaan, masalah, dan bahkan ketika saya opname di RS pun tidak ada jejaknya di social media karena memang saya tak suka mengumbar hal seperti itu. Lagian apa faedahnya? untuk memamerkan kemesraan? untuk menjadikan trending topic? Buat saya masalah personal tidak perlu diumbar, tidak nyaman saja pokoknya. Oleh karena itu, orang hanya tahu betapa bahagianya saya saja. Well.. padahal hidupku aslinya tak selalu seindah Instagramku.
Bali Zoo Gianyar
Saya Extrovert.
Saya ingin tampil. Saya suka difoto. Saya ingin orang lain mengenal saya. Saya cukup percaya diri. Saya tak minder bepergian tanpa make-up dan berpose dengan menggunakan bikini. Mungkin itu juga kenapa dulu saya senang ikut kontes / peagents. Bagi saya hal hal baru dan perhatian publik itu sesuatu yang menyenangkan, dalam skala berkecukupan dan masih normal batasnya.

Kalau lagi Extrovert, Koala aja diajakin ngomong terus. Padahal dia ogah hihi.

Saya Introvert – Extrovert.
Nah things get complicated when I have both! terutama ketika lagi jalan-jalan.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya malas ketemu orang dan harus memperkenalkan diri lagi sehingga menolak undangan “networking” ataupun meetup.
Ketika Introvert saya lebih dominan, saya hanya di hotel saja nonton TV dan males mau kemana mana.
Ketika Introvert saya lebih dominan, hal hal kecil seperti digigit nyamuk, belum BAB, dapat mempengaruhi mood saya. Walau lagi berada di tempat yang indah, namun tak jarang saya malah cemberut.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, saya menghabiskan waktu untuk mengambil foto layaknya supermodel dan itu bisa memakan waktu lamaaa sampai dirasa ada yang Instagram-able, padahal harusnya saya menyisakan juga waktu untuk duduk meresapi keadaan sekitar atau berbicara dengan orang lokal.
Ketika Extrovert saya lebih dominan saya tampak sangat outgoing namun nyatanya mungkin saya menyimpan kata kata / perbuatan yang dirasa tak mengenakkan hati.
Ketika Extrovert saya lebih dominan, orang orang selalu berfikir saya pribadi yang ceria lalu mengajak saya kemana mana dan saya iyakan walaupun nyatanya mungkin saja all I want is just to be alone.

Jadi bagaimana saya mengatasi pergolakan dua batin saya ketika dalam perjalanan (dan juga sehari hari)? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan menjadi introvert ataupun extrovert cuma lebih baik sih seimbang antara keduanya sehingga kita tak terlalu diam (tar bikin orang BT / kirain kita lagi ngambek gak jelas) atau terlalu heboh (dikira cari perhatian berlebih / alay).

bali zoo

Kita emang gak bisa memilih antara jadi introvert atau extrovert karena udah bawaan orok tapi tentu kita bisa dengan bijak menanggapinya agar kedua kepribadian ini tidak ada yang sangat dominan sehingga bisa membuat mood turun naik macam rollercoaster. Ini beberapa tips yang saya siasati agar tetap tenang – meski lagi high (extrovert) atau down (introvert) – dan menikmati segala hal.

Ya siapa tahu ada yang kayak saya juga. Toss!
1. Selalu bersyukur
Syukur-syukur masih bisa jalan-jalan, masih sehat, belum ada tanggunan, ada yang mau ngajakin dan belum ada yang nyinyir jadi kalaupun ada yang gak enak, yah dinikmati aja semua biar mood tetap baik.

2. Mengontrol perasaan.
Belajar mengontrol perasaan itu tidak mudah apalagi kadang saya cenderung berpihak pada perasaan sendiri. Maunya saya sih melankolis melankolis nestapa gitu tapi gimanapun harus diupayakan biar nggak terlalu gitu. Caranya yah menjauh sebentar, istirahat, dengerin musik biar kembali lagi moodnya atau terus memberikan sugesti yang baik. Kalau lagi hyper-hyper-nya, yah gitu juga harus diredam dikit biar gak terlalu senang.

3. Think Logic
Nah ini juga susah berhubung saya dominan di perasaan. Paling kalau udah capek galau sendiri, baru deh otaknya jalan dan mikir “Ih udah bagus bisa nyampe sini, bodo amat ama orang yang menyebalkan itu” lalu saya pun berlalu dan melanjutkan perjalanan.

4. It’s okay not to be okay
Tidak setiap kali saya bisa cheer up myself. Kadang kalau sudah broken sewaktu di jalan, kalau memang bisa menyendiri atau tidak ada siapapun I’ll let myself to feel whatever it is. Nanggis – nanggis bombay itu bagus juga karena setelah itu biasanya beban saya rasanya berkurang. iya sama emang tipikal cengeng itu kalau ada apa-apa yang nyesek maunya keluarin air mata dulu.

5. Do something
Membut diri saya sibuk dengan berbagai aktivitas biar saya gak sempat kepikiran adalah cara yang manjur. Misal lagi BT pas di pantai. Kalau saya bengong aja liat ombak menari atau mendengar nyiur melambai-lambai makin deh saya masuk ke lamunan saya. Oleh karena itu, biasa saya sempati buat snorkeling atau hanya sekedar ngambang cantik tapi paling tidak saya bergerak. katanya kalau kita cuma diem aja itu akan membuat kita makin gak merasa baikan.

bali-zoo
Adakah yang sama kayak saya juga? atau punya saran? silahkan berbagi di sini.

PS : Semua foto diambil di Bali Zoo pas nginep di sampingnya yakni The Sanctoo Villa.

Travel Now or NEVER
4 Responses

Leave a Reply