Desa Namata & Kepercayaan Tjingi Tiu

tjingi tiu

Perhentian pertamaku di Pulau Sabu, NTT adalah sebuah tempat yang begitu megesankan yakni desa adat Namata. Setelah terombang-ambing semalaman dan tidur di kapal laut, paginya ketika sampai di Pulau Dewa ini, aku langsung menuju ke Desa Namata.

Sebelumnya aku pernah dengar dikit-dikit tentang pulau ini dan juga adat istiadatnya yang unik seperti tradisi cium hidung. Namun karena masih pandemi, walaupun saat itu Sabu adalah salah satu area yang bebas covid-19, tapi tradisi ini terpaksa ditiadakan.

Sewaktu tiba ke desa ini, aku dan teman-temanku disambut secara adat di mana sebelum masuk, seorang tetua membacakan doa dan menciprati kami dengan air. Setelahnya, kami diselempangkan kain tenun Sabu yang indah banget. Biar lebih totalitas, sekalian aja aku nyewa kain tenun di sini. Seorang mama dengan baik hati memakaikan aku tenun panjang itu, lengkap dengan aksesoris dan sebuah tempat meletakkan pinang sirih.

Selain melihat kehidupan kampung yang masih asri dengan rumah mungil mereka yang bentuknya seperti kapal terbalik, di sini juga aku baru tahu akan adanya kepercayaan lokal yang bernama Tjingi Tiu. Kepercayaan tradisional asli Pulau Sabu ini menyembah dewa – dewa dan dipercaya dewa – dewa tersebut menurunkkan berbagai bebatuan sebagai media berkomunikasi dan melakukan ritual.

desa adat namata

Batu-batu megalitik ini berada di tengah kampung dan rata-rata bentuknya bulat gitu dan cukup besar. Batu-batu keramat ini masing-masing punya kekuatan sakti sendiri. Ada yang spesial buat menghalau mara bahaya, buat menangkal petir hingga buat enteng jodoh.

APAH?? MURAH JODOH? AKU MAUUU…

Sayangnya kudu ritual dulu dan itu pun pasti ada tanggalannya. Huft kapan aku punya pacar kalau begini 🙁

Saking sakral batunya, ada juga batu yang tidak boleh disebut namanya, sehingga kami tidak diberitahu namanya biar gak sembarang nyebut. Padahal karena aku jompo dan pelupa, tak satupun nama batu lainnya yang aku ingat. Soalnya rada susah namanya ((alesan)).

namata sabu

Meski keramat, ada kok batu-batu yang masih boleh disentuh. Bahkan ada satu batu yang aku (kepaksa) duduki. Jadi awalnya itu ada pemuda lokal yang mau berfoto denganku. Nah si laki ini nyuruh aku duduk aja di batunya. HA? aku kaget dan aku gak mau karena tahu batu ini sangat penting buat masyarakat di sini. Gak sopan aja rasanya. Tapi si laki (agak) maksa. Yha udahlah akhirnya aku sambil baca jampi-jampi dan berdoa, maka aku pun dudukin salah satu batu tersebut sambil deg-degan takut azab sih. Maafkan aku yha dewa, semoga batu yang kududuki yang jenis untuk mendatangkan rezeki dan segala kebaikan.

namata

Dari yang aku baca-baca kerpercayaan Tjingi Tiu di sini itu ada kemiripan dengan yang Toraja, misal pas kalau ada yang meninggal tidak langsung dikubur tapi kayak masih didandani dulu lalu dilakukan ritual apa-apa gitu. Aku mau baca lanjutannya tapi keburu ngeri karena ada foto orang meninggalnya hiks.

Aku jadi keinget dengan mama Lelo Ratu yang baru saja ditinggal wafat suaminya yang seorang ketua adat. Oleh karena itu, kini ia lah yang memimpin desa ini sampai nanti bakalan ada pemilihan buat generasi berikutnya. Memang di sini tuh ada bahasa sendiri, tanggalannya sendiri, agama sendiri dll sehingga apa-apa mesti sesuai dengan adat istiadat & “hari baik” mereka.

Kalau mau tahu lebih detail soal agama ini & belajar sejarah, budaya, nama batu di Namata, aku disaranin cek web ini ama orang lokalnya.

rumah adat sabu

Lagi asik ngeliat babi yang hidup bebas di sini, hujan pun turun. Wah berkah di hari pertama mengeksplorasi Sabu nih. Lumayan banget sebagai pelipur di tengah terik dan keringnya Pulau Sabu. Praktis kalau liat dari lingkungan sekitar dan lanskap Sabu, pulau ini emang kering kerontang. Pohon ada sih tapi daunnya minimalis. Tapi indah juga loh kek yang satu ini lucu kek mirip sakura bunganya jadinya kayak di thumbnail videoku ini.

Tonton video keindahan Desa Namata

T

**

NEXT : Ke Sabu nginap di kapal 9 jam!

**

NEXT : Mall Ashta Jakarta yang baru dan mewah!

NEXT : Nginap di hutan demi ketemu Orang Rimba

Travel Now or NEVER

Leave a Reply