Wahana Fantasi Dufan Di Masa Pandemi

ancol

Setelah 8 bulan masa pandemi, akhirnya ada juga beberapa fantasi terpendamku yang berhasil terwujud yaitu : 1) Senang-senang bareng teman-teman 2) Naik komedi putar Dufan.

komedi putar

Let’s agree on this : nothing beats theme park ambiance with glow-in-the-dark-carousel. Gak salah emang Dufan meletakkan komedi putar bernama Turangga Rangga di depan gerbang masuknya. Baru ngeliatnya aja, aku langsung tersedot masuk ke dalam dunia fantasiku sendiri. Seketika rasanya aku punya kekuatan untuk melakukan  hal-hal yang (biasanya) tak bakal kulakukan. Contohnya, naik Kereta Misteri. Wahana baru ini berada di dalam ruangan di mana ada kereta yang berjalan seperti roller coaster yang membawa penumpangnya ke dunia hitam. Dua perpaduan mematikan yang paling kuhindari.

Namun, karena ini di dunia fantasi, maka aku bisa jadi apa saja. Aku bisa berani dan menghadapi ketakutanku. Apalagi teman-temanku semua ikut serta mencoba sehingga aku juga tak mau ditingalkan begitu saja.

Tak sulit mencari di mana lokasi Kereta Misteri. Bangunannya tepat berada di Balai Kota Dufan, tempat aku membuat Annual Pass.

kereta misteri

Setelah mengantri dengan berjarak antar pengunjung, aku dan teman-teman masuk ke dalam sebuah rumah. Aneka lukisan dengan wajah perempuan menyeramkan terpampang di dinding. Ada juga boneka manekin dengan pakaian ala wanita Eropa jadul yang diletakkan di pojok ruangan untuk membuat bulu kuduk merinding. Kami terus berjalan menuju ke atas di mana Kereta Misteri telah menunggu. Petugas menyilakan kami naik dan masing-masing duduk sendiri dalam satu baris. Di depan kereta hanya ada kegelapan yang pekat. Membuka atau menutup mata terasa sama saja.

Kereta berjalan pelan masuk dan aku bisa merasakan betapa luasnya gedung ini. Suara-suara serigala melolong-lolong saling bersahutan menyambut kami. Jalan kereta mulai dipercepat seiring dengan degup jantungku.

Di depan lintasan, muncul tanjakan. Sepertinya ketegangan akan dimulai. Ketika tiba di puncak lintasan, seketika itu pulalah kereta meluncur bebas turun dengan kecepatan penuh.

AARGGHHHHHHH~~~~

Aku berteriak sambil menutup mata dan wajah rapat-rapat. Membayangkan bila ada penampakan yang mencolekku membuatku makin histeris. Namun tiba-tiba kereta terhenti begitu saja. Belum sempat menarik napas, kereta ketarik ke belakang, meliuk-liuk tanpa aba-aba. Selain rasa kaget, yang paling kentara adalah sensasi pinggangku yang ikut terjepit dan kaget dengan gerakan tersebut. Tapi apa daya..  satu-satunya yang bisa aku lakukan cuma berteriak sepanjang lintasan kereta hingga habis.

Ketika Kereta Misteri kembali ke peraduannya, barulah aku bisa bernafas lega. Rasanya luar biasa sekali ketika bisa menghirup udara segar lagi dan melihat sinar matahari terik di siang hari itu. Untuk melemaskan badan, aku menuju ke toilet terlebih dahulu. Bak surga dan neraka, toilet ini bertolak belakang sekali dengan wahana Kereta Misteri. Di toilet baru ini segalanya sangat terang, indah dan wangi.

Biasanya aku paling malas harus pipis ketika di tempat umum, namun rupanya di Dufan sekarang fasilitas toiletnya sudah sangat bersih dan adem sekali. Ingin rasanya lama-lama ngadem di sini jikalau aku tak ingat sudah ditungguin teman-teman.

Selanjutnya kami pun melipir ke wahana baru berikutnya yaitu Dunia Kartun. Penuh warna-warni, keceriaan dan semangat positif. Tapi di sini aku sudah terlanjur kapok naik wahana sehingga hanya melihat temanku saja naik Baling-Baling. Yha itung-itung gantian jagain tas.

baling baling dufan

Keberanianku baru muncul setelah sorean ketika nyobain Kora-Kora. Ini wahana udah paling serem buat standarku. Padahal aku udah duduk di tengah-tengah dan berusaha namaste sejak ayunan pertama. Tapi ketika musik dimainkan dan ayunan makin cepat, jantungku serasa dan dilempar ke atas pohon. Teriak-teriak ampe lemes, sampai bibir benar-benar kering dan udah berserah pada nasib. Tuhan, aku gak sanggup lagi. Serah dah, kalau mau pingsan boleh dah, sekarang aja. Biar aku tak harus merasakan aliran darah dari kepala turun ke dengkul dan begitu seterusnya. Mana kaki udah tegang banget dan tangan mengengam erat pegangan besi karena berasanya aku bakal keselip jatuh gitu.

Namun semesta masih sayang sama aku sih gak kayak gebetan yang tukang ghosting. Laju kora-kora mulai memelan dan sayup-sayup alunan musik memudar. Ketika perahu berhenti total, barulah ada yang pada bertepuk tangan kegirangan, ada yang melengos dan ada juga yang pucat pasi dan turun dengan kaki gemetaran sepertiku. Duh butuh pegangan (hidup) nih untuk menuntun jalanku.

kora kora

Biar tak menyisakan kegetiran, terakhir banget aku harus naik komedi putar kuda-kudaan. Sepertinya banyak orang yang memegang teguh prinsip seperti kami, save the best for the last. Sengaja menyisakan wahana ini untuk menjadi penutup yang manis di hari ini. Naik kuda-kuda dengan lampu-lampu gemerlap ini sungguh romantis loh. Entah kenapa aku selalu terbayang cerita-cerita dongeng ketika duduk di atas kuda ini. Mungkin karena aku masih nunggu pangeran berkuda. Mungkin juga karena aku teringat kisah-kisah petualangan bersama sahabat yang terpancar dari raut wajah teman-teman yang akhirnya bisa aku pandangi lagi setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu.

dufan

Dufan. Dunia Fantasi. Where my dreams comes true.

Tips ke Dufan :

  1. Beli tiketnya online (cashless) di webnya
  2. Jumlah pengunjungi dibatasi hanya 25% dari kapasitas total sehingga lebih lega. Udah gitu tiap wahana juga dibatasi jumlah pengunjung yang main serta dikosongin kiri kanan dan selalu menjaga jarak. Pas mau naik juga tanganku disemprotin cairan hand sanitizer.
  3. Jam operasional diperpendek ke jam 5 sore jadi buruan naik yang paling diinginkan. Beberapa wahana ada yang tutup sementara yah.
  4. Harus selalu pakai masker sewaktu naik wahana dan selama di Dufan.
  5. Makan siangnya di Pondoknya Bakso, enak banget bakso halusnya. Tempatnya juga nyaman 🙂

Travel Now or NEVER

Leave a Reply